“Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dengan perempuan bukanlah berarti bahwa pekerjaan yang hanya bahu laki-laki yang kuat memikulnya perempun disuruh pula memikulnya.” – Hamka. Topik tentang perempuan memang selalu asyik untuk dibahas. Membicarakan kedudukan perempuan tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan kedudukan laki-laki. Kedudukan perempuan yang dibahas juga tidak sebatas pada bahasan terkait hak-haknya… Continue reading Buya Hamka dan Wacana Emansipasi Perempuan
Tag: Feminisme
Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje – Bag.4 (Habis)
Kartini dan Feminisme Jika kita lihat, salah satu optimisme Kartini terkait feminisme dan emansipasi terekam dalam kutipan berikut: “Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia Bumiputera; kalau bukan karena kami, tentu karena orang lain.. kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara”[1] Ia berpendapat, dan pendapat tersebut ia perjuangkan melalui tulisan-tulisannya, bahwa perempuan harus cerdas.… Continue reading Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje – Bag.4 (Habis)
Menyelami Pemikiran Kartini: Titik Balik Kartini– Bag.3
Titik Balik Kartini Kartini pada mulanya memang mencaci agama dan adat istiadatnya, wajahnya selamanya ia hadapkan ke arah Barat. Eropa baginya adalah jawaban segala permasalahan. Tiada arah yang lebih baik dibandingkan Barat. Namun entah dari mana hidayah itu datang, Kartini akhirnya berubah juga. Ia memandang bahwa adat dan agamanya menyimpan kebaikan. Rupanya segala kegamangan dan… Continue reading Menyelami Pemikiran Kartini: Titik Balik Kartini– Bag.3
Para Perempuan Bergerak
15 Desember 2017 ketuk palu Mahkamah Konstitusi berbunyi keras, Ketua Hakim MK membacakan putusan jika permohonan pemohon yang mayoritas aktivis Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia ditolak dengan alasan MK tak ingin sampai keluar batas. Jihad konstitusi oleh para Muslimah memang telah berakhir namun cita-cita agar bangsa ini lebih bermoral, lebih bermartabat dan lebih beradab belumlah… Continue reading Para Perempuan Bergerak
Majalah Jejak Islam No. 2: Kiprah Muslimah di Panggung Sejarah
Alhamdulillah, telah terbit Majalah Jejak Islam edisi No. 2. Tema Majalah edisi kali ini adalah KIPRAH MUSLIMAH DI PANGGUNG SEJARAH. Simak tulisan Tiar Anwar Bachtiar, doktor sejarah yang mengangkat tentang Kartini dan Feminisme; telusuri perjalanan Jilbab di Indonesia; reguk kisah cinta H. Agus Salim dan istrinya; dan simak tulisan-tulisan lainnya. Silakan… Continue reading Majalah Jejak Islam No. 2: Kiprah Muslimah di Panggung Sejarah
Nyai Khoiriyah Hasyim: Ulama Perempuan yang Terlupakan
Penulisan sejarah perempuan di Indonesia, khususnya muslimah semakin marak. Berbagai tokoh, diulas dalam berbagai bentuk tulisan. Namun sayangnya, penulisan sejarah muslimah di Indonesia seringkali disajikan dalam bingkai feminsme. Persoalan ini jelas meninggalkan masalah, karena seakan, perjuangan muslimah di masa lampau dinaungi oleh semangat feminisme.[1] Pembahasan feminisme yang satu tarikan nafas dengan kesetaraan gender memang mengundang… Continue reading Nyai Khoiriyah Hasyim: Ulama Perempuan yang Terlupakan
M. Natsir Mengenai Kartini
“Vote for Women!”, begitu isi seruan dari kelompok Suffragettes yang tertulis di gedung-gedung pemerintahan Inggris. Mereka tidak hanya puas dengan menulis seruan tersebut, namun juga berdemonstrasi ke jalan untuk menarik opini publik, bahkan sampai melempari rumah Menteri Dalam Negeri dengan batu sehingga banyak kaca yang pecah. Cara ini dilakukan agar pihak pemerintah saat itu takut… Continue reading M. Natsir Mengenai Kartini
Kartini dan Pintu Masuk Feminisme di Indonesia
“Kawan-kawan yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah, di rumah itu dalam segala hal keadaan saya baik dan menyenangkan; di situ yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia…” ….. Gerlombang liberalisme di Indonesia masuk berbagai pintu. Salah satu pintu yang boleh dikatakan sukses adalah pintu isu… Continue reading Kartini dan Pintu Masuk Feminisme di Indonesia
Hari Ibu : Menolak Feminisme Sejak Dahulu
87 tahun yang lalu atau pada tahun 1928, organisasi-organisasi perempuan Indonesia mengadakan Kongres Perempuan di Bandung. Kongres tersebut memutuskan agar setiap tanggal 22 Desember dijadikan sebagai Hari Ibu dengan semboyan “Merdeka Melaksanakan Dharma”. Maka, tulis Sujatin Kartowijono dalam bukunya Perkembangan Pergerakan Wanita Indonesia, kaum wanita mulai menghayati cita-cita Ibu Keluarga, Ibu Masyarakat, dan Ibu Bangsa[1].… Continue reading Hari Ibu : Menolak Feminisme Sejak Dahulu