Mengenang Perang Aceh

Perang Aceh meletus pada 26 Maret 1873. Perang dahsyat ini berlangsung setidaknya hingga 40 tahun. Melibatkan Aceh, satu bangsa yang melawan dengan gigih berdasarkan semangat perjuangan di jalan Allah, melahirkan pahlawan-pahlawan dengan nama yang mahsyur di tanah air. Dalam rangka memperingati meletusnya Perang Aceh, Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) mempersembahkan rangkaian tulisan Mengenang Perang Aceh.… Continue reading Mengenang Perang Aceh

Teungku Chik di Tiro: Ulama di Balik Perang -7 (Habis)

Orang-orang Pidie memegang senjata. Sumber foto: Koleksi digital KITLV

Peranannya dalam perang Aceh, khususnya tahun 1874 hingga 1891 tak dapat dikesampingkan. Nama besar keluarga di Tiro dimulai dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut. Seorang ulama yang memimpin Dayah Tiro. Dayah ini terletak di Gampong Tiro, di kiri dan kanan Sungai Pidie. Pidie telah lama menjadi satu pusat Pendidikan Islam di Aceh.… Continue reading Teungku Chik di Tiro: Ulama di Balik Perang -7 (Habis)

Takluknya Sang Habib dan Perang yang Brutal – 6

Kolonel Karel van der Heijden memang gagal di Samalanga. Namun ia berhasil mencengkeram kembali satu per satu wilayah di Aceh Besar dan sekitarnya. Van der Heijden berhasil menaklukkan Krueng Raba hingga Mon Tassik. Pasukannya juga terus mengejar pasukan Habib Abdurrahman yang tercerai berai hingga Mukim XXII dan XXVI. Taktik membakar desa-desa dilakukan van der Heijden… Continue reading Takluknya Sang Habib dan Perang yang Brutal – 6

Perang Rakyat di Aceh – 5

Pada 1 Mei 1874, Jenderal Van Swieten tiba di Batavia. Ia disambut Gubernur Jenderal James Loudon. Pasukan yang kembali dari Aceh di sambut meriah dengan gapura kehormatan dan karangan-karangan bunga. Bunga-bunga indah tersebut menutupi fakta bahwa persoalan Aceh sama sekali belum selesai. Pengganti Van Swieten di Aceh adalah Kolonel J. H. Pel. Di Aceh Besar,… Continue reading Perang Rakyat di Aceh – 5

Menambang Uang dari Perang – 3

Peluru yang dimuntahkan kapal Citadel van Antwerpen pada bulan Maret menandai pecahnya perang Aceh. Tetapi pertanyaaannya, mengapa Belanda menyerang Aceh? Jawabannya, tentu saja terletak pada keuntungan-keuntungan yang akan didapat dari penguasaan terhadap Aceh. Sejak 1870, atau 3 tahun sebelum perang Aceh, Terusan Suez telah dibuka. Hubungan dengan Eropa menjadi lebih cepat. Jika sebelumnya memakan waktu… Continue reading Menambang Uang dari Perang – 3

Babak Ke Dua Perang Aceh – 4

18 Mei 1873. Groningen, sebuah kota di Belanda dikunjungi tamu yang spesial. Raja Willem III. Raja tersebut menemui seorang pria. Ayah dari Johan Harmen Rudolf Köhler. Mayor Jenderal yang mati ditangan pejuang Aceh. Kunjungan belasungkawa itu diabadikan dalam bentuk litografi oleh J.W. Egenberger. Kematian Köhler juga diabadikan oleh penyair J.J. A. Gouverneur. Ia menuliskan; Ada… Continue reading Babak Ke Dua Perang Aceh – 4

Meletusnya Perang Aceh – 1

Kapal Perang Djambi. Sumber foto: maritiemdigitaal.nl

Adat ban adat hukom ban hukom, adat ngon hukom sama kembar; tatkala mufakat, adat ngon hukom, nanggroe senang hana goga (adat menurut adat, hukum syariat menurut hukum syariat, adat dengan hukum syariat sama kembar; tatkala mufakat adat dengan hukum itu negeri senang tiada huru-hara) – Teungku Chik Kutakarang dalam kitab Tadhkirat al-Radikin (1889)[1] Kesultanan Aceh… Continue reading Meletusnya Perang Aceh – 1

Teuku Mansoer Leupueng: Lentera Harmoni Barat dan Timur

Kediaman Gubernur Aceh di Kutaraja. Sumber foto: Koleksi Digital Tropenmuseum

Ingatan masa kecilku melayang jauh ke tahun 1990an. Padang Sakti-Lhokseumawe tempatku tumbuh besar itu menyaksikan setidaknya dua hal. Yang pertama, menara-menara gas dari perusahaan Arun LNG yang menjulang tinggi, terus mengepul disiang hari dan membakar terang dimalam hari. Yang kedua, pagi yang ditemani oleh bule-bule berambut pirang nan-gendut yang singgah di kedai lokal untuk sekedar… Continue reading Teuku Mansoer Leupueng: Lentera Harmoni Barat dan Timur

Pendidikan Kolonial di Mata Buya Hamka

Sekolah MULO di Surakarta. Sumber foto: Tropenmuseum

“Akhirnya setelah sampai sekolah tinggi, mulailah diajarkan “Agama Islam” dari segi “ilmu pengetahuan” Barat, pendapat profesor anu, kupasan sarjana fulan, yang isinya ialah memandang Islam sebagai pandangan orang lain. Maka tidaklah kita heran kelak apabila mereka ini keluar dari dalam sekolahnya, rengganglah minyak dengan air. Bertemulah kita dengan orang Belanda yang lebih dari Belanda. Orang… Continue reading Pendidikan Kolonial di Mata Buya Hamka

Kecenderungan Santri dalam Kelompok Sosio-Kultural di Jawa

Santri Pesantren Denayar tahun 1970. Sumber foto: Karel Steenbrink, KITLV Digital Media Library (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/13?q_searchfield=pesantren)

Pada 31 November 2000, sejarawan Universitas Gadjah Mada, Prof. Djoko Suryo mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Tradisi Santri dalam Historiografi Jawa: Pengaruh Islam di Jawa”, dalam sebuah seminar bertajuk Seminar Pengaruh Islam dalam Budaya Jawa. Dalam makalah tersebut, Prof. Djoko Suryo memaparkan bahwa tradisi santri telah menjadi inti dari apa yang disebut sebagai Tradisi Besar (Great… Continue reading Kecenderungan Santri dalam Kelompok Sosio-Kultural di Jawa

Pangeran Diponegoro dan Meletusnya Perang Jawa

Lukisan Diponogor oleh A.J. Bik tahun 1830. Sumber: Memory of The Netherlands/ https://www.geheugenvannederland.nl

“Pangeran Diponegoro berada tidak jauh dari situ sambil menunggang kuda hitam yang indah dengan perlengkapan berkuda sangat bagus. Ia berbusana seluruhnya putih dengan gaya Arab.” Kolonialisme di nusantara tidak tak akan bercokol tanpa tangan pribumi yang menghamba pada kekuasaan asing. Termasuk ketika sejarah merekam cengkraman kolonialisme di tanah Jawa pada abad ke-19. Di Jawa, kolonialisme… Continue reading Pangeran Diponegoro dan Meletusnya Perang Jawa

Pahitnya Kopi dan Kolonialisme di Indonesia

Preanger Stelsel. Sumber foto: Koleksi online Tropenmuseum

Di Instagram ada 2.3 juta kiriman dengan tagar #Kopi. Ada 800 ribu lebih kiriman tagar #Ngopi. Deretan foto berbagai sudut dan jenis kopi setiap hari muncul di lini masa media sosial. Generasi milenial disebut begitu boros menghabiskan uang untuk secangkir kopi. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan meminta generasi milenial mengurangi jajan kopi agar bisa menyusun… Continue reading Pahitnya Kopi dan Kolonialisme di Indonesia