Keberpihakan Republik Indonesia pada Palestina, dalam sejarahnya, bukan saja di panggung politik antar negara, tetapi juga di atas panggung olahraga. Dalam kebijakan politik luar negerinya, Indonesia menolak permintaan Israel, untuk membuka perwakilan di Indonesia,[1] yang artinya tidak mengakui entitas Israel sebagai sebuah negara. Hal ini turut berdampak pada sikap Indonesia terhadap Israel di pentas olahraga… Continue reading Solidaritas Indonesia-Palestina: Membela Palestina di Pentas Olahraga (5)
Tag: kolonialisme
Perjuangan Teuku Umar: ‘Pengkhianatan’ Teuku Umar (3)
Gelar Teuku Johan Pahlawan diberikan Belanda kepada Teuku Umar. Beberapa daerah perlawanan dengan mudah ditaklukkan Belanda. Tapi dapatkah ia dipercaya? ‘Main Perang’ ala Teuku Umar Siasat “main perang” Teuku Umar dapat terjadi dengan kebijakan Deijkerhoff di Aceh yang berdiri di atas empat pilar: Pertama, Mengejar “gerombolan muslimin.” Kedua, menggunakan sekutu milisi sebagai kekuatan pengganda, sehingga… Continue reading Perjuangan Teuku Umar: ‘Pengkhianatan’ Teuku Umar (3)
Perjuangan Teuku Umar: Tunduk pada Belanda (2)
Setelah ‘dikhianati’ dalam peristiwan Nisero, Belanda kini dihadapkan pada kenyataan, Teuku Umar menyerah dan menyatakan tunduk pada Belanda. Dapatkah ia dipercaya? Belanda Tertohok Peristiwa Hok Canton Belanda semakin murka dengan Teuku Umar ketika insiden serupa Nisero kembali terjadi. Pada 14 Juni 1886, kapal Hok Canton merapat di Rigaih, Pantai Barat Aceh, untuk berdagang dengan Teuku… Continue reading Perjuangan Teuku Umar: Tunduk pada Belanda (2)
Di Balik Pekik Takbir Bung Tomo
“Kita toendjoekkan bahawa kita benar-benar orang jang ingin merdeka. Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjoer leboer daripada tidak merdeka. Sembojan kita tetap: MERDEKA ataoe MATI. Dan kita jakin, saoedara-saoedara, pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh di tangan kita sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian… Continue reading Di Balik Pekik Takbir Bung Tomo
Snouck Hurgronje di Mekkah: Politik (dan) Memeluk Islam (Bagian 2)
Mekkah dan Politik Penjajah Kepada orientalis Theodore Nöldeke, Snouck menyatakan bahwa tujuannya ke Mekkah adalah untuk mengetahui bagaimana Islam dipraktekkan di sana dan mengamati kehidupan sehari-hari para ulama dan muslim awam. Ia juga tertarik dengan pengaruh Islam di pusatnya (Mekkah) dan bagaimana hal itu mempengaruhi Hindia Belanda.[1] Snouck mungkin saja dapat masuk ke kota Mekkah… Continue reading Snouck Hurgronje di Mekkah: Politik (dan) Memeluk Islam (Bagian 2)
Snouck Hurgronje di Mekkah: Politik (dan) Memeluk Islam (Bagian 1)
Namanya sebagai orientalis bukan saja terkenal di masa lalu, tetapi juga hingga masa kini. Montgomery McFate, professor di US Naval War College menyebutnya sebagai antropolog militer. Sejarawan Harry J. Benda menyebutnya sebagai peletak dasar kebijakan Islam di Indonesia. Keterlibatannya dalam penasehat pemerintah kolonial Belanda dalam perang Aceh, membuatnya sebagai ilmuwan yang menjadi penyangga peperangan dan… Continue reading Snouck Hurgronje di Mekkah: Politik (dan) Memeluk Islam (Bagian 1)
Pesan Terakhir Demang Lehman di Tiang Gantungan
April 1859 bertepatan dengan bulan Ramadhan 1275 H, pertempuran antara pejuang Banjar melawan penjajah Belanda sedang terjadi. Perang ini merupakan perang terlama melawan tirani kolonial Belanda. Berlangsung dari tahun 1859 – 1906. Walaupun satu persatu para pemimpin dan penggerak perlawanan gugur. Hal itu tidak menyurutkan untuk terus melawan kesewenangan kolonial. Helius Sjamsuddin dalam Pegustian dan… Continue reading Pesan Terakhir Demang Lehman di Tiang Gantungan
Panglima Batur: Panglima Dayak Islam
Suku Dayak merupakan salah satu suku yang mendiami pulau Kalimantan. Jumlah mereka kurang lebih diperkirakan 3.000.000 jiwa pada tahun 1986.[i] Suku Dayak juga memiliki banyak sub-suku, dalam beberapa penelitian menyebutkan ada 7 sub-suku Dayak dan yang lainnya menyebutkan hingga 18 sub-suku. Masyarakat dalam suku Dayak juga memeluk berbagai agama: Kaharingan[ii], Kristen, dan juga Islam.… Continue reading Panglima Batur: Panglima Dayak Islam
Haji dan Perlawanan dalam Perang Banjar (1859-1906)
Muqaddimah Islam menunjukkan kebangkitannya di Kalimantan pada abad ke-19. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya jumlah orang-orang Banjar yang naik haji.[1] Sejarah haji sendiri di Nusantara berusia setua sejarah Islam sendiri, karena haji sendiri tak terpisahkan dari Islam, Haji merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan jika bagi mereka yang mampu. Jadi haji tak bisa dipisahkan… Continue reading Haji dan Perlawanan dalam Perang Banjar (1859-1906)
Haram Manyarah: Pangeran Antasari dan Perang Banjar
Muqaddimah “Haram Manyarah Lawan Walanda” itulah semboyan Pangeran Antasari ketika melawan kolonial Belanda. Tekad itu terus dipegang hingga akhir hayatnya. Bagi Antasari perang melawan Belanda adalah jihad fi sabilillah. Pangeran Antasari lahir di Martapura tahun 1809, ketika lahir diberi nama Gusti Inu.[1] Ia lahir dari pasangan Pangeran Mas’ud dan Gusti Hadijah yang merupakan puteri Sultan… Continue reading Haram Manyarah: Pangeran Antasari dan Perang Banjar
Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje – Bag.4 (Habis)
Kartini dan Feminisme Jika kita lihat, salah satu optimisme Kartini terkait feminisme dan emansipasi terekam dalam kutipan berikut: “Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia Bumiputera; kalau bukan karena kami, tentu karena orang lain.. kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara”[1] Ia berpendapat, dan pendapat tersebut ia perjuangkan melalui tulisan-tulisannya, bahwa perempuan harus cerdas.… Continue reading Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje – Bag.4 (Habis)
Menyelami Pemikiran Kartini: Titik Balik Kartini– Bag.3
Titik Balik Kartini Kartini pada mulanya memang mencaci agama dan adat istiadatnya, wajahnya selamanya ia hadapkan ke arah Barat. Eropa baginya adalah jawaban segala permasalahan. Tiada arah yang lebih baik dibandingkan Barat. Namun entah dari mana hidayah itu datang, Kartini akhirnya berubah juga. Ia memandang bahwa adat dan agamanya menyimpan kebaikan. Rupanya segala kegamangan dan… Continue reading Menyelami Pemikiran Kartini: Titik Balik Kartini– Bag.3