Awal orang-orang Tionghoa menginjakkan kaki di Indonesia, terekam dalam sebuah catatan perjalanan seorang biksu Buddha bernama Faxian.  Kala singgah di Pulau Jawa selama perjalanannya menuju India dari tahun 400-414 M, ia menulis, “Di negeri ini banyak terdapat para heredic (penyembah berhala) dan brahman ( penganut Hindu), tetapi sedikit sekali penganut Buddha.”[1]

Meski biksu itu tak menyebut kehadiran orang-orang Tionghoa di tanah Jawa, namun penganut Buddha yang jumlahnya sedikit itu tak lain adalah orang-orang Tionghoa, mengingat di abad-abad itu hanya negeri Tiongkok yang menjadi pusat pengembangan agama Buddha di dunia.[2]

Sementara itu, menetapnya orang-orang Tionghoa di Indonesia, diperkirakan baru terjadi pada abad ke-8 dan setelahnya -ketika Tiongkok berkembang menjadi negeri pengekspor teh dan porselen terbesar di dunia-.  Konsumsi teh dan pemakaian porselen yang semakin meningkat di kawasan Asia Tenggara, mendorong pemerintah Tiongkok mengirim utusan-utusan untuk membuka kamar-kamar dagang di sepanjang kawasan tersebut. Utusan-utusan ini selanjutnya menetap dalam jangka waktu lama di kawasan yang mereka singgahi. [3]

Seperti diketahui, sekitar abad ke-15 Tiongkok telah mengekspor banyak porselen bertuliskan Bahasa Arab bernafaskan Islam. Porselen-porselen itu terutama dibawa ke Asia Tenggara dan Arab di mana terdapat banyak muslim. Ada porselen yang berbentuk mangkuk putih yang permukaan luarnya tergambar lima lingkaran. Di setiap lingkarannya tertulis bahasa Arab yang berbunyi,” Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.”  Pada dasar mangkuk itu terdapat kata-kata Mandarin sebagai berikut, “Masa Cheng Hua Dinasti Ming.” Selain itu, ada juga sebuah piring dari Dinasti Ming. Di piring tersebut tergambar dua ekor naga yang terbang ke arah sang surya dan lima ekor kuda berlari kencang di atas mega. Ada kata-kata Arab di tengah piring itu yang artinya, “Orang akan terhindar dari segala gangguan setan apabila beriman kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa.[4]

Maka tak heran, sejak awal abad ke-15,  seorang bahariwan muslim asal negeri Tiongkok bernama Laksamana Cheng Ho, menjumpai banyak pedagang Tionghoa yang telah menetap di  Samudera Pasai dan Palembang kala mengunjungi negeri-negeri Asia Tenggara.[5]  Sebagai anggota rombongan pelayaran Laksamana Cheng Ho, Ma Huan mencatat masyarakat muslim di kerajaan-kerajaan dan kawasan-kawasan yang dikunjunginya antara lain Malaka, Jawa, Lambri (Lamuri), Aru, Samudera Pasai, Calicut, Aden, Ormuz, dan lain sebagainya. “Baik sang raja, maupun rakyatnya menganut agama Islam,” tutur Ma Huan tentang Kerajaan Lambri dan Kerajaan Aru yang terletak di pulau Sumatera. Ketika menceritakan  agama di Malaka, Ma Huan menulis, “Baik raja, maupun rakyatnya menganut agama Islam. Mereka berpuasa dan mengaji.”[6]

Bila ada kapal luar negeri ke Jawa, lanjut Ma Huan, umumnya mereka berturut-turut berlabauh di Tuban, Gresik, Surabaya, dan Majapahit (Mojekerto). Di Kerajaan Majapahit terdapat pedagang muslim yang datang dari Arab. Di samping itu ada perantau Tionghoa yang berasal dari Zhengzhou, Quanzhou, dan Provinsi Guangdong. Kebanyakan mereka adalah muslim. [7]

Prof. Hembing Wijayakusuma mengungkap tujuan sebenarnya Laksamana Cheng Ho berlayar untuk bersilaturrahim dan menyiarkan atau memperkenalkan agama Islam kepada penduduk setempat bahwa Islam merupakan agama yang rasional dan universal.  Namun, ia tidak pernah memaksakan kehendaknya. Ia sangat menghargai agama lain yang dianut penduduk setempat.[8]

KebijakanRasis di MasaKolonialisme Belanda

Pada akhir abad ke-19 Para sarjana umumnya mengakui bahwa masyarakat kolonial merupakan masyarakat yang didasarkan pada ras atau keturunan. Demikian pula halnya di Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda yang mengutamkan ras atau keturunan kulit putih membagi penduduk Indonesia dalam empat golongan, yaitu orang Eropa, orang yang kedudukan hukumnya sama dengan orang Eropa, pribumi, dan orang yang kedudukan hukumnya sama dengan orang pribumi. Hak keempat golongan itu dibeda-bedakan, dan itu ditetapkan dalam undang-undang.[9]

Di tengah masyarakat yang berdasarkan ras itu, dengan sendirinya rasa solidaritas golongan menjadi lebih kuat. Prof. Guow Giok Siong mengungkapkan, “Tidak dapat disangka bahwa perundang-undangan adalah penyebab serta pendorong utama untuk timbulnya bermacam-macam perbedaan dan pergaulan masyarakat sehari-hari. Kenyataan sosial dalam masyarakat Hindia Belanda membuktikannya.” [10]

Pada tahun 1848, pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah pengadilan yang diberi nama Politerol . Pengadilan ini sangat dibenci oleh orang Tionghoa karena dianggap tidak adil. Ketidakpuasan itu diperkuat lagi oleh politik pendidikan pemerintah yang tidak memberikan kesempatan bagi anak Tionghoa untuk memperoleh pendidikan.[11]

Lebih lanjut, menancapnya kolonialisme di tanah Jawa juga membawa perubahan di masyarakat. Sejak Kesultanan Mataram menggeser budaya Jawa pesisiran (Maritim) ke budaya Jawa pedalaman (Agraris), keberadaan orang-orang Tionghoa di kawasan pesisir yang mengandalkan aktivitas perdagangan maritim, secara perlahan-lahan menunjukkan perubahan sikap. Mereka menjadi loyal kepada pihak VOC Belanda.  Mereka selanjutnya menjadi anak  emas VOC Belanda karena dianggap memiliki peran strategis untuk menopang stabilitas ekonomi Belanda hingga hubungan itu memburuk menjelang dan sesudah tragedi chinezenmoord (pembantaian orang-orang Tionghoa ) di Batavia tahun 1740.

Kala itu besar kemungkinan VOC merasa kekuasaannya terancam dengan semakin kuatnya posisi orang Tionghoa di sektor ekonomi. Pemerintah VOC merasa senjata yang dulu diasahnnya justru mengancam keselamatannya sendiri. Situasi tersebut dirasa dilematis. Kepercayaan besar yang diberikan kepada orang-orang Tionghoa untuk mengelola sektor-sektor penting perdagangan justru berdampak pada semakin kuatnya posisi orang-orang Tionghoa sehingga berkembang menjadi ancaman serius bagi stabilitas kekuasaan VOC. Selain itu VOC juga ketakutan dengan kemungkinan orang-orang Tionghoa akan memobilisasi dukungan penduduk Indonesia untuk memperkuat posisinya. Maka dihembuskanlah kabar bahwa orang-orang Tionghoa sedang merencanakan pemberontakan yang dipimpin oleh Nie Ho Kong (seorang kapten China yang menjabat sejak 1736) kepada  VOC sehingga kebijakan untuk menumpas mereka secara politis memiliki alasan. Serdadu-serdadu VOC dan kalapnya orang Indonesia membantai setiap orang Tionghoa yang mereka jumpai, membakar rumah-rumah, gudang-gudang logistik, dan menjarah aset-aset orang Tionghoa di Batavia. Seluruh kekayaan Nie Ho Kong pun disita paksa oleh VOC.Nie Ho Kong dan keluarganya kemudian diasingkan  Belanda ke Maluku dan akhirnya meninggal di sana.[12]

Pasca 1740, terjadi beberapa pemberontakkan yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa melawan VOC. Karena di Batavia posisinya semakin  terdesak, orang-orang Tionghoa kemudian bergerak ke arah timur menuju pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Puncaknya adalah pada Juni 1741, terjadi pertumpahan darah besar-besaran di Semarang yang kemudian disusul Gresik. Petinggi Kesultanan Mataram, Patih Natakusuma mendukung perlawanan orang-orang Tionghoa ini. Bahkan sang patih-lah yang kemudian mengambil peran penting dalam memimpin perlawanan dan berhasil menggalang dukungan dari penduduk setempat.  Perlawanan orang-orang Tionghoa semakin menggelora, terlebih Patih Natakusuma  berjanji kepada orang-orang Tionghoa akan memberikan wewenang kepada mereka untuk menguasai sektor perdagangan di Pantai Utara Jawa bila berhasil mememukul mundur VOC dari Semarang.[13]

Perlawanan aliansi Tionghoa-Jawa ini berdampak pada semakin ketatnya aturan-aturan pemerintah Belanda untuk menyekat ruang gerak orang-orang Tionghoa dan pribumi. Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan wijkenstelsel yang memaksa orang-orang Tionghoa tinggal di kawasan khusus bernama Pecinan mirip getho-getho untuk masyarakat Yahudi di Eropa Barat. Hubungan antar etnis dipisahkan secara tegas. Belanda tidak menghendaki terjadinya pembauran antara orang-orang Tionghoa dengan etnis lainnya karena dikhawatirkan akan membangkitkan aliansi kekuatan untuk melawan Belanda.

Belanda juga mengeluarkan kebijakan passenstelsel yang mewajibkan orang-orang Tionghoa harus membayar pajak jalan ketika mereka akan keluar dari kawasan pemukiman mereka. Kebijakan ini menyulitkan aktivitas perdagangan orang-orang Tionghoa. Tidak sedikit diantara mereka yang mengalami kebangkrutan usaha lantaran tidak sanggup membayar pajak tersebut. [14] Di lain sisi, kebijakan Gerbang Tol di Jawa yang dijaga orang-orang Tionghoa, kerap menyengsarakan wong cilik pribumi. Aksi kekerasan pun tak terhindari.[15] Kebijakan kolonial yang menyekat dan membenturkan antar etnis ini berhasil merusak hubungan etnis Tionghoa dan pribumi.

Sosok Abdul Karim Oey Tjeng Hien

Hadirnya kebijakan rasis penjajah yang memecah belah masyarakat dan beberapa peristiwa berdarah yang melibatkan etnist ionghoa,  tak menyurutkan gelombang migrasi ke nusantara. Pada akhir abad ke-19, dua keluarga dari suku Hokkian (Tionghoa) pindah ke Indonesia dan menetap di daerah Belakang Tangsi Padang, Sumatera Barat.  Dari keluarga yang satu, lahir seorang bayi laki-laki bernama Oey Tiang Seng. Sementara dari keluarga lainnya lahir seorang bayi perempuan bernama Gho Soean Nio. Setelah keduanya dewasa, mereka menikah dan lahirlah Oey Tjeng Hien pada 6 Juni 1905 di Padang. [16]

Oey Tjeng Hien memulai pendidikannya di Hollands Chinese School (HCS). Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang cerdas terutama dalam mata pelajaran ilmu bumi dan sejarah. Setelah menamatkan HCS, ia mengikuti kursus-kursus, diantaranya kursus dagang. Ia mulai berdagang  bersama kakaknya lalu sampai mampu mendirikan dan memajukan usahanya sendiri.

Semasa muda, ia sangat aktif dalam kegiatan kepemudaan. Bersama teman Tionghoanya, ia mendirikan organisasi Hiapsianghwe. Ia sebagai komisarisnya. Kegiatan Hiapsianghwe diantaranya sepakbola, les dansa, musik, piknik, dan lain sebagainya.

Selain itu, ia dan teman Indonesianya mendirikan organisasi Tanah Air Sendiri (TAS). Ia sebagai presidennya. Kegiatan TAS diantaranya sepak bola, sandiwara, dan orkes gambus. Seluruh biaya dan pembelian alat-alat menjadi tanggungannya. Di sini, hanya ia yang berasal dari Tionghoa, selebihnya pemuda Indonesia. Saat itulah ia pertama kali berbaur dengan pemuda-pemuda Indonesia.[17]

Sebagai pemuda yang mulai berpikir akan masa depan, ia memutuskan untuk merantau ke kota Bintuhan Bengkulu. Ia mengetahui bahwa di Bintuhan banyak terdapat rempah-rempah dan hasil bumi seperti cengkeh, lada, kopi, dan damar. Selain itu, jiwa dagangnya memperhitungkan kota Bintuhan yang terletak di pinggir laut akan disinggahi kapal-kapal laut. Ia sadar betapa kolonial Belanda memperoleh keuntungan besar dalam perdagangan hasil bumi yang ditunjang kapal laut.

Di usianya yang ke 20, ia meninggalkan Padang. Setibanya di Bintuhan, ia melihat orang-orang Tionghoa pada umumnya berdagang dan bertani. Kehadirannya di Bintuhan, tidak terlalu asing karena sudah banyak teman-teman seprofesi dan seketurunan. Sebagai pemuda yang pandai bergaul, baik sesama Tionghoa maupun Indonesia, dalam waktu singkat ia mendapat banyak teman dan sahabat. Tanpa canggung, ia juga bersahabat dengan Asisten Demang, Demang, dan Kontrolir. Jiwa pergerakan membuatnya  punya banyak teman di kalangan tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Karena sudah agak mahir dalam berdagang dan pandai emas,  usahanya di Bintuhan maju pesat. Hasil bumi penduduk dijual kepadanya yang kemudian ia jual ke kota lain termasuk Pulau Jawa atau Jakarta. Dari situ, ia semakin dikenal oleh kalangan luas.

Meskipun masih bujangan, ia adalah orang yang percaya diri. Ia menerima amanah untuk memimpin Perguruan Tionghoa Hwe Kwan, sebuah sekolah khusus untuk anak-anak Tionghoa. Hobi lamanya dalam sepak bola kambuh dan segera ia dirikan klub sepakbola di Bintuhan. Demikian juga orkes musik. Kegiatan itu menyebabkannya mempunyai lebih banyak teman, termasuk taman-teman angkatan muda. Pergaulannya tidak mengenal batas. Ada di semua tingkat, mulai dari kontrolir dan demang sampai ke petani dan pemuda. Ia berhasil membuang jauh-jauh cara pergaulanyang kaku dan eksklusif. Sifatnya tegas dan tanpa tedeng aling membela kepentingan golongan lemah penduduk setempat yang terjeret oleh lintah darat kaki tangan Belanda dan kapitalis Tionghoa.

Pengaruh lintah darat di kampung-kampung jelas membawa akibat yang merugikan bagi para petani. Mereka terpaksa membayar bunga berlipat ganda atau menjual hasil kebunnya dengan cara ijonsistem jual hasil kebun lebih awal sebelum masa panen-. Ia berusaha meyakinkan para petani agar tidak lagi menjual hasil kebunnya dengan cara itu. Semampunya ia turun tangan membantu bila benar-benar ada petani yang memerlukan bantuan atau pinjaman uang tanpa bunga.[18]

Keberaniannya membela rakyat kecil dianggap berbahaya oleh kontrolir dan demang. Ia bahkan dituduh penghasut. Namun di kalangan masyarakat, derajat dan namanya meningkat. Kontrolir dan Demang berusaha lebih mendekatinya karena mereka menganggapnya sebagai pengusaha keturunan Tionghoa yang sangat berpengaruh di masyarakat. Pengaruh itu harus dijadikan alat menunjang kekuasaan kolonial, terutama terhadap masyarakat Tionghoa yang umumnya terdiri dari saudagar dan pengusaha-pengusaha berbakat. Namun ia tetap teguh pada pendirian bahwa dirinya tidak mau menjadi alat Belanda.

Menggapai Cahaya Islam

Usahanya berkembang pesat.Ia telah menjadi pengusaha yang sukses dan kaya raya,  tapi hatinya terasa kosong dan hampa. Pegangan batin yang ia bawa dari Padang adalah kepercayaannya kepada Yesus Kristus. Ia penganut Advent. Selama dua tahun di Bintuhan, ia masih menganut Advent. Meski banyak bergaul dengan teman-teman yang beragama Islam, ia belum sempat memahami apa yang disebut Islam.  Lewat masa dua tahun, ia mulai merasakan perlawanan di dalam jiwa. Secara diam-diam, ia mulai mengalihkan perhatian pada Islam. “Benarkah Islam itu jelek? Benarkah Islam itu hanya untuk orang Arab dan Indonesia?”tanyanya ingin tahu sebenarnya apa yang jelek dalam Islam.

10807087_10206361471025472_169289925_n

Abdul Karim Oey

Ia mulai membanding-bandingkan ajaran advent dengan Islam. Dengan tekun dan sungguh-sungguh ia pelajari satu demi satu. Apakah benar ada kelemahan dalam Islam dan dimana letak kelemahan itu Benarkah Islam merendahkan derajat dan martabat manusia? Benarkah Islam itu hanya untuk orang Arab atau Melayu? Untuk mendapat jawabannya ia berusaha mempelajari buku-buku agama. Setiap pergi ke Jakarta untuk urusan dagang, ia selalu mencari buku-buku tentang Islam.

Setiap ada kesempatan, buku-buku itu ia baca dan pelajari dengan sungguh-sungguh. Demikian juga kepada teman-teman yang beragama Islam, ia sering bertanya mengenai ajaran Islam, tentang Nabi Muhammad saw, shalat, puasa, dan lain sebagainya.Apa yang sebelumnya sangat ia benci berdasarkan anggapan masyarakat Tionghoa yang memberi tuduhan jelek terhadap Islam dan orang Islam, dipelajarinya dengan saksama. Ejekan yang pernah ditanamkan padanya sejak dari Padang tentang shalat, sedekah, zakat, puasa, dan lain sebagainya, diselidikinya dengan teliti. Akhirnya berkat petunjuk Ilahi, ia sampai pada suatu kesimpulan: menganut agama Islam. Tetapi batinnya masih dihantui perasaan takut dan cemas menghadapi pandangan ayah dan saudara-saudaranya kalau mereka tahu dirinya masuk Islam. Namun perasaan itu tidak berlangsung lama.

Sebuah ayat Al-Hujurat di dalam Al-Qur’an menunjukkinya tentang nilai manusia. Arti ayat tersebut adalah ,”Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari jenis pria dan wanita, dan Kami jadikan kamu berbagai bangsa dan suku, semuanya untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa.”

Ayat ini benar-benar menyentuh kalbunya. Sehingga pendiriannya semakin teguh akan kebenaran Islam dan kekuasaan Tuhan. Ia sadar bahwa Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia. Tidak ada diskrimiasi. Tidak benar bangsa Arab lebih mulia dari bangsa lain. Ia pun akhirnya mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Ustadz Abdul Kadir. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah,” ucapnya.

Beberapa hari setelah mengucapkan kalimat syahadat, ia semakin memperdalam ilmu agama Islam. Ketika itu di Bintuhan ada seorang guru agama yang cukup terkenal, tamatan Tawalib Padang Panjang, namanya Fikir Daud. Ia belajar dengannya dua kali dalam seminggu setelah shalat maghrib. Guru Fikir pandai sekali mengajar. Pertanyan-pertanyaannya selalu dijawabnya dengan jelas dan semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Beberapa tahun kemudian setelah ia menjadi Konsul Muhammadiyah Bengkulu, Fikir Daud ia angkat menjadi Kepala Sekolah Muallimin Muhammadiyah di Kebon Ros Bengkulu.

Ketika pergi ke Jawa untuk urusan dagang, ia juga manfaatkan untuk berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional dan Islam. Ia juga membeli buku-buku tentang Islam dan pergerakan untuk dipelajari. Ilmu agamanya makin luas dan mendalam. Di samping belajar dengan guru-guru lain, ia memang sangat berminat dan tekun sehingga tidak begitu sulit memahami ilmu yang diajarkan Fikir Daud. [19]

Selain berguru dengan fikir daud,ia juga berguru kepada ayahnya Buya Hamka, Syaikh Abdul Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan sebutan Haji Rasul. Haji Rasul lah yang menambah nama depannya dengan kata “Abdul Karim” sehingga nama lengkapnya menjadi Abdul Karim Oey Tjeng Hien.  [20]

Perjuangan untuk Kemerdekaan

Tiga bulan setelah proklamasi, tepatnya pada tanggal 7 November 1945 berdiri sebuah Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) di Yogyakarta. Tahun 1946, Masyumi didirikan pula di Bengkulu. Abdul Karim Oey Tjeng Hien diangkat menjadi Ketua Umum. Ia dibantu M.Yusuf, Wakil Ketua, dan Saleh Nasution, Sekretaris.

Pasca agresi militer Belanda ke-2,  ia menjadi buronan tentara Belanda. Mengetahui hal ini, ia bersama Residen Mr.Hazairin, Letkol Barlian, Affan. dan kawan-kawannya hijrah ke pedalaman Bengkulu dengan mobil. Mengingat saat itu Belanda belum memasuki daerah Bengkulu.

Di Taba Penanjung, 37 km dari Bengkulu, mereka berjumpa dengan sekelompok orang Tionghoa yang lebih dahulu meninggalkan kota Bengkulu dengan berjalan kaki. Pedagang besar Sin Tjie Hoo muncul dari kelompok tersebut dan menggamit Karim Oey yang masih berada di mobil. Kemudian ia turun dari mobil.Rupanya sekelompok orang Tionghoa ini meminta perlindungan pemerintah dan tentara. “Tidak usah takut. Tidak apa-apa. Saya akan bantu,”  kata Karim Oey menenangkan. Banyak diantara kelompok ini yang menangis meminta perlindungan.

Perjalanannya penuh dengan bahaya.Di daerah Curup, Bengkulu, saat sudah masuk waktu shalat Jumat di Masjid Muhammadiyah, tiba-tiba terdengar suara pesawat terbang Belanda yang sedang menembak kesana kemari. Bangunan tentara, polisi, dan kantor pemerintah,  dan mobil-mobil menjadi sasarannya hingga ada yang terbakar.  Jamaah Jum’at pun sempat panik padahal khutbah belum dimulai. Namun keadaan ditenangkan oleh Siradj, kawannya selama di Bintuhan. Seusai shalat, suasana tenteram kembali dan pesawat Belanda hilang. Di Muara Aman, taks elamanya aman. Perjalanannya diiringi satu-dua tembakan pesawat dari udara.  Melewati desa Taberenah, muncul kembali pesawat Belanda. Jembatan, rumah-rumah penduduk, dan mobil mereka menjadi sasaran tembak. Atas izin Allah, tak ada satu peluru pun mengenai mobil mereka.

Beberapa Minggu kemudian, mereka mendengar tentara Belanda sudah masuk Curup. Terjadi kontak senjata dengan tentara mereka di Tabaraneh. Akhirnya Belanda sampai di Muara Aman. Namun mereka sudah lebih dulu bersembunyi ke tempat yang aman. Tentara-tentara dari daerah lain juga sudah berkumpul di Muara Aman. Namun ujian kembali menghadang. Penduduk di Muara Aman melakukan aksi boikot makanan. Mereka tak mau jual makanan karena satu dan lain hal. Tokoh-tokoh pemerintahan seperti AK Gani, Dr. Isa, Hazairin, serta pemimpin militer Simbolon dan Barlian panik. Musyawarahlah mereka termasuk Karim Oey, mencari cara menghadapi sikap penduduk yang melakukan aksi biokot. Dalam musyawarah itu, Barlian dan Dr. Isa mengemukakan pendapatnya bahwa daerah ini adalah daerah Muhammadiyah. Di sekitar Raja Lebong ini, lanjutnya, orang yang disegani penduduk adalah saudara Oey Tjeng Hien. Akhirnya semua pejabat menyetujui penyerahan tugas untuk menghadapi sikap penduduk tadi.

Bubar pertemuan, ia  sebagai Konsul Muhammadiyah Daerah Bengkulu lalu memanggil pemimpin-pemimpin Muhammadiyah di sekitar Muara Aman. Setelah semuanya hadir, Karim Oey berpidato,

“Kita dalam perjuangan melawan tentara Belanda. Ini bukan urusan mudah dan soal kecil. Kita akan melalui bermacam cobaan dan kesulitan untuk mempertahankan kemerdekaan. Mencapai  kemerdekaan bukan mudah. Berbagai cobaan dan  rintangan akan kita tempuh. Seperti kata Rasulullah, ‘Untuk mencapai kemenangan harus menderita. Sesungguhnya sesudah kesusahan akan muncul kesenangan.’ Itu berarti untuk mencapai kesenangan atau kemenangan harus lebih dahulu menderita.

Sekarang kita sudah menempuh dan merasakan kesulitan itu. Saudara-saudara adalah tulang punggung tentara dan pejuang kita yang menolong serta menyokong segala apa pun untuk mencapai kemenangan dan kemerdekaan. Tahu-tahu laksana petir di siang bolong, saudara-saudara seolah-olah sudah menjadi alat dan kaki tangan NICA. Saudara sendiri melarikan bahan makanan yang sangat diperlukan oleh pejuang, tentara, dan pejabat-pejabat pemerintahan kita. Kita hampir kelaparan akibat perbuatan khianat saudara-saudara itu.

Sekalian godaan dan kejadian mengecilkan hati kita. Jadi saudara ini seolah-olah seperti NICA. Dan menjadi alat NICA. Kata-kata saudara memang benar. Tetapi saudara harus tahu. Tentara kita itu belum terdidik dan memang tidak sempat didik dan dilatih. Akhlak mereka juga belum sempat kita didik agar berbudi dan melindungi rakyat.Karena mereka harus bertempur melawan Belanda. Oleh sebab itu, saya harap saudara-saudara memaafkan kesalahan mereka. Karena memang kita belum sempat membangun akhlak mereka. Mereka datang dari berbagai aliran dan corak, dari segala pelosok daerah. Dari semua penjuru, mereka kita terima, tanpa tahu empat asalnya. Penduduk desa itu banyak Muhammadiyah, demikian pula tentara yang menunggu kedatangan kami. Beberapa di antaranya anak Muhammadiyah dan anggota Pemuda Muhammadiyah.”

Ia lalu menjanjikan pada mereka untuk memperbaiki dan tidak mengulangi semua kejadian  yang tidak mereka senangi.

 “Ini bapak kita, Konsul Muhammadiyah Pak Oey Tjeng Hien. Pak Konsul, Kami telah mengerti dan insaf. Dan kami nyatakan sikap kami itu adalah keliru, seolah menjadi kaki tangan NICA yang kami tidak sadari. Kami mengakui kekeliruan sikap kami itu. Barang-barang yang kami sembunyikan akan kami bawa kembali di desa,” tanggapan mereka.

Tentara Belanda terus mendesak. Desa Tabarenah tak dapat dipertahankan sehingga mereka leluasa memasukki daerah Muara Aman. Sebentar-sebentar mereka muncul di sekitar kota kecil itu. Akhirnya ia dan kawan-kawan terpaksa mencari tempat yang lebih aman, lebih jauh ke pedalaman. Patroli Belanda semakin ketat.  Rombongan semakin berpencar mencari selamat. Ia dan kawannya, Amri menghindar ke persawahan, tepatnya di kaki gunung. Di sana ada dangau petani. Di dekatnya mengalir sungai kecil. Tak ada orang lain di hulu sungai itu. Ia tinggal di sebuah pondok yang dibangun penduduk setempat. Tiga orang pengurus Aisyiyah bergabung bersama mereka.

Patroli Belanda tambah “gila”. Mereka mencari dan mengejar pejabat-pejabat republik termasuk Karim Oey yang saat itu sebagai Konsul Muhammadiyah, anggota DPD, dan kawan akrab Bung Karno.  Afifah dan kawan-kawan terpaksa bergabung dengannya karena tak dapat pulang ke Embong. Pengurus Muhammadiyah setempat memang sengaja mengutus mereka kepada Konsul Muhammadiyah Bengkulu yang tak lain Karim Oey sendiri. Malamnya, atas kabar seorang anggota Muhammadiyah, mereka kembali melarikan diri. Persembunyian mereka telah di endus oleh mata-mata.Kesokan harinya,  kira-kira jam 9 pagi muncul pesawat Belanda. Pondok yang mereka sempat singgahi ditembak sampai hancur.

Perjalanan terus mereka lakukan demi menghindari serangan demi serangan yang memburu.Ia dan Amri kemudian menemukan sebuah pondok dan sepasang petani di dalamnya. Ternyata petani itu anggota Muhammadiyah. Belum sempat ia dan Amri berbicara panjang, tiba-tiba muncul pesawat Belanda. Petani tadi lalu mengajak mereka menyelamatkan diri ke “lubang kerbau”, sebuah tempat sempit di celah bukit. Lubang kerbau itu berupa genangan air yang dalamnya setinggi dada, bukan kubangan kerbau. “Di sini cukup aman,” kata petani.

Pada saat mereka lari ke sana, Amri agak tertinggal di belakang dan berteriak, “Saya kena tembakan!” Saat itu pesawat terus menerus menembak daerah di sekitar mereka. Alhamdulillah, karena tempat persembunyian itu cukup strategis, tak ada peluru yang menegenai tubuh mereka. Peluru hanya berdesing-desing di atas kepala.

Ketika mereka berada di dalam air, tampak benda kekuning-uningan mengambang di air. Ia bertanya, “Apa ini?” Istri petani tadi menyahut, “ (maaf) Tai aku.” Pecahlah tawa mereka berempat. Rupanya  istri petani tadi karena terlalu takut, ia tidak bisa menahan buang air besarnya dalam rendaman air itu.

Perjalanan Abdul Karim Oey dan rombongannya terus dilanjutkan, berpindah-pindah mencari tempat yang aman. Ketika Karim Oey bersembunyi di sebuah gardu penyebrangan, patroli Belanda datang. Karim Oey tenang saja di dalam. Sambil melewati gardu, tentara Belanda bertanya,” Siapa di dalam? Tukang rakit?” Karim Oey menjawab, “Ya.”“Siapa?” tanyanya lagi. “Saya,” jawab Karim Oey agak keras.   Mereka jalan terus tanpa melihat ke dalam gardu. Mereka mengira Karim Oey benar-benar penjaga rakit. Pulang patroli,  tentara Belanda melewati dekat gardu. Mereka tidak lagi bertanya, hanya lewat begitu saja. Berhari-hari Karim Oey menjadi “tukang rakit” sampai akhirnya patroli Belanda tidak pernah muncul lagi. Ternyata sudah terjadi gencatan senjata. Karim Oey keluar dari tempat persembunyiannya di Desa Petangur.

Bersama Buya Hamka dan Sukarno

Bersama Buya Hamka dan Sukarno

Pasca gencatan senjata, seorang utusan Partai Masyumi Bengkulu bernama Teuku Akbar mencarinya di Muara Aman. “Apa maksud saudara kemari?” tanya Karim Oey. Teuku menjawab, “Saya disuruh oleh Masyumi Bengkulu menjemput Pak Konsul.” Rupanya mereka mengharapkan kehadirannya untuk memberikan pandangan dalam rapat di Bengkulu.

Rapat itu akan memutuskan pembentukan Negara Federal Bengkulu.  Dalam rapat itu Belanda dan Partai Masyumi Bengkulu sudah bulat mau bekerjasama membentuk Negara Partai Masyumi Bengkulu. Namun saat palu akan diketok, Saleh, Anggota Partai Masyumi Bengkulu meminta agar Ketua Masyumi Bengkulu memberikan pandangannya.

Setelah tiba di Bengkulu dan memasuki ruang rapat di kantor Residen, ia  katakan di hadapan hadirin,”Saya tidak bisa memberi pandangan , karena saudara –saudara sudah sebulat sekata mau bekerjasama dengan Belanda mau membentuk negara Federal. Jadi  percuma saja kami kalah suara. Hanya saya mau bertanya pada saudara-saudara, ‘Apakah Pemerintah Negara Republik Indonesia masih ada? Masih berdiri?” Mendengar itu, hadirin menjawab, “Pemerintah kita masih berdiri.”

Kalau pemerintah kita masih berdiri, lanjut Karim Oey,  pembentukan Negara Federal Bengkulu tanpa memberi tahu pemerintah, maka itu berarti mancung pipi daripada hidung dan sikap saudara-saudara ini termasuk pengkhianat bangsa.Mendengar itu, hadirin serentak menyatakan tidak mau menjadi pengkhianat dan akhirnya rencana untuk mendirikan Negara Federal Bengkulu batal.

Pejabat militer Belanda yang sedari tadi mengikuti sidang , marah. Ketika hadirin hendak pulang, seorang petugas membagi-bagikan amplop bertuliskan nama-nama peserta sidang. Setiap peserta yang menerima amplop menuliskan paraf. Sampai pada giliran Karim Oey, ia bertanya, “Apa ini?” Petugas itu menjawab sambil menunjuk dengan tangan, “Ini uang sidang, 25 Gulden.” Lalu ia menolak, “Sama saya tak usah!” Di dalam hatinya, ia berpendapat haram makan uang tersebut. Komandan Militer Belanda akhirnya menempatkannya di penjara.

Di dalam penjara, Letnan Van den Berg mendatangi Karim Oey tengah malam. Mereka berdialog berhadapan, namun Karim Oey tidak dapat melihat wajah Van den Berg sebab tertutup surat kabar yang seolah sedang dibaca Van den Berg. Lewat lubang kecil pada koran, Van den Berg melihat wajah Karim Oey.  Van den Berg mengatakan, “Orang-orang Tionghoa biasanya pedagang. Tetapi tuan menjadi orang politik. Sekarang sudah masuk penjara. Apa keuntungannya? Kalau tuan mau mau bekerjasama dengan Belanda, bisa saya usulkan tuan menjadi agen perusahaan-perusahaan Belanda seperti Borsumij, Internatio, Tels, atau agen Geo Wehry. Itukan suatu keuntungan besar?”

Ia menjawab dengan tegas, “ Saya banyak mengucap terima kasih atas anjuran tuan yang baik itu. Tetapi saya tidak bisa terima. Saya berjuang membela agama, bangsa, dan negara dari muda sampai sekarang. Saya sudah menempuh berbagai kesulitan dan beberapa kali masuk penjara. Sampai-samapai mau dibuang ke Digul.”

“Kalau begitu tuan bisa dihukum lebih berat dan dibuang lebih jauh,” ancam Van Den Berg.

“Terserah. Tuan punya kekuasaan!” balas Karim Oey tanpa gentar sedikit pun.

Akhirnya Van Den Berg marah dan menghentakkan kaki lalu pergi. Van Den Berg datang kembali untuk membujuknya, namun pendirian Karim Oey tidak berubah. Ia malah menantang,Pendirian saya tidak bisa dibeli dengan apapun. Saya tetap menunggu apa yang akan terjadi.”

Esoknya ia dibebaskan dan berganti statusnya menjadi tahanan rumah. Tidak boleh keluar rumah dan menerima tamu. Siang malam petugas penjara menjaga di depan rumahnya. Demikian hukuman itu berlangsung sampai delapan bulan. Beberapa hari menjelang pengakuan kedaulatan, Belanda angkat kaki meninggalkan Bengkulu dan ia dibebaskan.[21] Ancaman Van Den Berg ternyata hanya omong kosong.

Perjuangan Abdul Karim Oey tak hanya berhenti di masa revolusi. Ia melanjutkan perjuangannya di jalan dakwah. Perhatiannya terhadap dakwah Islam bagi kaum Tionghoa mendorong Abdul Karim Oey Tjeng Hien dan kawan-kawan mendirikan Persatuan Islam Tionghoa(PIT) pada 15 Desember 1972. Nama PIT Kemudiandiubah menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Karena nama PITI dianggap eksklusif, maka kepanjangan PITI berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Indonesia.

Perjuangan Abdul Karim Oey berhenti di Usia 83 tahun. Ia wafat pada 16 Oktober 1988.Perjuangan panjanganya membela agama dan tanah airnya memberikan cermin teladan bagi kehadiran etnis tionghoa di Indonesia.Keimanan Abdul Karim Oey Tjeng Hien mendasari perjuangannya membela Indonesia. Takdirnya sebagai etnis tionghoa tak menghalangi dirinya untuk berjihad di negeri ini. Sebab Islam tak memandang etnis seseorang. Islam mengikis habis diskriminasi etnis. Islam memerintahkan umatnya untuk menolong saudaranya di manapun berada. Sikap rasialis hanya mewarisi kebijakan rasis penjajah Belanda mengkotak-kotakan masyarakat di Nusantara, maka ajaran Islam justru menembus sekat-sekat etnis. Dalam Alqur’an Allah berfirman,“Sesungguhnya sesama mukmin itu bersaudara.” Maka wajar, kisah Abdul Karim Oey menjadi contoh nyata pembauran yang efektif bagi orang-orang keturunan Tionghoa di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Oleh: Andi Ryanshah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)


[1] Afthonul Afif, Identitas Tionghoa Muslim Indonesia Pergulatan Mencari Jati Diri, Kepik:Depok, 2012, hlm.69

[2]Afthonul Afif, Ibid, hlm.70

[3]Afthonul Afif, Ibid, hlm.70

[4]Kong Yuanzhi, Cheng Ho Muslim Tionghoa Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Yayasan Obor Indonesia:Jakarta, 2013, hlm. 50-51

[5]Afthonul Afif, Identitas Tionghoa Muslim Indonesia Pergulatan Mencari Jati Diri, Kepik:Depok, 2012, hlm. 70

[6]Kong Yuanzhi, Cheng Ho Muslim Tionghoa Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Yayasan Obor Indonesia:Jakarta, 2013, hlm.55

[7]Kong Yuanzhi, Ibid, hlm. 56

[8]Hembing Wijayakusuma, Kata Pengantar Penyunting Buku Kong YuanzhiCheng Ho Muslim Tionghoa Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Ibid, hlm. xiii

[9]Leo Suryadinata, Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia, Kompas:Jakarta,2008, hlm.11

[10]Gouw Giok Siong, Warganegara dan Orang Asing, Jakarta, 1960, hlm.34 dikutip oleh Leo Suryadinata, Ibid, hlm.11

[11]Leo Suryadinata, Ibid, hlm. 12

[12]Afthonul Afif, Ibid, hlm.82-83

[13]Afthonul Afif, Ibid,hlm. 83-84

[14]Afthonul Afif, Ibid, hlm.84

[15]Peter Carey, The Power of Propehcy. Prince Dipanagara and the end of an old order in Java, 1785-1855. KITLV Press: Leiden, 2008.

[16]Autobiografi H.Abdul Karim Oey Tjeng Hien: Mengabdi Agama, Nusa, dan Bangsa. Gunung Agung:Jakarta, 1982, hlm.4-5

[17]Autobiografi H.Abdul Karim Oey Tjeng Hien, Ibid, hlm.7-9

[18]Autobiografi H.Abdul Karim Oey Tjeng Hien, Ibid, hlm. 10-12

[19]Autobiografi H.Abdul Karim Oey Tjeng Hien, Ibid, hlm.14-18

[20] Wawancara penulis dengan anak dari Abdul Karim Oey Tjeng Hien yang bernama Mohd. Ali Karim di Masjid Lautze Pasar Baru medio Mei 2014

[21]Autobiografi H.Abdul Karim Oey Tjeng Hien, Ibid, hlm.103-116

Sumber foto: Dokumentasi keluarga Abdul karim Oey dan KITLV Digital Media http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/53?q_searchfield=bengkulu)