Perjuangan Teuku Umar: ‘Pengkhianatan’ Teuku Umar (3)

Teuku Umar di Lam Pisang (1896). Sumber foto: Leiden University Libraries Digital Collections. http://hdl.handle.net/1887.1/item:784910

Gelar Teuku Johan Pahlawan diberikan Belanda kepada Teuku Umar. Beberapa daerah perlawanan dengan mudah ditaklukkan Belanda. Tapi dapatkah ia dipercaya? ‘Main Perang’ ala Teuku Umar Siasat “main perang” Teuku Umar dapat terjadi dengan kebijakan Deijkerhoff di Aceh yang berdiri di atas empat pilar: Pertama, Mengejar “gerombolan muslimin.” Kedua, menggunakan sekutu milisi sebagai kekuatan pengganda, sehingga… Continue reading Perjuangan Teuku Umar: ‘Pengkhianatan’ Teuku Umar (3)

Perjuangan Teuku Umar: Tunduk pada Belanda (2)

Teuku Umar bersama pengikutnya. Circa 1890. Sumber foto: Leiden University Libraries Digital Collections. http://hdl.handle.net/1887.1/item:787542

Setelah ‘dikhianati’ dalam peristiwan Nisero, Belanda kini dihadapkan pada kenyataan, Teuku Umar menyerah dan menyatakan tunduk pada Belanda. Dapatkah ia dipercaya? Belanda Tertohok Peristiwa Hok Canton Belanda semakin murka dengan Teuku Umar ketika insiden serupa Nisero kembali terjadi. Pada 14 Juni 1886, kapal Hok Canton merapat di Rigaih, Pantai Barat Aceh, untuk berdagang dengan Teuku… Continue reading Perjuangan Teuku Umar: Tunduk pada Belanda (2)

Perjuangan Teuku Umar: Dari Perlawanan ke Penyerahan Diri (1)

Teuku Umar circa 1890

Teuku Umar adalah salah satu sosok yang mungkin kontroversial dalam episode Perang Aceh. Sebagian penulis sejarah seperti Van ‘T Veer menyebutnya pemimpin gerombolan (thug)[1] atau pemimpin ‘geng.’[2] Sifat oportunis yang mencari kepentingan materi dalam kancah Perang Aceh dilekatkan pada dirinya.[3] Snouck Hurgronje menyebut dirinya sebagai petualang yang tak bisa dipercaya: “Ia adalah tipikal orang Aceh… Continue reading Perjuangan Teuku Umar: Dari Perlawanan ke Penyerahan Diri (1)

Mengenang Perang Aceh

Perang Aceh meletus pada 26 Maret 1873. Perang dahsyat ini berlangsung setidaknya hingga 40 tahun. Melibatkan Aceh, satu bangsa yang melawan dengan gigih berdasarkan semangat perjuangan di jalan Allah, melahirkan pahlawan-pahlawan dengan nama yang mahsyur di tanah air. Dalam rangka memperingati meletusnya Perang Aceh, Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) mempersembahkan rangkaian tulisan Mengenang Perang Aceh.… Continue reading Mengenang Perang Aceh

Teungku Chik di Tiro: Ulama di Balik Perang -7 (Habis)

Orang-orang Pidie memegang senjata. Sumber foto: Koleksi digital KITLV

Peranannya dalam perang Aceh, khususnya tahun 1874 hingga 1891 tak dapat dikesampingkan. Nama besar keluarga di Tiro dimulai dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut. Seorang ulama yang memimpin Dayah Tiro. Dayah ini terletak di Gampong Tiro, di kiri dan kanan Sungai Pidie. Pidie telah lama menjadi satu pusat Pendidikan Islam di Aceh.… Continue reading Teungku Chik di Tiro: Ulama di Balik Perang -7 (Habis)

Takluknya Sang Habib dan Perang yang Brutal – 6

Kolonel Karel van der Heijden memang gagal di Samalanga. Namun ia berhasil mencengkeram kembali satu per satu wilayah di Aceh Besar dan sekitarnya. Van der Heijden berhasil menaklukkan Krueng Raba hingga Mon Tassik. Pasukannya juga terus mengejar pasukan Habib Abdurrahman yang tercerai berai hingga Mukim XXII dan XXVI. Taktik membakar desa-desa dilakukan van der Heijden… Continue reading Takluknya Sang Habib dan Perang yang Brutal – 6

Perang Rakyat di Aceh – 5

Pada 1 Mei 1874, Jenderal Van Swieten tiba di Batavia. Ia disambut Gubernur Jenderal James Loudon. Pasukan yang kembali dari Aceh di sambut meriah dengan gapura kehormatan dan karangan-karangan bunga. Bunga-bunga indah tersebut menutupi fakta bahwa persoalan Aceh sama sekali belum selesai. Pengganti Van Swieten di Aceh adalah Kolonel J. H. Pel. Di Aceh Besar,… Continue reading Perang Rakyat di Aceh – 5

Menambang Uang dari Perang – 3

Peluru yang dimuntahkan kapal Citadel van Antwerpen pada bulan Maret menandai pecahnya perang Aceh. Tetapi pertanyaaannya, mengapa Belanda menyerang Aceh? Jawabannya, tentu saja terletak pada keuntungan-keuntungan yang akan didapat dari penguasaan terhadap Aceh. Sejak 1870, atau 3 tahun sebelum perang Aceh, Terusan Suez telah dibuka. Hubungan dengan Eropa menjadi lebih cepat. Jika sebelumnya memakan waktu… Continue reading Menambang Uang dari Perang – 3

Babak Ke Dua Perang Aceh – 4

18 Mei 1873. Groningen, sebuah kota di Belanda dikunjungi tamu yang spesial. Raja Willem III. Raja tersebut menemui seorang pria. Ayah dari Johan Harmen Rudolf Köhler. Mayor Jenderal yang mati ditangan pejuang Aceh. Kunjungan belasungkawa itu diabadikan dalam bentuk litografi oleh J.W. Egenberger. Kematian Köhler juga diabadikan oleh penyair J.J. A. Gouverneur. Ia menuliskan; Ada… Continue reading Babak Ke Dua Perang Aceh – 4

Babak Pertama Perang Aceh – 2

Picture 033

6 April 1873, Pasukan Pendarat melakukan pengintaian ke wilayah Aceh. Dua hari kemudian barulah pasukan Belanda turun ke pantai Aceh.[1] Menjejakkan kaki mereka pertama kali di Bumi Aceh untuk memulai satu perang yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Belanda mendarat di Pantai Aceh dengan membawa rombongan besar. Mereka mengirimkan tiga ribu orang. Sekitar seribu orang… Continue reading Babak Pertama Perang Aceh – 2

Meletusnya Perang Aceh – 1

Kapal Perang Djambi. Sumber foto: maritiemdigitaal.nl

Adat ban adat hukom ban hukom, adat ngon hukom sama kembar; tatkala mufakat, adat ngon hukom, nanggroe senang hana goga (adat menurut adat, hukum syariat menurut hukum syariat, adat dengan hukum syariat sama kembar; tatkala mufakat adat dengan hukum itu negeri senang tiada huru-hara) – Teungku Chik Kutakarang dalam kitab Tadhkirat al-Radikin (1889)[1] Kesultanan Aceh… Continue reading Meletusnya Perang Aceh – 1