Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) Rizki Lesus berkesempatan mengunjungi bumi Serambi Mekkah, Nangro Aceh Darussalam beberapa waktu silam. Alhamdulillah, jejakislam.net dapat bersua dengan para penggiat komunitas-komunitas sejarah Islam di Nusantara seperti CISAH (Center of Information of Samudera Pasai Heritage), Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan lainnya.

Dalam lawatannya, jejakislam.net diajak oleh Mapesa berkeliling Banda Aceh, mengunjungi makam-makam para Raja Aceh, menyusur sejarah Aceh lewat peninggalan batu nisan para tokoh kerajaan Aceh dan Samudera Pasai di masa silam. Rupanya, di balik ukiran inkripsi batu nisan para tokoh, menyimpan pesan yang sangat berharga, menguak sejarah Aceh di masa silam. Apa saja itu? Simak wawancara Jejakislam.net dengan Arkeolog asal Aceh lulusan UGM, Deddy Satria yang memandu JIB selama mengunjungi makam-makam.

 

Apa yang sebenarnya dikerjakan Mapesa terhadap Batu-batu nisan ini?

Nisan sebenarnya punya catatan tersendiri yaitu inskripsi, prasasti, dalam ilmu arkeologi disebut prasasti. Inskripsi itu penting karena disitu ada informasi-informasi yang kita sering menemukan informasi dalam teks-teks kuno di Aceh, kayak misalnya hikayat-hikayat yang sebenarnya baru sedikit memberikan informasinya.

Tapi di batu nisan itu bisa lebih luas lagi. Banyak nama orang dalam teks-teks klasik itu yang ditemukan di batu nisan, kemudian di dalam teks tidak ditemukan secara rinci posisi tokoh-tokoh itu seperti apa, tetapi di batu nisan dia dijelaskan secara rinci, orang ini selama hidupnya seperti apa.

Dan itu yang menarik, yang dikerjakan oleh Mapesa dari tahun 2012 sampai sekarang, saya kira. Inilah yang layak untuk kita pahami dan jaga, dan teks-teks supaya tidak hilang. Jadi mengamankan batu nisan sebenarnya mengamankan teks inskripsi, berarti mengamankan sumber-sumber penulisan sejarah Aceh, dan itu berarti menjaga kelestarian sumber penulisan sejarah kebudayaan Islam di Aceh dan lebih luas Asia Tenggara khususnya Nusantara.

Dan banyak dipahami orang, Islam itu terpancar dari sini (Aceh) sampai kemana-mana, selama ini teorinya seperti itu dan belum ada bantahan. Jadi Aceh sebagai centrum peradaban Islam di Asia Tenggara khususnya Nusantara, memang belum bisa digantikan.

Sebagai simbol, Aceh dengan ulama dan kitab-kitabnya sampai ke seluruh Asia Tenggara khususnya Nusantara. Tapi di mana tokoh-tokoh yang menjaga itu sebelumnya ini kan penting, orang-orang seperti apa yang hidup di Aceh sehingga menjadi pusat peradaban Islam? Itu semua ada dalam Inkripsi batu nisan.

Sebagai contoh, ada dalam nisan dituliskan Sultan Aceh yang bergelar Zilullah fil Alam (bayang-bayang Allah di alam). Ini dahsyat! Sultan-sultan Aceh itu digambarkan adalah bayang-bayang Allah di muka bumi, kalau sinonimnya sama dengan Khalifah fil Ard.

Seperti yang Allah firmankan saat penciptaan adam pertama kali, “Aku ingin menciptakan penguasa pengganti-Ku di muka bumi, bagaimana menurut kalian?” Dan saya pikir Aceh belum tergantikan pusat peradaban Islam dan bertanggungjawab sampai Islam itu kemudian berakar di Nusantara dan Asia Tenggara.

 

Selain tentang tokoh itu sendiri, ada lagi yang disampaikan dalam inkripsi batu nisan?

Selain tentang tokoh, juga tentang pesan-pesan islam. Banyak sekali pesan-pesan, misalnya satu pesan yang memesonakan saya itu; Ad -dunya fana wal Akhiratu baqi: dunia itu fana dan akhirat itu kekal. Itu kata-kata sakti yang selalu di ulang-ulang penulisannya, selain inkripsi dzikir Laa Illa ha Illa Allah dan syahadat, dan itu luar biasa.

Mereka orang-orang besar di zamannya orang-orang cukup kaya, tetapi mereka hidup di bawah nilai Islam yang mereka tidak bisa lepas darinya. Sebenarnya yang dipelajari arkeologi di Aceh tidak ada yang lain, selain studi kebudayaan Islam dan itu memang kekuatannya.

 

Mengenai gambaran umum tentang sejarah Aceh pada inkripsi batu nisan, apa yang bisa ditemukan?

Paling penting ialah sejarah Aceh ialah sejarah Islam. Kita bicara tentang Aceh di masa lalu, orang akan bicara tentang Islam. Dan Aceh itu tidak ada, kalau tidak ada Islam. kalau ada peribahasa, Kalau tidak ada Islam, tidak ada Melayu, walaupun kenyataannya dia pernah dibesarkan oleh Sriwijaya yang Buddhis. Akan tetapi di zaman kontemporer ketika muncul Malaka, Samudra Pasai, itu terutama itu yang namanya Melayu harus Islam, tidak ada yang namanya Melayu Kristiani atau Hindu atau Melayu Buddhis, yang namanya Melayu harus Islam.

Dan begitu juga di Aceh tidak ada orang Aceh yang tidak Islam, sinonim Aceh adalah “Islam”. Kemudian Syekh Nuruddin Ar-Raniri menyebut negeri ini sebagai serambi Mekkah; tempat orang berkumpul, tapi bukan sekedar nongkrong-nongkrong, tapi mendalami belajar Islam kemudian menyebarkannya, itulah pesannya.

 

Mengenai masuknya Islam ke Nusantara sendiri bisa dilacak secara Arkeologi dari inkripsi atau sumber lainnya?

Sejauh ini mungkin banyak epigraf, studi-studi tentang inskripsi kaligrafi abad ke 13 M, Islam sudah punya tapak disini. Ada masyarakat Muslimnya di sini. Kalau di Aceh besar kita punya satu situs budaya warisan Islam di Lamreh, Aceh besar, Ladong, agak jauh dari sini.

Kemudian kita punya Samudra Pasai di Aceh Utara dan satu lagi pusat di luar Aceh, dan itu penting, (yaitu) barus di Tapanuli Utara di Sumatra Utara. Nah itu tiga titik yang berperan penting sebagai pemain koloni-koloni Islam awal, selain di Gresik, Jawa Timur, atau Jawa Barat.

Di Gresik ada awalun muslimin juga disana, dan itu juga jaringan seperti rantai perjuangan Islam. (Jaringan) itu saling koordinasi antar tiap daerah di Nusantara. Karena Islam ini menyebar bukan tanpa kontrol. Yang kontrol bisa saja dalam periode awalnya memegang kendali adalah pelaut dan pelayar, tetapi saya yakin tidak hanya pelaut dan pedagang disitu, tetapi juga ada ulama-ulamanya, karena sifat Islam disiarkan itu terkadang terkoordinasi dengan baik, (dan) ada lembaga-lembaganya.

Kita tahu Mekkah dan Madinah sebelum ada Kairo. Kita tahu ada di Irak (yang) pernah menjadi sentra pusat peradaban penyebaran Islam. kemudian di negeri yang jauh kita punya Aceh, ada Samudra Pasai, kemudian diwariskan ke Brunei Darussalam, sampai jauh ke Jawa, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, itu perannya ada.

Dan Asia Tenggara sampai ke Thailand, Kamboja, Myanmar. (Peran) itu kalau Malaysia sudah umum orang ketahui, tetapi itu pancaran-pancaran, ada titik pusat yang terkoordinir dengan sangat rapi dan terstruktur, ada kekuatan politik-politik Islam.

 

Jadi, ada jaringan Ulama Nusantara atau antar Kerajaan yang terkoordinasi saat itu?

Iya. Azyumardi Azra melihat jaringan itu di abad ke 16 dan 17, tetapi saya yakin 200 tahun sebelumnya sudah ada jaringan seperti itu. Tapi agak sulit juga kita melacaknya, karena banyak tulisan yang hilang.

 

Seperti Apakah jaringannya tersebut?

Seperti misalnya saja dengan Daulah Turki Utsmani. Sebenarnya, Turki Utsmani hanya gerbong terakhir yang ikut bagian meramaikan khazanah Islam di Timur, karena (negeri) itu negeri terpencil yang tidak begitu menarik.

Tapi, orang –orang Turki sudah ada di sini sejak zaman Pasai. Ketika Samudra Pasai muncul, orang-orang Turki yang menguasai kerajaan di India Utara, sultan-sultan New Delhi itu adalah orang-orang pentingnya yang datang ke Aceh lewat Bengal, karena Bengal dalam waktu bersamaan sudah diIslamkan oleh orang-orang Turk itu, (yaitu) jenderal-jenderal Turkman.

Saat itu, di sana yang berkuasa Dinasti Saljuk, Uzgluk(?). Uzgluk itu ras sebelum Usmani. Dan Usmani lebih memilih ke barat, (yaitu) ke Eropa, pembebasan tanah-tanah Eropa. Aceh itu baru dilihat (oleh Turki Usmani kemudian hari, walaupun kelak efeknya kuat di Aceh, (di)kemudian hari. Dan beberapa ulamanya ditemukan makamnya di Aceh , ada Syeikh Baba Arumni istilah dari kawasan Turki Ustmani. Saya pikir itu kaitan-kaitannya.

Dengan dengan Mekkah, Madinah, Yaman itu pernah ada hubungannya, karena Daulah Islam itu saling terkoneksi, bukan berdiri sendiri-sendiri. Dengan negeri Islam itu sudah ada punya hubungan, kalau di Pasai lebih dahsyat lagi ada putri-putri orang Turki yang dinikahi oleh orang-orang Pasai.

Kalau dengan Samarkand di daerah Asia Tengah itu tidak aneh ada hubungan di era Samudra pasai, dan Timur Lenk punya hubungan dengan itu semua.

 

Mengapa antar Daulah Islam di satu tempat dengan tempat lain bisa saling terkoneksi?

Islam itu menarik. Ia muncul di titik-titik zaman purbanya di perdagangan Timur dan Barat. China, India, Persia, Venezia, Eropa, Timur Tengah, itu terkonek sudah lama, dan orang Islam itu muncul di pelabuhan, (dan) lama-lama mereka menjadi penguasa di kota itu. Jadi ada semacam kepercayaan hebat bahwa  komunitas muslim itu jujur, ssehingga mereka jadi penguasa di kota-kota pelabuhan.

Namun, tidak semua tempat sempat berkembang menjadi Darul Islam (Negara Islam), katakanlah seperti Singapura sekarang. Di Aceh sangat berkembang menyebarkan Islam hingga Nusantara. Islam sampai Keddah hingga Patani, yang sebenarnya bukan negeri muslim yang tenang. Langka Suka awalnya negeri pelabuhan kecil kemudian jadi negeri Muslim. Begitupun simpul –simpul di Vietnam, Kamboja.

Jadi ulama-ulama Aceh ini juga tidak hidup menetap, ada yang di Kalimantan, Sulawesi, di Manado juga yang tidak banyak diperkirakan orang, karena banyaknya yang kita tahu orang Kristen, (namun) ternyata punya andil jadi pusat pengembangan Islam, dan orang Aceh ada di sana. Semua dilakukan karena (ada) ajaran jihad.

Dengan jihad, itulah kenapa Islam berkembang terus. Ulama-ulama ini datang sendiri, bukan datang bergerombolan, seperti misal Hamzah Fanshuri dia seorang pengembara yang  punya andil besar menyebarkan Islam. Mereka punya organisasi, tapi mereka pergi sendiri. Kalau Syah Kuala dia punya amanah dari Mekkah dan Madinah untuk menyebarkan.

Nuruddin Ar-Raniri punya lembaga. Syamsuddin Sumatrani dari Samudra Pasai juga, datang ke Aceh menjadi ulama istana. Empat orang yang besar itu yang ada teks inskripsinya. Itulah yang dikenal orang sekarang, kenyataannya banyak ulama, yang mereka (para ulama itu) dapat dipastikan menulis kitab-kitab yang disebar. Syeikh Mahmud, Syeikh Muhammad, pasti mereka punya karya, nah di mana teksnya, kita tidak tahu keberadaannya.

Di Inggris ada studi Islam, batu-batu seperti ini ada studinya di Oxford, itu luar biasa. Saya kirim sumbangsih lewat tulisan –tulisan saya tahun 2013 ke Oxford. Itu temuan baru dan mereka akan bingung melihat temuan itu. Ada Islam yang ganjil di perantauan yang jauh di kepulauan ini. Kalau di Arab dia sudah bertemu dengan pengaruh Eropa timur, di Asia Tengah dia ketemu dengan orang-orang Sasanid, di India dia ketemu dengan orang Hindu, di sini dia ketemu dengan hal yang lebih menarik dan itu belum terungkap, sebenarnya orang-orang Islam disini bergaul dengan siapa sebelumnya, dan (peran) arkeolog itu penting (untuk) menemukan ini. Apa yang diislamkan oleh orang-orang Islam?

Kenapa ? karena karakternya yang menarik, mereka sangat sangat setia dengan agama ini dari abad ke 13 sampai zaman Belanda. Oke, sekarang kita melanjutkannya saja dengan KTP. Ini (KTP), waktu belum ada KTP, mereka konsisten, semangat jihadnya tidak putus lebih kurang selama 500-600 tahun itu.

Islam tanpa semangat jihad itu, (pasti) sudah musnah dimana-mana. Di Perang Salib, Salahuddin Al Ayyubi punya semangat jihad. Karena ada salah satu bagian dari misi itu, jihad ditanamkan, Konstatinopel tidak mungkin bebas tanpa jihad. Bizantium itu ‘paku’-nya dunia, bisa ditaklukan dalam enam bulan, tapi sebenarnya prosesnya sudah ratusan tahun.

Baghdad saja  tidak bisa masuk. Ar Rasyd yang katanya khalifah luar biasa itu, (tapi) tidak bisa masuk (ke) Konstantinopel. Dia pernah kena panah dari benteng-benteng orang Romawi. Ini rekonstruksi kecil, dan itu harus dilihat global.

Islam di Aceh bukan Islam (yang) independen, tapi Islam yang global. Dari dulu, punya pengaruh yang luas, dari Venesia kalau memang itu ada, sampai ke Guang Zhou. Kalau lihat di peta, ada (di) Fujian sekarang. Islam di Aceh, India dan lain-lain itu terkonek (tersambung-red). Kalau itu ada kontrolnya, remote-nya kita tekan nomor-nomornya lampunya nyala dimana-mana.

 

Bagaimana dengan Koneksi kawasan Asia Tenggara dan Nusantara Sendiri, khususnya kini sedang ada Rohingya dari Arakan pula di Aceh?

Saya pikir, Arakan itu sama tuanya dengan negeri-negeri awal islam juga. (Arakan) itu (ada), (saat) Samudera Pasai sudah ada. Memang (Arakan) itu negeri kecil saja, semacam gubernur lah, karena dia ada di bawah bayang-bayang negeri lain yang kafir.

Juga sama halnya Keddah, sebelum ada Malaka itu negeri yang dibayang-bayangi orang-orang Buddha. Mon-khmer ini orang-orang leluhur Myanmar sekarang itu ada bangsa Buddhis Terawada yang pernah menguasai wilayah luas di wilayah itu. (Keddah) itu sebuah kesulatanan, keddah, itu negeri Islam kecil yang ada komunalnya yang di situ penguasa-penguasanya muslim, Patani itu juga penguasa Muslim.

Itu negara kecil yang dibayangi negeri yang dikuasai Buddhis terawada (theravada). (Kehadiran Arakan) itu, saya pikir sambungannya ke situ. (Tapi) saya tidak tahu persis, bahwa Arakan dan Daulah Aceh punya kontak langsung, tetapi kalau itu eranya Samudra Pasai saya yakin itu punya kontaknya, karena ini negeri-negeri di kawasan Teluk benggala Muslimnya terkait.

Misalnya muslim India bagian selatan, dari Serak, dari pesisir Malabar di Pantai Barat India bagian selatan, atau Koromandel dibagian timur dekat Teluk Benggala punya komunitas Muslim yang tidak berdiri sendiri,tapi dia terkoneksi satu titik dengan titik lain, hanya saja dibawah bayang-bayang orang Hindu dan Buddhis, dan untungnya di Sumatera islam itu punya payungnya sendiri. Saya melihat itu kasus yang berbeda dengan negeri-negeri lain.

Ada keterkaitan historis dan letak geografisnya ini sebuah kawasan Selat Malaka atau Teluk Benggala ketika dalam melakukan pelayaran orang akan menemukan tempat itu secara alamiah, orang akan terkonek (tersambung-red) dengan jalur-jalur itu yang sudah tua, jadi kalau dihitung 2 milineum atau 2000 tahun daerah itu bukan daerah terpencil, mereka saling terkonek (tersambung-red) dengan satu dan lainnya.

Hanya arkeolog belum menemukan bukti yang kuat, korelasi antara wilayah tersebut. Seperti Keddah dengan Aceh Utara sudah ditemukan korelasinya karena ada benda yang ditemukan sama di tempat itu, terutama keramik yang diperdagangkan dan itu ditemukan.

Pengaruh Samudera Pasai pun sampai ke Jawa. Seperti Wali Songo juga bisa dikaitkan dengan Pasai, walaupun beberapa periode ada keterkaitan dengan Aceh, sebab kalau di Banten dengan Aceh pada akhirnya, tapi pada awalnya dia dengan Samudra Pasai.

Sebelum ditaklukan oleh Portugis Islam sudah sampai ke Jawa, berkoordinasi Batavia jangan sampai di bawah pengaruh Portugis, tapi Belanda (kemudian) ambil alih, Islamnya kuat di Sunda kelapa itu.

Kalau di Jawa Barat, Banten sudah tidak bisa dipungkiri lagi menjadi bagian koloni Islam yang kuat. Sultan Hasanuddin, Muhammad Yusuf, dll, itu tanggungjawab mereka menjaga Islam dengan gerbang-gerbangnya. Mungkin kasusnya berbeda dengan raja Mataram belakangan ini, Sultan Agung yang di Jawa Tengah akan berbeda konteksnya, tapi dengan Banten dan Makasar masih punya hubungan kuat.

Kalimantan, ada Banjarmasin. Kalau Maluku secara tidak langsung, mungkin karena dia punya hubungan dengan Jawa, tetapi secara koordinasi garisnya putus-putus dengan Pasai atau Aceh. Saya melihat (seperti) itu, tapi saya yakin ada hubungannya, entah bagaimana Aceh mau memanggul itu sebagai khalifah-nya, tidak tahu.

Bagaimana cari mengetahui informasi apa saja yang ada pada batu nisan?

Kita sudah klasifikasikan gayanya masing-masing. Style-nya apa sudah kita buat. Jadi kronologisnya, “kalau bentuk seperti ini tahun sekian, (tahun) berapa?” Aceh itu selama 500 tahun punya 27 jenis batu nisan, 50 tahun ke 50 tahun, berkembang dari segi bentuknya. Karena memang masih kerangka pikir saya sebagai arkeolog. Kalau saya bilang ada (yang) lebih tua dari Aceh Darussalam, di Lamreh itu ada Lamuri yang diberitakan oleh orang Arab awal, jaman Sriwijaya, (Lamuri) itu sudah disebut orang.

Kemudian Samudra Pasai yang muncul-muncul sudah menjadi Islam, kemudian ada Barus, yang bagian historisnya, ada bagian Islamnya. Selama 100-200 tahun, mereka sudah Islam. Jadi ada sebuah negeri (yang) mereka tidak Islam, tidak Hindu, tidak Buddha juga, tetapi (pada) akhir-akhir periodenya, mereka jadi Muslim dan ini memang banyak peneliti yang belum banyak tahu. Kalau saya bilang, (hal) tadi mulainya sejak abad ke 13.

Abad ke -13 sudah berdiri Daarul Islam dalam tanda kutip. Jadi koloni-koloni kantung-kantung orang Islamnya sudah ada banyak, dan mereka pasti sudah punya wakil pimpinannya ada Amirulmukminin-nya sudah ada.

 

Bang Deddy Satria mengamati salah satu nisan di Aceh. Foto: Rizki Lesus - JIB

Bang Deddy Satria mengamati salah satu nisan bersejarah di Aceh. Foto: Rizki Lesus – JIB

Menurut anda, bagaimana akhirnya Islam bisa masuk ke Nusantara khususnya ke Aceh?

Islam sebenarnya tidak tersebar lebih tua. Berkembangnya Islam itu punya momen tertentu. Saya melihat ketika Islam dihancurkan oleh Mongolia orang Tartar itu, di bawah Jengish Khan yang kejam (dan) menghancurkan dunia Islam. (Peristiwa itu) sebenarnya malah menyebarkan benih Islam yang lebih luas, yang tidak pernah diperkirakan orang (seperti) itu, seperti teori kuantum.

Karena setelah dihancurkan lalu menyebar benih yang dihancurkan itu. Karena (itu) Islam jadi berkembang pesat. Justru ketika itu Islam berkembang, ketika khalifah sampai ke India, dan di Eropa berbenturan dengan Bizantium, Mesir sudah selesai, dan ini wilayahnya kemudian meluas lagi ketika orang-orang Islam bertemu dengan orang Turki itu, mereka lebih bertanggungjawab menyebarkan Islam ke Eropa bagian Bizantium.

Tapi Mongol setelah berteman dengan orang Turk yang muslim ini, mereka menyebar lebih luas lagi malah Islam lebih dikekalkan lagi istilahnya, karena Samarkand sendiri itu jadi pusat studi Islam yang kompeten di zaman Timur Lenk, walaupun dulu dia tidak Islam, tapi dia meninggal dalam keadaan muslim. Anak-anaknya itu kemudian Islam semua, dan Islam jadi lebih kukuh.

Cuma untuk pengembangan ilmu pengetahuan menjadi berhenti tapi pengembangan Islamnya tidak berhenti, semakin pesat, dan Aceh menerima hikmah dari itu semua, karena jaringan itu banyak lari ke kepulauan ada pedagang-pedagang yang menghindari perang ini, mereka masuk ke bagian laut lebih banyak.

India itu jadi markas mereka, daerah-daerah Tamil, Chenai, di Malabar itu (adalah) pusat Islam sebenarnya. Walaupun Islam tidak dikembangkan luas di situ, tapi itu istilahnya pangkalan-pangkalan sampai ke Guang Zhou, China, Islamnya sudah padat dan berkembang pesat pada periode yang sama. Dan Yuan itu, entah bagaimana jadi pelindung Islam, (Yuan) itu kan orang Mongol sebenarnya. Mereka punya agama yang (ada) tahapan, tetapi ada yang Buddha juga, tapi mereka (pun) ada yang muslim juga. Di Eropa mereka ada yang kristen, saya melihatnya (terjadi pada) abad ke-13.

Aceh dalam sejarahnya menerima banyak orang asing. Sultan Aceh sendiri menyediakan banyak kampung-kampung baru yang itu etnisnya beragam, mau di-Hindu diterima, muslim diterima, walaupun kenyataannya yang muslim lebih banyak. Orang Turki punya pengaruh besar di Aceh karena mereka punya koloninya di sini, ada kampungnya di sini.

Di Aceh ada kampung Romawi, orang-orang Turki dan Romawi mereka disebut orang Ruum dalam Hikayat Aceh. Ruum itu para penakluk Bizantium. Itulah  kenyataan sejarah, kita dulu tahapan agamanya di pantai utara ini, karena berbeda dengan di Jawa yang sudah jelas akar budaya, mereka sudah jelas dari dulunya.

Di Aceh ini belum jelas, orang seperti apa dulunya menerima Islam. Islam di Palembang juga diterimanya seperti apa itu sudah jelas, Melayu pesisir Timur jelas. Tapi yang di Aceh itu menarik, mereka tidak dipertimbangkan oleh sejarawan bisa menjadi centrum dan punya kekuatan besar menyebarkan Islam. (Hal) itu tidak pernah diperkirakan orang. Kenapa tidak Sriwijaya (yang) melanjutkan itu? Berhenti, selesai dia. Kenapa tidak Majapahit? dia berhenti, malah ia menjadi Islam kan? Dimasuki oleh perkembangan Islam itu sendiri. Dengan adanya Demak, dan membuat mereka tersisih dan tidak populer, sehingga ditinggalkan.

 

Mengapa anda memilih menjadi Arkeolog dan meneliti batu nisan?

Memang panggilan jiwa pribadi, dari dulu studi skripsi saya memang batu nisan saja. Awal-awal, saya tidak tahu apa yang ditulis persisnya. Satu ayat Al-Quran sudah tahu, saya pikir sudah cukup. Yaitu (ayat di surat) Al-Baqarah, (yaitu) ayat kursi. Dan terakhir ini (ayat kursi), yang penting saya sering baca. “Ohh ternyata ada namanya?”

Terukir di situ (nisan) misalnya, “Ini kubur orang yang mulia, banyak ilmunya, bijaksana dan lain-lain.” “Ohh, rupanya dia raja.” di situ koneksinya lebih luas, ini orang tidak hidup sendiri, tapi banyak kawan-kawan di zamannya. Ada ratusan orang mereka, mungkin bukan ulama, bangsawan, keturunan sultan, tapi mungkin Wadzir Menteri atau orang-orang kaya.

Dari sana kita tahu Aceh itu menjadi makmur karena perdagangan, dan ini syarat negeri Islam untuk berkembang dan Baghdad berkembang di puncak kemakmuran, begitu juga dengan Umayyah yang berkembang dengan Andalusia, kemudian bergeser ke Barat, maju karena ekonominya dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dan Islam berkembang di situ, Aceh berkembang dengan Islam, mungkin di Jawa dan Banten yang berkembang dulu (dahulu-red), juga karena pengembangan perdagangan Islam.

 

Apa harapan anda dengan meneliti penemuan batu-batu nisan yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu di Aceh sendiri?

Memang penelitian seperti ini belum begitu popular. Ketika  manuskrip kemudian sudah punah, satu harapan untuk menyusun sejarah Islam Asia Tenggara dengan Aceh sebagai model, untuk melihat yang lain-lain itu, hanyalah lewat batu nisan, yang dari tahun 600 sudah terjaga.

Wawancara oleh : Rizki Lesus – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)