Sejarah memiliki peran penting bagi pengetahuan umat. Dengan mempelajari serah, umat Islam akan memahami bagaimana seharusnya mereka berjuang. Tidak heran, dua pertiga Al-Qur’an pun disajikan dalam bentuk kisah. Selain menjelaskan fungsi sejarah, Al-Qur’an juga menegaskan tentang akhir dari perjalanan sejarah.  Menurut Al-Qur’an, nasib  akhir sejarah adalah kemenangan keimanan atas kekafiran, kebajikan atas kemunkaran, kenyataan ini merupakan satu janji dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti terjadi.

Namun seberapa pentingkah sejarah di mata umat Islam saat ini? Kenapa banyak pemuda muslim kini enggan mempelajari sejarah? Penulis muda Indonesia, Artawijaya, mencoba membangkitkan kesadaran umat akan urgensi mempelajari sejarah.

Banyak buku telah lahir dari Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir ini di antaranya Gerakan Theosofi di Indonesia, Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara, Indonesia Tanpa Liberal, dan buku terbarunya Belajar dari Partai Masjumi.

Berikut wawancara, Andi Ryansah, Pegiat JIB, dengan penulis buku-buku sejarah muslim tersebut.

Apa Makna sejarah bagi Bang Arta?

Di Al Qur’an, Allah bercerita dalam surat Al-Qashash.Tentu ada hikmah kenapa Allah bercerita.Dalam Islam,umat Islam harus belajar dari sejarah umat-umat masa lalu. Allah banyak bercerita tentang umat-umat masa lalu,diantaranya ayat yang berbunyi Dan hari ini Aku pergilirkan kemenangan diantara manusia. Artinya sejarah memang sangat penting,hikmah bagi kita tentang umat-umat masa lalu untuk perbaikan masa depan dan sebagai cermin teladan bagi kita.

Dalam bahasa Arab, sejarah itu akan terus berulang. Sejarah itu Sunnahtullahnya akan terus berulang. Ada istilah sunnah pertarungan,diantara mereka yang melakukan kejahatan dan kebaikan,dalam sejarah akan terus terulang. Oleh karena itu umat Islam harus dan penting memahami sejarah untuk diambil pelajaran dan teladannya,kemudian itu bisa diterapkan kedepan. Sebab memang musuh-musuh Islam melemahkan pemuda-pemuda muslim diantaranya dengan menghilangkan ingatan sejarah,kalau tidak dihilangkan,didistorsikan atau disimpangkan.

Bisa dijelaskan peran pemuda melawan Penjajahan?

Sebelum itu, saya ingin bercerita sekilas tentang buku-buku yang saya tulis.Pertama tentang gerakan theosofi di Indonesia. Gerakan ini sebuah aliran kebatinan Yahudi yang masa lalu sudah mengakar ratusan tahun di Indonesia dan punya peran penting dalam gerak nasionalisme. Peran penting dalam arti, memarjinalkan peran dan aspirasi umat Islam dsb. Kedua tentang Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara yang menceritakan sepak terjang gerakan freemason dalam gerak laju nasionalisme.

Mereka memengaruhi elit-elit modern Indonesia dan perjalanan sejarah sehingga ketika mereka menang dan berkuasa,sejarah itu didistorsi,sejarah itu diselewengkan sehingga seolah-olah umat Islam tidak punya peran dan seolah-olah bangsa ini dari dulu sampai saat ini dikuasai oleh kelompok mereka. Padahal peran sesungguhnya dimainkan oleh umat Islam.

Jadi tidak heran ada istilah, sejarah itu dibuat oleh mereka yang menang dalam peperangan. Nah umat Islam masih kalah, masih belum berkuasa sehingga mereka bebas melakukan distorsi sejarah.

Satu contoh, misalnya hari pendidikan nasional 2 Mei yang merujuk pada tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara.Padahal taman siswa didirikan Ki Hajar Dewantara tahun 1922,sedangkan KH.Ahmad Dahlan mendirikan muhammadiyah tahun 1912. Artinya ada rentang waktu 10 tahun. Taman siswa sekarang kiprahnya sudah tidak terlalu berkembang, namun muhammadiyah kiprahnya terus berkembang di Indonesia. Sebuah pertanyaan sejarah,mengapa hari pendidikan nasional merujuk ke pendiri taman siswa, taman siswa yang sekular dan perannya pun sedikit serta belakangan berdiri dibandingkan muhammadiyah.

Kemudian hari kebangkitan nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei yang merujuk pada Budi Utomo. Padahal jauh sebelum itu telah berdiri Sarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1905. SDI ini sifatnya nasionalisme bukan kesukuan, sedangkan Budi Utomo sifatnya kesukuan atau kedaerahan.

Kemudian SDI berjuang melawan kapitalisme dalam bidang ekonomi dan memajukan ekonomi pribumi. Kemudian yang lebih penting,perjuangan SDI dalam memajukan peranan ekonomi umat Islam saat itu.Inilah distorsi sejarah yang penting dan perlu dipelajari. Karena itu sampai hari ini,buku yang saya tulis,belum ada tanggapan atau bantahan karena apa yang saya tulis bukan rekayasa sejarah,tapi mengungkap apa yang selama ini tidak ditulis dalam sejarah. Jadi umat Islam wajib mempertanyakan mengapa sejarah ini justru berbeda.

Soal pertanyaan peran pemuda-pemuda tadi, pertama fakta sejarah membuktikan perjuangan,kemerdekaan bangsa ini adalah hasil keringat dan perjuangan umat Islam,para santri,ulama, dan kyai. Mereka melakukan gerakan jihad, bahkan Nadlatul Ulama mengeluarkan resolusi jihad, bahkan jauh sebelum itu di Aceh mereka menyebutnya perang Sabil. Aceh ini daerah yang paling lama ditaklukan oleh Belanda. Perang ini paling lama. Perang ini dinamakan perang fisabilillah atau perang sabil karena melawan penjajah kafir.Kalau orang kafir yang tidak menjajah,umat Islam welcome saja,orang yang berbisnis,berdagang. Tapi kalau orang kafir menjajah umat Islam,maka berlaku hukum jihad fisabilillah.

Kemudian ada perang Jawa yang digerakkan oleh Pangeran Diponegoro, kemudian di Tasikmalaya ada pergerakan KH.Zaenal Mustofa, masih banyak lagi di Banten dan lain sebagainya. Artinya memang saham umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan ini besar sekali,luar biasa. Termasuk anak-anak mudanya pada masa lalu.

Ada Bapak Mohammad Natsir, menjadi perdana menteri pertama kita pada usia muda. Ketika Indonesia hampir terpecah belah, beliau mengajukan gagasan yang dikenal dengan mosi integral Natsir sehingga terbentuklah negara kesatuan republik Indonesia. Kemudian ada tokoh muda lainnya seperti KH.Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, dan ada perhimpunan pemuda Islam yang bernama Jong Islamieten Bond.

Artinya anak muda kalau memainkan peranan penting dalam sejarah ini, dia bisa jadi agen perubahan, bisa jadi generasi yang mencatatkan sejarah emas. Karena sebenarnya di tangan generasi mudalah arah jalan bangsa (sejarah) ini ditentukan. Kalau hari ini anak mudanya malas berjuang, Anda bisa bayangkan. Pak Soekarno jadi presiden pada usia muda dibawah 30 tahunan, Pak Natsir juga dibawah 30 tahunan. Hampir semuanya rata-rata pada masa laluanak muda, mereka punya semangat yang cukup luar biasa, baik dalam upaya menuntut ilmu, maupun melakukan perubahan-perubahan terhadap bangsa atau negaranya.

Kenapa sekarang anak muda tidak tertarik dengan Sejarah?

Karena anak muda kurang memahami peranan penting sejarah. Sejarah seolah dianggap peristiwa biasa pada masa lalu. Padahal peristiwa masa lalu berperan penting juga untuk masa depan seperti yang saya sebutkan tadi, menjadi hikmah,pelajaran, teladan, dan perbaikan untuk masa depan. Memang ada upaya sistematis untuk menca ingatan sejarah dari anak muda. Sehingga mereka cuek dan tidak sadar bahwa banyak penutupan fakta-fakta sejarah dan distorsi sejarah terutama yang berhubungan dengan mayoritas umat Islam. Kan harus diakui bukan kita bangga-bangga, tapi faktanya umat Islam adalah mayoritas. Dan yang mayoritas inilah yang sejarahnya ditipu.

Tokoh perjuangan emansipasi perempuan disebutnya RA Kartini,padahal RA Kartini hanya berwacana lewat surat menyurat. Sedangkan sebelum dia ada di Sumatera Barat ada yang bernama Rohana Kudus dan banyak lagi bahkan sudah berdiri sekolah dinbutiyah putri atau sekolah adabiyah putri.

Kartini itu tidak mendirikan sekolah, dia hanya berwacana lewat surat menyurat. Tapi mengapa dia jadi ikon perjuangan perempuan? Inilah peran mereka dalam mendistorsi sejarah. Mereka menonjolkan tokoh-tokoh yang berjuang memajukan perempuan seperti RA. Kartini tapi visinya bukan Islam, yang berjuang memajukan pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara,tapi visinya bukan Islam, kemudian yang berjuang dalam pergerakan nasional seperti Budi Utomo,tapi visinya bukan Islam.

Ini yang mereka akan tonjolkan sehingga tanpa sadar umat Islam termarjinalkan dan seolah-olah umat Islam tidak punya peran dan jasa. Sekarang ini anak muda logikanya terbalik, “udahlah kita yang mayoritas harus tunduk denga yang minoritas.” Sehingga terjadi tirani minoritas di Indonesia. Kasus Miss World misalnya. Kita mayoritas muslim berhak untuk tidak membolehkan itu dan yang minoritas harus menghargai. Kalau kita ke Eropa, masjid-masjid kita susah berdiri, orang susah pakai jilbab dan susah pakai cadar.

Bagaimana agar anak muda tertarik belajar Sejarah?

Pertama tentu perlu diberikan pemahaman bahwa sejarah itu akan terus berulang. Generasi muda saat ini kan pemimpin masa depan. Mereka harus menciptakan sejarah dan meninggalkan jejak yang baik untuk generasi yang selanjutnya. Sejarah itu diambil pelajarannya saja, ibarat kita naik motor, spion itu kecil maksudnya kita tidak selalu melihat ke belakang, artinya jangan teralu terjebak dengan romantisme sejarah dan jangan juga lupakan sejarah. Yang masa lalu kita ambil pelajarannya dan yang masa depan kita buat. Di dalam Al Qur’an jelas,bahwa masing-masing kita harus punya visi ke depan.

Anak muda perlu diberitahu bahwa Anda ini agen perubahan, agen perubahan itu harus paham tentang bagaimana umat/tokoh-tokoh kita terdahulu bekerja, kemudian membuat langkah-langkah perbaikan seperti yang mereka lakukan.

 Apa pesan untuk anak muda agar tidak mengabaikan Sejarah?

Pertama, kepada generasi muda Islam harus menyadari dulu bahwa musuh-musuh Islam ingin mencabut ingatan sejarah dari anak muda. Apabila ingatan sejarahnya dicabut, lupa dengan perjuangan tokoh-tokoh masa lalu sehingga mereka bingung berbuat apa karena tidak mengetahui pelajaran yang bisa diambil.

Kedua anak muda yang memiliki kemampuan meneliti sejarah, harus mengambil rujukan-rujukan yang kuat kemudian memunculkan fakta-fakta sejarah ke depan, apa yang saya tulis ini adalah penelitian yang mengungkap fakta-fakta sejarah yang selama ini disembunyikan atau tidak dimunculkan penguasa, dan yang harus dipahami sejarah itu terus berulang, jadi kita harus waspada dan terus pelajari sejarah sebagai cermin dan pelajaran untuk perbaikan masa depan.

Apa saja buku-buku sejarah yang bagus untuk dibaca?

Buku yang ditulis oleh Prof.Ahmad Mansur Suryanegara yang berjudul Api Sejarah, kemudian kami dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan INSISTS membuat buku teks pelurusan sejarah berjudul Sejarah Nasional Perspektif Baru yang digunakan khususnya di madrasah, sekolah Islam dan pesantren, kemudian buku-buku saya yang berjudul Gerakan Theosofi di Indonesia, Jaringan yahudi Internasional di Nusantara, dan Indonesia Tanpa Liberal.

Seperti dimuat di Islampos.com