Hari Sabtu lalu, tepatnya tanggal 7 November 2015, Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) bekerjasama dengan Ma’had Aly Imam Al-Ghazali dan DKM Insan Mulia mengadakan workshop sejarah. Workshop yang bertajuk “Perspektif Islam dalam Pengajaran Sejarah Indonesia” ini dihadiri para peserta dari berbagai kota. Para peserta tersebut berasal dari Solo, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Garut, Boyolali, dan juga Salatiga. Bertindak sebagai nara sumber adalah DR.Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum yang merupakan penasihat JIB.

Workshop yang digelar dari pukul 08.30-15.00 WIB ini berjalan dengan lancar dan interaktif. Para peserta yang kebanyakan masih mahasiswa, menanyakan berbagai hal yang dirasa cukup menggelitik. Tanya jawab pun berlangsung dengan interaktif. Suasana pembelajaran aktif terlihat sekali dalam workshop ini.

Dr. Tiar sebagai narasumber. Sumber Foto: PSPI

Dr. Tiar sebagai narasumber. Sumber Foto: PSPI

Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum menjelaskan bahwa sejarah bukanlah semata-mata penulisan tentang tempat dan tahun suatu peristiwa terjadi, tetapi ia lebih bermakna dari itu semua. Sejarah tidak bisa terlepas dari sebuah ideologi. Bisa dikatakan bahwa catatan sejarah yang ada saat ini adalah catatan pergulatan ideologi. Karena hampir tak bisa dipisahkan antara ideologi sang penulis dengan hasil catatan sejarahnya.

Sejarah adalah landasan dari ilmu pengetahuan lainnya. Apabila ideologi suatu sejarah adalah sekuler maka otomatis ilmu lainnya pun akan sekuler. Materi sejarah yang diajarkan saat ini adalah materi sejarah sekuler, yaitu ilmu sejarah yang menihilkan peran agama dalam sejarah manusia. Suatu ilmu yang menganggap bahwa Tuhan sudah pensiun dalam ilmu sejarah. Mereka menolak semua sejarah yang mengikutsertakan Tuhan, seperti sejarah para Nabi dan Rasul.

Dalam buku History of The World, terlihat sekali bahwa mereka menolak sejarah para Nabi. Mereka mengakui bahwa para Nabi itu memang ada, tapi mereka tak mau menyebutnya sebagai Nabi. Sebagai contoh, mereka menyebut ajaran Muhammad itu sebagai Muhhamadisme, bukan sebagai agama Islam. Kemudian menyebut Al-Qur’an dan hadits sebagai Muhammadan Yurispruden (hasil keputusan Muhammad). Mereka menuliskan demikian karena saking tidak percayanya bahwa sejarah itu dipengaruhi Tuhan.

Sekulerisasi sejarah terlihat dengan jelas dalam teori sejarah manusia yang mengatakan bahwa asal-usul manusia itu adalah dari kera. Teori Darwinisme yang diterima hampir di seluruh dunia dan diajarkan di bangku-bangku sekolah ini, tak pernah mengakui bahwa manusia yang pertama kali diciptakan adalah Adam as yang sudah berwujud sebagai manusia sempurna, bukan manusia kera.

Peserta menyimak pemaparan narasumber. Sumber Foto: PSPI

Peserta menyimak pemaparan narasumber. Sumber Foto: PSPI

Sekulerisasi sejarah juga terjadi di Indonesia. Untuk menutupi fakta bahwa Adam as adalah manusia yang pertama di dunia, mereka mengatakan bahwa asal-usul manusia Indonesia adalah berasal dari Meganthropus Javanicus. Fosil manusia purba yang ditemukan oleh Von Koenigswald ini diyakini hidup di Indonesia sekitar sejuta tahun yang lalu, padahal Nabi Adam as hidup sekitar 8000 tahun yang lain. Dengan kata lain, ditanamkan keyakinan bahwa Meganthropus Paleojavanicus lebih dulu ada daripada Nabi Adam as. Atau Adam bukanlah manusia yang pertama kali ada di dunia ini. Alias orang Jawa lebih dulu ada daripada Adam as. Mereka tak mengakui Adam as, tak mengakui bahwa manusia sudah diciptakan sempurna sebagai manusia, bukan sebagai hasil evolusi dari kera.

Teori Darwinisme yang diperjuangkan mati-matian oleh kaum sekuler ini sebenarnya memiliki banyak kelemahan, tetapi tetap dipertahankan hingga saat ini. Karena berdasarkan teori inilah mereka menolak keberadaan Nabi, menolak sejarah yang memiliki intervensi dari Tuhan.

Salah satu bukti kelemahan teori Darwin adalah tentang profil manusia yang berbulu. Bahwa penemuan fosil adalah penemuan tulang semata. Darimana mereka mengetahui bahwa kulit yang menyelubungi tulang tersebut berbulu mirip kera ? Apa yang membedakan tulang yang berbulu dengan yang tak berbulu ? tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Penggambaran manusia purba yang berbulu tersebut semata-mata karena terpengaruh teori Darwin, terpengaruh ideologi yang meyakini bahwa tak ada campur tangan Tuhan dalam sejarah. Untuk menghilangkan jejak bahwa manusia yang pertama diturunkan dari surga sudah berwujud sempurna sebagai manusia.

Disamping mengagungkan teori Darwin, mengagungkan ras kera, sekulerisasi sejarah di Indonesia juga terlihat dari pelaku tokoh utama sejarah yang tidak ada kaitannya dengan agama. Mereka mengagungkan Ken Arok, Ken Dedes, Hayam Wuruk, Airlangga dll. Jika ada tokoh Islam yang diangkat, maka tokoh Islam tersebut disebut tanpa pelibatan agama, tetapi semata-mata pengungkapan tahun dan peristiwa saja.

Mereka berusaha menanamkan paham nasionalisme, dalam arti para tokoh Islam yang berjuang mengusir penjajah itu semata-mata berjuang demi kepentingan negara, tak ada kaitannya dengan keyakinan agam yang dianut. Sebagai contoh nyata adalah sejarah Pangeran Diponegoro. Seorang yang dari penampilannya saja sudah terlihat begitu relijius, memakai surban yang saat itu belum familiar di masyarakat, tetapi disebutkan bahwa perjuangan Diponegoro adalah semata-mata perjuangan demi tanah leluhurnya yang diserobot. Selama ini cerita mengenai Pangeran Diponegoro selalu hanya dikait-kaitkan kemarahannya karena Belanda mematok tanah leluhurnya di Tegalrejo secara semena-mena. Padahal, dalam berbagai naskah yang ditulis mengenai Pangeran Diponegoro ini jelas-jelas Pangeran Diponegoro Tak pernah diungkapkan bahwa perjuangan Diponegoro dilandasi oleh semangat Jihad fi Sabilillah. Semangat untuk menerapkan hukum Alloh di tanah Jawa. Panglima pasuakan Pangeran Diponegoro yang seorang Kyai yaitu Kyai Mojo pun, dinihilkan motivasi utamanya untuk berjuang. Semua perjuangan dinyatakan dilandasi oleh semangat bela negara saja, tak ada yang namanya semangat keagamaan berupa Jihad fi Sabilillah.

Sejarah Indonesia juga digambarkan sebagai sejarah kemenangan orang-orang sekuler. Agama tak diberi ruang dalam sejarah negeri ini. Pengajaran di buku-buku pelajaran sejarah tidak pernah melibatkan unsur agama.

Usaha untuk menyingkirkan peran Islam dalam sejarah Indonesia ini bukanlah tanpa kesengajaan. Usaha ini sudah dipikirkan sedemikian matang oleh para sejarawan barat yang pertama kali menuliskan sejarah negeri ini. Bisa dikatakan bahwa awal mula sejarah Indonesia adalah sejarah berdasarkan catatan para sejarawan Belanda. Kemudian catatan tersebut diyakini sebagai kebenaran sejarah Indonesia. Padahal mereka menuliskan sejarah Indonesia dilandasi oleh kepentingan mereka sendiri.

Para aktor intelektual dalam penanaman sejarah sekuler Indonesia diantaranya dalah Thomas Stanford Raffles yang menulis buku History of Java. Raffles sedemikian gigih melakukan ekskavasi candi Borobudur dan Prambanan beserta candi-candi yang lainnya untuk menunjukkan bahwa masa kejayaan bangsa Indonesia adalah masa Hindu-Budha. Raffles berusaha memutuskan mata rantai kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia. Raffless berusaha menutupi fakta bahwa Kerajaan Islam-lah yang bisa menyatukan negeri ini. Dengan menyiapkan dana yang sangat besar, Raffles melakukan ekskavasi candi-candi yang ada di Indonesia. Kebijakan ekskavasi candi-candi ini pun dilanjutkan oleh para pemimpin Indonesia selanjutnya, termasuk pemimpin pribumi di masa pasca kemerdekaan.

Bahwa kerajaan Islam yang berkontribusi terhadap penyatuan negeri ini tak pernah diakui Raffles. Padahal sejarah membuktikan kerajaan-kerajaan Islam yang bercorak maritim dan mengandalkan laut sebagai alat transportasi utama inilah yang berhasil membuat jalur-jalur perdagangan baru sebagai cikal bakal rasa persatuan karena senasib dan sepenanggungan. Kerajaan Hindu Budha yang berada di pelosok hutan tak pernah mengandalkan jalur laut. Hal ini menyebabkan terbatasnya komunikasi mereka dengan dunia luar. Tak adanya rasa persatuan dengan daerah lain. Fakta ini tak pernah diakui oleh Raffles. Tentu saja karena Raffles punya kepentingan untuk menutupi sejarah Islam di negeri ini. Menutupi kontribusi ummat Islam yang sangat besar terhadap keberadaan Indonesia.

Disamping Raffles, sejarawan lain yang begitu gigih menutupi masa-masa kejayaan kerajaan Islam di negeri ini adalah Snouck Hurgronje, Van Vollenhoven dll. Mereka memiliki kepentingan yang sama yaitu menancapkan sejarah Indonesia yang sekuler.

Selama ini para sejarawan Indonesia mengklaim bahwa penulisan sejarah Indonesia saat ini adalah berdasarkan obyektifitas yang berdasarkan pendekatan ilmiah. Akan tetapi ternyata klaim ini sulit sekali untuk bisa dibuktikan kebenarannya . Terlihat sekali bahwa apa yang diakui berada dalam ranah ilmiah pun pada akhirnya mencerminkan ideologi yang dipegangnya yaitu ideologi sekuler. Bahwa penulisan sejarah tanpa misi dan ideologi adalah suatu hal yang mustahil. Selama berabad-abad kita dicekoki sejarah versi sekuler.

Islam memliki perhatian yang cukup besar terhadap sejarah. Bahkan sepertiga Al-Qur’an berisi tentang sejarah, kisah orang-orang terdahulu. Sejarah dalam Islam memiliki kedudukan yang penting karena dari sanalah sebuah ideologi ditanamkan.

Sejarah Islam adalah sejarah yang mengakui adanya intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia. Sejarah yang mengakui adanya Nabi dan Rasul yang membawa ajaran dari Tuhan. Sejarah Islam di Indonesia bermula dari masuknya agama Islam ke negeri ini yaitu pada abad ke-7. Saat itu ajaran Islam mampu hidup berdampingan dengan agama Hindu Budha yang telah ada lebih dulu di negeri ini.

Islam berkembang dengan cepat dan dipeluk oleh mayoritas rakyat negeri ini, akan tetapi sejarahnya seakan ditutup-tutupi, tak diakui kontribusinya . Bahwa persatuan dalam perjuangan mengusir penjajah adalah berasal dari semangat keIslaman pun tak diakui. Begitu banyak mata rantai sejarah Islam yang diputuskan di negeri ini. Kaum sekuler berusaha menutupi kecemerlangan sejarah Islam di negeri ini. Adalah kewajiban kita semua untuk kembali menggali dan mengangkat sejarah Islam di negeri ini.

Acara workshop ini ditutup dengan kesimpulan perlunya islamisasi sejarah Indonesia. Islamisasi disini bukan berarti menolak total materi sejarah yang sudah ada, akan tetapi menyelipkan spirit Islam dalam penulisan sejarah. Agar bisa menyelipkan spirit Islam, tentu saja para pengajar sejarah diharapkan untuk mengusai terlebih dulu materi-materi sejarah yang sudah memiliki sudut pandang Islami.

Workshop ini bukanlah kegiatan akhir dalam Islamisasi sejarah Indonesia, akan tetapi ia adalah sebuah permulaan dari perjalanan panjang Islamisasi sejarah Indonesia. Diharapkan workshop ini menjadi cikal bakal lahirnya sejarawan-sejarawan Indonesia yang memiliki sudut pandang sejarah Islami. Insya Alloh akan digelar kegiatan-kegiatan di tempat dan waktu yang berbeda.

Oleh : Widi Astuti – Peserta workshop Pespektif Islam dalam Pengajaran Sejarah Indonesia – Kontributor JIB