“Pandai-pandailah kau bercermin,
kalau kau pandai bercermin maka selamatlah kau dunia akhirat”

Di belakang laki-laki hebat pasti selalu ada perempuan hebat di belakangnya. Pepatah ini bukan hanya sekedar omong kosong belaka atau pun hanya rangkaian kata tanpa makna, namun nyata, salah satunya terjadi pada Hamka.

Siapa orang yang tidak mengenal sang otodidak multitalenta bernama Hamka? Selain dikenal sebagai Pejuang Kemerdekaan, ia juga dikenal sebagai Budayawan, Wartawan, Politikus, Filsuf, Tokoh Pergerakan maupun sebagai Pujangga. Namun adakah yang mengenal sosok dan peran Siti Raham binti Endah Sutan? Sosoknya memang tidak begitu terlihat, namun bukan berarti ia tanpa peran, karena bersamanyalah Hamka merasakan ketentraman, darinya pula keputusan politik Hamka ditentukan.

 

Siti Raham binti Endah Sutan, wanita bersahaja dibalik Buya Hamka. Sumber foto : Dokumentasi Keluarga

Siti Raham binti Endah Sutan, wanita bersahaja dibalik Buya Hamka. Sumber foto : Dokumentasi Keluarga

Siti Raham binti Rasul Endah Sutan atau yang biasa disebut dengan Siti Raham merupakan anak kedua dari empat bersaudara, anak keenam Hamka, Azizah Hamka tidak begitu ingat kapan ibunya ini lahir, hanya ingat “ummi” – panggilan Azizah dan sembilan anak Hamka lainnya untuk ibunya – lahir pada tahun 1914, terpaut enam tahun dengan Hamka yang lahir pada tahun 1908.

Menikahnya Hamka dengan Siti Raham mempunyai latar belakang yang unik. Pada waktu itu, paman Hamka yang berada di kampung, Yusuf Amrullah, mengajak Hamka untuk berbicara empat mata. Awalnya pamannya ini menceritakan pada Hamka mengenai kesulitan-kesulitan yang menimpa ayahnya, seperti rumahnya yang berada di Padang Panjang telah hancur karena gempa bumi, para pelajar Sumatera Thawalib yang banyak membangkang dan Belanda yang memata-matai gerak-gerik ayahnya. Karena sebab itulah, pamannya meminta Hamka untuk menjadi pelipur lara, untuk mengobati hati ayahnya yang sedang dirundung duka, yaitu dengan menikahi seorang gadis di Kampung Buah Pondok, anak dari Angku Rasul bergelar Endah Sutan[1].

Akhirnya pada tanggal 05 April 1929, hanya bermodalkan honor dari hasil menulis roman Minangkabau dengan huruf Arab “Si Sabariyah”, Hamka menikahi Siti Raham, saat itu usianya masih baru 21 tahun sementara istrinya berusia 15 tahun[2]. Dari istrinya lah, Hamka memperoleh 12 anak bernama Hisyam Hamka, Husna Hamka, Zaki Hamka, Rusydi Hamka, Fachry Hamka, Azizah Hamka, Irfan Hamka, Aliyah Hamka, Fathiyah Hamka, Hilmi Hamka, Afif Hamka dan Shaqib Hamka. Dua anak Hamka lainnya, Hisyam dan Husna Hamka meninggal saat masih balita[3].

 

Buya Hamka dan Siti Raham. Sumber foto: Dokumentasi Keluarga

Buya Hamka dan Siti Raham. Sumber foto: Dokumentasi Keluarga

Halus Perasaan

Selain dikenal pintar memasak, Siti Raham juga dikenal karena perasaannya yang halus dan murah hati. Pernah saat bulan puasa, ada tukang susu yang datang ke samping rumah mereka ingin konsultasi dengan Hamka, rupanya tukang susu itu terlihat lemah karena belum makan, Siti Raham kemudian dengan sigap menyuruh “Icah” – panggilan kecil untuk Azizah – untuk mengambilkan makan.

“Icah, tolong sediakan makan, kasih nasi dan teh panas manis”, suruh umminya seperti yang dituturkan Azizah.

“Kenapa tukang susu itu disuruh makan dulu, ummi?”, Azizah bertanya dengan polosnya.

“Icah kan tau, tukang susu itu kelaparan, kalau tukang susu itu kelaparan mana bisa dia ngomong sama ayah, kalau dia sudah kenyang barulah ia bisa konsultasi ke ayah”, jawab umminya lembut.

Ia sungguh tidak tega melihat tukang susu itu kelaparan. Azizah mengakui, perasaan ibunya itu sungguh halus sekali.

 

Peran Politik

Meski tidak pernah terlibat langsung dalam politik dan tidak mengecap bangku pendidikan tinggi, namun peran Siti Raham dalam menentukan pilihan politik Hamka begitu besar. Ini pernah terjadi sekitar tahun 1959, saat pemerintah Sukarno mengeluarkan Peraturan Pemerintah menyuruh Hamka untuk memilih antara jabatan pegawai negeri golongan F dengan anggota partai, maka istrinya memilihkan agar Hamka melepaskan jabatannya sebagai pegawai negeri. Rusydi Hamka memberikan kesaksian, tidak ada tanda-tanda kecemasan yang keluar dari raut wajah ibunya yang dikenal tabah dan sabar menghadapi segala penderitaan itu.

“Kita kan tak pernah menjadi orang kaya dengan kedudukan ayah sebagai pegawai itu. Jadi Hamka sajalah!”, hibur Siti Raham dengan senyum yang biasa.

 

Ucapan-ucapan ibunya, diakui Rusydi, telah menguatkan hati ayahnya sebagai seorang pejuang yang harus menentukan keputusan pasti. Tidak hanya itu, ibunya juga mengingatkan saudara-saudaranya Rusydi yang lain agar jangan meminta yang tidak-tidak karena kondisi ayahnya tidak begitu cerah di hari yang akan datang dan yang sudah dewasa, usahakan untuk mencari pekerjaan[4].

Sikap Sukarno yang mengeluarkan peraturan ini diduga kuat karena pidato Hamka yang menentang konsepsi presiden Sukarno dengan keras dan berani pada Sidang Konstituante yang dilaksanakan di Bandung. Sebagaimana diketahui, sejak tahun 1950, Hamka menjadi Pegawai Tinggi di Kementerian Agama golongan F dan menjadi anggota Konstituante fraksi Partai Masyumi[5].

Peran Siti Raham tidak hanya sampai di situ saja, pada tahun 1960, Hamka diundang oleh Jenderal Nasution ke kantornya. Selain sebagai Panglima ABRI, Jenderal Nasution merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Dalam pertemuan tersebut, melalui Jenderal Nasution Hamka ditawari pangkat Mayor Jenderal Tituler oleh pemerintah, karena pemerintah sangat menghargai jasa dan perjuangan Hamka dalam menghimpun kekuatan rakyat Sumatera Barat dan Riau pada waktu itu dan oleh karenanya pemerintah ingin memberikan Hamka, yang disebut Irfan Hamka dalam bukunya, pangkat kehormatan.

Kemudian Hamka berunding dengan istrinya, namun apa disangka? istrinya menyarankan agar Hamka tidak menerima tawaran tersebut.

“Lebih baik angku Haji tetap berperan di Masjid Agung Al-Azhar, lebih terhormat di hadapan Allah”, kenang Irfan setelah mendapatkan cerita tersebut dari kakak perempuannya, Azizah Hamka yang menirukan ucapan ibunya.

Tidak lama kemudian, Hamka menemui Jenderal Nasution dan secara halus ia menolak tawarannya sebagai Jenderal Mayor Tituler, setelah mendengar saran dari istrinya.

“Saya sudah dianggap sebagai ulama oleh masyarakat dan hobi saya hanya menulis, tentu akan hal-hal tersebut sedikit banyak akan menghambat tugas-tugas saya sebagai seorang Mayor Jenderal walaupun Tituler”, Hamka memberikan alasannya kepada Jenderal Nasution dan Jenderal Nasution bisa memaklumi alasan Hamka[6].

 

Irfan menilai, dari peristiwa tersebut bahwa ibunya bukanlah seorang perempuan yang ambisius, mencari popularitas atau ingin menambah kekayaan melalui jabatan yang ditawarkan oleh pemerintah. Menurut Irfan, sebenarnya bisa saja ayahnya langsung menolak kedua penawaran tersebut dan Irfan yakin, ayahnya pun pasti akan lebih memilih untuk tetap menekuni kesibukannya di bidang syi’ar Islam yang sudah mendarah daging dalam diri ayahnya.

Terlebih sejak dari muda, ayahnya itu bukan orang yang suka makan dari gaji pemerintah dan bukan pula pedagang seperti mayoritas laki-laki di kampungnya. Sumber kehidupan ayahnya hanya bergantung pada menulis buku dan saat pindah dalam suasana revolusi ke Padang Panjang, ia tidak punya sumber kehidupan yang tetap setiap bulannya[7].

Selain itu, irfan juga yakin, bahwa ayahnya juga sudah bisa menduga apa pendapat istrinya tersebut. Hal ini karena bukan hanya cinta, tetapi karena ayahnya itu sangat menghargai istri yang sangat dicintainya. Irfan begitu yakin, ini karena hasil pergaulan ibunya dengan ayahnya, sehingga ibunya mengetahui persis kepribadian dan watak ayahnya dengan baik[8].

 

Siti Raham (kiri). Sumber foto: Dokumentasi Keluarga

Siti Raham (kiri). Sumber foto: Dokumentasi Keluarga

Penjaga Kehormatan

Walau dalam keadaan yang serba kekurangan, Siti Raham tetap mempertahankan kehormatan suaminya dan begitu teliti dalam menjaganya, salah satunya dengan memperhatikan pakaian yang akan dipakai Hamka setiap ia akan keluar rumah, salah satunya dengan mencegah Hamka menjual kain-kain Bugisnya.

“Kain angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja. Karena angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai orang miskin”, cegah Siti Raham.

Kertas-kertas yang berserakan di meja atau buku-buku yang berantakan di kamar juga selalu dijaga agar tidak ada yang hilang. Kerapkali Siti Raham juga menegur Hamka akan hal-hal kecil, seperti kopiah yang hendak dipakai untuk dibersihkan dulu[9].

Hamka bercerita pada anak keempatnya, Rusydi Hamka, bahwa istrinya merupakan wanita yang setia dan tidak meminta sesuatu di luar kemampuan suaminya. Setelah menjalani pernikahan selama beberapa tahun, Hamka begitu mensyukuri bahwa ayahnya telah memilihkan seorang wanita yang begitu mulia dan rendah hati[10].

Kesetiaan istrinya dalam menemani Hamka suka maupun duka akhirnya harus dipisahkan oleh maut, darah tinggi dan diabetes yang menyerang tubuh Siti Raham tak kuasa lagi ia tahan. Pada 01 Januari 1971, Siti Raham dipanggil oleh Rabbnya dan tiga hari sebelum meninggal, Siti Raham meninggalkan wasiat, “Pandai-pandailah kau bercermin, kalau kau pandai bercermin maka selamatlah kau dunia akhirat”. Seakan-akan wasiat itu seperti pertanda bahwa ia akan dipanggil.

Oleh : Sarah Mantovani – Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sumber Pustaka :

Wawancara dengan Azizah Hamka 12 Februari 2015

Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Prof. Dr. Hamka, Jakarta, Pustaka Panjimas, 1993

Irfan Hamka, 2013. Ayah… Kisah Buya Hamka Masa Muda, Dewasa, Menjadi Ulama, Sastrawan, Politisi, Kepala Rumah Tangga Sampai Ajal Menjemputnya. Jakarta. Penerbit Republika.



[1] Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Prof. Dr. Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), hlm. 21.

[2] Ibid, hlm. 3.

[3] Irfan Hamka, Ayah…, hlm. 295.

[4] Rusydi Hamka, Pribadi…., hlm. 26.

[5] Ibid, hlm. 25-26.

[6] Irfan Hamka, Ayah…, hlm. 199-200.

[7] Rusydi Hamka, Pribadi…, hlm. 23.

[8] Irfan Hamka, Ayah…, hlm. 201.

[9] Rusydi Hamka, Pribadi…, hlm. 24 dan 27.

[10] Rusydi Hamka, Pribadi…, hlm. 22.