ISDV menyalin dirinya menjadi sebagai partai komunis. Perpecahan tak bisa dihindari. Absennya Tjokroaminoto dan munculnya Tan Malaka tak mampu menyelamatkan SI dari perpecahan.

 

Perseteruan kubu kiri dan Islam di Sarekat Islam memuncak tatkala ISDV mengubah organisasinya menjadi Partai Komunis. Perubahan ISDV menjadi PKI tak bisa dilepaskan dari perseteruan di ISDV. Stokvis, salah seorang pemipin ISDV menyatakan keluar dan membentuk Indische Sociaal-Democratische Party (ISDP) pada September 1917.[1] Pada tahun 1919 Lenin membentuk Komunis Internasional (Komintern), dan menyerukan kepada semua partai sosial demokrat untuk mengganti namanya menjadi partai komunis, agar membedakan diri dengan kaum sosial-sovinis-reaksioner. Akhirnya pada Kongres ketujuh ISDV muncul desakan untuk mengubah nama ISDV menjadi Partai Komunis. Tujuan utama perubahan nama tak lain agar Komunis Internasional mengetahui bahwa ISDV merupakan bagian dari mereka dan mengetahui bahwa mereka bukan pengusung sosialisme palsu. Het Vrij Woord bulan Juni 1920 mengutip pernyataan dari konferensi ISDV tersebut;

“ Perbedaan ISDV yang menjadi cabang SDAP Internasionale II di Negeri Belanda dengan kita ISDV, adalah perbedaan pandangan yang prinsipil, politik, dan taktik. Sosialisme palsu mematahkan kepercayaan protelariat akan kemampuan dirinya sendiri dan terpaksa menggantungkan diri kepada kapitalisme. Perbedaan yang lain, adalah bahwa kaum komunis berjuang untuk diktatur proletariat, tetapi mereka menentang ini. Kalau kita menyokong diktatur proletariat, maka kita adalah komunis. Kita menentang nasionalisme, karena kita adalah internasionalisme tulen yang tergabung dalam internasionale III. Sekarang di Indie belum terlalu tajam pertentangannya, karena kita baru dalam taraf permulaan mendirikan Sovyet Republik Indonesia.

Dalam berbagai negeri, walaupun masih jauh dari tujuan revolusi, mereka sudah menamakan dirinya, Partai Komunis. Kawan-kawan kita yang sudah mendirikan Internasionale III, yang dipimpin Lenin perlu tahu pula akan perubahan kita, kalau tidak mereka akan menyangka kita kaum pengkhianat-pengkhianat sosialis dari Internasionale II.”[2]

Awalnya usulan nama yang diajukan adalah Perserikatan Komunis Hindia (PKH) atau Indische Komunistische Party (IKP). Namun konferensi memutuskan: Perserikatan Komunis di India atau Partij der Komunisten in Indie (PKI). Tanggal 23 Mei 1920 kemudian diingat sebagai hari lahirnya PKI. Pada Konferensi itu Semaoen diputuskan sebagai ketua, sedangkan Dharsono sebagai wakil, Bergsma (Sekertaris), dan Baars sebagai komisioner. Pada tahun itu pula PKI menyatakan bagian dari Komintern.[3]

Gambar 1.9 Asser Baars. Sumber foto: socialhistory.org

Gambar 1.9 Asser Baars. Sumber foto: socialhistory.org

 

Terbentuknya PKI membuat kelompok komunis di Hindia Belanda mengeluarkan tesis baru untuk gerakan mereka. Selain menekankan pada aksi massa sebagai gerakan massa, PKI juga menekankan pentingnya dukungan kaum tani dan buruh. Yang tak kalah penting, mereka mengeluarkan sikap menentukan terhadap yang mereka sebut sebagai ‘borjuis nasional.’

“Karena itu tujuan pertama adalah mengorganisasikan proletariat industri dan mengajarkan sosialisme pada mereka, pada saat yang sama melakukan propaganda dalam organisasi seperti Sarekat Islam, Sarekat Hindia dan Budi Utomo. Para pemimpin nasionalis borjuis harus dilawan, bukan diajak berkolaborasi: “Agitasi bersama pemimpin borjuis untuk tujuan borjuis sama sekali tak berguna.”[4]

Tesis PKI ini membuat PKI memberlakukan disiplin partai dengan melarang keanggotaan ganda anggota PKI, baik di Sarekat Hindia maupun di Budi Utomo, namun yang menarik, tetap diperbolehkan untuk tetap menjadi anggota di Sarekat Islam.[5] Tak dapat dipungkiri, Sarekat Islam tetap menjadi magnet untuk menggaet massa bagi PKI. Namun bagi pengurus CSI, beralihnya ISDV menjadi PKI dan bergabungnya PKI ke Komintern membuat mereka semakin yakin kehadiran PKI untuk memecah belah SI. Selain itu sikap Komintern sendiri dianggap memusuhi Islam, karena pada Kongres Komintern ke-2, Lenin menyerukan untuk memerangi gerakan Pan-Islam,

…the need to combat Pan-Islamism and similar trends, which strive to combine the liberation movement against European and American imperialism with an attempt to strengthen the positions of the khans, landowners, mullahs, etc.[6]

Di Hindia Belanda, persoalan ini menjadi serius. Meski Lenin setuju pada keterlibatan komunis di Hindia Belanda dalam Sarekat Islam, namun penolakan terhadap gerakan Pan-Islam, bagi gerakan Islam di Hindia Belanda, adalah penolakan terhadap persatuan Islam itu sendiri. PKI, dalam kongres mereka di tahun yang sama (tahun 1920), mengakui sulit untuk menjawab hal ini.[7]

Kongres SI di bulan Maret tahun 1921 menandai rekonsiliasi hubungan kubu kiri dan Islam di Sarekat Islam. Selain faktor Tjokroaminoto, penyesalan Semaoen atas kritik Dharsono ditanggapi positif oleh CSI. Kongres ini juga melahirkan butir-butir pernyataan sikap yang mengakomodir kedua kubu. Diantara poin-poin tersebut adalah;

Mengenai produksi dan pencarian penghidupan, setiap orang harus bekerja dengan segala kemampuan dan pikiran mereka, tidak boleh mengambil hasil kerja orang lain. Untuk saat ini hal tersebut bisa dicapai dengan mengembalikan kekayaan dan kepemilikan untuk produksi kepada masyarakat.[8]

Poin tersebut hendak dicapai dengan prinsip SI yang berlandaskan ajaran Islam. “…Oleh sebab itu SI menginginkan kerjasama dengan gerakan internasional tersebut guna mewujudkan cita-cita bagi seluruh umat manusia sesuai dengan ajaran Islam. SI dengan mengingat karakter dunia dan ajran agama, menolak ketergantungan pada bagian mana pun dari gerakan internasional (cetak tebal dari penulis), tetapi hendak mewujudkan kemerdekaan dan menjaga kemurnian cita-cita.”[9]

Kesepakatan (kubu) Salim-Semaoen ini juga tak lepas dari campur tangan Tjokroaminoto. Poin-poin di atas membuat kedua kubu merasa sama-sama terwakili. Namun di luar, kedua kubu saling serang melalui media masing-masing. Haji Fachrodin dari Muhammadiyah misalnya, menyebarkan brosur yang menolak kemungkinan bersatunya Islam dengan komunis. Asser Baars dari PKI menganggap hal yang sama. Pada bulan Oktober 1921, Tjokroaminoto ditahan pemerintah kolonial atas kasus ‘SI afedeling B.’ Hal ini berdampak pada situasi di CSI, antara kubu kiri dan Islam. Akibat absennya Tjokroaminoto, hubungan kedua kubu tak lagi dapat terjembatani.

Gambar 1.10 Kartun yang mengangkat tentang penuntutan hukum terhadap Tjokroaminoto atas tuduhan keterlibatannya di kasus ’Sarekat Islam afdeling B.‘ Sumber foto: Het Nieuws van Den Dag, 12 Desember 1921

Gambar 1.10 Kartun yang mengangkat tentang penuntutan hukum terhadap Tjokroaminoto atas tuduhan keterlibatannya di kasus ’Sarekat Islam afdeling B.‘ Sumber foto: Het Nieuws van Den Dag, 12 Desember 1921

 

Pada Kongres SI digelar pada tanggal 6-10 Oktober 1921. Perdebatan antara kubu Salim dengan Semaoen dan Tan Malaka (seorang tokoh komunis baru dalam pergerakan yang menonjol) tak dapat dihindari. Tan Malaka mengingatkan Haji Agus Salim bahwa, komunis bekerja sama dengan kelompok Islam di Eropa Timur seperti Kaukasus, Persia, dan Bukhara.[10] Hal ini ditampik Haji Agus Salim. Ia mengatakan bahwa meski bekerja sama namun komunis tak mencampuri urusan dalam negeri, negeri-negeri tersebut. Semaoen malah menekankan, bahwa agama saja tak cukup menjadi landasan perjuangan. Seorang muslim bisa saja menjadi kapitalis atau sosialis. Perjuangan hanya untuk satu agama sama saja devide et impera ala pemerintah kolonial. Salim kemudian menjawab bahwa dalam Al Qur‘an semua terjawab.[11]

Kongres itu menjadi kongres yang semakin mengokohkan Islam sebagai landasan Sarekat Islam. Haji Agus Salim ketika menyinggung statuta kedua SI, menjelaskan bahwa “…perhimpoenan jaitoe dengan mengingati sjarat-sjarat agama Islam dan hanja dengan daja opeaja jang tidak melanggar wet-wet Negeri, tidak melanggar ’adat – isti’adat jang baik dan tidak melanggar ketertiban oemoem; menghilangkan pikiran jang menasar tentang agama Nabi Moehammad s.a.w dan memadjoekan peri kehidoepan menoeroet djalan agama itoe (seteroesnja)“[12]

Gambar 1.11 Haji Agus Salim ketika menjadi penasehat mewakili delegasi Belanda di konferensi buruh di Jenewa, Swiss. Sumber foto: Arnhem Courant, 28 Juni 1929

Gambar 1.11 Haji Agus Salim ketika menjadi penasehat mewakili delegasi Belanda di konferensi buruh di Jenewa, Swiss. Sumber foto: Arnhem Courant, 28 Juni 1929

 

Disiplin partai di Sarekat Islam pun akhirnya terjadi. Tidak ada lagi keanggotaan ganda. Anggota PKI harus memilih apakah akan tetap di CSI atau PKI? Dispilin partai diterapkan untuk menghindari SI ditunggangi partai atau kelompok lain demi kepentingannya. Disiplin partai sebetulnya bukan hal yang janggal, karena organisasi dan partai lain telah menerapkannya lebih dahulu, baik Budi Utomo, PKI atau pun NIP. Namun semuanya mengecualikan SI dari disiplin partai mereka, dan tetap membolehkan anggotanya menjadi anggota SI. Hal ini yang menimbulkan kecurigaan di CSI.“Tegasnja partij lain-lain mengetjoealikan S.I, melaikan semata-mata karena keperloean partijnya sendiri hendak mendapat lid banjak.“

Disiplin partai bagi SI tak lain sebagai upaya untuk mendorong orang untuk bersungguh-sungguh bagi anggotanya untuk menerapkan asas yang dianut Sarekat Islam, terutama para pemimpinnya. “Istimewa poela hanjalah pemimpin jang mentjoekoepi sjarat-sjarat itoelah jang boleh diharapkan memadjoekan pergerakan S.I. karena S.I belaka dengan tidak bermaksoed tersemboeni akan mempergoenakan kekoeatan S. I. oentoek maksoed atau keperloean partij jang lain.“[13]

Hal ini menandai babak baru hubungan SI dan PKI. Kerjasama diantara keduanya dirintis bukan lagi dari dalam organisasi, tetapi dari dua organisasi yang berbeda. Kerjasama dirajut oleh keduanya di bawah kendali Tan Malaka, yang sejak kongres PKI nantinya menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski tak lagi di CSI, upaya Tan Malaka yang tetap merajut kerjasama mendapat tanggapan positif. Ia menyebut,

“Sebagai hasil sikap kami di Surabaya, pers tidak lagi menulis dengan sedemikian tajam tentang kaum komunis. CSI, sekalipun dengan rasa bimbang, menyatakan setuju bekerja sama dalam soal-soal politik, dalam suatu ‘Komite Nasional’, dalam soal-soal gerakan buruh dan dalam suatu federasi.”[14]

Tan Malaka memang terus berupaya melakukan kerjasama dengan para tokoh CSI non komunis. Ia bahkan pernah mengajak Surjopranoto untuk bergabung dengan gerakan mereka. Namun sepertinya hal ini tak membawa hasil. Tanggal 24 Desember 1921, tanpa Semaoen yang pergi ke Soviet, Tan Malaka membuka Kongres PKI. Potret-potret pejuang seperti Diponegoro, Kiyai Modjo terpampang bersama potret tokoh-tokoh komunis seperti Marx, Lenin dan Trotsky.[15]

Abdul Muis adalah tokoh CSI yang hadir untuk memenuhi undangan di kongres itu. Kongres PKI tersebut juga dihadiri oleh Ki Bagus Hadikusumo, seorang tokoh Muhammadiyah, yang menekankan kerjasama diantara kedua kelompok untuk melawan penjajahan. Menurut Tan Malaka, Ki Bagus Hadikusumo menekankan kerjasama diantara pergerakan rakyat. dan barangsiapa yang memecah belah pergerakan rakyat, bukanlah muslim sejati.[16]

Menarik untuk memaknai kehadiran Ki Bagus Hadikusumo di kongres tersebut. Ki Bagus adalah adik dari Haji Fachrodin, tokoh CSI yang beroposisi terhadap kehadiran kelompok komunis di SI. Apakah Ki Bagus berbeda pendapat dengan H. Fachrodin? Sepertinya tidak, kehadiran Ki Bagus-yang dikenal sebagai muslim pendukung tegaknya syariat Islam ini- tampaknya adalah untuk mendukung kerjasama SI dengan kelompok komunis, namun bukan berarti mendukung kehadiran komunis dalam tubuh SI.

Gambar 1.12 Ki Bagus Hadikusumo. Sumber foto: Hadikusuma, Djarnawi. Derita Seorang Pemimpin. Yogyakarta: Penerbit Persatuan

Gambar 1.12 Ki Bagus Hadikusumo. Sumber foto: Hadikusuma, Djarnawi. Derita Seorang Pemimpin. Yogyakarta: Penerbit Persatuan

Tan Malaka memang mendorong terjadinya kerjasama diantara keduanya. Tan Malaka berusaha menyingkirkan cap anti-Islam akibat serangan Lenin pada Pan-Islam. Selepas kongres misalnya, PKI mendukung penentangan terhadap beberapa aturan pemerintah kolonial yang merugikan para jamaah haji dari Hindia Belanda dengan membentuk ‘Komite Haji.’[17] Dan yang terpenting, kongres tersebut juga meminta Komintern untuk berhenti memusuhi Pan-Islam. Tan Malaka menganggap Pan-Islam sebagai salah satu faktor pembebas dari imperialisme. Hal ini dapat kita lihat dari argumen Tan Malaka di kongres Komunis Internasional (Komintern) ke-4 pada 12 November 1922. Ia mempertanyakan kembali sikap Lenin yang melawan gerakan Pan-Islam. Dalam kongres tersebut Tan Malaka menyebutkan bahwa agama Islam adalah segalanya bagi muslim.

Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. “[18]

Gambar 1.13 Tan Malaka. Sumber foto: alhectron.com

Gambar 1.13 Tan Malaka. Sumber foto: alhectron.com

 

Kongres PKI di bulan Desember tersebut memang sangat dipengaruhi sikap Tan Malaka yang ingin bekerjasama dengan gerakan Islam. Selain itu, kongres ini juga membahas kemungkinan PKI ikut serta dalam Volksraad, suatu opsi yang beberapa tahun lalu mereka cela habis-habisan kepada Sarekat Islam.

Bagaimanapun koalisi tersebut tak banyak berarti. Tahun 1922, Tjokroaminoto bebas dari tahanan. Ia mulai condong pada kubu Haji Agus Salim dan menarik batas dengan PKI. Di Tahun ini Tjokroaminoto memberikan landasan pada perjuangan Sarekat Islam melalui gagasannya yang ia tuangkan dalam tulisan berjudul Islam dan Sosialisme. Sebuah pandangan akan sosialisme Islam. Ia mengkritik cara pandang kaum sosialis dari Barat terlebih orang-orang komunis. Menurutnya, ”Orang-orang sosialis Barat, terlebih lagi orang-orang Bolsjevik atau komunis pada zaman sekarang ini sungguh-sungguh tersesat, jika mereka mencoba melakukan sosialisme dengan memulainya dari puncak, bukan dari dasar.“[19]

Tjokroaminoto kemudian menegaskan sosialisme Islam yang berbeda dengan sosialisme barat. ”Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang sejati dalam tiap-tiap arti kata yang sebenarnya. Ia tidak pernah melakukan paksaan atau perkosaan dalam menyebarkan sosialisme, tidak pernah melakukan suatu ’perang kelas‘, dan tidak pernah pula melakukan atau menyuruh melakukan ’dicatatuur van het proletanaat‘ (kekuasaan yang hanya ada pada kaum miskin). ”[20]

Bersambung ke bagian 4: Akhir Kaum Merah di SI

Kembali ke bagian 2

Oleh : Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Tulisan ini kerjasama Jejak Islam untuk Bangsa dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

 

[1] McVey, Ruth. 2010 dan Latif, Busjarie. 2014. Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965). Bandung: Ultimus

[2] Latif, Busjarie. 2014.

[3] Ibid

[4] McVey, Ruth. 2010

[5] Ibid

[6] Lenin, V.I. 1974. Preliminary Draft Theses On The National and Colonial Questions; For The Second Congress of The Communist International dalam Collected Works Vol. 3ng1. Moskow: Progress Publisher Moskow.

[7] McVey, Ruth. 2010

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Poeze, Harry A. 1988. Tan Malaka; Pergulatan Menuju Republik 1897 – 1925. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

[11] McVey, Ruth. 2010

[12]a kabar Neratja, 18 Oktober1921

[13] Sua kabar Neratja, 18 Oktober1921

[14] Poeze, Harry A. 1988.

[15] McVey, Ruth. 2010

[16] Poeze, Harry A. 1988.

[17] Ibid

[18] Malaka, Tan. 1922.

[19] Tjokroaminoto, HOS. 2008. Islam dan Sosialisme. Bandung: Sega Arsy

[20] Ibid