Bersyukur, dahulu Negara kita telah melahirkan para ulama’ dan cendekiawan Islam yang memberikan sumbangsih yang teramat besar bagi Republik dan Bangsa ini. Sehingga  masyarakat yang hidup sesudah mereka dapat menikmati hasil jerih payah yang dahulu mereka perjuangkan. Salah seorang tokoh Islam yang lahir dan berjuang dalam sejarah perjuangan Bangsa ini adalah Ki Bagus Hadikusuma –rahimahullah rahmatan wasi’atan. Beliau merupakan Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dan juga Wakil Ketua Partai Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Sejarah telah mencatat bahwa Ki Bagus Hadikusuma adalah seorang ulama’ yang sangat konsisten dalam memegang ajaran agama. Beliau dengan lantang menyerukan agar Negara Indonesia dibangun diatas asas Islam sewaktu sidang pertama pembentukan dasar Negara yang diadakan Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPPKI) pada tanggal 28 Mei – 1 Juni 1945 di Gedung Pejambon. Beliau pula yang menolak konsep bahwa agama jangan diikutsertakan dalam pembentukan Negara dan politik, karena politik itu kotor dan agama itu suci. Kata Ki Bagus, justru agamalah obat mujarab untuk menyehatkan cara berpolitik itu.

Masa Muda dan Semangat Belajar Agama

Nama kecil beliau adalah R. Dayat atau Hidayat, anak dari Raden Kaji Lurah Hasyim yang menjabat abdhi dhalem Lurah Bidang Keagamaan dalam Keraton Sri Sultan Hamengku Buwana ke-VIII. Jabatan ini disebut Lurah Kaji. Kakeknya yang bernama Raden Kaji Isma’il juga menjabat kedudukan itu. Setelah wafat jabatan itu turun kepada anaknya, Raden Kaji Lurah Hasyim.

Hidayat dilahirkan pada hari Senin Pahing tanggal 11 Rabi’ul Akhir tahun Ende 1308. Beliau merupakan anak ketiga Raden Kaji Lurah Hasyim. Anak pertama, KH. Syuja’, dan yang kedua KH. Fakhruddin. Sedangkan adik beliau diantarana bernama KH. Zaini dan Siti Munjiyah. Mereka inilah kelak yang menjadi tokoh-tokoh hebat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Awalnya, Dayat bersaudara memiliki kebiasaan layaknya remaja  Kauman, gemar bermain dan duduk-duduk beramai-ramai di muka pintu gerbang masjid di bawah pohon beringin alun-alun, bergurau dan berseloroh, kadang juga mempermainkan orang  lalu lalang. Kadang pula mereka berjalan-jalan berbondong-bondong sepanjang jalan Malioboro dengan uang di saku. Maklum, waktu itu mereka masih remaja.

Lazimnya anak-anak pada masa itu, Hidayat pun tidak bersekolah lebih tinggi dari Sekolah Rakyat. Tetapi, beliau mengaji kepada ayahnya dan ulama’-ulama’ sekampung. Pernah juga belajar di pesantren Wonokromo dan Pekalongan. Seterusnya beliau meningkatkan ilmunya dengan membaca kitab-kitab karya ulama’ terkenal. Ketekunannya membaca menjadikannya bertambah semakin alim. Hidayat menekuni kitab-kitabnya hingga larut malam, sehingga beliau sempat menderita sakit mata beberapa lama. Walaupun saat itu usianya masih muda, orang telah menggelarinya dengan sebutan ulama’ atau kyai.

Berubahnya Hidayat muda dari remaja Kauman yang suka bermain sepak bola dan permainan sandiwara menjadi seorang yang alim dalam agama tidak lain karena peran serta saudara-saudaranya dan teman-teman sepermainannya. Dan semua itu tak lain karena peran besar seorang kyai yang amat ‘alim dan khusyu’ yaitu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan melihat bahwa pemuda-pemuda Kauman yang manja dan nakal itu sebenarnya memiliki keberanian dan daya kreasi yang besar juga kebanggaan agama (religious pride) yang mantap. Yang diperlukan mereka hanyalah bimbingan. Maka, Kyai Dahlan pun segeram menceburkan diri ke dalam pergaulan anak-anak muda ini, dan ternyata berhasil memikat perhatian mereka. Kiyai membimbing dan menemani mereka bermain-main, melihat mereka berolahraga, bertepuk tangan atas permainan sandiwara dan akrobat yang mereka pamerkan dan dengan senyum beliau menikmati permainan gambus yang mereka perdengarkan. Dan akhirnya Kyai Dahlan berhasil membawa mereka menghadiri pengajian berkala yang diadakannya dengan tidak usah mengganggu kesenangan mereka. Melalui pengajian tersebut Kyai Dahlan menyadarkan mereka tentang betapa pentinganya penyiaran dan pendalaman agama Islam.

Ulama’ yang Tegas

Orang-orang menilai Ki Bagus sebagai ulama’ yang sangat konsekuen dengan ilmu dan pemahamannya. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau terlalu hati-hati. Bahkan banyak yang menyebut beliau kolot. Menurut putra beliau, Djarnawi Hadikusuma, bahwa Ki Bagus merupakan figur ulama’ yang sangat teguh memegang hukum agama dan keputusan rapat, terutama yang menyangkut segi hukum. Apabila hukum agama telah digariskan maka baginya tidak ada kompromi lagi. Keteguhan beliau dalam memegang teguh hukum agama yang telah diputuskan dicontohkan oleh Djarnawi sewaktu Ki Bagus menghadiri Konferensi Daerah Muhammadiyah Surakarta pada tahun 1950. Pada resepsi pembukaan beliau tidak jadi memasuki ruangan, karena di dalamnya tidak dipasang tabir pemisah antara hadirin dan hadirat. Kemudian dalam pertemuan khusus intern beliau muntahkan kemarahannya sejadi-jadinya. Ki Bagus mengatakan diantaranya, “Saya marah bukan karena nafsu, melainkan karena Allah. Karena melihat hukum Allah dan keputusan kita diinjak-injak, justru oleh kita sendiri yang mengatakan akan menegakkan hukum Allah itu. Saya tahu bahwa saudara-saudara merasa dalam kesulitan, yaitu takut dikatakan kolot. Sebenarnya sikap saudara-saudara sendirilah yang mempersulit. Letaknya kolot atau modern adalah dalam cara berfikir dan bertindak, letaknya taqwa atau munafik adalah pada teguh atau tidaknya memegang hukum yang benar”. Mereka yang mendengarkan menekurkan kepalanya.

Pada kesempatan yang lain ada seorang tamu yang bertanya kepada Ki Bagus tentang masalah tabir. Beliau menjawab, “Keputusan tentang adanya tabir dalam pertemuan yang dihadiri oleh pria dan wanita memang berdasarkan ijtihad, bukan dari nash yang sharih, tetapi nilainya tidak berkurang karenanya. Segala keputusan ijtihadi dapat dirubah dengan ijtihad pula, tetapi jangan dilanggar sebelum dimansukhkan oleh keputusan baru”.

Bagi beliau jabatan yang dianggapnya paling utama adalah ulama’, guru, mubaligh dan pemimpin ummat. Pada waktu itu setiap guru Muhammadiyah tidak hanya berkewajiban mengajar di sekolah, tetapi juga bertabligh dan mengajar di pengajian-pengajian, juga memimpin organisasi beserta tugas dan tanggung jawab lainnya. Sebagaimana halnya guru-guru Taman Siswa, maka gaji guru Muhammadiyah juga sangat kecil dan tidak berkesempatan mencari tambahan penghasilan, karena waktunya habis untuk berdakwah serta memimpin ummat. Mereka melakukan semua perjuangan itu karena Allah Ta’ala. Selain sibuk dengan aktivitas dakwah, Ki Bagus juga mengajar di Madrasah Mu’allimat. Tentu saja penghasilannya tidak cukup hanya dengan mengajar di  Mu’allimat. Oleh karena itu, apabila beliau diutus berdakwah ke kota lain, kesempatan itu digunakan juga untuk membawa sedikit barang dagangan yang kiranya laku dijual. Para muballaigh waktu itu kebanyakan menggunakan metode ini supaya tidak mengharapkan apa-apa dari tabligh atau dakwah yang diserukannya, sehingga mereka benar-benar ikhlash karena Allah semata. Mereka selalu ingat pesan KH. Ahmad Dahlan: “Jangan mencari penghidupan dalam Muhammadiyah, tetapi hidupilah Muhammadiyah”.

Ki Bagus sering mengingatkan bahwa mengajarkan agama, bertabligh dan berdakwah adalah pelangsung tugas para Nabi. Memimpin ummat kepada tauhid dan kebaikan merupakan warisan tugas Rasul. Dan Muhammadiyah sengaja didirikan untuk menunaikan kedua tugas itu.

Karya Intelektual

Menurut Djarnawi, semua karya Ki Bagus yang sudah diterbitkan semuanya dalam bahasa Jawa. Hal itu disebabkan selain karena memang beliau ahli dalam bahasa Jawa, juga murid-muridnya yang terdiri dari dari kaum pensiunan priyayi dan pegawai negeri meminta agar buku-buku karangannya ditulis dalam bahasa Jawa agar lebih meresap.

Tulisannya sangat bagus dan teratur. Keindahan bentuk huruf yang ditulisnya sama dengan tulisan KH. Ahmad Badawi, demikian pula cara menggoreskan pena, perlahan-lahan dan mantap. Beliau sendiri yang mengantarkan copyan tulisannya ke percetakan “Persatuan”, sebuah perseroan yang dimiliki oleh orang-orang Muhammadiyah, tutut Djarnawi.

Beberapa karya beliau:

  1. Tafsir Juz ‘Amma
  2. Ruhul Bayan, memuat tafsir surat Jum’ah dan Munafiqun
  3. Pustaka Iman, berisi riwayat tarikh kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan agama tauhid dan rukun iman enam perkara
  4. Katresnan Jati, terdiri dari 3 jilid, berisi seputar ahkamul janaiz (sunnah dan bid’ahnya)
  5. Pustaka Hadi, terdiri dari 6 jilid, berisi tafsir ayat-ayat pilihan yang berhubungan dengan hukum, ibadah dan akhlaq
  6. Pustaka Islam, menguraikan arti rukun Islam, tentang cara melaksanakan dan hikmahnya
  7. Pustaka Ihsan, karangan terakhir Ki Bagus Hadikusuma.

Karangan terakhir dari Ki Bagus yang mengupas dengan panjang lebar tentang ilmu jiwa, tashawuf dan akhlaq, iman dan taqwa, sabar dan tawakkal, serta nilai kepribadian yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Juga dijelaskan didalamnya mengenai Hikmah Nadhariyah atau Theoritisch Wijsbegertee dan Hikmah ‘amaliyah atau Practisch Wijsbegertee.

 

Hari ini tanggal 5 November 2015 pemerintah Indonesia memberikan anugrah gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara, Jakarta kepada Ki Bagus Hadikusuma. Semoga dengan pemberian gelar tersebut masyarakat luas dapat lebih mengenal salah seorang sosok ulama pejuang dan panutan ummat.

 

Tulisan diambil dari buku Derita Seorang Pemimpin karya Djarnawi Hadikusuma.

Oleh : Muhammad Fikri Hidayatullah – Santri Ma’had Ki Bagus Hadikusuma, Yogyakarta periode 2008-2010.