Raja‘Alī Ḥāji: Sekilas Pandang[1] Beliau lahir di Pulau Penyengat[2] yang terletak di sebelah Barat Tanjung Pinang (pada masa ini, termasuk ke dalam wilayah Kepulauan Riau, Indonesia) pada tahun 1808.[3] Pulau ini dibuka pada tahun 1803 dan diserahkan oleh Sultan Mahmud kepada isteri beliau Raja Hamidah, sempena perkahwinan mereka pada 1804.[4] Pada masa ini, nama pulau… Continue reading KONSEP KEADILAN DAN PENGAMALANNYA MENURUT RAJA ‘ALĪ ḤĀJI: Kajian Berasaskan Karya Terpilih [bagian 1]
KONSEP KEADILAN DAN PENGAMALANNYA MENURUT RAJA ‘ALĪ ḤĀJI: Kajian Berasaskan Karya Terpilih [bagian 2]
BAGIAN 2 Ciri-ciri Raja Adil dalam Muqaddimah fī Intiẓām al-Waẓā’if al-Malik Sebagai sebuah naskah mukhtaṣar yang berisi nasihat kepada Raja sebagai pemimpin dan pemegang kuasa, Muqaddimah fī Intiẓām mengandungi beberapa perkara, iaitu : Keutamaan ilmu, Alamat atau ciri-ciri raja yang adil, Bahaya perbuatan ẓālim, Balasan untuk Raja adil. Muqaddimah fī Intiẓām, dibuka dengan penjelasan bahawa… Continue reading KONSEP KEADILAN DAN PENGAMALANNYA MENURUT RAJA ‘ALĪ ḤĀJI: Kajian Berasaskan Karya Terpilih [bagian 2]
Catatan Penghujung Tahun: Merawat Ingatan
Pernahkah diri ini, mengenang sesuatu yang membuat diri ini begitu terenyuh? Mengenang yang membuat kita tersenyum ?Mengenang yang membuat diri ini menangis sejadi-jadinya.Atau kenangan yang membuat diri ini terlena? Atau malah, ketika kenangan itu membuncah dari lubuk ingatan kita, ia terasa berbeda, seakan energi besar yang membangkitkan? Mengenang itu membangkitkan.Sebuah kenangan yang ingin kami coba… Continue reading Catatan Penghujung Tahun: Merawat Ingatan
Pemikiran Politik Tamar Djaja dalam Majalah Al-Islam Tahun 1953-1955
Dekade tahun 1920an-akhir 1966 ditandai dengan lahirnya penulis-penulis dengan latar belakang ideologi yang berbeda. Para penulis dengan background Islam pada kurun waktu tersebut dalam kajian historiografi kolonial dan masa kemerdekaan, umumnya berprofesi sebagai sastrawan dan politisi. Demikian halnya penulis berbasis ideologi Islam yang hidup pada masa awal pergerakan nasional akan memunculkan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan… Continue reading Pemikiran Politik Tamar Djaja dalam Majalah Al-Islam Tahun 1953-1955
Majalah Jejak Islam No. 2: Kiprah Muslimah di Panggung Sejarah
Alhamdulillah, telah terbit Majalah Jejak Islam edisi No. 2. Tema Majalah edisi kali ini adalah KIPRAH MUSLIMAH DI PANGGUNG SEJARAH. Simak tulisan Tiar Anwar Bachtiar, doktor sejarah yang mengangkat tentang Kartini dan Feminisme; telusuri perjalanan Jilbab di Indonesia; reguk kisah cinta H. Agus Salim dan istrinya; dan simak tulisan-tulisan lainnya. Silakan… Continue reading Majalah Jejak Islam No. 2: Kiprah Muslimah di Panggung Sejarah
Agama dan Negara: Membaca Pemikiran M. Natsir
Bagi Natsir, perumusan Pancasila adalah hasil musyawarah para pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan memuncak di tahun 1945. Natsir percaya, di dalam keadaan yang demikian, para pemimpin yang berkumpul itu, yang sebagian besar beragama Islam, pastilah tidak akan membenarkan sesuatu perumusan yang menurut pandangan mereka, nyata bertentangan dengan asas dan ajaran Islam. Setelah Mosi… Continue reading Agama dan Negara: Membaca Pemikiran M. Natsir
Politik Budaya Penjajah: Memisahkan Islam dari Sunda
Abad ke 19 menjadi abad peralihan bagi kekuasaan penjajah Belanda di tanah air. Setelah sejak pertama kali VOC menancapkan taring-taring kekuasaannya di Nusantara, hingga akhirnya dibubarkan pada abad ke 18, VOC kemudian beralih rupa, dibawah pemerintahan kerajaan Belanda. Padamnya perang Jawa (1930), Paderi (1935), membuat kolonialisme mencengkram secara luas tanah air, menyisakan Aceh yang terus… Continue reading Politik Budaya Penjajah: Memisahkan Islam dari Sunda
ISLAMISASI TATAR SUNDA: PERSPEKTIF SEJARAH DAN KEBUDAYAAN
Tatar Sunda adalah wilayah tempat bermukimnya suku Sunda. Tatar Sunda umumnya disamakan dengan daerah Jawa Barat. Sebelum daerah Jawa bagian barat terpecah menjadi provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat seluruh wilayah ini dianggap sebagai bagian dari etnik Sunda. Oleh sebab itu, ketika membicarakan sejarah Sunda, selalu saja Cirebon, Banten, dan Jakarta menjadi wilayah yang dianggap… Continue reading ISLAMISASI TATAR SUNDA: PERSPEKTIF SEJARAH DAN KEBUDAYAAN
Islam dalam Sastra Anonim Kejawen
Dallikal, yen turu nyengkal wadine nyengkal, tegesipun kitabulla, natap mlebu ala wadi, tegese rahabapi, rahaba kang gawe sampur, hudan lil muttakina, yen wis wuda jalu estri, den mutena jroning ala-jroning ala (Darmagandhul). (Dzalikal : jika tidur kemaluannya nyengkal (bangkit), kitabu la, kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa, raiba fihi : perempuan yang pakai… Continue reading Islam dalam Sastra Anonim Kejawen
10 November: Menggugah Ghirah
Di zaman merdeka ini, mengapa sebagian dari kita ragu atau bahkan enggan menentang ketika agama dan negara dilecehkan? Hati terasa hambar, otak masa bodoh, tekanan darah rendah, otot kendur bergerak, tangan kaku menulis kritik, dan lidah kelu membela. Kalau dulu, sebagaimana dituturkan oleh Buya Hamka dalam bukunya “Ghirah dan Tantangan terhadap Islam”, Tuanku Imam Bonjol… Continue reading 10 November: Menggugah Ghirah
Antara Sejarah dan Ideologi
Hari Sabtu lalu, tepatnya tanggal 7 November 2015, Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) bekerjasama dengan Ma’had Aly Imam Al-Ghazali dan DKM Insan Mulia mengadakan workshop sejarah. Workshop yang bertajuk “Perspektif Islam dalam Pengajaran Sejarah Indonesia” ini dihadiri para peserta dari berbagai kota. Para peserta tersebut berasal dari Solo, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Garut, Boyolali, dan juga… Continue reading Antara Sejarah dan Ideologi
Ki Bagus Hadikusuma: Teladan dalam Kenangan
Bersyukur, dahulu Negara kita telah melahirkan para ulama’ dan cendekiawan Islam yang memberikan sumbangsih yang teramat besar bagi Republik dan Bangsa ini. Sehingga masyarakat yang hidup sesudah mereka dapat menikmati hasil jerih payah yang dahulu mereka perjuangkan. Salah seorang tokoh Islam yang lahir dan berjuang dalam sejarah perjuangan Bangsa ini adalah Ki Bagus Hadikusuma –rahimahullah… Continue reading Ki Bagus Hadikusuma: Teladan dalam Kenangan