Buya Hamka dan Wacana Emansipasi Perempuan

“Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dengan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu laki-laki yang kuat memikulnya perempun disuruh pula memikulnya.” – Hamka. Topik tentang perempuan memang selalu asyik untuk dibahas. Membicarakan kedudukan perempuan tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan kedudukan laki-laki. Kedudukan perempuan yang dibahas juga tidak sebatas pada bahasan terkait hak-haknya… Continue reading Buya Hamka dan Wacana Emansipasi Perempuan

Menyelami Pemikiran Kartini: Kartini lebih dekat (Bag.1)

Roekmini, Kartini dan Kardinah. Sumber foto KITLV Digital Media Library (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/5?q_searchfield=kartini)

Menjalani kehidupan yang penuh dengan kungkungan peraturan, penolakan, serta konflik batin dan perkara filosofis lainnya menjadikan R.A. Kartini memiliki daya tarik tersendiri untuk dibahas. Selain dipuji sebagai pahlawan emansipasi wanita, tidak sedikit pula pihak yang mengkritik Kartini karena dianggap sebagai pemihak kaum etis (liberal-pen) dan cikal-bakal pembawa gerakan feminis di Indonesia. Oleh karena itu, tulisan… Continue reading Menyelami Pemikiran Kartini: Kartini lebih dekat (Bag.1)

Undang-Undang Perkawinan, Sebuah Potret Hubungan Islam dan Negara

Mukti Ali 7 Buya Hamka. Sumber foto: Tempo.co

Pembentukan undang-undang perkawinan memiliki sejarah panjang di negara kita. Semenjak zaman penjajahan telah timbul kesadaran seputar kepincangan dalam pelaksanaan hukum perkawinan dan gagasan untuk memperbaikinya, baik dari kalangan pergerakan Islam maupun dari pergerakan perempuan yang netral agama. Ketentuan mengenai perkawinan di zaman kolonial Hindia Belanda diatur di dalam beberapa sumber hukum, seperti Kitab Undang-Undang Perdata… Continue reading Undang-Undang Perkawinan, Sebuah Potret Hubungan Islam dan Negara

Pandangan Hamka Tentang Sejarah

Perhatian yang besar terhadap sejarah dan kebudayaan di Nusantara diberikan oleh Hamka di sepanjang masa hidupnya. Hamka pada bukunya Dari Perbendaharaan Lama yang ia tuliskan pada tahun 1963, menyebutkan akan latar belakang yang menjadi kerisauan dan kepentingannya dalam menuliskan sejarah, yaitu sebagai bagian dari pada adab kita dalam memandang sejarah serta kebudayaan yang menjadi milik… Continue reading Pandangan Hamka Tentang Sejarah

Mengenang Perang Aceh

Perang Aceh meletus pada 26 Maret 1873. Perang dahsyat ini berlangsung setidaknya hingga 40 tahun. Melibatkan Aceh, satu bangsa yang melawan dengan gigih berdasarkan semangat perjuangan di jalan Allah, melahirkan pahlawan-pahlawan dengan nama yang mahsyur di tanah air. Dalam rangka memperingati meletusnya Perang Aceh, Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) mempersembahkan rangkaian tulisan Mengenang Perang Aceh.… Continue reading Mengenang Perang Aceh

Teungku Chik di Tiro: Ulama di Balik Perang -7 (Habis)

Orang-orang Pidie memegang senjata. Sumber foto: Koleksi digital KITLV

Peranannya dalam perang Aceh, khususnya tahun 1874 hingga 1891 tak dapat dikesampingkan. Nama besar keluarga di Tiro dimulai dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut. Seorang ulama yang memimpin Dayah Tiro. Dayah ini terletak di Gampong Tiro, di kiri dan kanan Sungai Pidie. Pidie telah lama menjadi satu pusat Pendidikan Islam di Aceh.… Continue reading Teungku Chik di Tiro: Ulama di Balik Perang -7 (Habis)

Takluknya Sang Habib dan Perang yang Brutal – 6

Kolonel Karel van der Heijden memang gagal di Samalanga. Namun ia berhasil mencengkeram kembali satu per satu wilayah di Aceh Besar dan sekitarnya. Van der Heijden berhasil menaklukkan Krueng Raba hingga Mon Tassik. Pasukannya juga terus mengejar pasukan Habib Abdurrahman yang tercerai berai hingga Mukim XXII dan XXVI. Taktik membakar desa-desa dilakukan van der Heijden… Continue reading Takluknya Sang Habib dan Perang yang Brutal – 6

Perang Rakyat di Aceh – 5

Pada 1 Mei 1874, Jenderal Van Swieten tiba di Batavia. Ia disambut Gubernur Jenderal James Loudon. Pasukan yang kembali dari Aceh di sambut meriah dengan gapura kehormatan dan karangan-karangan bunga. Bunga-bunga indah tersebut menutupi fakta bahwa persoalan Aceh sama sekali belum selesai. Pengganti Van Swieten di Aceh adalah Kolonel J. H. Pel. Di Aceh Besar,… Continue reading Perang Rakyat di Aceh – 5

Menambang Uang dari Perang – 3

Peluru yang dimuntahkan kapal Citadel van Antwerpen pada bulan Maret menandai pecahnya perang Aceh. Tetapi pertanyaaannya, mengapa Belanda menyerang Aceh? Jawabannya, tentu saja terletak pada keuntungan-keuntungan yang akan didapat dari penguasaan terhadap Aceh. Sejak 1870, atau 3 tahun sebelum perang Aceh, Terusan Suez telah dibuka. Hubungan dengan Eropa menjadi lebih cepat. Jika sebelumnya memakan waktu… Continue reading Menambang Uang dari Perang – 3

Babak Ke Dua Perang Aceh – 4

18 Mei 1873. Groningen, sebuah kota di Belanda dikunjungi tamu yang spesial. Raja Willem III. Raja tersebut menemui seorang pria. Ayah dari Johan Harmen Rudolf Köhler. Mayor Jenderal yang mati ditangan pejuang Aceh. Kunjungan belasungkawa itu diabadikan dalam bentuk litografi oleh J.W. Egenberger. Kematian Köhler juga diabadikan oleh penyair J.J. A. Gouverneur. Ia menuliskan; Ada… Continue reading Babak Ke Dua Perang Aceh – 4

Babak Pertama Perang Aceh – 2

Picture 033

6 April 1873, Pasukan Pendarat melakukan pengintaian ke wilayah Aceh. Dua hari kemudian barulah pasukan Belanda turun ke pantai Aceh.[1] Menjejakkan kaki mereka pertama kali di Bumi Aceh untuk memulai satu perang yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Belanda mendarat di Pantai Aceh dengan membawa rombongan besar. Mereka mengirimkan tiga ribu orang. Sekitar seribu orang… Continue reading Babak Pertama Perang Aceh – 2

Meletusnya Perang Aceh – 1

Kapal Perang Djambi. Sumber foto: maritiemdigitaal.nl

Adat ban adat hukom ban hukom, adat ngon hukom sama kembar; tatkala mufakat, adat ngon hukom, nanggroe senang hana goga (adat menurut adat, hukum syariat menurut hukum syariat, adat dengan hukum syariat sama kembar; tatkala mufakat adat dengan hukum itu negeri senang tiada huru-hara) – Teungku Chik Kutakarang dalam kitab Tadhkirat al-Radikin (1889)[1] Kesultanan Aceh… Continue reading Meletusnya Perang Aceh – 1