Tulisan ini adalah sebuah cuplikan peristiwa disepenggal masa kolonial. Ketika, penyimpangan seksual, yaitu homoseksual, mendera bagian di Hindia Belanda, yaitu Pulau Bali dan Jawa. Praktik homoseksual di Hindia Belanda saat itu, setidaknya juga melibatkan aspek situasi ‘penjajah dan terjajah.’

Berbeda dengan tanah Jawa yang dikuasai oleh penjajah sejak pertengahan abad ke 19, tetangganya, Bali, baru dikuasai penuh sejak awal abad ke-20, ketika Raja Badung dan Tabanan melakukan perang hingga titik darah penghabisan (puputan) dan berakhir dengan kehancuran dan banjir darah. Bali, sebelum abad ke 20 memang dalam benak para penjajah identik dengan kekerasan dan pertikaian internal. Selain itu Bali mereka kenal sebagai pasar budak. Namun citra ini akan segera pudar dan digantikan oleh citra lain yang dilekatkan oleh para penjajah.[1]

Imajinasi pulau Bali sebagai miniatur Hindu pra-Islam sudah dibayangkan oleh Raffles (1817) dan J. Crawford (1820). Imajinasi ini dilanjutkan oleh W.R. Hoevell dari Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen dengan meminta ilmuwan Sanskerta dan orientalis R.T Friedrich untuk menemukan Jawa Kuno, yang dalam bayangan Hoevell, Bali masa itu adalah Jawa pada awal abad ke 15, kemudian hilang akibat datangnya Islam. Friedrich menemukan kisah itu dari naskah-naskah lama dan mengembangkan gagasan Bali sebagai gudang kebudayaan Hindu. Gagasan ini terus diulang-ulang hingga masa-masa berikutnya hingga menimbulkan kebijakan politis pemerintah kolonial. Bagi mereka, Miniatur Hindu Pra-Islam ini harus dijaga dari dunia luar, termasuk Islam. Perasaan anti Islam ini tak mengherankan, karena gagasan mengenai Bali ini muncul dari kepala orientalis.[2]

Menurut Michael Picard, “The orientalist vision of Bali as Hindu Island surrounded by a sea of Islam was to have long-lasting consequences, for two related reasons. On the hand, by looking for the singularity of Bali in its Hindu heritage, and by conceiving of Balinese religious identity as formed through opposition to Islam, the Dutch set the framework within which the Balinese were going to define themshelves.”[3]

Kebijakan untuk mengembalikan atau bahkan membentuk Bali yang asli ini dikenal dengan Baliseering. Baliseering yang berarti ‘balinisasi Bali’, bertujuan untuk menciptakan kebangkitan budaya Bali yang diproduksi oleh pemerintah kolonial, agar kaum muda Bali menyadari nilai dari warisan budaya mereka, tentu budaya yang telah dibingkai dan diharapkan oleh pemerintah kolonial. Melalui Baliseering ini mereka memasuki aspek-aspek budaya dari orang-orang Bali dan mengarahkannya sesuai kehendak para kolonialis. Aspek-aspek itu antara lain meliputi arsitektur hingga seni. Melalui reproduksi karya seni, eksotisme Bali disebarkan ke penjuru dunia. Bali dibentuk sebagai citra Surga di Timur. Bali menjadi destinasi bagi orang-orang Barat untuk mencari kesenangan. Melarikan diri dari kesuraman perang dunia. Eksotisme Bali ditopang foto-foto atau gambar eksotis perempuan Bali yang telanjang dada.[4]

Citra Bali ini pula yang mengundang seorang seniman berbakat keturunan Jerman bernama Walter Spies untuk menetap di Bali. Aktivitasnya dalam bidang seni terutama lukis, membuat Walter Spies akhirnya ikut ‘terlibat’ dalam praktik Baliseering. Menjelang akhir dasawarsa 1920-an, beberapa seniman dan peneliti asing tinggal di Bali. Mereka ingin melindungi seni orang-orang pribumi di Bali dari ‘degenerasi’ dan ‘dekadensi’ Diantaranya adalah seniman terkenal Walter Spies dan Rudolph Bonnet. Spies sadar atau tidak melakukan ‘campur tangan’ terhadap kesenian di Bali. Menurut Spies,

“Pada kami-lah suku bangsa yang memberi sumbangan terhadap kebudayaan, dan yang memiliki pengetahuan hingga tingkat tertentu mengenai perkembangan serta kematian suku-suku bangsa yang angat beragam dengan budaya pribumi mereka – terdapat tugas untuk menunjuk bahaya yang mungkin menyebabkan rusak serta memudarnya seni tradisional, akibat tidak diacuhkannya beberapa unsur pribumi asli, mewanti-wanti mereka akan konsekuensi-konsekuensi mahal jika merintangi, khsusunya meniru mentah-mentah dan membabi buta ungkapan-ungkapan asing, tanpa sedikitpun memahaminya”[5]

Rudolph Bonnet memahami seni di Bali terkena imbas pengaruh Barat, terutama seni arsitektur dan cara berpakaian, dan oleh karenanya harus bersihkan dari pengaruh tersebut. Ia bahkan member penilaian mana yang “baik” (atau tradisional) dan salah (secara Barat) terhadap karya seni Bali.[6]

Upaya pemurnian seni (lukis) Bali ini justru ironis, karena di lain sisi, para seniman barat tersebut justru membentuk sebuah ‘genre’ lukisan Bali yang baru, terutama di Bali Selatan. Warna, ukuran, tema dan pemasaran berkelindan mempengaruhi seni lukis Bali. Lukisan-lukisan pemandangan pedesaan yang indah, berlatar belakang alam yang hijau mengesankan pemandangan Bali yang damai dan tenang. Hal ini tentu saja sesuai dengan gambaran orang-orang Barat tentang bali yang eksotis, dengan pemandangannya yang indah. Gambaran-gambaran seperti ini yang membuat orang-orang Bali membuat lukisan dalam ukuran kecil, agar muat dikoper milik turis. Maka citra-citra itulah yang terus direporduksi dan digaungkan ke dunia luar.

Walter Spies yang tinggal di Ubud, membentuk kelompok Pita Maha yang berpengaruh dalam kesenian di Bali. Pita Maha menjadi semacam ‘pemandu’ bagi seni di Bali. Namun aktivitas Spies, bukan hanya di bidang lukis saja. Tetapi juga kehidupannya sebagai seorang homoseksual di Bali.

Walter Spies. Sumber foto: http://collectie.tropenmuseum.nl/default.aspx?lang=en

Walter Spies. Sumber foto: http://collectie.tropenmuseum.nl/default.aspx?lang=en

Spies, bukan satu-satunya homoseksual di Bali, bahkan citra Bali sebagai Surga di Timur telah membuat Bali menjadi salah satu ‘tujuan’ kaum homoseksual dari Barat. Mengindari tekanan di tempat asalnya. Citra Bali sebagai Sex Tourism saat itu boleh jadi karena gambaran-gambaran yang dibentuk oleh orang-orang barat dan pemerintah kolonial yang menjual eksotisme (dan erotisme), terutama perempuan-perempuan Bali. Satu hal yang pasti, citra Bali sebagai ‘Surga di Timur’ yang dibentuk oleh pemerintah kolonial dan peneliti asing sebenarnya menutupi kesengsaraan dan kepahitan hidup di Bali. Kemiskinan yang menjerat rakyat Bali, tak lepas dari sikap tak acuh pemerintah kolonial. Pajak yang mencekik, kemiskinan hingga kegagalan panen menjadi derita bagi rakyat Bali.[7] Hal ini mendorong timbulnya prostitusi di Bali, bahkan prostitusi homoseksual. Miguel Covarrubias, penulis buku Island of Bali (terbit tahun 1937) menuliskan pengamatannya terhadap prostitusi homoseksual di Bali,

“I have been asked by a naive Balinese why it is that white men so often prefer boys to girls. I could only\deny his strange idea, but later I found the explanation when I observed the alarming number of mercenary homosexuals around the hotels at night.”[8]

Perilaku homoseksual, bukannya diterima masyarakat Bali, namun, dalam kondisi terjajah, maka relasi antara kaum kulit putih sebagai penguasa dan rakyat Bali sebagai masyarakat yang terjajah menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Margaret Mead, dalam bukunya Male and Female (1950), mengungkapkan kekhawatiran masyarakat Bali tentang homoseksualitas,

“When the fear of passivity is also present in the minds of adults – that is, when homosexuality is recognized in a society, with either approval or disapproval – the fear is exacerbated. The parents begin to pick on the child, to worry about his behaviour, to set him trials, or to lament his softness. Why did the eight year old little Balinese boy Gelis sit around all day with the women and girls, his head cradled against any convenient knee, instead of taking the oxen out to the fields?”[9]

Meski dirundung kekhawatiran bagi masyarakat Bali, hal itu tidak mengkhawatirkan Walter Spies. Ia tetap dikenal sebagai homoseksual, setidaknya oleh teman-temannya. Menetap di Ubud, memungkinkan Spies banyak berinteraksi dengan masyarakat pribumi di sana. Ia bahkan bersikap baik terhadap anak-anak di sana, misalnya ketika ia mengundang anak-anak di sana untuk merayakan natal di rumahnya. Aktivitasnya di Pita Maha yang berinteraksi intens dengan masyarakat lokal membuat menjadi dikenal. Para pemuda Bali pun menjadi muridnya dalam melukis. Namun dibalik aktivitas seninya, Spies tak bisa melepaskan hasratnya terhadap pemuda Bali, meski ia sedang dalam kegiatan yang berhubungan dengan seni. Dalam suratnya kepada Jane Belo dan Colin McPhee tahun 1935, ia menulis,

 

“One of the latest of our joys is the Gengong orchestra in Batuan. The same that Colin never had a chance to hear – they are marvellous!! I call them very often to my house; it is one of the most soft, gentle, halus, unnoisy kind of chamber music you can imagine! And the boys look one more beautiful and appetizing than the other. So clean and loveable – without any panoes, boelenaar, or any other skin trouble! “[10]

Margaret Mead adalah teman Spies yang mengetahui kehidupan (homo)seksual Spies. Meski Ia menyebut Spies bukan homoseksual yang ‘predator’ dan ‘agresif’ tetapi Mead mengindikasikan Spies memang memiliki hubungan seksual dengan muridnya. Hubungan seksual Spies dengan muridnya tak bisa dianggap sebagai hubungan sukarela. Hubungan tersebut tak bisa dilepaskan dari hubungan bersifat eksploitatif antara ras kulit putih yang ‘dominan’ dan orang pribumi yang terjajah.[11] Dan mereka tak sungkan-sungkan untuk melakukannya kepada orang pribumi (Bali), terutama kepada yang lebih muda (Spies kerap memanggil mereka dengan panggilan‘boys’).

Pada tahun 1938 pemerintah kolonial mulai melakukan pembersihan besar-besaran terhadap kaum homoseksual dan pedofilia. Sebenarnya, peraturan di Hindia Belanda tidak melarang tindakan homoseksual. Dalam peraturan No. 292, hanya melarang hubungan dengan anak dibawah umur. Maka banyak homoseksual dijerat dengan tuduhan pedofilia. Meski Spies bukan seorang pedofilia, namun ia tampaknya mengetahui (dan tidak menentang) temannya, Roelof Goris yang diketahui seorang pedofilia.[12]

Walter Spies pun akhirnya dituduh terlibat hubungan seks dengan anak oleh pemerintah kolonial, karena secara ‘hukum’ ia berhubungan seks dengan pemuda Bali yang berusia dibawah 21 tahun. Aksi pembersihan besar-besaran pemerintah kolonial ini membuat kaum homoseksual di Bali ketakutan. Dalam sebuah surat seorang teman Spies, yaitu Jane Belo, tersirat betapa banyaknya kaum homoseksual di Bali dan menggambarkan kepanikan mereka atas aksi pembersihan tersebut,

“At least half of the people living in Bali have been asked to leave, or have left on their own accord, one dares not wonder why.”[13]

Aksi pembersihan pemerintah kolonial memang tak bisa dilihat sebagai aksi moral, tetapi lebih sebagai pencitraan kolonial di mata kaum pribumi. Karena secara hukum pun pemerintah kolonial tak melarang aktivitas homoseksual di kalangan orang dewasa. Pembersihan ini bukan hanya terjadi di Bali, namun juga di Pulau Jawa.

Di Jawa, tepatnya di Bandung, salah satu kasus disebut-sebut sebagai pemicu aksi pembersihan besar-besaran ini. Seorang pelajar pribumi diperkosa oleh gurunya. Kemudian seorang Eropa bernama Fievez de Malines, yang merupakan pejabat kolonial di Jawa Barat di tahan di Makassar, karena berhubungan seks dengan anak di bawah umur. Asisten Residen Coolhas juga di tahan. Di Batavia, polisi disebutkan menangkapi anak-anak jalanan dan membariskan mereka di depan barisan laki-laki Eropa yang dicurigai; bila anak-anak remaja tersebut menunjuk salah satu laki-laki Eropa tersebut, itu dianggap mengindikasikan bahwa laki-laki tersebut telah melakukan hubungan seksual dengan mereka, dan orang-orang Eropa tersebut kemudian ditahan.[14]

Salah satu cerita mengenaskan tentang aktivitas homoseksual justru terjadi di Penjara. Bung Karno, yang kelak menjadi presiden pertama Indonesia, menceritakan kisah mengenasan praktik menyimpang tersebut, saat ia dibui oleh pemerintah kolonial di Penjara Sukamiskin. Bung Karno menceritakan betapa nestapa kehidupan di Penjara, termasuk aktivitas homoseksual yang terjadi di sana. Bung Karno menyaksikan sendiri dengan gamblang bagaimana penyimpangan itu terjadi,

“Dihadapanku laki-laki melakukan pertjintaan dengan laki-laki lain. Seorang Belanda jang tjerdas dan potongan orang gede-gede membanting-tulang seperti budak dibagian benatu pendjara. Aku sedang berada dekatnja ketika pendjaga pendjara menjampaikan kepadanja bahwa ia akan dipindahkan bekerdja ketempat jang lebih tjotjok dengan pembawaan mentalnja daripada pekerdjaan membudak jang telah dilakukannja begitu lama. ,,Kami akan dipindahkan tuan besok, kata pendjaga itu. ,,Mulai dari sekarang tuan tidak perlu lagi membungkuk dibak-uap dan tangan tuan tidak akan mengelupas lagi dalam air jang mendidih. Karena kelakuan tuan jang baik, tuan diberi pekerdjaan ringan dirumah-obat. Belanda itu mendjadi takut. Mulutnja bergerak gugup. ,,0 tidak. teriaknja sambil menggapai tangan pendjaga itu. ,,Tidak ……… tidak……ach, tidak. Djangan aku dipindahkan kesana

Pendjaga jang keheranan itu menjangka orang tahanan itu salah dengar. ,,Tuan tidak mengerti, kata pendjaga mengulangi. ,, Ini suatu keringanan. Keringanan untuk mengerdjakan jang lebih mudah.

,,Djangan…….. djangan,” orang tahanan itu membela pendiriannja. ,,Pertjajalah padaku, aku tidak mau keuntungan ini. Kuminta dengan sangat, biarkanlah aku bekerdja dibagian benatu. Biar bekerdja keras.”

“,,Kenapa ?” tanja pendjaga tidak pertjaja.

“,,Karena,” bisiknja, “,,Tempatnja tertutup disini dan aku selalu dilingkungi orang sepandjang waktu. disini aku bisa berhubungan rapat dengan orang-orang disekelilingku. Sedang dirumah-obat aku tak mendapat kesempatan ini dan tidak akan bisa menggeser pada laki-laki lain. Djangan…….djangan pindahkan aku kesana. Inilah akibat pengurungan terhadap manusia.” .[15]

Penyimpangan homoseksual kala itu melanda banyak orang kulit putih (orang Eropa). Namun korban mereka adalah orang-orang pribumi. Terutama yang berusia lebih muda. Sukarno menceritakan salah satu kisah seorang homoseksual kala itu,

“Sungguh banjak persoalan homoseksuil diantara orang kulitputih. Seorang Belanda berambut keriting, dengan pundaknja jang lebar dan sama seperti laki-laki lain jang bisa dilihat dimana-mana, telah didjatuhi hukuman empat tahun kerdja berat. Kedjahatannja, karena bermain-main dengan anak-anak muda. Tapi walaupun dihukum berkali-kali untuk menginsjafkannja, namun nampaknja ratusan anak laki-laki jang berada disekelilingnja adalah satu-satunja obat bagi penjakitnja, wallahu’alam. Hukumannja telah habis dan dipagi ia meninggalkan pendjara, kukira dia bisa baik lagi.”

“Sebulan kemudian dia menonton bioskop. Dia duduk dibangku depan dikelilingi oleh delapan atau sembilan anak-anak muda. Orang kulitputih berambut pirang dan berbadan besar duduk dikelas kamhing jang disediakan untuk orang Bumiputera tentu mudah diketahui orang. Terutama kalau perhatiannja tidak terpusat kepada film. Djadi, kembalilah ia mengajunkan langkah menudju bui. Pendjara bukanlah obatnja. Ia kembali keselnja jang lama sebelum keadaannja berobah.”[16]

Orang-orang kulit putih (Eropa) tersebut tampaknya memang terbuka dengan penyimpangan (homoseksual mereka) kala itu. Terutama yang terjadi di perkotaan. Bahkan hal ini menimbulkan praktek pelacuran, seperti yang terjadi di Bali dan Jawa. Dalam satu kesempatan, Sukarno kembali bertutur mengenai praktek mengenaskan praktek homoseksual yang terjadi pada masa itu,

“Djenis manusia jang begini berkumpul disuatu tempat dikota. Suatu hari terdjadi ribut-ribut disebuah hotel dan polisi datang. Seorang pemuda kedapatan terbaring dilantai disalahsatu kamar menangis dan mendjerit.”

“Ia dalam keadaan telandjang dan mendjadi apa jang disebut pelatjur. Langganannja adalah tiga orang Belanda berbadan tegap dan kekar. Apakah jang mendjadi sebab dari kegemparan ini ?” Anak pelatjur itu kemudian menerangkan sambil tersedusedu, ,,Mula-mula jang satu itu dari Korps Diplomatik ingin dengan saja, lalu kawannja. Sekarang jang ketiga mau dengan saja lagi. Saja tjapek. Saja katakan, saja tidak sanggup lagi dan apa tindakannja ? Dia memukul saja !

Orang kulitputih itu dimasukkan kesel dibawahku. Disini ia berusaha lagi menawarkan kegemarannja itu.

“Pada waktu tidak ada orang disekelilingku, kutanjakan hal in kepadanja. ,,“Kenapa?” tanjaku. ,,Kenapa engkau mau bertjinta denganku ?” Dan ia mendjawab, ,“,Karena disini tidak ,ada perempuan.”

Aku mengangguk, ,,“Memang benar. Aku sendiri djuga menginginkan kawan perempuan, tapi bagaimana bisa……….”

“Kemudian ia menambahkan, ,,“Jah, apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?”

,,”Ooooh,” kataku terengah. ,,“Kau sakit !”[17]

Penjara Sukamiskin, tampak atas. Sumber foto: Wikimapia

Penjara Sukamiskin, tampak atas. Sumber foto: Wikimapia

Melihat kasus-kasus di atas, baik di Jawa ataupun Bali pada masa kolonial, terutama pada awal abad ke 20, kita dapat melihat, praktek homoseksual pada masa kolonial utamanya terjadi di kalangan kulit putih, yang dengan terbuka menunjukkan penyimpangan mereka. Dan penyimpangan itu acapkali dilakukan terhadap orang-orang pribumi, yang statusnya saat itu sebagai orang-orang dari bangsa yang dijajah. Dengan superioritas ‘status’ mereka atas orang pribumi, mereka menjerat orang pribumi sebagai objek pemuas nafsu seksual mereka. Tentu saja bukan berarti homoseksual hanya dilakukan oleh orang kulit putih. Orang pribumi yang mengidap homoseksual pun ada, sebagaimana yang disebut Tom Boellstorff.[18] Disebutkan, mengutip biografi Sucipto, kaum homoseksual biasaya berkumpul, namun ternyata tidak semuanya benar-benar homoseksual. Sebagian ada yang melakukannya demi uang. Sebagian lainnya laki-laki yang bersikap seperti perempuan.[19] Namun pada masa itu, kaum homoseksual kulit putih-lah yang menunjukkan eksistensi mereka, dan seringkali menjerat orang pribumi sebagai objek pelampiasan nafsu mereka. Kehadiran kaum homoseksual dalam sejarah Indonesia, tak dapat dipungkiri adanya. Namun yang penting adalah, seberapa besar pengaruhnya terhadap masyarakat? Dan bagaimana respon bangsa kita pada saat itu terhadap perbuatan yang disebut Bung Karno sebagai ‘sakit’ itu?

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa

 

[1] Vickers, Adrian. 1996. Bali: A Paradise Recreated. Hongkong: Periplus Editions (HK)

[2] Nordholt, Henk Schulte. 2002. Krimintalitas, Modernitas dan Identitas dalam Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Picard, Michael. 1997. Cultural Tourism, Nation-Building, and Regional Culture: The Making of a Balinese Identity dalam Tourism, Ethnicity and the State in Asian and Pacific Societies. Honolulu: University of Hawai’i Press

[3] Picard, Michael. 1997.

[4] Ibid dan Sitompul, Jojor Ria. 2008. Visual and Textual Images of Women: 1930s Representations of Colonial Bali as Produced by Men and Women Travellers. Disertasi pada University of Warwick: Tidak diterbitkan.

[5] Nordholt, Henk Schulte. 2002.

[6] Vickers, Adrian. 1996.

[7] Nordholt, Henk Schulte. 2002.

[8] Green, Geofrey Corbet. 2002. Walter Spies, Tourist Art and Balinese Art in inter-war Colonial Bali. Disertasi pada Sheffield Hallam University: Tidak diterbitkan.

[9] Ibid. Penulis tidak sependapat dengan beberapa peneliti (misalnya Adrian Vickers) yang menganggap homoseksual sebagai hal yang biasa saja bagi masyarakat dan budaya Bali. Terdapatnya beberapa literatur dalam budaya Bali mengenai seks (sejenis) belum tentu mewakili secara umum dan berpengaruh terhadap masyarakat dan budaya Bali. Tulisan Margaret Mead menegaskan respon masyarakat. Baca juga Geofrey Corbet Green tentang respon masyarakat Bali terhadap sex tourism dan homoseksualitas.

[10] Ibid. Cetak tebal dari penulis

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Boellstorff, Tom. 2005. The Gay Acrchipelago: Seksualitas dan Bangsa di Indonesia. New Jersey: Princeton University Press

[15] Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. 1966. Jakarta: PT Gunung Agung

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Boellstorff, Tom. 2005. Namun klaim Boellstorff ini, terutama pada persoalan budaya dan kutipan Encyclopaedie van Nederlandsch-indie perlu dikaji lebih dalam. Beberapa kasus kisah homoseksual pribumi seperti Sucipto, atau terjadi di Padang, Makassar tak bisa serta merta disebut mewakili pandangan masyarakat dan disimpulkan sebagai perilaku homoseksual diterima masyarakat kala itu.

[19] Ibid.