IMG-20160816-WA0051

Kuala Lumpur, 17 Agustus 2016, bertempat di Dewan Seminar Dato’ Hassan Ahmad, Menara DBP, Yayasan Karyawan berkerjasama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia meluncurkan buku transliterasi naskah kuno Melayu berjudul Sulalat u’s-Salatin; yakni Per[tu]turan Segala Raja-raja. Naskah versi Krusenstern dari Rusia ini telah dialih aksara dan disunting dengan kritis, serta diberi anotasi dan dilengkapi dengan pengenalan dasar serta analisis oleh Profesor Emeritus Dr. Ahmat Adam.

Turut serta hadir, Y.A. Bhg. (Yang Amat Berbahagia) Tun Ahmad Sarji Abdul Hamid sebagai Kepala Lembaga Amanah Yayasan Karyawan, meresmikan peluncuran buku tersebut. Acara dihadiri oleh berbagai kalangan peminat kajian naskah Melayu kuno, Gapena (Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia), staff Dewan Pustaka dan Bahasa Malaysia dan juga Centre for Malay World and Islamic Civilization, IIUM. Sementara itu, Datuk Zainal Abidin Borhan, Ketua Gapena, berlaku sebagai moderator pada sesi pengenalan dan diskusi buku tersebut. Pada sesi pertama, Prof. Dato’ Dr. Baharudin Ahmad (Profesor Kursi P.Ramlee, ASWARA), membahas beberapa aspek dan kritik dari transliterasi buku Sulalat u’s-Salatin. Kemudian Professor Emeritus Dr. Ahmat Adam, sebagai peneliti naskah, menyambutnya dengan penjelasan yang cukup mendalam.

Prof. Ahmat Adam adalah sejahrawan, pengalih aksara dan peneliti ternama yang amat giat menelaah naskah-naskah kuno Melayu lainnya seperti Hikayat Hang Tuah. Penelitian dan usaha pentransliterasian naskah Sulalat u’s-Salatin sendiri memakan waktu selama lima tahun semenjak Prof. Ahmat Adam menjadi Fellow Penyelidik di Departemen Sejarah, Universiti Malaya di tahun 2010. Perlu disampaikan di sini bahwa Prof. Ahmat Adam tidak hanya menghasilkan karya-karya seputar sejarah Malaysia, tetapi juga sejarah Indonesia. Terbukti dengan beberapa buku karyanya yang telah diterbitkan di Indonesia; antara lain: The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesian Consciousness (1856-1913), yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Hasta Mitra dan KITLV-Jakarta. Beliau kini menjabat sebagai Profesor Tamu di jurusan Sejarah, Universiti Malaya, dan kini melakukan penelitian dan penulisan tentang aspek-aspek sejarah pengislaman Asia Tenggara pada abad-abad terdahulu.

IMG-20160816-WA0049

Nuruddin ar-Raniri adalah orang yang pertama kali mengenalkan keberadaan naskah Sulalat u’s-Salatin ini. Pada tahun 1638, ia menyatakan dalam bukunya yang berjudul Bustan as-Salatin, bahwa ia menggunakan Sulalat u’s-Salatin atau Sejarah Melayu sebagai salah satu referensinya. Kemudian semenjak 1677 hingga abad ke-19, selain Abdul Kadir Munsyi, banyak juga sarjana asing menaruh minat pada Sulalat u’s-Salatin dan berusaha untuk mendapatkan salinannya. Di antaranya adalah; Petrus van der Vorm, Krusentern, Stamford Raffles, John Leyden, Thomas Braddel, dan W. G. Shellabear.

Krusentern adalah seorang warga negara Rusia yang juga seorang pelaut berdarah Jerman. Pada tahun 1798, ia meminta tiga orang di Melaka yaitu Zakat Long dan dua lainnya yang berketurunan Jawa: Muhammad Tahir al-Jawi, dan Ibrahim Jamrut, untuk menyalinkan naskah Sulalat u’s-Salatin. Karena itulah, naskah ini terlihat mempunyai pengaruh Bahasa Jawa yang pekat. Prof. Ahmat Adam sendiri telah menyampaikan bahwa ada pengaruh Bahasa Jawa Kuno atau Kawi dalam teks Sulalat u’s-Salatin ini. Oleh karena itu, pendekatan filologi dan linguistik adalah hal mutlak dalam usaha pengkajian naskah tersebut.

IMG-20160816-WA0047

Ketika ditanya apakah saran beliau untuk peneliti muda naskah-naskah Kuno Melayu; Prof. Ahmat Adam menjawab bahwa ia tidak menafikan bahwa proses pengkajian naskah Jawi kuno itu sukar. Bahkan untuk menyelesaikan transliterasi naskah Sulalat u’s Salatin ini, beliau mengambil masa selama lima tahun sepenuh waktu (full time). Ia juga menemukan banyak cabaran, termasuk tidak konsistennya pengarang atau penyalin dalam menuliskan bentuk huruf Jawi dan juga ejaan yang berbeda untuk satu kata. Walaupun teks Sulalat u’s-Salatin yang disalin adalah termasuk teks yang tertua, tapi terdapat banyak kesalahan yang dibuat oleh penyalin naskah. Terdapat kesan bahwa naskah disalin dengan tergesa-gesa, sehingga banyak kekeliruan yang membuat pengkaji dan pentransliterasi naskah kebingungan.

Prof. Ahmat Adam memberikan contoh: Huruf Lam keliatan seperti Dal. Sebaliknya, huruf Dal seakan-akan ditulis seperti Lam (Addiraja tampak seperti aldiraja). Kemudian, kekeliruan lainnya terjadi jika titik huruf ba diletakkan di atas menjadi hurud nun. Contoh lain adalah ketika huruf Taa hanya ditulis dengan menggunakan satu titik saja. Apakah membalikkan titik dan huruf memang telah dilakukan oleh pengarang asal naskah jawi melayu zaman silam? Ini sukar dipastikan dan yang boleh dinyatakan adalah di dalam teks seperti naskah Hikayat Hang Tuah pun, penulisan jawi seperti ini juga diamalkan. Ketiadaan vokal pada penulisan huruf Jawi turut menyumbang kepada kekeliruan. Contohnya: kata “Duli” ditulis dengan huruf Dal dan Lam saja. Oleh karena itu, untuk mempermudah proses transliterasi, Prof. Ahmat Adam sendiri menggunakan tekhnik perbandingan berbekalkan buku-buku Sulalat u’s-Salatin dari beberapa versi salinan yang sudah ditransliterasikan oleh orientalis yang namanya disebut di atas termasuk peneliti asing abad ke-21, Henri Chambert-Loir. Oleh karena itu, Prof. Ahmat Adam menyarankan agar peneliti lokal memperbanyak membaca buku-buku berbahasa Melayu Jawi dengan berbagai macam gaya dan jenis penulisan yang berbeda.

Sebagai penutup, Prof. Ahmat Adam menghimbau kepada peneliti dan pengkaji naskah kuno Melayu dari Malaysia dan Nusantara untuk tidak serta-merta menerima mentah-mentah karya sumbangsih orientalis kepada dunia Melayu. Berdasarkan pengamatannya, kajian orientalis pada teks Sulalat u’s-Salatin ini agak menyesatkan. Hal ini disebabkan karena para orientalis itu tidak sepenuhnya menguasai tulisan jawi kuno. Mereka juga tidak mengerti nilai-nilai halus dan akal budi orang Melayu yang tidak hanya terpengaruhi system kepercayaan Islam, namun juga kepercayaan Buddha, Hindu dan Melayu Lokal atau anismisme.

Oleh: Wiwin Oktasari – Mahasiswa S3 jurusan Sejarah dan Peradaban, IIUM, Malaysia