Pada 22-23 November 2017 diadakan Konferensi Internasional Dinamika Hadhramaut di Indonesia bertempat di Hotel Royal Kuningan Jakarta. Konferensi yang terselenggara berkat kerjasama LIPI, Menara Center for Indonesian Arab Studies, Puslitbang Kementrian Agama Republik Indonesia, dan Hadhramaut Center for History and Culture Documentation ini membahas mengenai,dinamika serta eksistensi orang-orang Hadramaut di Indonesia. Acara dimulai pada hari Selasa, 22 November 2017 diawali dengan sambutan perwakilan pihak penyelenggara dan duta besar beberapa negara Arab di Indonesia. Pembukaan ditandai dengan penabuhan gong oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Setelah rangkaian acara pembukaan selesai kemudian dilanjutkan dengan  acara inti yaitu diskusi panel yang menghadirkan 25 pemakalah dari 8 negara yaitu Indonesia, Yaman, Malaysia, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Amerika Serikat, dan Jepang.

Diskusi panel dimulai pada Selasa, 22 November 2017 dengan 4 presentator serta satu orang panelis yanitu Prof. Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah) dan didampingi moderator, Dr. Najib Burhani. Kemudian dilanjutkan sesi panel ke-2 dengan panelis Prof Syed Farid Al Attas (Singapura) yang dimoderatori oleh Nabiel Hayaze. Konferensi hari pertama ditutup dengan sesi panel ke-3 dengan panelis Dr. Huub de Jonge (Belanda) yang dimoderatori oleh Dr. Adlin Sila.

Pada tanggal 23 November presentasi dilanjutkan sesi anel ke-4 pada dengan panelis Prof. Amani Lubis dan moderator Ai Fatimah Nurfuad. Setelah itu dilanjutkan panel ke-5 dengan panelis Dr. Martin Slama (Austria) yang dimoderatori oleh M. Saifulloh Rohman. Diskusi panel diakhiri panel ke-6 dengan panelis Prof. Yasmine Zaki Shahab (Universitas Indonesia) yang dimoderatori oleh Dr. Adlin Sila. Kemudian dilanjutkan oleh serangkaian acara penutup yang dihadiri juga oleh perwakilan pihak-pihak penyelenggara konferensi internasional tersebut pada pukul 17.00 WIB.

Sumber foto: salam-online.com

Dalam keynote speech-nya Azyumardi Azra memaparkan peta kontemporer masyarakat keturunan Hadhramaut di Indonesia Sebagaimana masyarakat Muslim Indonesia pada umumnya dinamika juga terjadi di tengah diaspora Hadhramaut. Konflik lama antara sayyid dan non-sayyid bertransformasi menjadi konflik Aswaja versus Salafi-Wahabi. Paham Syi’ah juga berkembang di tengah komunitas Hadhramaut di Indonesia, menambah dinamika konflik di antara mereka. Dalam konteks ini konflik internal kaum Hadhrami dalam bingkai Sunni-Syi’ah bisa dilihat sebagai perpanjangan dari konflik Saudi-Iran memperebutkan hegemoni di Dunia Islam. Selain konflik, tumbuhnya sufisme populer berupa majelis dzikir dan shalawat di berbagai kota juga tidak bisa dilepaskan dari peranan keturunan Hadhramaut. Satu hal yang menarik dari dinamika kontemporer komunitas Hadhrami di Indonesia adalah pudarnya peran kaum Hadhrami sekuler di ruang publik nasional dibanding beberapa dekade yang lalu ketika sejumlah orang Hadhrami yang tergolong sekuler memainkan peranan signifikan antara lain di lapangan NGO, politik, dan media massa.

Sementara itu Syed Farid al-Attas menyoroti diaspora masyarakat Hadhramaut di kawasan Samudera Hindia sebagai satu dari dua gelombang diaspora besar orang Arab di samping diaspora masyarakat Syam ke bumi belahan Barat. Diaspora Hadhramaut mendorong tersebarnya mazhab Syafi’i ke kawasan Samudera Hindia dari mulai Afrika Timur sampai ke Nusantara sekaligus menjadikan fikih Syafi’i sebagai acuan hukum dalam perdagangan internasional di kawasan ini sampai datangnya era kolonialisme Eropa. Ciri menonjol dari diaspora Hadhramaut adalah besarnya perhatian mereka dalam menjaga nasab yang kemudian menjadi dasar bagi identitas Hadhrami. Meskipun diaspora ini tergolong besar dan berpengaruh sayangnya studi tentang diaspora Hadhramaut relatif belum banyak. Ada beberapa aspek tentang diaspora Hadhramaut yang belum banyak diteliti antara lain tentang asimilasi mereka, perbandingan antara diaspora Hadhramaut dengan masyarakat Hadhramaut di negeri asalnya, linguistik, sastra, dan musik. Diharapkan Konferensi Internasional tentang Dinamika Hadhrami di Indonesia ini memantik studi lebih lanjut tentang pelbagai aspek kehidupan dinamika Hadhramaut khususnya di Indonesia.

Oleh: Adif Fahrizal – Dosen Sejarah Peradaban Islam IAIN Salatiga