Het Licht edisi 7-10 (Sep-Des) 1933

#PustakaUmat kali ini akan menyajikan sebuah majalah yang diterbitkan oleh organisasi pemuda bernama Jong Islamieten Bond (JIB). Majalah ini merupakan majalah edisi ke 7-10 (September – Desember 1933). Het Licht, yang diambil dari Surat An-Taubah ayat 32,

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At Taubah 32).

Kisah ini pembuatan majalah Het Licht ini diceritakan oleh H. Agus Salim, ketika mendorong untuk dibentuknya Jong Islamieten Bond (JIB).

“Pimpinan kelompok pemuda beragama Islam ini, Sjamsurizal, sangat sedih dan ketika pulang malam dari kongres itu aku mencoba menghiburnya dan berkata ; jangan sedih, mari kita segera bentuk persatuan pemuda Islam dan kita akan menerbitkan surat kabar Islam berjudul Het Licht (Sinar). Orang-orang itu telah mencoba mematikan sinar Ilahi tetapi tuhan tak akan membiarkannya! Maka disudut jalan itu, pada malam tahun baru jam 24.00, 1 Januari 1925 dibentuklah Jong Islamieten Bond (JIB).”

het licht-inside
Het Licht edisi kali ini membahas pidato ketua JIB, Kasman Singodimedjo (1929/30-1935), yang membahas hubungan JIB dengan organisasi-organisasi Islam lainnya. Tak dapat disangkal, JIB periode Kasman, terlebih di tahun 1933, sedang menjalani surutnya organisasi tersebut. Setidaknya penerbitan Het Licth sudah tidak lagi dapat terbit secara teratur hingga 1931. Di edisi ini pula terungkap perpecahan JIB dengan Natipij, organisasi kepanduan JIB. perpecahan ini ditandai pula dengan dipecatnya pengurus pusat Natipij. Kasman juga menyebutkan adanya halangan dari pemerintah terhadap JIB dan Natipij di Manado.

Menarik pula di edisi ini, Kasman menganggap Ahmadiyah Lahore sebagai bagian dari organisasi Islam. Sikap JIB terhadap Ahmadiyah Lahore memang tidak menentang secara organisasi, namun dari sisi ajaran Ahmadiyah Lahore tetap mendapatkan kritik dari anggota-anggota JIB. Perdebatan tentang Ahmadiyah dalam tubuh JIB memang telah terjadi sejak 1928. Kasman juga menyebut debat terbuka antara Majalah Pembela Islam dengan Ahmadiyah Qadiani pada April 1933 sebagai contoh debat yang dapat ditiru. Edisi ini juga menyebutkan wafatnya Kiyai Ibrahim dari Muhammadiyah.

Lebih lengkapnya, kami ucapkan pada pembaca #PustakaUmat, selamat membaca!

Klik Link ini untuk membaca Het Licht edisi 7-10 (Sep-Des) 1933

oleh: Beggy Rizkiyansyah – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)