KH Mas Mansur, Pemuda, dan Tanah Air

KH Mas Mansur, Pemuda, dan Tanah Air

KH Mas Mansur adalah sosok Muhammadiyah yang khas. Ia bukanlah tokoh Muhammadiyah yang berasal dari keluarga ‘Bani Hasyim’ seperti Kiyai Syujak, H. Fachrodin atau Ki Bagus Hadikusumo, empat bersaudara yang sempat mewarnai kepemimpinan di Muhammadiyah selama awal-awal masa berdirinya. KH Mas Mansur bahkan bukan dari Yogyakarta, tempat dimana Muhammadiyah berdenyut...
Bila Fatwa Ulama Diabaikan Penguasa

Bila Fatwa Ulama Diabaikan Penguasa

Sekarang-sekarang ini, kita sedang menunggu hasil gelar perkara Ahok terkait kasus penistaan agama. Memang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan Ahok menista Al-Qur’an dan Ulama, tapi itu rupanya tidak menjamin aparat penegak hukum memutuskan Ahok melanggar pasal penistaan agama. Aparat tampaknya sangat berhati-hati dalam kasus Ahok ini, untuk tidak mengatakan...
Pengadilan Surambi: Hukum Islam di Tanah Jawa

Pengadilan Surambi: Hukum Islam di Tanah Jawa

Kedudukan Pengadilan Surambi tidak secara langsung berada di bawah raja, namun dipimpin oleh Ulama’. Keputusan persidangan yang dilakukan di serambi masjid ini berfungsi sebagai nasihat bagi raja (Sultan atau Sunan) dalam mengambil keputusan Pelaksanaan syari’at Islam di Nusantara pada masa lalu adalah sebuah fakta sejarah. Sejumlah lontaran opini yang menyebutkan...
Djihad dan Qitaal - Masjoemi Priangan (1946)

Djihad dan Qitaal – Masjoemi Priangan (1946)

JIHAD saat ini seperti salah satu kata yang mendapat kesan negatif. Padahal kata ini dahulu adalah salah satu jembatan menuju kemerdekaan Indonesia. Buku terbitan Masyumi daerah Priangan (Jawa Barat) ini adalah salah satu dokumen yang bisa memberikan pengetahuan kepada kita bagaimana para pejuang kemerdekaan memaknai Jihad dan Qitaal. Diterbitkan pada...
Rekonsiliasi dan Renungan (1): Luka Sebelum '65

Rekonsiliasi dan Renungan (1): Luka Sebelum ’65

Rekonsiliasi belakangan menjadi salah satu kata yang sering dibincangkan.Terlebih jika membahas sejarah bangsa ini, khususnya dalam soal sejarah pergulatan bangsa Indonesia dengan komunisme.Sebagian pihak meminta agar dilakukan rekonsiliasi antar anak bangsa, antara korban dengan pelaku.Bagi yang meminta rekonsiliasi, korban berarti orang-orang yang dirugikan (baik materil maupun non materi) pasca peristiwa...
Pemberontakan PKI Madiun 1948: (1) Hatta dan Oposisi

Pemberontakan PKI Madiun 1948: (1) Hatta dan Oposisi

Pasca Indonesia merdeka, politik di tanah air terus bergerak dinamis.Kabinet naik dan jatuh karena persoalan politik.Persoalan semakin rumit ketika Belanda melancarkan serangan militernya ke Indonesia.Upaya diplomasi dilakukan, termasuk melalui perjanjian Renville yang ditandatangani Perdana Menteri Amir Syarifoedin dari sayap kiri. Namun sebuah peristiwa pemberontakan akan mengguncang republik yang baru lahir,...
PKI, Agama dan Soviet

PKI, Agama dan Soviet

Hindia Belanda awal abad ke 20 memasuki fase yang baru. Kata-kata seperti vergadering, kapitalisme, hingga nasionalisme menghiasi pikiran dan tulisan orang-orang pergerakan. Sarekat Islam yang memberi perasaan harga diri pada orang-orang pribumi, kemudian menyatukan mereka, bersinggungan dengan komunisme yang muncul sebagai daya dorong penolakan lebih keras terhdap penjajahan.Maka terasa wajar...
Kaum Merah di Ranah Minang (1): Dari Reformis ke Islam Revolusioner

Kaum Merah di Ranah Minang (1): Dari Reformis ke Islam Revolusioner

Pemberontakan komunis di Minangkabau berjalan tak bersamaan dengan di Jawa. Perselisihan antara pengikut PKI Batavia dan Tan Malaka memecah gerakan komunis di sana. Meski demikian, agama tetap menjadi titik tolak utama gerakan dan pemberontakan di Minangakabau. Perlawanan terhadap kolonialisme bagi orang minang bukan hal baru. Dari Perang Paderi yang dahsyat...
Meletusnya Pemberontakan Kaoem Merah

Meletusnya Pemberontakan Kaoem Merah

Pertemuan Prambanan membuka jalan bagi terciptanya pemberontakan melawan pemerintah kolonial di Jawa. Berbeda dengan di Batavia, pemberontakan di Banten berdiri diatas Jihad fi Sablilillah. Aktornya pun bukan kamerad, tetapi ulama.   Perlawanan di Batavia PKI, selain cabang Yogyakarta, Madiun, dan Surakarta, semua menyatakan persetujuannya. Instruksi terakhir untuk memberontak dikirim dari...
Lahirnya Komunisme di Indonesia (1): Berawal dari Sarekat Islam

Lahirnya Komunisme di Indonesia (1): Berawal dari Sarekat Islam

Lahirnya Sarekat Islam menandai gerakan baru pribumi di Hindia Belanda. Kemudian dari dalam muncul kaum merah yang radikal. Cikal bakal gerakan komunis di Indonesia. Perselisihan dalam tubuh Sarekat Islam pun tak bisa dihindari.   Hindia Belanda (Indonesia) diawal abad ke 20 adalah sebuah negeri yang telah melalui zaman yang berbeda....
Komunisme dan Gerakan Islam di Indonesia (1915 - 1927)

Komunisme dan Gerakan Islam di Indonesia (1915 – 1927)

  Tulisan ini adalah upaya untuk menulis (ulang) sejarah komunisme di Indonesia. Disebut menulis ulang karena saat ini telah terjadi berbagai silang pendapat bahkan gugatan terhadap penulisan sejarah komunisme di Indonesia, terutama yang disebut-sebut upaya rekayasa atau distorsi sejarah yang ditulis oleh rezim orde baru dibawah Suharto. Ditambah lagi, pasca...
Gerak Dakwah Persis

Gerak Dakwah Persis

Jumlah awal anggota Persis pada masa pendirian itu tidak kurang dari 20 orang. Aktivitas Persis masa awal pun hanya berkisar pada jama’ah shalat Jum’at. Adapun syarat untuk menjadi anggota Persis pada masa itu hanyalah minat tinggi terhadap persoalan agama dan muslim yang mewakili baik sudut pandang modernis maupun tradisionalis pada...
Dengan Pena dan Negosiasi: Refleksi Perang Belanda

Dengan Pena dan Negosiasi: Refleksi Perang Belanda

Pemerintahan Belanda menjadi kian galau hingga harus berulang kali mengganti kebijakan militernya selama di Aceh. Dari perang terbuka, barisan konsentrasi, administrasi sipil, hingga ekspedisi militer. Belanda harus mengubah kebijakannya antara administrasi sipil dan ekspedisi militer berkali-kali disebabkan oleh pasukan-pasukan gerilya Aceh yang mengancam keberadaan Belanda diseluruh Aceh. 26 Maret 1873...
Majalah Jejak Islam No. 2: Kiprah Muslimah di Panggung Sejarah

Majalah Jejak Islam No. 2: Kiprah Muslimah di Panggung Sejarah

        Alhamdulillah, telah terbit Majalah Jejak Islam  edisi No. 2. Tema Majalah edisi kali ini adalah KIPRAH MUSLIMAH DI PANGGUNG SEJARAH. Simak tulisan Tiar Anwar Bachtiar, doktor sejarah yang mengangkat tentang Kartini dan Feminisme; telusuri perjalanan Jilbab di Indonesia; reguk kisah cinta H. Agus Salim dan istrinya;...
Bakti Santri untuk Negeri: Fatwa Jihad sang Kyai

Bakti Santri untuk Negeri: Fatwa Jihad sang Kyai

Kumandang adzan syahdu menggantung di langit senja Cibarusah, penghujung Bekasi dan Cikarang kini. Merahnya semakin pekat, sirna, sunyi. Area seluas 20 hektar itu kian lengang dengan karung-karung bertumpuk bekas latihan perang, di kelilingi hutan yang masih lebat dengan pepohonan yang kian melegam. Kini, para santri itu memasuki Masjid Mujahidin untuk...
Menista Islam dari Masa ke Masa

Menista Islam dari Masa ke Masa

Sedari dulu, ulu hati kehormatan umat Islam telah diinjak-injak oleh musuh-musuhnya lewat penistaan agama.Aksi nista mereka telah ciptakan keresahan dan benturan di tengah masyarakat. Di abad ke-18, hidup seorang haji yang pernah menggemparkan daerah Tuban, pesisir Jawa Timur. Namanya Ahmad Mutamakin. Ia telah mengabaikan syariat dan mengajarkan ilmu hakikat kepada orang-orang. Diceritakan...
"Islam di Aceh bukan Islam yang independen tapi Islam yang global"

“Islam di Aceh bukan Islam yang independen tapi Islam yang global”

Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) Rizki Lesus berkesempatan mengunjungi bumi Serambi Mekkah, Nangro Aceh Darussalam beberapa waktu silam. Alhamdulillah, jejakislam.net dapat bersua dengan para penggiat komunitas-komunitas sejarah Islam di Nusantara seperti CISAH (Center of Information of Samudera Pasai Heritage), Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan lainnya. Dalam lawatannya, jejakislam.net...
Latest entries
Islam dan Kerukunan Umat Beragama

Islam dan Kerukunan Umat Beragama

Satu waktu, wartawan majalah Panji Masyarakat mewawancarai mantan Menteri Agama, KH. Saifuddin Zuhri, ihwal kerukunan antar umat beragama. Dalam wawancara itu, Tokoh NU ini menerangkan, kerukunan bisa terwujud apabila adanya toleransi. Toleransi, menurutnya, menenggang orang lain tanpa mengorbankan prinsip. “Saya orang Islam, ber-Tuhan kepada Allah SWT, dan Muhammad adalah Utusan Tuhan. Bila saya korbankan prinsip...
Buya Hamka dan Pancasila

Buya Hamka dan Pancasila

Pancasila. Sembilan huruf itu, dari sejak awal digali oleh Sukarno dan dilengkapi oleh Panitia Sembilan di tahun 1945, hingga kini tak kehilangan perbincangannya di masyarakat. Sejak masa kemerdekaan, rezim orde lama, orde baru, Pancasila terus diberikan makna yang berbeda-beda. Jika Pancasila awalnya sebagai dasar negara merupakan sebuah landasan sementara sebelum sidang konstituante, maka di rezim...
Rekonsiliasi dan Renungan (3): Dari Buru ke Tanah Suci

Rekonsiliasi dan Renungan (3): Dari Buru ke Tanah Suci

Benarkah orang-orang menginginkan rekonsiliasi dari atas? Ataukah rekonsiliasi itu sebenarnya sudah berjalan dengan sendirinya?   Lautan manusia. Pemandangan sungguh dramatis. Semua menatapnya dengan takzim. Bulir-bulir bening yang entah mengapa sudah menggunduk di sudut mata. Air mata yang tak henti-hentinya meleleh melewati pipi. Dinding yang begitu kokoh seakan runtuh dengan menatapanya. Ka’bah, membukakan kesadaran ruhani akan...
Rekonsiliasi dan Renungan (2): Rekonsiliasi Hakiki

Rekonsiliasi dan Renungan (2): Rekonsiliasi Hakiki

Ada sisi lain dari tragedi 1965 yang bisa kita lihat. Islam menjadi dominan tampil dalam satu wajah, yaitu wajah politik. Alih-alih pendekatan politik konservatif, beberapa orang mencoba melihat dari sisi lain. Merangkul para komunis dan keluarganya.   Kerugian Umat Islam Pasca 1965 Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo, Arif Wibowo menyoroti tindakan pembunuhan terhadap...
Pemberontakan PKI Madiun 1948: (6) Pembantaian Ulama dan Santri

Pemberontakan PKI Madiun 1948: (6) Pembantaian Ulama dan Santri

Selain aparat pemerintah, warga sipil khususnya para kiyai dan para santrinya yang tak bersalah, nyatanya adalah sasaran serangan-serangan sistematis dan keji oleh PKI. Koran seperti Sin Po hingga saksi yang masih hidup menceritakan peristiwa biadab tersebut. Sebuah bukti bahwa pemberontakan Madiun bukanlah pembelaan diri. Seorang antropolog Amerika, Robert Jay, yang mulai tahun 1953, turun ke...
Pemberontakan PKI Madiun 1948: (5) PKI Membela Diri?

Pemberontakan PKI Madiun 1948: (5) PKI Membela Diri?

PKI pasca pemberontakan 1948 berusaha membela diri mereka mengenai pemberontakan Madiun. Menurut Aidit ‘peristiwa Madiun’ adalah provokasi Hatta-Sukiman-Natsir. Saat kebangkitan PKI di Tahun 1950-an beredar narasi tandingan atas peristiwa Madiun 1948. Dalam narasi itu, PKI menyebut bahwa mereka tidak memberontak, tapi membela diri atas provokasi atau penyerangan pemerintah. Salah satunya adalah argumen Aidit yang kemudian...
Pemberontakan PKI Madiun 1948: (4) Akhir dari Pemberontakan

Pemberontakan PKI Madiun 1948: (4) Akhir dari Pemberontakan

Kelompok pemberontak mulai terdesak. Meski Amir mulai menyebut gerakan mereka bukan pemberontakan, tetapi keadaan sudah berbalik. Para pemimpin seperti Amir dan Moesso menemui ajalnya.   Sementara itu pasukan-pasukan pemerintah mulai bergerak dari pangkal awal penyerangannya. Dari arah barat, Brigade Sadikin dari Solo menuju Tawangmangu, di lereng Gunung Lawu, sedangkan dari timur, Brigade S mulai bergerak...
Pemberontakan PKI Madiun 1948: (3) Meletusnya Pemberontakan di Madiun

Pemberontakan PKI Madiun 1948: (3) Meletusnya Pemberontakan di Madiun

Pemberontakan Madiun dimulai. Para penyerang membawa emblem dengan palu arit serta huruf-huruf WFYD-IUS. Serangan mereka berhasil, kemudian disusul dengan penjarahan, kepanikan di kalangan penduduk, penangkapan sewenang-wenang, tembak-menembak, dan ‘penyerbuan secara fasis’. Bendera merah putih disobek dan diganti dengan bendera palu arit, dan potret Sukarno diganti potret Musso.   Pukul 2.30 dini hari, sementara para petani...
Pemberontakan PKI Madiun 1948: (2) Kembalinya Moesso

Pemberontakan PKI Madiun 1948: (2) Kembalinya Moesso

Kembalinya Musso ke tanah air membawa perubahan. Sayap kiri dipersatukan di bawah PKI/FDR dan menjadi oposisi terhadap pemerintahan Hatta. Di Solo suasana mulai memanas. Konflik antara tentara Republik Indonesia memakan korban. FDR segera bereaksi keras. Pemerintah Hatta secara resmi juga menerima Program Nasional FDR, yang dalam banyak hal sebenarnya hampir tidak berbeda dengan program yang...
Kaum Merah di Ranah Minang (2) : Pemberontakan di Silungkang

Kaum Merah di Ranah Minang (2) : Pemberontakan di Silungkang

Pemberontakan diawali di Silungkang. Massa bergerak saat tengah malam tahun baru 1927. Namun persiapan yang tak matang membuat pemberontakan itu dapat dipatahkan.   Sebelum Silungkang, pemanasan’ menuju pemberontakan bukan terjadi di Sumatera Barat saja. Tetapi sampai ke Aceh. Di Aceh propaganda komunisme, juga menempuh kisah yang sama. Marxisme tak banyak diminati masyarakat aceh kecuali bagi...
Lahirnya Komunisme di Indonesia (5): Jalan Menuju Revolusi

Lahirnya Komunisme di Indonesia (5): Jalan Menuju Revolusi

Sikap represif yang diarahkan kepada PKI dibalas dengan rencana pemberontakan. Namun jalan menuju ke sana tak mulus. Tan Malaka dan Stalin menolak rencana itu.   Sikap Gubernur Jenderal Fock memang sangat keras terhadap gerakan komunis. Gubernur Jenderal Dirk Fock pada September 1924 mengadakan sidang Raad van Indie, khusus untuk membahas langkah-langkah mengontrol (bestrijden) komunisme. Pertama...
Lahirnya Komunisme di Indonesia (4): Akhir Kaum Merah di SI

Lahirnya Komunisme di Indonesia (4): Akhir Kaum Merah di SI

Rezim pemerintah kolonial berubah menjadi sangat keras terhadap pergerakan pribumi. Munculnya Haji Misbach menjadi tokoh komunis yang menonjol. Menggabungkan Islam dan komunisme.   Di Kongres SI tahun 1922, Tjokroaminoto menekankan perjuangan SI berdasarkan Islam dan menegaskan Islam-lah satu-satunya elemen yang dapat menyatukan masyarakat di Hindia Belanda. SI dan PKI menempuh jalan masing-masing. Tetapi situasi saat...