“Kalau aghniya’ (orang-orang kaya) gak usah dipikirkan, bisa berjalan sendiri, tapi kaum dhuafa’ harus kita bantu” – KH Sholeh Iskandar

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc., menyatakan bahwa K.H. Sholeh Iskandar memiliki pribadi dengan watak dan karakter yang kuat. Hal itu dikatakannya dalam Seminar Nasional dengan tema Pengusulan KH. Sholeh Iskandar Sebagai Pahlawan Nasional di Gedung Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Shiddiq, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Rabu (7/12/2016).

KH Sholeh Iskandar adalah seorang ulama, sekaligus seorang mujahid, dan juga seorang patriot. Gabungan dari pendidikan ulama, mujahid dan patriot itulah yang menyebabkan beliau tidak pernah berhenti berpikir, dan tidak pernah berhenti untuk berbuat, mempersembahkan yang terbaik untuk umat dan bangsa.

Setiap saya menyertai beliau, selalu ada ide-ide dan konsep yang brilian, yang sangat luar biasa, bahkan juga akhir hayat beliau, itu dalam pada saat memikirkan umat, jadi bukan pada saat beliau sakit di rumah sakit, tapi pada saat beliau memikirkan umat, jadi ini barangkali sesuatu yang sangat berharga yang perlu kita ambil,” ujar pak Kyai Didin.

Bicara sejarah adalah bicara sesuatu y.ang bisa menghidupkan, bicara tentang spirit, dan bicara tentang semangat. Bukan semata-mata bicara tentang persitiwa yang lama. KH. Sholeh Iskandar adalah sosok yang tidak pernah berhenti berpikir dan berbuat, dan memiliki orientasi yang jelas. Orientasi sebagai pemimpin sejati yaitu mengangkat harkat derajat kaum dhuafa’ (tidak mampu) yang ini harus menjadi perhatian oleh semua. Karena menurut beliau ketika kaum dhuafa’ mendapat perhatian dari situlah kekuatan umat dan bangsa.

Bagus juga beliau disebut sebagai bapak kaum dhuafa’, dimana-mana berfikir selalu kaum dhuafa’. Beliau pernah berkata kepada saya, kalau aghniya’ (orang-orang kaya) gak usah dipikirkan, bisa berjalan sendiri, tapi kaum dhuafa’ harus kita bantu, jadi ke-elit-an pemimpin dalam diri beliau itu tidak ada, sekarang kan banyak pemimpin yang elit, yang tidak bersentuhan dengan problem masyarakat,” tutur Direktur Pasca Sarjana UIKA Bogor tersebut.

Seminar Nasional KH Sholeh Iskandar di UIKA Bogor. Sumber foto: Bapak Lukman Hakiem

Seminar Nasional KH Sholeh Iskandar di UIKA Bogor. Sumber foto: Bapak Lukman Hakiem

Sebagai upaya mewujudkan Putra Terbaik Bogor yaitu KH. Sholeh Iskandar (Alm.) sebagai Pahlawan Nasional, Pemerintah Kota Bogor bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) adakan Seminar Nasional ini, salah satu anggoa TP2GD sekaligus ketua pelaksana seminar, Arief Rachman Badarudin mengatakan, bahwa sebetulnya Bogor ini memiliki banyak pejuang kemerdekaan yang layak menyandang gelar pahlawan nasional. Bahkan dari TP2GD sudah mengajukan ke Walikota Bogor lima nama tokoh, yaitu Letnan Jenderal Ibrahim Adji, KH. Sholeh Iskandar, Dr. Marzoeki Mhadi, R. Ipik Gandamanah, dan M. A. Salmun.

Moderator, Drs. H. Lukman Hakiem, penulis buku biografi K.H Sholeh Iskandar sejak tahun 2008 sudah aktif mengajukan dan mengusulkan tokoh-tokoh di Indonesia supaya menjadi Pahlawan Nasional dengan menyiapkan berkas-berkas yang mendukung. Pada tahun itu, berhasil menjadikan Moh Natsir sebagai Pahlawan Nasional di Era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dan yang perlu diketahui bahwa penetapan Pahlawan Nasional adalah hak pereogatif Presiden Republik Indonesia (RI).

Saya ingin sampaikan ke bapak ibu sekalian ini, mengusulkan pahlawan nasional ini dasarnya undang-undang dasar. Undang-undang dasar 45 itu dikatakan bahwa, memberi gelar ini hak pereogatif presiden, namun dalam hak pereogatif ini ada proses, dan ini masih tahap awal,” jelasnya.

Dr. Rushdy Hoesein, M.Hum., mengawali pembahasan materi Seminar Nasional Pengusulan KH. Sholeh Iskandar Sebagai Pahlawan Nasional dengan kelebihannya dalam bidang sejarah, terutama sejarah perjuangan KH. Sholeh Iskandar di kancah militer Indonesia. Karena kedekatannya dengan para veteran Divisi Siliwangi yang menjadikan Rushdy mendapatkan banyak informasi dan cerita tentang tokoh putra Bogor tersebut.

KH Didin Hafidhudin (kedua dari kiri), Sejarawan Dr. Rushdy Hoesein, M.Hum (ketiga dari kiri), Lukman Hakiem (kanan). Sumber foto: Islamic News Agency/JITU

KH Didin Hafidhudin (kedua dari kiri), Sejarawan Dr. Rushdy Hoesein, M.Hum (ketiga dari kiri), Lukman Hakiem (kanan). Sumber foto: Islamic News Agency/JITU

Dr. Rushdy sendiri pernah diajak langsung oleh ayah kandungnya berkunjung ke Bogor menemui KH. Sholeh Iskandar, belajar banyak tentang makna perjuangan dari beliau dan dari pergaulannya dengan para tokoh militer pada zaman itu.

Saya sendiri pada akhir tahun 50’an pernah diajak ayah saya ke bogor untuk bertemu dengan beliau (KH. Sholeh Iskandar-red). Oleh sebab itulah, persahabatan saya dengan beberapa tokoh Siliwangi dimulai, akhirnya saya pun banyak mendapatkan kisah pelajaran hidup KH. Sholeh Iskandar, yang menjadikan beliau disamping dikatakan pahlawan revolusi, bisa juga dibilang sebagai pahlawan pembangunan Republik Indonesia pasca revolusi. Jasanya banyak, ketika beliau sudah menjadi veteran, dan ayah saya juga veteran, yang kebetulan sama-sama dari Masyumi oleh karena itu wajar jika beliau dengan ayah saya sangat dekat sekali,” ungkapnya.

Jadi pak Sholeh Iskandar ini, kalau boleh saya perpendek ceritanya, itu adalah seorang tokoh Masyumi, beliau itu waktu revolusi aktif awalnya di Hizbullah di Leuwiliang daerah Bogor sebelah barat, dan peristiwa-peristiwa terkait pertempuran di daerah Bogor bagian barat ini banyak,” tambahnya.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa perjuangan KH. Sholeh Iskandar tidak diragukan lagi di kancah militer. Beliau adalah pemimpin di salah satu batalion brigade di daerah Bogor ini, yaitu batalyon Hizbullah.

Di akhir catatan seminar ini, Prof. Didin menyebutkan bahwa KH. Sholeh Iskandar memiliki cita-cita besar penguatan dalam empat hal. Pertama, bidang pendidikan. Kedua, bidang ekonomi. Ketiga, bidang kesehatan dan yang keempat, bidang persatuan dan kesatuan. “Jadi itu cita-cita beliau yang luar biasa yang harus kita teruskan,” tegas Didin.

Dalam bidang pendidikan, UIKA Bogor menjadi buktinya, dan orientasinya juga jelas, di sana ada kesungguhan untuk membantu kaum dhuafa’. Pesan KH. Sholeh Iskandar kepada para penerusnya, dari dunia pendidikan ini kita harus lahirkan pemimpin. Karena kita tidak ingin melahirkan cendekiawan yang membuat bingung masyarakat. “Pak Sholeh selalu berpesan kepada saya, lahirkan dari Ibn Khaldun para cendekiawan yang memecahkan masalah masyarakat, bukan menjadi beban masyarakat.

Ruh dan semangat dari beliau adalah Islam, bukan hanya sebatas jabatan, gelar ataupun pujian. Prof. Didin begitu yakin bahwa KH. Sholeh Iskandar adalah seorang yang sangat tawadhu’ (rendah hati) beliau selalu mengatakan kepada saya, kita harus menjadi orang yang gembira dan terkenal di langit, bukan di dunia. Biarlah kita dikenal oleh malaikat, bukan oleh pandangan manusia semata. Jadi karena itu, pewaris-pewaris perjuang beliau harus selalu memperhatikan keempat cita-cita yang harus dikuatkan dalam umat dan bangsa ini, yaitu pendidikan, ekonomi, kesehatan dan persatuan kesatuan.

Oleh: Muawwin – Mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun