Ketahuilah wahai sahabat
Ulama pembawa Islam yang bermartabat
Ialah Ahlus Sunnah sebagai itikat
dalam ilmunya dan tinggi maqamat

Jika oleh Syi’ah Islam dibawa
mula-mula ke Melayu yang ‘ulya
maka kita tak akan mengenal suatu kata
dan makna sahabat sampai sekarang jua

Depok, 16/5/2014

Persia dan Syi’ah

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa Islam yang pertama kali masuk dan menyebar di dunia Melayu-Nusantara adalah daripada golongan Syi’ah. Mirisnya, yang mengatakan hal ini adalah umat Islam dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah sendiri. Sejarawan seperti Slamet Muljana dan A. Hasjmi mengamini pernyataan tersebut. Seperti yang dikutip dalam salah satu artikel majalah Historia edisi 6 tahun 2012 halaman 58 dengan headline “Syi’ah Pendiri Kerajaan Islam Pertama di Nusantara”.

Anggapan bahwa golongan Syi’ah telah menyebarkan ajarannya di Nusantara sejak lama dan turut menjayakan tamadun Melayu sepertinya perlu ditinjau ulang. Pernyataan ini tentu disebabkan karena keluputan kita terhadap sejarah dan ruh daripada sejarah kebudayaan Melayu kita ini.

Jika dikemukakan bahwa banyak para da’i atau mubaligh yang mendakwahkan Islam ke Nusantara ini daripada orang-orang Persia, itu masih dapat dibenarkan. Akan tetapi apakah orang-orang Persia pada waktu itu sudah barang tentu sebagai Syi’ah?.

Jika menyebut kata Persia, maksudnya belum tentu Syi’ah dan Persia tidak hanya sebatas Iran saat ini. Persia dahulunya merupakan sebuah kekaisaran yang besar. Istilah Persia lebih dekat kepada sejarah dan kebudayaan, sedangkan Iran lebih kepada politik atau negara saat ini.

Persia dalam sejarah juga pernah menjadi pusat peradaban Islam dan kekhilafaan. Bagi penulis, istilah Persia lebih tepat disematkan kepada suatu bangsa yang berkebudayaan dan yang menuturkan bahasa Persia (Fārsi),dia meliputi Samarkand, Khurasan, Iraq, Bukhara, Afghanistan, Tajikistan, Uzbekistan, dan negara-negara istan lainnya karena makna Istandalam bahasa Persia berarti ‘negara’.

Oleh karena itu, pernyataan bahwa orang-orang yang telah membawa Islam masuk ke dunia Melayu-Nusantara adalah golongan muslim Persia atau da’i yang dipengarui alam pikiran Persia saat itu adalah benar. Hal ini dapat dibuktikan secara historis maupun melalui kosa-kata bahasa Persia yang diserap ke dalam bahasa Melayu yang mengindikasikan pengaruh Persia kepada Melayu, seperti syahbandar, anggur, bius, pahlawan, dewan, nahkoda, biadab, firman, kurma, takhta dan sebagainya.

Akan tetapi, jika pernyataannya ialah bahwa aliranyang mula-mula dibawa dan menyebar di dunia Melayu adalah Syi’ah karena dia dibawa oleh orang-orang Persia tentu salah, atau paling tidak perlu diadakan penelitian yang lebih komprehensif dan jujur.

Mengutip pernyataan Prof. Abdul Hadi W. M. dalam sebuah seminar nasional dengan tema “Dimensi Sufistik dalam Kesusateraan Persia dan Melayu” yang diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Ciputat pada tanggal 18 Maret 2014 bahwa “Jejak Persia dalam kesusateraan Melayu memang tidak dapatdipungkiri, tetapi dia bukan Syi’ah. Karena saat itu (sekitar abad 10 – 13 M) Syi’ah belum berkembang di Persia seperti sekarang. Ulama-ulama yg mepengaruhi alam kesusateraan Melayu (seperti ‘Aththar, Rumi, Sa’di Shirazy, Imam al-Ghazzali, Hafizh Shirazy, Iraqi, Sana’i, Jami’ dll.) adalah ulama-ulama Sunni. Terkait serapan kosa kata bahasa Fārsi ke dalam bahasa Melayu (Indonesia) hanya seputar perdagangan dan pemerintahan”.

Bagi penulis, ini pernyataan ilmiah dan jujur, di tengah acara yang menurut penulis mencoba mencari keidentikan Syi’ah dengan Melayu, kemudian menjustifikasi bahwa pembentuk peradaban Melayu ini adalah alam pikiran Syi’ah. Perlu kita tegaskan bahwa pembawa Islam ke dunia Melayu-Nusantara ini adalah daripada golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jejak Persia di Nusantara

Jejak Persia di dunia Melayu memang tidak dapat kita pungkiri. Ulama-ulama asal Persia yang penulis sebutkan di atas dapat ditemukan jejaknya melalui karya-karya ulama (terutama karya tasawuf) Nusantara.

Jejak tersebut misalnya dapat ditemukan pada salah satu tokoh, sastrawan dan sekaligus ulama asal Barus bernama Hamzah Fansuri yang hidup sekitar abad ke-16 M. Pada sebuah kitabnya berjudul Al-Muntahi (Naskah Leiden np. 7291 [III], lihat Al-Attas, 1970: 339).

Syekh Hamzah Fansuri mengutip sebuah syair yang digubah oleh Fakhruddin Ibrahim Iraqi dari kitabnya Lam’at, yang artinya:

Sesungguhnya telah terbunilah (tersemubnyi, pen.) Engkau maka tiada dapat dilihat oleh segala mata; maka betapa dilihat oleh segala mata karena Ia terdinging dengan adaNya?.

Syekh juga mengutip syair dari Fariduddin ‘Aththar, artinya:

Qartas pun ditunukan (dibakar, pen.) dan qalam pun dipatahkan dan da’wat(tinta, pen.) pun ditumpahkan dan nafas pun dihelakan. Inilah qishshah ragam orang berahi bahwa dalam daftar tiada lulus.

Mengenai Sa’di Shirazy, penulis kitab Gulistan, ia adalah ulama dan sastrawan Persia yang jejak karyanya terdapat di dunia Melayu-Nusantara pada salah satu pahatan batu nisan makam Naina Husamuddin di Pasai, yang wafat pada akhir abad ke-14 M. Ini sekedar mengemukakan bahwa enam abad silam terdapat komunitas Muslim Nusantara yang telah mengapresiasi karya-karya agung sastrawan Muslim Persia, khususnya Sa’di.

Sa’di Sendiri adalah seorang Ulama Ahlus Sunnah. Dia pernah belajar di Universitas Nizamiyah yang terkenal didirkan pada akhir abad ke-11 M oleh Nizam al-Mulk, seorang wazir terpandang pada masa pemerintahan Malik Syah dari Dinasti Saljug. Gurunya di universitas tersebut yang sangat terkenal adalah Syamsuddin al-Faraq ibn al-Jauzi (132-656 H), seorang ulama sunni dan sarjana sastra yang terkenal (Shirazy, 2008: xvii).

Bukti batu nisan tersebut sekedar menunjukan bahwa jejak Persia (dan bukan Syi’ah) telah ada di Nusantara bahkan sejak abad ke-14 M. Berikut ini adalah kutipan syair Sa’di dalam bahasa Persia yang termaktub pada batu nisan Makam Naina Husamuddin tersebut, kurang lebih diterjemahkan sebagai berikut:

“…Ketika dia sadar bahwa seluruh peristiwa yang dilaluinya pergi, baru diketahui bahwa dia pergi meninggalkan dirinya yang tidak berdaya. Demikian keadaan jasad itu sesungguhnya. Tak ada yang menolongnya selain amal saleh, karena itu di bawah naungan Tuhan Yang Maha Pengasih, Sa’di berlindung…”

Pada batu nisan yang sama terpahat sebuah ayat Al-Quran, Surat Al-Baqarah 256, yang berbunyi: “…sesungguhnya telah jelas (perbedaan antara) jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat…” (Shirazy, 2008: xxvi).

Kritik Ulama Nusantara Terhadap Syi’ah

Di antara ulama klasik Nusantara yang mengkritik Syi’ah adalah Syekh Hamzah Fansuri. Di antara kritik yang ditujukan kepada Syi’ah oleh Syekh Hamzah Fansuri adalah pemahaman yang menyakini bahwa Al-Quran adalah makhluk, sebagaimana kelompok Mu’tazilah dan Zindiq.

Berikut ini penulis kutip langung bagaimana pernyataan Syekh Hamzah Fansuri:

“Sebab inilah maka pada hukum syariat, Kalam [Allah] tiada makhluq. Adapun [kepada] mazhab Mu’tazilah, Rafidi (Syi’ah Rafidah, pen.) dan Zindiq, Kalam Allah (itu) makhluq. Pada hukum syiriatnya, barangsiapa yang mengata[kan] Kalam Allah makhluq, iaitu kafir –naudzubillahi minha!. Kalam Allah peri Zat; Qadim sama-sama dengan sekalian sedia ketujuh sifatnya…. Ini pun kata Qadim dengan kata isyarat juga, bukan dengan lidah dan suara. Jikalau dengan lidah dan suara, dapat dikatakan makhluq. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala Mahasuci, KalamNya pun Mahasuci dari lidah dan suara.” (Asrar, lihat Al-Attas, 1970: 298-249)

Isitlah Sahabat

Akhirnya perlu kita insafi bersama,jika para pembawa Islam ke tanah Melayu dan pembentuk pandangan alam Melayu-Nusantara adalah daripada golongan Syi’ah, kita tentu tidak akan mengenal istilah ‘sahabat’ (Arab:Shahabah). Bagi penulis, sahabat tidak hanya sekedar bermakna teman atau orang yang sangat dekat, tetapi dia menjadi istilah bagi orang-orang yang dekat dan bertemu (hidup) dengan Nabi Saw.

Dengan alasan bahwa golongan Syi’ah tidak menyukai (benci) sahabat Nabi kecuali hanya beberapa orang sahabat. Paling tidak, jika kita tetap mengenal istilah sahabat, maknanya mungkin bukan teman atau orang yang sangat dekat, akan tetapi bermakna ‘musuh’ atau ‘orang yang dibenci’.

“Ketahuilah wahai sahabat, jika pembawa Islam ke dunia Melayu ialah dari pada golongan Syi’ah, tentu kita saat ini tidak akan mengenal istilah ‘sahabat’ dengan makna teman yang sangat dekat dan saya tidak akan memanggilmu sahabat!(penulis).

Oleh : Yogi T. Rinaldi
Pegiat Depok Islamic Study Circle Masjid UI

Sumber:
Al-Attas, Syed M. Naquib. 1970. The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.

Al-Attas, Syed M. Naquib. 1999. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM)

Shirazy, Sa’di. 2008. Gulistan. Yogyakart: Nuun

Hendri F. Isnaeni, “Mendedah Syi’ah Bermula di Serambi Mekah”, Majalah Histori No. 6 th. 2012