Muqaddimah Islam menunjukkan kebangkitannya di Kalimantan pada abad ke-19. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya jumlah orang-orang Banjar yang naik haji.[1] Sejarah haji sendiri di Nusantara berusia setua sejarah Islam sendiri, karena haji sendiri tak terpisahkan dari Islam, Haji merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan jika bagi mereka yang mampu. Jadi haji tak bisa dipisahkan… Continue reading Haji dan Perlawanan dalam Perang Banjar (1859-1906)
Category: Artikel
Haram Manyarah: Pangeran Antasari dan Perang Banjar
Muqaddimah “Haram Manyarah Lawan Walanda” itulah semboyan Pangeran Antasari ketika melawan kolonial Belanda. Tekad itu terus dipegang hingga akhir hayatnya. Bagi Antasari perang melawan Belanda adalah jihad fi sabilillah. Pangeran Antasari lahir di Martapura tahun 1809, ketika lahir diberi nama Gusti Inu.[1] Ia lahir dari pasangan Pangeran Mas’ud dan Gusti Hadijah yang merupakan puteri Sultan… Continue reading Haram Manyarah: Pangeran Antasari dan Perang Banjar
Ketika Masyumi Dibubarkan
Panggung politik di tahun 1959 semakin memanas. Kedekatan Soekarno dengan PKI disertai dengan semakin tajamnya perselisihan antara pusat dengan daerah. Bagi partai-partai Islam hal ini bukan momen yang mudah. Mereka terpaksa memilih antara mengikuti konsepsi Soekarno dengan Demokrasi terpimpinnya atau terus bersikap frontal seperti yang ditempuh Masyumi. Masyumi memang tetap bersikukuh menempuh jalan yang berbahaya.… Continue reading Ketika Masyumi Dibubarkan
Jenderal Sudirman, Militer dan Umat Islam
Politik dan militer di Indonesia sejatinya sulit untuk dipisahkan. Menurut pengamat militer Salim Said, slogan kembali ke barak bukanlah slogan yang tepat untuk dilekatkan pada militer di Indonesia. Sebab tentara di Indonesia lahir bukan dari pemerintah tetapi dari rakyat. (Salim Said: 1992) Di situ letak keunikan sekaligus semacam ‘dilema’ dalam politik kontemporer Indonesia. Dwi fungsi… Continue reading Jenderal Sudirman, Militer dan Umat Islam
Haluan Ekonomi Masyumi
Tak ada gading yang tak retak. Demikian pribahasa yang tepat menggambarkan kondisi partai-partai politik Islam di tanah air. Tanpa menafikan kontribusi atau perjuangan partai-partai tersebut dalam pasang surutnya komitmen mereka terhadap syariat Islam, satu hal yang seringkali luput dibicarakan adalah agenda atau program ekonomi yang menjadi haluan partai-partai Islam tersebut. Hal ini tentu pantas ditanyakan… Continue reading Haluan Ekonomi Masyumi
Bara Diakhir Babak: Menjelang September 1965
“Nah didalam hal ini, didalam segala politik Republik Indonesia, ja bagian “Malaysia”, ja bagian berdikarinja ekonomi, ia bagian berdaulatnja politik. Ia bagian berkepribadiannja kebudajaan, selalu PKI adalah berdiri dibarsan jang paling depan daripada barisan Indonesia ini. Karena itupun saja tanpa tedeng aling2, jo PKI kene dulurku, kene dulurku, jo sanak jo kadang jen mati aku… Continue reading Bara Diakhir Babak: Menjelang September 1965
Moh. Natsir, Agama, dan Negara (bagian 2)
Perjuangan Natsir dalam Pentas Politik Nasional Mohammad Natsir adalah seorang demokrat sejati adalah sebuah hal yang tak dapat diragukan lagi. Ia tidak berpendapat bahwa demokrasi adalah hal yang bersifat syirik sebagaimana teori dari Al Maududi. Karena itu, baginya umat Islam Indonesia wajib menempuh jalan demokrasi untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya.[1] Sikap dan pemikiran Natsir ini… Continue reading Moh. Natsir, Agama, dan Negara (bagian 2)
Mohammad Natsir, Agama, dan Negara (bagian 1)
Pergulatan wacana mengenai agama dan negara sudah terjadi sejak zaman kolonialisme Belanda. Setidaknya ada dua kubu yakni mereka yang menolak keterlibatan dan keterhubungan antara agama dengan negara, juga mereka yang melihat agama dan negara memilki hubungan yang tak dapat dipisahkan. Menurut Ahmad Syafii Maarif, gagasan mengenai negara/pemerintahan Islam telah mencuat sejak tahun 1920-an dari para… Continue reading Mohammad Natsir, Agama, dan Negara (bagian 1)
Revolusi Kemerdekaan Indonesia dari Timur Tengah : Perjuangan Pemuda dan Pelajar di Timur Tengah (1)
Setelah tersiarnya kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia, para pemuda Indonesia di Mesir yang hampir semuanya adalah pelajar itu berbondong-bondong membakar paspor yang mereka dapatkan dari pemerintah Belanda. Mengetahui hal tersebut, duta besar Belanda di Mesir geram, juga mengancam akan menghentikan segala bantuan biaya kepada para pemuda Indonesia itu. Para pemuda Indonesia itu tak tinggal diam. Segera… Continue reading Revolusi Kemerdekaan Indonesia dari Timur Tengah : Perjuangan Pemuda dan Pelajar di Timur Tengah (1)
Langkah Dakwah Hamka dari Masjid Al-Azhar
Di bawah kepemimpinan Buya Hamka, masjid jami yang dibangun di Kebayoran, di tengah wajah Indonesia baru, Jakarta. Dalam waktu singkat telah menjadi pusat dakwah dan kebangkitan muslim pertama ibukota, pada Era modern. Masjid itu diberi nama Masjid Al Azhar, pasca penganugerahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa oleh Universitas Al Azhar Mesir kepada Haji Abdul Malik… Continue reading Langkah Dakwah Hamka dari Masjid Al-Azhar
Polemik Sila Ketuhanan di antara Soekarno, Buya Hamka, dan Natsir
Tahun 1951, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dipanggil Buya Hamka, menulis dan menerbitkan sebuah buku kecil berjudul Urat Tunggang Pancasila. Buku tipis ini ditulis olehnya sebagai respon atas polemik dari sebuah pidato yang disampaikan oleh Soekarno, Presiden RI saat itu. Sebagaimana diuraikan diawal buku tersebut, Soekarno pada 7 Mei 1951 atau 30 Rajab… Continue reading Polemik Sila Ketuhanan di antara Soekarno, Buya Hamka, dan Natsir
Pancasila: Perjalanan Sebuah ldeologi dan Dasar Negara
Kesepakatan bernegara paling krusial dan fundamental bagi bangsa Indonesia di awal kemerdekaan ialah kesepakatan mengenai dasar negara. Pancasila oleh para pendiri negara (founding fathers) dipandang sebagai landasan falsafah yang bisa mempersatukan kebhinekaan bangsa dalam tataran konseptual dan ideal. Rumusan Pancasila yang otentik tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal… Continue reading Pancasila: Perjalanan Sebuah ldeologi dan Dasar Negara