Panas terik menggantung, diselingi desing pesawat yang terus berputar-putar di langit Surabaya. Lepas kumandang adzan bersahutan, ketika bulatnya mentari tepat di atas kepala, pesawat yang berbunyi bagai kepakan sayap jangkrik super cepat, berbising, memuntahkan puluhan ribu selebaran, puluhan ribu kertas bergoyang-goyang, terhempas angin, memenuhi atap, mobil, sepeda, jalan, hingga lorong-lorong Kota tua ini.

Di tepi pantai, di penghujung darmaga, Puluhan Kapal perang Divisi 5 Inggris pimpinan Mayjen EC Mansergh bergoyang di atas laut Jawa, bersiap meluntahkan moncong-moncongnya. Satu persatu Tank Sherman, gress dari Perang Dunia didatangkan dari Jakarta. 24 Pesawat tempur bersiap melesat, menjatuhkan berton-ton bom di Kota tepi pantai ini. Belum lagi 24.000 pasukan darat yang siap merangsek, Surabaya Siaga Satu!

Inggris rupanya marah besar, atas kejadian sumir tewasnya Jendral Mallaby akhir Oktober silam. Namun, rakyat Surabaya menganggap akal-akalan tentara Sekutu saja, seperti yang ada dalam benak pemuda berusia seperempat abad bernama Soetomo, yang dikenal sebagai Bung Tomo, seorang pemimpin Barisan Pemberontakkan Rakyat Surabaya.

“Pernyataan-pernyataan Inggris berkenaan dengan tewasnya Brigjen Mallaby itu, kita hanya anggap sebagai ulangan muslihat Jepang ketika hendak menguasai Manchuria dalam tahun 1931,” kenang Bung Tomo yang menganggap Iggris ingin merebut kemerdekaan dari Indonesia. Ancaman Inggris sekarang memang bukan main-main. Lihat saja isi selebaran yang berjatuhan itu.

Katanya, pukul 06.00 esok, 10 November, seluruh warga Surabaya harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, harus menyerahkan senjata-senjata yang baru saja direngkuh dari Jepang, menyambut riuhnya Hari Kemerdekaan silam. Semua harapan akan negeri merdeka, berdiri di atas kaki sendiri seakan-akan akan sirna esok, menguap ke langit.

Namun, tentu saja semua itu takkan dibiarkan terjadi. Sebab, kata Bung Tomo, rakyat Surabaya masih memiliki Allah, sang Maha Penolong. Dibacanya lamat-lamat selebaran itu, ternyata tak hanya warga saja yang harus pergi. Sambil termenung, dibacanya pelan-pelan per kata.

“..Semua pimpinan Indonesia, termasuk pemimpin-pemimpin Pemuda, Kepala Polisi dan Kepala Radio Surabaya harus melaporkan diri di Bataviaweg pada tanggal 9 November pukul 18.00. Mereka harus datang seorang demi seorang dengan membawa senjata-senjata yang mereka punyai.

Senjata-senjata tersebut harus mereka letakkan di suatu tempat yang berjarak 100 yard ( sekitar 91,4 meter) dari tempat pertemuan. Dari situ orang-orang Indonesia yang dimaksudkan harus menghadap dengan ‘angkat tangan’ dan kemudian akan dilindungi. Mereka harus-harus bersedia menandatangani suatu pernyataan menyerah dengan tiada bersyarat.”

Sesaat, bulir bening berkumpul di sudut mata mantan wartawan Domei ini yang juga penyiar radio ini. Menahan marah, bercampur haru, mukanya memerah, tak kuat membayangkan para pemimpin Surabaya melakukan apa yang diperintahkan Sekutu dan NICA (Belanda).

“Mendidih darah mudaku..Terlukis di depan mataku segenap keadaan, andai kata ultimatum Inggris tersebut kita penuhi. Pembesar-pembesar Republik Indonesia berbaris, tangan diangkat ke atas, menyerah…tanpa syarat..

“..Rakyat dengan perasaan takut seorang demi seorang meletakkan senjata – yang mereka rebut dari tangan Jepang – di muka kaki serdadu-serdadu Inggris….bendera putih menggantikan sang Dwiwarna yang melambai-lambai pada ujung senjata mereka.

“..Tidak jauh dari situ kaki – tangan NICA tertawa kecil, mengejek, menertawakan rakyat Indonesia yang katanya hendak mempertahankan kemerdekaan tanah airnya. “ Sejenak Bung Tomo bertekad. Tangannya mengepal kuat, namun segera hatinya melunak. Senyum merekah, dengan penuh ketenangan.

“Tidak terhingga syukurku kepada Allah SWT selelah melihat sikap rakyat yang mengerti akan isi serta maksud ultimatum tersebut..” guman bung Tomo.

Jihad! Ya, Tak lain ialah rakyat Surabaya tak akan mengamini ultimatum Inggris, tak sudi bertekuk negeri ini yang baru seumur jagung. Lilhatlah ketika para pemuda berdatangan, memenuhi Surabaya. Para Ulama, ustadz, Kyai, santri dalam barisan Hizbullah dan Sibilillah tengah bersiaga. Ketika anak-anak kecil bersama ayah dan kakaknya tak goyah sedikitpun untuk menyerahkan senjata.

Mata Bung Tomo semakin berlinang, melihat riuhnya para kakek, para jompo yang semangat berkobar-kobar menyatakan sanggup bertempur; ingin mereka berhadapan laki-laki dengan kaum imperialis yang mengganggu kemerdekaan Indonesia, katanya.

Jihad, sebuah kata nan sederhana, nan membekas begitu dalam dalam lubuk Bung Tomo setelah kabar Resolusi Perang Sabil Masyumi dan Resolusi Jihad NU menjadi buah bibir masyarakat, menjadi panduan umat Islam Indonesia melawan Sekutu.

Bung Tomo teringat beberapa waktu silam ketika berjumpa dengan para Ulama yang begitu tulus dan cinta akan negerinya, para Ulama yang siap berkorban untuk Tanah Air dan Agamanya, seperti yang ia lihat di hadapannya, ketika para Kyai dan santri pun turut mengangkat senjata untuk berjihad. Wajah-wajah tulus mereka semua kini memenuhi Surabaya.

Terkenang, wajah yang lama tak bersua, KH Hasyim Asy’ari, sang pendiri NU, yang mengukuhkan Resolusi Jihad NU 22 Oktober silam, dan mengirimkan laskar-lakar Hizbullah dan Sabilillah, membopong bambu runcing,  memenuhi lorong-lorong Surabaya.

Jihad, sebuah kata nan membanggakan mereka, dengan secuplik kata ini, berdatangan puluhan ribu kaum muslimin mempertahankan negara.

Disertasi William Frederick, In Memoriam. Sutomo,  menyebutkan bahwa profesi wartawan Bung Tomo yang menjadi awal ia menjali hubungan dengan KH Hasyim Asy’ari, KH Abbas Cirebon, KH Amin, dll.

“Agungkan Allah dalam setiap pidatomu,” nasihat KH Hasyim Asy’ari begitu berbekas di relung hati Bung Tomo, hingga kelak dalam tiap pidatonya, bung Tomo selalu mengagungkan Engkau ya Rabb…

Kemuning senja menyapu langit Surabaya. Nasihat Pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari begitu meresap, dimulailah dengan kemantapan membaca basmallah. Mulailah kembali Bung Tomo siaran di Radio Pemberontakkan, berpidato dengan penuh semangat, dan meneguhkan rakyat akan kemenangan dan kebesaran Allah.

“Slogan kita tetap sama: Merdeka atau Mati. Dan kita tahu, Saudara-saudara, bahwa kemenangan akan ada di pihak kita, karena Tuhan ada di sisi yang benar. Percayalah saudara-saudara, bahwa Tuhan akan melindungi kita semua. Allahu Akbar..Allahu akbar..!

Di penghujung senja,Takbir sungguh memekik, meramaikan gang-gang, mobil, kotak radio seantero Surabaya. “Allahu Akbar..” sebuah pengakuan bahwa bala tentara musuh di seberang sana hanyalah kecil dibanding kekuasaaanMu ya Rabb…

Bahwa, masih ada hambaMu yang mengingatMu, membesarkanMu, memujiMu, dan berharap akan datangnya kemenangan, yang tak lain ialah jannah (surga), kemenangan yang besar. “Mati atau Merdeka, Allahu Akbar!” sebuah peneguh hati yang begitu meresap, memasuki relung hati rakyat yang bersiap menyambut genderang perang.

Senja itu, kecemasan berubah menjadi kemantapan, menyambut seruan jihad. Resolusi Perang Sabil dan Resolusi Jihad NU, yang dikatakan Zainul Milal Bizawe dalam Lakar Ulama- Santri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia, yang menggerakkan spiritual rakyat Surabaya lah yang bertempur melawan penjajah Inggris

Resolusi Perang Sabil, sebuah pengukuhan atas Resolusi Jihad NU, yang baru saja diumumkan kemarin, 8 November di Yogyakarta dalam  Kongres Umat Islam yang dihadiri seluruh ormas Islam Indonesua. Ingin sekali, para Tokoh Jawa Timur itu hadir dalam peristiwa bersejarah tersebut, namun apa daya, panggilan Jihad di Surabaya sangat mereka cintai, hingga semua harus bersiaga.

Dalam Kongres Umat Islam selama dua hari (7-8 November 1945) tersebut,  Partai Masyumi disetujui umat menjadi satu-satunya partai Islam. Bergabunglah semua elemen umat: NU, Muhammadiyah, Persis, Sarikat Islam, GPII, dan seluruhnya dalam Partai Masyumi sebagai wadah perjuangan politik menegakkan Islam di Bumi Pertiwi.

Maklumat kedua selain pendirian Partai Politik Islam, ialah menimbang situasi yang sangat genting, maka diperlukanlah kesatuan perjuangan melawan penjajahan Inggris yang sudah tiba di bumi Indonesia. Karenanya, dikeluarkanlah Resolusi Perang Sabil, mengukuhkan Resolusi Jihad NU, melawan segala bentuk imperialisme.

“Wajib bagi setiap orang Islam di Indonesia untuk berjuang dengan segenap jiwa raganya dalam melawan dan menghapuskan Imperialisme demi terwujudnya kemerdekaan agama dan negara,” dalam sebuah kesepakatan kemarin yang dihadiri para tokoh bangsa seperti: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Mas Mansyur, KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, M. Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Dr. Soekiman W, Saifuddin Zuhri, dan ratusan Kyai dari Jawa dan Sumatra.

Saat itu pula, Laskar perjuangan umat Islam, Hizbullah dan Sabilillah dikukuhkan untuk melawan penjajahan dengan pimpinan Kyai Zainul Arifin yang segera bertindak cepat membentuk kesatuan Laskar di Surabaya. Para Ulama berbondong-bondong berdatangan ke Rembang, Magelang, Kedu, Mojokerto, Surabaya, memenuhi panggilan jihad.

KH Abbas dari Cirebon jauh-jauh datang ke Jawa Timur, bersama ribuan santrinya. Bersama KH Bisri dalam mobilnya sambil berteriak Allahu Akbar. Kalimat takbir itu menggema hingga kemuning senja berganti dengan pekatnya malam.

Para tokoh dan pimpinan masyarakat Surabaya berkumpul, menanti balasan dari Jakarta yang mencoba melobi Inggris. “Terserah Surabaya..” berbalas suara di balik telepon sana. Maka para tokoh pun berkumpul, Gubernur Surabaya Soeryo, Bung Tomo, KH Wahab Hasbullah, Roeslan Abdul Gani, KH Mas Mansyur, Dul Arnowo,  dan para pimpinan perlawanan.

Malam itu, semua doa berpanjat, berharap kemenangan, atau syahid menemput, di malam yang begitu lengang melompong “Malam itu, makin banyak doa diucapkan, makin keras permohonan umat kepada Yang Maha besar, agar dilindungi tanah air dan rakyat Indonesia dari marabahaya,” kenang Bung Tomo.

Rukuk sujud pun terlakon. Dalam ruang-ruang sempit itu, para Ulama terus mendoakan rakyat Surabaya. Bersiap kehilangan semuanya, harta, benda, keluarga, hingga jiwa mereka. Malam itu begitu emosional, tengah malam, Gubernur Soeryo, sambil tak kuat menahan air mata yang tiba-tiba meleleh mengguyur pipinya berpamitan dan berucap “Selamat berjuang..” penghujung pidatonya di Radio.

Hari nan dinanti pun tiba, ketika semburat merah pagi pun menyapa pucuk-pucuk Kapal Perang Inggris di tepi pantai, menyapu pucuk-pucuk gedung yang menjulang di Ibu Kota Jawa Timur itu. Surabaya masih lengang. Tak ada satu pun warga Surabaya sudi menyerah, mengibarkan bendera putih dan memenuhi ultimatum Inggris.

Satu dua, nafas terhela. “Bum..bum..bum..” peluru perang pertama terpental dari Kapal Perang di Tanjung Perak, menghancurkan bangunan di Surabaya. Genderang perang pun bermula. Nafas warga tersengal, masih bersiap membalas, masih tetap tenang dalam lautan dzikir.

Takbir pun dengan teguh menggema di Surabaya. Puluhan ribu rakyat Surabaya dan dari luar tetap bertahan, bersiap berperang, menahan peluru menunggu komando.Langit Surabaya menjadi bising saat pesawat itu mengitar, memuntahkan bom. “Bumm..” gelegarnya begitu dahsyat.

Tiga jam pertama, mulai pukul 06.00-09.00 Inggris sudah mulai menggempur besar-besaran Surabaya, dengan pasukan terbesar yang dikerahkan setelah Perang Dunia II. Kapal Sussex terus menggempur menyisakan puing-puing yang terus teronggok.

Satu per satu korban bergelimpangan. “A-l-l-a-a-a-a-h-u-A-k-b-a-r..” pekik takbir Bung Tomo di Radio menggema, menggetarkan musuh, menggerakkan massa agar mulai maju menyerang. Pukul 09.00, ketika mentari mulai hangat, takbir menggema di seluruh penjuru kota. “Allaahu Akbar..” “dorr…dorr..” “Bum…Bum..Bumm..” Asap mengepul tinggi, darah merah segar memuncrat hebat.

Satu per satu pasukan darat Inggris mulai keluar dari Kapal Sussex di Tanjung Perak. Pesawat pun berputar-putar di langit Surabaya. Pagi itu, 10 November, Arek-arek semua terbakar Takbir, maju tak gentar, melawan para penjajah di hadapan.  Gubernur Soeryo terus menguatkan rakyat. Seluruh elemen rakyat: GPII, Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pelopor, Barisan Pemberontak, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terus membalas serangan Inggris.
“A-l-l-a-a-a-a-h-u-A-k-b-a-r..” terus menggema. “Bum…” Asap semakin mengepul memenuhi Surabaya utara. TKR Divisi VII Surabaya, Jombang, Mojokerto dan pimpinan Hizbullah KH Abdunnfaick Achyar, Husaini, Moh. Muhadjir menjadi garda terdepan di utara.

Darah-darah mengucur deras, pasukan Hizbullah dengan gagah berani bertempur melawan moncong tank baja yang memang tak berimbang. Bambu lawan tank? Tapi semangat jihad begitu membara. Lihatlah ketika mereka loncat dari satu tank ke tank lain, membakar tank dengan senjata seadanya. Darah syuhada pun bercucurah, mengalir deras di Bumi Jihad Nusantara.

Pagi itu, debu-debu jihad menjadi saksi akan pertarungan terbesar seletah Perang Dunia II, darahnya menjadi saksi di akhirat kelak bahwa ribuan syuhada berguguran. Ya Allah, pekik Takbir itu kelak menjadi saksi, bahwa masih ada orang yang menyebut AsmaMu untuk membela negeri ini.

Bahwa dulu, umatmu begitu ingat akan asmaMu, ketika para perongrong itu ingin mengambil negeri ini. Bahwa namaMu menggema dalam hati ketika dulu negeri ini masih seumur jagung. Bahwa masih ada yang membelaMu di tengah kecamuk perang. Bahwa para pendahulu kami mendengar namaMu menjadi tenang.

Negeri yang dipertahankan bukan dengan leyah-leyeh, bukan dengan seucap kata, bukan oleh para penghinaMu,  tapi oleh darah para syuhada. Lihatlah ketika lebih dari 30.000 orang menggemakan kumandang takbir di Surabaya. 10 November, ketika darah itu mengalir deras di lorong-lorong kota, bahwa mereka sangka, akan mudah menguasai Kota ini.

Namun, lihatlah ketika mereka semua yang menyebut namaMu dengan tulus mempertahankan negeri ini, memanggul bambu, bayonet, hingga para pria tua yang terus menembakkan bedil. Para wanita yang terus menyiapkan logistik dan merawat korban perang, “fardhu ain,” begitu fatwa KH Hasyim Asy’ari meresap dalam jiwa mereka.

“Allahu..Akbar…Allaahu akbar..” Satu persatu anak menjadi yatim, wanita menjadi janda. “anak-anak ini yakin mereka diindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, mereka percaya pada kodrat Ilahi, Mereka berjuang atas nama keadulan dan kebenaran,” teriak Gubernur Soeryo.

Tak ada harap selain kemerdekaan atau menjemput maut dalam senyum. “Allahu akbar..Allahu akbar..” detik terus berdetak. Dentuman berbalas tak hentinya menggelayut di Langit Surabaya yang mendung tertutup asap tebal.

“A-l-l-a-a-a-a-h..” hanya Engkau peneguh kami. Semua orang tumpah ruah, hanya niat karenaMu, “..f-i-s-a-b-i-l-i-l-l-a-a-h..”, hanya karenaMu ya Allah. Jihad fisabilillah, Jihad..Jihad..Sayup-sayup suara terus menggema. Jihad, sebuah kata sarat makna, peneguh hati orang-orang beriman. 10 November, kumandang jihad bersambut…

***

Bulatan merah Kalender menunjuk tanggal 21 Oktober 1945. Ratusan Ulama pun berdatangan ke sini, Surabaya. Suasana Surabaya lain dari biasanya. Dikabarkan tentara Sekutu sudah tiba di Jakarta, dan beberapa hari lagi akan tiba di Surabaya dengan dalih melucuti Jepang yang sebenarnya sudah mulai dilucuti oleh rakyat Indonesia.

Kedatangan mereka sebenarnya tak perlu, karena rakyat Indonesia sudah merdeka dan dapat mengurus semuanya sendiri. Namun, apa daya nafsu berkuasa para penjajah. Lihat saja, peristiwa di Hotel Yamato September silam saat bendera Belanda berkibar. Tak ayal, kelak akan ada tantangan besar untuk bangsa ini, karenanya seluruh ulama Rais Syuriah dan Tanfidziyah NU seluruhnya berkumpul di Kantor Pengurus Besar NU Surabaya, termasuk aku.

Nampak di hadapanku sekarang, di Jalan Bubutan 6/2 Surabaya satu persatu ulama berdatangan: Ketua Majelis Syuro Partai Masyumi dan Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari bersama putranya KH A Wahid Hasyim. KH M Dahlan, KH Mukhtar, KH Zuhdi, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdulaziz kudus, KH M Ilyas Pekalongan, KH Abdulhalim Shiddiq Jember, dan lainnya.

“Saya sengaja tidak menulis surat kepada saudara, karena saya tahu saudara sibuk dengan tugas-tugas baru di daerah,” kata KH Wahid Hasyim sambil menggenggam tanganku.

“Dari mana Gus tahu aku sibuk dengan tugas baru?” tanyaku. “Hal itu jangan ditanyakan. Meski saya bukan pemimpin besar, tetapi saya punya mata ‘seribu kurang seratus’ dan telinga ‘seribu kurang seratus’,” jawabnya jenaka.

Kami sering berucap bahwa seorang pimpinan itu harus punya seribu mata dan telinga, aritnya pemimpi harus sering sering melihat dan mendengar dari berbagai saluran yang tidak dimiliki sembarang orang. Dan memang benar, aku kini sedang sibuk berada di wilayahku di Kedu.

Pada akhir bulan lalu, aku menyelenggarakan rapat Majelis Konsul NU daerah Kedu ditempat kediamanku (rumah mertuaku), di Kampung Baleduno Purworejo. Hadir dalam rapat itu natara lain:

RH Mukhtar, Kyai Raden Iskandar, Kyai Ahmad Bunyamin, KH Ahmad Syatibi (semuanya dari Banyumas), KH Nasuha dan KH Aishom (Keduanya dari Kebumen), KH Hasbullah dan Muhammad Ali (Keduanya dari Wonosobo), KH Nawawi, KH Mandhur dan Kyai Ali (Ketiganya dari Parakan), KH Raden Alwi, KH Abdullah Fathani, Abdulwahab Kodri (Ketiganya dari Magelang), dan beberapa ulama Purworejo KH Mukri, KH Marodi, KH Damanduri, Kyai Sayyid Muhammad, KH Jamil dan lain-lain bertindak selaku tuan rumah.

Selaku pihak penyelenggara, terlebih dulu kujelsakan arti penting pertemuan tersebut, yang beritik tolak dari memuncaknya situasi genting di seluruh Indonesia.Selama satu hari satu malam, pertemuan Majelis Konsul itu berlangsung dengan peniaian yang mendalam dan merata, lewat musyawarah dan semangat tinggi. Akhirnya diputuskan dengan bulat:

  • Segenap warga NU lelaki dan perempuan wajib berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan niat jihad fisabilillahbinizham (terorganisasi).
  • Sebagai konsul NU daerah Kedu, aku dibebani memimpin umat Nahdiyin- nahdiyat, dengan memusatkan segenap ikhtiar lahir batin dan tawakal ‘Alallah. Oleh sebab itu aku tidak diizinkan meninggalkan daerah yang menjadi tanggungjawabku utama (Kedu dan Jawa Tengah pada umumnya). Dengan lain perkataan, aku tidak diizinkan lagi berada di Jakarta dengan alasan apapun.
  • Oleh karena aku juga ketua “Majelis Syuro Muslimin Indonesia” daerah Kedu, aku dibebani tanggungjawab atas terselenggaranya kekompakan Hizbullah seluruh daerah Kedu sebagai alat perjuangan bersenjata secara terorganisasi.

Tiga hal inilah yang akan kusampaikan dalam Muktamar Luar Biasa sekarang di Surabaya.“Bagaimana situasi Jawa Tengah?” tiba-tiba Gus Wahid memecah lamunanku.  “Tak beda dengan jakarta, Jawa Tengah bukan lagi terpanggang di atas api, tapi sudah mulai mendidih.”kataku.

“Coba ceritakan peristiwa pelucutan Jepang di Magelang, semua orang bangga akan keberanian anak cucu Syaikh Subakir…” Kyai Wahid menyebut penduduk Magelang, sebagai anak cucu Syekh Subakir

Menurut cerita lama, pada zaman dahulu seorang Kyai turun dari Gunung Tidar untuk mengusir setan menggoda penduduk Magelang. KH Mahfudz Siddiq, Ketua PBNU ketika Muktamar NU di Magelang tahun 1939, menyebut RH Mukhtar (Konsul NU Jateng) dengan ‘Syekh Subakir’.

Sebenarnya, tanggal 5 Oktober 1945 Rakyat Magelang dan sekitarnya belum kompak betulsebagai kekuatan tempur, terlalu banyak dari berbagai golongan. Tapi keberhasilan rakyat Banyumas melucuti tentara Nipon dan semangat Arek-arek Suroboyo mengibarkan merah putih di Hotel Yamato 19 September, membakar semagnat

“Ente dan anak buah mengambil kedudukan di mana?” sela Kyai Wahid.

“Aku cuman dengan kekuatan satu seksi Hizbullah mengambil posisi di Jalan Raya Pasar Magelang yang dilindungi Gunung Tidar, H Said di masjid Jamik, TKR dan Laskar mengepung Kidobutai, Nipin menguai sekitar stasiun KA dan Jalan Ponco. Peristiwa itu latihan bertempur dibanding peristiwa mendatang,” kataku.

“Yaaah, selama ini kan Cuma latihan berkelahi bukan? “ Kyai Wahid menyela.

“Betul, makanya kami banyak yang gugup dan senewen, baru mendengar suara mitraliur banyak yang terkecing-kencing…! Maklumlah, pengalaman pertama,” kataku.

“Berapa hari pertempuran dengan Nipon itu?” bertanya Kyai Wahid

“Oooh..praktis cuma satu hari. Nipon-nipon itu sudah dapat dilucuti, tapi ada yang melarikan diri ke arah Semarang sambil mengacau. Dengan pengalaman di Magelang itu, maka peristiwa melucuit Kidobutai Nipon di Kota Baru Yogyakarta berlangsung lebih terkooirdinir. Hari itu juga 7 Oktober, meski rakyat korban banyak juga.”

“Hizbullah mengambil posisi di mana ketika itu?” tanya KH Wahid.

“Kami berada di sekitar Tugu Kota Yogyakarta, di simpang jalan Solo Magelang, di lain  sisi Kyai Kholil di Balokan dekat stauin KA Tugu. Ada tambahan, ada pemuda Kauman Yogyakarta, namanya APS (Angkatan Perang Sabil),” aku mengisahkan.

“Allahu akbar!” seru KH A Wahid Hayim.

“Namanya revolusi. Umat Islam bangkit serentak membela kemerdekaan, mereka mengikhlaskan nyawa mereka, apalagi yang lain. Ini harus dicatat dalam sejarah,” katanya.

“Cuma, namanya begitu seram..Angakatan Perang Sabil,” kataku.

“Tapi biar saja, itu refleksi dari semangat berjuang dan tafaul, mengharapkan berkah. Lha? Nama Hizbullah apa tidak seram? Artinya kan ‘tentara Allah’. Di Surabaya kini muncul pasukan baru bernama ‘Malaikatul maut’, apa kurang dahsyat? “ kami tertawa berbareng. Perbincangan pun tertunda karena Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari tiba dan memberikan arahan.

Dalam bahasa Arab yang fasih, beliau membuka Muktamar ini. Mata kami pun berkaca-kaca mendengar seruannya, bahwa hanya dengan jihadlah, umat ini menjadi mulia. Haru menyeruak dalam ruangan sempit itu, dalam suasana genting semua menyimak ucapan Hadratus Syaikh.

Apakah ada dan kita orang yang suka ketinggalan, tidak turut berjuang pada waktu-waktu ini, dan kemudian ia mengalami keadaan sebagaimana yang disebutkan Allah ketika memberi sifat kepada kaum munafik yang tidak suka ikut berjuang bersama Rasulullah…

Demikianlah, maka sesungguhnya, maka pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya, dengan segala kekuatan dan kesanggupan yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung rambutpun.

Barangsiapa memihak kepada kaum penjajah dan condong kepada mereka, maka berarti memecah kebulatan umat dan mengacau barisannya….

Maka barangsuapa yang memecah pendirian umat pancunglah leher mereka dengan pedang…

Pidato Hadratusyaikh berapi-api menggetarkan jiwa, bahwa tak bisa kita hanya duduk saja. Hari semakin larut. 22 Oktober 1945, Pimpinan rapat KH Abdul Wahab Hasbullah meminta satu persatu anggota menyampaikan pandangan tentang tentara NICA dan Sekutu yang akan merangsek ke Indonesia.

Akhirnya, dengan suasana haru, seakan pertemuan terakhir, terciptalah ‘Resolusi Jihad’, sebuah pernyataan sikap, sebuah fatwa akan “Wajibnya laki-laki dan perempuan berjihad fisabilillah mempertahankan agama dan negara!” KH Wahab Hasbullah bergetar membacakan Resolusi jihad diiringi pekik takbir dan tangis haru para peserta.

Esoknya, KH Hasyim Asy’ari secara resmi membacakan poin-poin Resolusi Jihad NU yang perinciannya sebagai berikut:

  • Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agsutus 1945 wajib dipertahankan
  • RI sebagai pemerintah sah wajib dibela dan dipertahankan
  • Musuh RI terutama Belanda dan Inggris dalam tawanan perang bangsa Jepang, tentulah akan, menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia
  • Umat Islam terutama Nahdatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Bbelanda dan Sekutu dll
  • Kewajiban tersebut jihad tiap umat Islam, fardhu ‘ain, dalam radius 94 km, jarak diperkenankannya sembahyang jama dan qashar. Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut, berkewajiban membantu saudaranya dalam radius 94 km itu.

Resolusi jihad itu disusun di tengah kota Surabaya yang tengah terapnggang api revolusi. Usai resolusi, para Ulama, santri berbondong-bondong memenuhi panggilan jihad. Bahwa negara ini ditegakkan dengan darah para syuhada, dan tinta para ulama.

Pertempuran besar pun tak terelakkan memanas, hingga puncaknya 10 November, ketika kalimat takbir itu meggema di seluruh penjuru Surabaya. Resolusi Jihad, peneguh hati kaum mukimini, bahwa semua jihad ini hanya ditujukan hanya untuk Allah…

***

Malam hari 9 November 1951. Di depan matanya yang sendu, di atas meja kerjanya, tergolek surat-surat Kabar yang memuat gambarnya di halaman terdepan. Bung Karno baru menjadikan 10 November sebagai Hari Pahlawan untuk esok.

Bung Tomo duduk terpekur. Tak tertahankan air matanya, bulirnya yang begitu bening mengalir deras, meleleh melewati dua pipinya, membasahi kertas di meja. Di hadapan istrinya, air matanya tumpah ruah tak karuan. Cemas? Memang. Berdebar-debar hatinya

“Gambarku dimuat di halaman depan koran, namaku dibaca khalayak ramai,” katanya sesenggukan sambil membayangkan peristiwa enam tahun silam.

“Sedang sesungguhnya, tidak besar arti perbuatanku pada 10 November 1945 bila dibandingkan dengan keikhlasan beribu-ribu saudara yang telah tewas binasa , hancur lebur, karena ikut menyebabkan menjadi besarnya hari 10 November itu.” Bisiknya.

“Aku masih hidup! Aku masih diizinkan Allah menghirup hawa negara merdeka yang telah dibiayai oleh darah dan jiwa, patriot-patriot sejati sejak enam tahun lalu. Aku telah berumah tangga, beristri, beranak, aku telah mendekati tercapainya hidup layak sebagai manusia…meskipun sementarahanya bagi keluargaku sendiri…” syukur penuh makna, dalam tangis sendu Bung Tomo.

“Tetapi apakah itu tujuan patriot-pahlawan kita ketika mereka itu rela ikhlas menyerahkan jiwa-raga mereka? Untuk perseorangan belaka…? Ya Allah…yang Mahakasih dan Penyayang, berilah HambaMu ini kekuatan guna menyelesaikan kewajiban-kewajiban kawanku yang telah gugur itu.” Larut dalam tangis Bung Tomo terus mendoakan para pahlawan.

Para manusia –manusia yang memilih kematian sebagai jalan terindah hidupnya. Tak dirudung duka, jikalau hidup, maka mereka merayakan kemenangan, jikalau pun takdir berpisah, maut menyapa, maka syahidlah dirinya, dan kemenangan di akhirat kelak menyapa, surga tanpa hisab. Merekalah para syuhada di negeri ini. Orang-orang mengenangnya dengan Hari Pahlawan.

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata,” Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita,’ Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan keapda Allah; di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah janjinya. (Al Ahzab: 22-23)

 

Oleh : Rizki Lesus – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Daftar Pustaka:

Zainul Milal Bizawie, Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)
(Jakarta: Pustaka Compass, 2014)
KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, (Jogjakarta: LKiS, 2013)
Bung Tomo: dari 10 November 1945 ke Orde Baru (Jakarta: Gramedia, 1982)