Di zaman merdeka ini, mengapa sebagian dari kita ragu atau bahkan enggan menentang ketika agama dan negara dilecehkan? Hati terasa hambar, otak masa bodoh, tekanan darah rendah, otot kendur bergerak, tangan kaku menulis kritik, dan lidah kelu membela.

Kalau dulu, sebagaimana dituturkan oleh Buya Hamka dalam bukunya “Ghirah dan Tantangan terhadap Islam”, Tuanku Imam Bonjol awalnya hendak mengundurkan diri dari medan perang. Namun setelah melihat masjid diambil dan dijadikan kandang kuda, api tauhid di dalam dadanya berkobar-kobar, beliau akhirnya tak jadi mundur. Beliau lalu menyentak pedangnya, walaupun beliau sudah tua! Tak dihitungnya lagi menang atau kalah, hidup atau mati.

“Tak melawan itulah yang mati. Sebab tak ada lagi ghirah (cemburu),” tegas Buya Hamka.

Lebih lanjut, Buya Hamka menceritakan semasa penjajah Belanda berkuasa, dibuatlah propaganda bahwa Islam itu fanatik! Orang-orang yang terdidik dengan cara Belanda pun, lantaran cap yang telah diberikan itu, merasa dirinya rendah kalau kelihatan fanatik. Akhirnya anak-anak muslim yang telah terdidik secara Barat pun turut pula menuduh bangsa dan kaumnya fanatik!

Pangeran Diponegoro dengan niat hendak mendirikan kerajaan Islam di tanah Jawa dan beliau menjadi Amirul Mukmininnya, dituduh fanatik! Perlawanan Imam Bonjol selama 16 tahun dengan gerakan Paderinya yang terkenal itu, dituduh fanatik! Perlawanan rakyat Aceh selama 40 tahun dituduh fanatik! Kiai yang mengerahkan santri untuk menyerang Belanda, lalu semua santri disikat habis oleh mitraliur dan berakibat dua belas pemuda, anak-anak dari umur 20 tahun, bergelimpangan jasadnya. Mereka itu semua dituduh fanatik! Bahkan selama umat Islam masih belum mau menerima penjajahan, selama itu pula mereka dituduh dan harus dicap fanatik!

Barulah, kata Buya Hamka, akan hilang cap fanatik itu bila ghirah agamanya telah hilang. Baik hilang dalam dirinya, maupun masyarakatnya. Barulah dia tidak dicap fanatik, kalau dia duduk bersama-sama Belanda atau yang didikan Barat di waktu Maghrib, malu dia hendak shalat. Maka terpujilah ia sebagai orang yang “berwawasan luas” dan “toleran”.

Baru dipandang sebagai orang yang berwawasan luas bila dia tak datang shalat Jum’at di masjid. Padahal orang Belanda tetap ke gereja pada hari Minggu. Dan dia akan dicap fanatik kalau di rumahnya masih ada tikar sembahyang! Dan namanya akan dipopulerkan di mana-mana sebagai orang Islam yang maju dan berwawasan luas serta progresif kalau dia telah turut pula menjelek-jelekkan kiainya, mencela kehidupan santri bahwa kaum santri itu kotor dan gudikan!

“Tuan tahu apa sebabnya? Sebab pesantren itulah sumber tenaga kekuatan Islam di Indonesia selama ini. Maka pengaruhnya mesti dihilangkan, mesti ditimpakan kepadanya tuduhan-tuduhan dan dicap fanatik,” ungkap Buya Hamka.

Baru mendapat pujian dan bintang kalau “ulama” atau “kiai” bersedia memberikan fatwa yang menyenangkan hati “kanjeng” seperti melarang rakyat melawan penjajah atau menerima peraturan baru yang merugikan Islam. Tapi kalau mereka tegak lurus dalam ketentuan gama, mereka dituduh fanatik. Banyak ulama dan kiai yang dibuang dari negerinya, sebab dituduh fanatik (Buya Hamka, Dari Hati ke Hati tentang Agama, Sosial Budaya, Politik: Dari Hal Fanatik, hlm.117 )  

“Tuan boleh menuduh kaum muslimin itu fanatik. Tapi tuan harus membenarkan kata hati tuan sendiri bahwasanya fanatik umat Islam itu modal yang sangat besar dalam kemerdekaan Indonesia. Agar tuan tahu itu bukanlah fanatik! Itulah yang bernama ghirah!”

Buya Hamka kemudian menerangkan, ghirah itulah yang telah diwarisi turun temurun dari nenek turun ke ayah. Dari ayah turun ke anak dan dari anak turun ke cucu. Seketika perlawanan umat Islam di Aceh di zaman melawan Belanda, menurut cerita Zentgraaf yang dikutipnya, rumah orang digeledah oleh serdadu patroli Belanda. Laki-laki tak kelihatan dalam kampung sebab pergi bergerilya –ber”muslimin” kalau kata orang Aceh –. Serdadu sampai ke halaman sebuah rumah. Seorang perempuan yang sedang menumbuk padi, ditegur oleh sedadu,

“Hai, ada laki-laki di rumah ini?”

“Tidak ada tuan!”

“Kemana laki-laki?”

“Semua pergi berperang tuan!”

“Boleh saya periksa ke rumah?”

“Boleh tuan!”

Rumahnya lalu digeledah. Tiba-tiba kedapatan seorang laki-laki bersembunyi di bawah tempat tidur. Di dibawa ke halaman. Perempuan itu ditanyai,

“Kenapa bohong? Tadi mengatakan laki-laki ada di rumah! Padahal ada. Awas ya!”

“Saya bicara yang benar tuan! Yang laki-laki semuanya telah pergi. Saudara saya ini takut lalu tinggal di rumah. Oleh sebab itu, dia tidak turut berjuang. Dia bukan laki-laki.”

“Tuan boleh menuduh kaum muslimin itu fanatik. Tapi tuan harus membenarkan kata hati tuan sendiri bahwasanya fanatik umat Islam itu modal yang sangat besar dalam kemerdekaan Indonesia. Agar tuan tahu itu bukanlah fanatik! Itulah yang bernama ghirah!”

Maka resapilah pekikan ghirah seorang Bung Tomo hari ini, 70 tahun silam, yang telah mengobarkan semangat juang dan meneguhkan kebesaran Allah tuk pertahankan kemerdekaan Indonesia. “Slogan kita tetap sama: Merdeka atau Mati. Dan kita tahu, Saudara-saudara, bahwa kemenangan akan ada di pihak kita, karena Tuhan ada di sisi yang benar. Percayalah saudara-saudara, bahwa Tuhan akan melindungi kita semua. Allahu Akbar..Allahu akbar..! Yakinilah dan mauilah mempertahankan kemerdekaan agama dan negara ini yang sedang dilecehkan.

Oleh : Muhammad Cheng Ho – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)