Innalillahi wa innailaihi Rajiun

Menutup lembaran April 2016, awan mendung menggelayut di langit Nusantara. Mei memang masih belum menyapa, namun negeri ini kehilangan dua putera terbaiknya. Mengawali bulan ini, Maestro Arsitektur Masjid Indonesia, Ir. Achmad Noe’man tutup usia.

Dan di pengujungnya, kini kabar duka kembali menyelimuti Bumi Pertiwi. Ulama besar, Pakar Hadits asal Indonesia, Prof. Dr. KH Ali Mustafa Ya’qub telah berpulang. Enam puluh empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Serpihan kenangan mewujud karya monumental.

Banyak pesan, nilai, dan hikmah yang dipetik selama beliau hidup, yang diwariskan. Kenangan itu terus membekas bersama orang-orang terdekatnya, keluarga, anak, cucu tak terkecuali kami, para penggiat Jejak Islam Bangsa (JIB).

Terakhir kami bersua dengan beliau, saat sedang ramai-ramainya tema ‘Islam Nusantara’. Tulisan yang berjudul ‘Prof. Dr. KH Ali Mustafa Ya’qub : ‘Islam itu agama. Nusantara itu budaya’ kini menjadi saksi akan antusiasme masyarakat menyimak dan sangat menghormati pemikiran beliau.

Sampai sekarang tulisan tersebut dibaca lebih dari seratus ribu orang dengan jumlah like dan share di facebook mencapai lebih dari 13.000. Suatu kenangan tersendiri bagi kami, beliau yang saat itu menjadi Rais Syuriah PBNU ini menjelaskan ihwal kaitan Islam dan Nusantara.

Bagi kami, beliau merupakan sosok ulama yang sangat mumpuni. Sosok guru yang penuntut ilmu yang sangat gigih. Penulis ingat sekali, dengan mata berkaca-kaca, beliau mengenangkan sosok ayahnya yang telah tiada yang mengawali perjuangan hidupnya menempuh pendidikan.

Kala itu sang ayahanda yang dicintainya meninggal dunia. Sang ibu yang biasa mengirimi ‘Ali uang saat ‘nyantri’ di Aliyah, mengultimatum dia bahwa jika ingin lanjut sekolah harus dengan biaya sendiri.

”Sejak saat itulah, saya belajar serius. Pokoknya bagaimana caranya agar saya bisa menyelesaikan pendidikan dengan gratis,”kata Kiai Ali Mustafa kepada penulis, beberapa tahun lalu di kediamannya, bilangan Ciputat.

Siang malam, Ali Mustafa muda  mentasbihkan diri untuk menuntut ilmu. Pesantren Tebu Ireng Jombang menjadi pelabuhan pertama pendidikan tingginya. Dengan ulet, ia jalani kehidupan santrinya hingga ada kesempatan sekolah gratis ke Arab Saudi.

Jerih payahnya berbuah. Kiai Ali mengenyam ilmu syariah dan hadits di Universitas, Riyadh hingga tamat S2.

“Ada nuansa lain yang saya rasakan ketika belajar hadits, dibanding belajar ilmu lainnya. Seakan-akan kita hidup langsung bersama Nabi, nostalgia. Selain itu, saya sangat senang, nama rasul selalu kita sebut, dan kita bershalawat padanya. Inilah ilmu yang memberikan banyak pahala” papar sosok yang kerap nampak di TV Nasional ini.

Pulang dari Saudi, beliau menekuni hadits, mengajar al Quran dan berkesempatan ‘nyantri’ dibawah bimbingan pakar hadits dunia, Prof. Musthafa al Azami di India. Keilmuan beliau dalam ilmu hadits dan syariah, tak diragukan lagi. Puluhan buku ditelurkan mantan Imam Besar Istiqlal ini.

Murid beliau, ustaz Ahmad Sarwat mengagumi sosok Kiai Ali Mustafa bukan karena jabatannya yang kesohor, atau pernah memandi Obama saat di Istiqlal. Dalam tulisan ‘Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub’, Ahmad Sarwat mengagumi beliau karena banyak  dan fenomelanya buku yang beliau tulis.

“Bukan cuma itu tetapi banyak membentuk cara pandang saya terhadap ilmu hadits dan ilmu fiqih juga.  Hampir semua karya tulis beliau saya koleksi di lemari buku, meski sebagainnya ada yang hilang dipinjam orang tanpa pernah kembali lagi,” kata Ahmad Sarwat dalam laman rumahfiqih.

“Akhirnya buku-buku beliau saya fotocopy dan kalau ada yang minta saya kasih foto copiannya saja. Mungkin beliau marah kalau tahu bukunya saya fotocopy. Tapi saya yakin beliau lebih marah pada orang yang suka pinjam buku tulisan beliau tapi tidak dikembalikan,” (Ahmad Sarwat, Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub)

Kalau kita berkesempatan mengunjungi kediamannya, di ruang tamu kita akan melihat rotan mengilap yang menggantung di sela-selanya puluhan buku karya beliau. Saat itu, belum selesai mengamati, beliau sudah nyeletuk lembut.

“Menyusun hiasan buku ini sangat sulit dibanding menata hiasan lain. Perlu waktu 26 tahun hingga jumlahnya sebanyak ini. Kalau dijumlahkan ada 37 karya saya yang diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa, selama kurun waktu itu.” Beliau mengawali perbincangan hangat kami.

Di sela kesibukkannya sebagai Imam Besar Istiqlal saat itu, Kiai Ali Mustafa masih sempat menulis buku. Setiap pagi beliau menulis, menikmati ‘ritual’ makan bubur kacang hijau sebelum mengajar di Pesantren Darus Sunnah yang berjarak selemparan batu dari rumahnya.

“Siang saya di Istiqlal. Malam saya rutin membaca dan menelaah kitab sampai ketiduran. Biasanya istri yang merapikan buku-buku di tempat tidur saya, pas saya sudah tidur,” katanya sambil tertawa.

Selama menjadi Imam Besar, Kiai mendapat banyak kunjungan dari rakyat biasa hingga Presiden AS Barrack Obama. “Ada yang minta uang, curhat urusan keluarga, agama, minta modal usaha sampai mau nipu,” katanya lagi sambil tertawa ramah.

Tak hanya menulis, mengajar, rupanya Kiai Ali pun ‘turun gunung’ berdakwah dari pelosok seperti belantara Papua hingga lintas Benua. Kenangan yang beliau kisahkan pada penulis saat beliau tidak pernah shalat selama sehari. Penulis mengernyitkan dahi karena kebingungan. Kok bisa?

“Saya pernah tidak shalat seharian saat di Luar Negeri” ungkapnya serius. Ia menuturkan panjangnya perjalanan selama di pesawat dari San Fransisco menuju Hongkong, tahun 2000 lalu.

“Saya pasrah.Istilahnya setor nyawa,” kenangnya. Saat itu Kiai berangkat Selasa malam, dan sampai di Hongkong Kamis pagi. Namun sepanjang perjalanan ia melihat suasana di luar itu malam, alias tidak pernah muncul cahaya matahari. Walhasil, satu hari ia lewati dengan malam yang sangat panjang.

“Karena malam terus, jadinya nggak mungkin dong saya shalat Ashar, Dzuhur, Maghrib” ungkapnya disambut senyum teduhnya.

Kini, kita kehilangan sosok Ulama besar yang teduh, yang ketika Islam dianggap marjinal di layar kaca, beliau dengan tegas dan santun turut membelanya. Sambil menahan haru, beliau sempat mengakui bahwa kegiatannya membuat dirinya terkadang larut dalam kelelahan yang hebat.

“Lelah pasti. Namun ini semata saya lakukan untuk masa depan saya, yaitu masa setelah kehidupan yang fana ini,” tutupnya sembari memberikan dua tas besar kumpulan buku karyanya kepada penulis.  Kini, sang Kiai telah berpulang. Pesan menutup yang menjadi kenyataan, bahwa lelah ini hanya sementara.

Terakhir, kita simak penuturan saat JIB berkesempatan bersua beliau di ruang Imam Masjid Istiqlal saat berbincang tentang Islam dan Nusantara. Penggiat JIB Andi Ryansah mengenangkan sosok beliau, saat terakhir kalinya kami (jejakislam.net) bersilaturahim dengan beliau:

Mendengar kabar meninggalnya Pak Kiai Ali Mustafa Ya’qub, jujur saya amat sangat sedih dan kehilangan. Saya ingat betul ketika bulan puasa tahun lalu, tepatnya setelah shalat Jum’at, saya duduk berhadapan, mewawancarai beliau di ruang Imam Besar Masjid Istiqlal.

Ketika itu, topik yang dibicarakan soal Islam Nusantara. Jawaban beliau sangat mencerahkan dan mengena di pikiran saya. Setelah wawancara, kami sempat selfie.

Di lain waktu, saya beberapa kali mewawancarai beliau via handphone. Yang paling membekas di hati saya, jawaban beliau ketika saya minta tanggapannya terkait tokoh syiah Iran yang pernah ceramah di masjid istiqlal.

“Mungkin puluhan kali saya sudah menasihati Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal untuk tidak usah mengizinkan orang Iran ceramah, akan tetapi tidak dilaksanakan. Saya mohon maaf kepada umat Islam. Saya takut berlumuran dosa karena membiarkan orang syiah ceramah di Masjid Istiqlal,” tutur sang Imam Besar dengan nada sedih dan sesal.

Bagi saya, beliau sosok ulama pemersatu, penengah, dan pembela Islam. Saya betul-betul kehilangan. Wafatnya seorang ulama, berbeda dengan kematian orang biasa. Kepergian ulama sama dengan bencana kemanusiaan. Tak sedikit hilangnya kebaikan dari dunia ini. Sebagaimana hadits Rasulullah saw,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari manusia. Namun Allah akan mencabut imu melalui mencabut nyawa para ulamanya. Sampai bila tak tersisa lagi seorang ulama, manusia pun akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin.”

Selamat jalan Pak Kiai. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu.

Oleh: Rizki Lesus –  Jurnalis, penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

sumber foto: republika.co.id