Salah satu elemen fundamental dalam Islam menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah ilmu pengetahuan.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ilmu pengetahuan atau sains berarti pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki dan dipelajari.[2]

Namun, lebih jauh dari definisi dalam KBBI tersebut, ilmu pengetahuan menurut the worldview of Islam pada hakikatnya adalah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SubhanaHu wa Ta’ala dalam rangka ma’rifatuLlah (mengenal Allah SubhanaHu wa Ta’ala). Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menyegerakan diri mencari ilmu pengetahuan, maka para malaikat akan memohonkan rahmat (ampunan kepada Allah SubhanaHu wa Ta’ala) atas orang tersebut dan keberkahan di dalam kehidupannya.”[3] Untuk itu, menuntut ilmu menjadi aktivitas wajib bagi seorang Muslim yang dapat bernilai dunia maupun akhirat.

Menuntut ilmu bagi seorang muslim hendaknya terus dilakukan hingga akhir hayat. Agar kegiatan menuntut ilmu ini mendapat nilai dunia dan akhirat, maka kita harus mengetahui apa saja yang harus dilakukan sebelum menuntut ilmu, selagi menuntut ilmu dan setelah menuntut ilmu. Ruwaim radiyaLlahu ‘anhu pernah menasihati puteranya dengan nasihat sebagai berikut: “Wahai puteraku, jadikanlah ilmumu seperti garam (pengalaman) dan adab (sopan santun)-mu sebagaimana tepung (yakni sikap lemah lembut, serta mengasihi dan menyayangi orang lain).”[4] Nasihat tersebut memiliki makna bahwa sebelum menuntut ilmu, belajar tentang adab adalah hal penting yang tidak bisa diabaikan.

Salah satu tokoh ulama yang dimiliki Indonesia dan bisa dijadikan panutan dalam pencarian ilmu, khususnya dalam ranah pendidikan Islam adalah K.H. Muhammad Hasyim bin Asy’ari. Lahir pada 14 Februari 1871, beliau merupakan pribadi yang saleh dan cerdas. K.H. Hasyim Asy’ari sangat tekun, dia rela pergi ke berbagai daerah untuk belajar seperti ke Pesantren Sono, Sewulan (Sidoarjo), Langitan (Tuban) dan Bangkalan (Madura). Bahkan setelah ia menikah di usia 21 tahun, ia memboyong istrinya ke tanah suci untuk berhaji dan menuntut ilmu.[5] KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab berjudul Adabul ‘Alim wa al-Muta’alim (Fii Maa Yahtaaju Ilaihi al-Muta’allimu Fii Ahwaali Ta’liimihi Wa Maa Yatawaqqafu ‘Alaihi al-Mu’allimu Fii Maqaamaati Ta’liimihi) yang kemudian diterjemahkan oleh Mohamad Kholil. Judul kitab pun menjadi lebih familiar dan terasa ringan bagi awam, yakni Etika Pendidikan Islam.

Kitab Etika Pendidikan Islam ini terdiri dari 10 bab yang tersusun secara sistematis. Kitab ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yakni tiga bab ditujukan untuk murid, tiga bab untuk guru, dan 2 bab untuk keduanya, sedangkan selebihnya adalah pendahuluan dan penutup.

Adab Bagi Murid:[6]

K.H. Hasyim Asy’ari menjelaskan beberapa etika bagi murid (10 butir diantaranya adalah membersihkan hati, niat, menyegerakan, sabar, manajemen waktu, tidak berlebihan, wara, menjaga makanan, tidak berlebihan dalam tidur, dan menjauhkan diri dari perilaku nahi munkar).

Selain itu, K.H. Hasyim Asy’ari juga menekankan pentingnya adab terhadap guru. Ada 12 butir adab yang ditekankan. Yaitu, meminta petunjuk Allah SubhanaHu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh mencari guru yang berkompeten, patuh terhadap guru, meyakini derajat dan ilmu gurunya serta memuliakannya, mengerti hak guru, bersabar atas sifat guru, izin saat memasuki ruang pribadi guru, duduk dengan penuh sopan santun apabila berhadapan dengan guru, berbicara yang baik dan sopan terhadap guru, tetap mendengar dan menyimak guru meskipun telah mengetahui topik yang dibahas, tidak mendahului guru dalam menjawab atau menjelaskan pertanyaan yang diajukan murid lain dalam majelis, serta menerima barang yang diberikan guru dengan tangan kanan – apabila diminta membacakan buku, hendaknya memegang buku tersebut dengan kedua belah tangan.

Para pembelajar juga diminta untuk memahami adab ketika belajar. Yaitu, mempelajari ilmu fardhu ‘ain, mempelajari kitab suci, menjauhi hal-hal “khilafiyat”, apabila hendak menghafal – harus tashih – cek validitas, tidak menunda-nunda, jika sudah menguasai satu pembahasan – perdalam, tekun dan aktif mengulang pelajaran, memberi salam kepada murid lain, tidak bertanya hal-hal yang tidak relevan kepada guru, sabar dalam bertanya, duduk sopan tidak berpindah-pindah tempat belajar, istiqamah, dan mendukung keberhasilan teman dalam meraih ilmu).

Adab bagi Guru:[7]

Menariknya, adab bukan hanya ditekankan pada murid, tetapi juga pada para Guru . Ada 20 butir adab bagi para guru, yaitu, muraqabah, khauf, tenang, wara’, tawadhu, khusyu’, selalu berpedoman pada Allah Subhana Hu wa Ta’ala, mengajar bukan untuk tujuan dunia, tidak merasa rendah di hadapan para pemuja dunia, zuhud, menjauhi profesi yang rendah menurut adat dan syariat, menghindari tempat yang dapat menimbulkan fitnah, menghidupkan syiar, menegakkan sunnah menjauhi bid’ah, mengamalkan syariat, bersosial dengan ramah, menyucikan jiwa raga dari akhlak tercela, mempertajam wawasan, tidak segan mengambil faedah dan menulis karya).

Pun dalam mengajar, para guru ditekankan untuk memahami adab-adabnya. 12 butir adab mengajar tersebut adalah; bersuci, memberi salam kepada majelis, menghadapi hadirin dengan penuh perhatian, membaca Qur’an sebelum mengajar, memulai materi sesuai skala prioritas, mengatur volume suara, menjaga majelis dari kegaduhan, memberi peringatan tegas terhadap siswa yang melakukan pelanggaran etika, jika tidak tahu hendaknya mengakui ketidaktahuannya, jika kedatangan teman dari satu golongan hendaknya memperlakukannya dengan baik dan menyebut serta menyertakan asma Allah SubhanaHu wa Ta’ala saat membuka dan menutup majelis).

Tak kalah penting, ternyata guru ditekankan untuk memiliki adab terhadap para muridnya. Ada 14 butir adab guru terhadap murid, yaitu niat dan tujuan yang luhur, bersabar menghadapi murid yang penerimaannya lambat, mencintai murid sebagaimana mencintai dirinya sendiri, mendidik dengan bahasa yang mudah dipahami murid, metode mengajar disesuaikan dengan kondisi murid, meminta murid untuk mengulang pelajaran di rumah, memaklumi jika ada murid yang terlihat lelah atau terlambat karena perjalanan jauh yang ditempuh untuk sampai ke majelis, tidak memberi perhatian dan perlakuan khusus bagi murid terntentu, memberi kasih sayang dan perhatian kepada semua murid, membiasakan diri dan memberi contoh kepada murid tentang cara bergaul yang baik, membantu atau meringankan finansial murid, menanyakan kabar murid yang tidak hadir dalam majelis, tidak sombong kepada murid serta memanggil murid dengan nama yang baik).

Bab untuk Guru dan Murid[8]

Mencakup adab terhadap kitab dan berbagai motivasi dari hadits serta ungkapan-ungkapan sahabat tentang keutamaan menuntut ilmu. Adab terhadap kitab diantaranya adalah buku yang dimiliki hendaknya dibaca dan tidak hanya dijadikan koleksi seperti syair berikut,

“Apabila engkau tidak menjaga dan memahami isi (suatu buku), maka usahamu mengumpulkan banyak buku tidak ada artinya (sia-sia). Maka akankah engkau hendak berbicara di dalam majelis dengan ketidaktahuanmu (kebodohamu), sementara pengetahuan (ilmu)-mu engkau tinggalkan di rumah?”[9]

Kemudian, adab terhadap buku selanjutnya adalah segera mengembalikan buku yang dipinjam apabila telah selesai membacanya dan tidak mencoret-coret isi buku pinjaman tersebut, memperhatikan etika penyusunan buku (mengurutkan dari tingkat keagungan pembahasan materi yang terkandung di dalamnya, misalnya (1) kitab suci Qur’an, (2) kitab-kitab hadits, (3) kitab tafsir Qur’an, (4) kitab syarah hadits (5) kitab ushuluddin, (6) kitab ushul fiqh, (7) kitab nahwu dan shorof, (8) kitab-kitab adab (sastra), dan seterusnya. Ketika membeli buku hendaknya memeriksa kelengkapan isi buku, dan apabila merangkum materi dari buku hendaknya mengawali dengan tulisan basmalah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mempelajari adab sebelum menuntut ilmu adalah sangat penting. Ternyata masih banyak dari butir-butir di atas yang lalai kita – atau dalam hal ini, penulis – amalkan. Namun, seperti kata pepatah lama “tidak ada kata terlambat”. Maka belum terlambat bagi kita yang mungkin sudah terlanjur menuntut ilmu selama belasan bahkan mungkin puluhan tahun untuk memperbaiki cara kita dalam menuntut ilmu. Dalam memperlakukan guru dan kitab serta unsur lainnya dalam kegiatan menuntut ilmu. Alangkah baiknya apabila petunjuk-petunjuk yang telah kita dapatkan dari kitab ini diteruskan kepada sahabat, murid, guru, saudara, dan orang terkasih lainnya.

Oleh: Ilma Asharina – Peserta kelas literasi Memaknai Indonesia

[1] Rosnani Hashim, Imron Rossidy, Islamization of Knowledge: A Comparative Analysis of the Conceptions of Al-Attas and Al-Faruqi, Intellectual Discourse, 2000, Vol.8, No I, hlm 19-44.

[2] https://kbbi.web.id/sains diakses pada Jumat, 20 September 2019 pukul 18.40 WIB.

[3] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 5.

[4] Ibid, hlm. xvii

[5] http://jejakislam.net/warisan-kh-hasyim-asyari-dan-kh-wahid-hasyim/ diakses pada Jumat, 20 September 2019 pukul 19.20 WIB.

[6] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 21-58.

[7] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 59-95.

[8] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 1-19 dan 95-99.

[9] Ibid, hlm. 96.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here