Hindia Belanda awal abad ke 20 memasuki fase yang baru. Kata-kata seperti vergadering, kapitalisme, hingga nasionalisme menghiasi pikiran dan tulisan orang-orang pergerakan. Sarekat Islam yang memberi perasaan harga diri pada orang-orang pribumi, kemudian menyatukan mereka, bersinggungan dengan komunisme yang muncul sebagai daya dorong penolakan lebih keras terhdap penjajahan.Maka terasa wajar ketika ide-ide yang bersentuhan dan bersinggungan itu saling mempengaruhi satu sama lain. Semangat zaman yang diwakili kata-kata ’berbau‘ kiri seperti anti kapitalisme, penghisapan, dan, eksploitasi, menjadi kosa kata Sarekat Islam di masa itu.

Komunisme memikat banyak orang. Sarekat Islam -yang memang sebuah wadah terbuka bagi pergerakan pribumi-tak bermasalah ketika banyak menyerap ide-ide komunisme seperti perlawanan terhadap kapitalisme, eksploitasi, atau pembelaan terhadap buruh. Namun benturan mulai terjadi ketika kaum merah di Sarekat Islam seperti Semaoen atau Darsono menyerukan sikap yang berbeda terhadap Islam. Usulan Semaoen atau Darsono yang ingin mengganti Islam sebagai landasan utama Sarekat Islam menuai reaksi keras tokoh-tokoh Islam seperti Abdoel Moeis, Haji Fachrodin atau Haji Agus Salim.

Sikap kelompok kiri khususnya Semaoen yang netral agama di Sarekat Islam memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh Sneevliet. Sneevliet sendiri adalah sebagai seorang tokoh yang berpengaruh di gerakan komunis internasional. Setelah ISDV menjelma menjadi PKI, gerakan kiri amat erat kaitannya dengan Komunis Internasional.

Penting untuk mengetahui berbagai pandangan gerakan komunis di luar Hindia Belanda (khususnya pasca terbentuknya Komintern tahun 1919) terhadap perkembangan di Hindia Belanda, terutama hubungannya dengan gerakan Islam.

Lenin pada tahun 1913 memang telah memberikan perhatiannya pada Sarekat Islam. Artikel dalam Pravda edisi bulan Mei, tersebut Lenin menulis mengenai mengenai kebangkitan di Asia, termasuk di Hindia Belanda,”

“…the democratic movement is developing among the masses of Java, where a nationalist movement has arisen under the banner of Islam. Secondly, capitalism has created

a local intelligentsia consisting of acclimatised Europeans who demand independence for the Dutch East Indies[1]

Selepas pandangan Lenin pada tahun 1913, hingga pasca revolusi 1917 perhatian gerakan komunis internasional mengenai negeri-negeri timur khususnya yang penduduknya beragama Islam baru dapat kita lihat pertama kali pada tahun 1918, khususnya pada Kongres Komunis Muslim di Moskow. Stalin mengatakan muslim di Rusia menjadi jembatan bagi Timur dan Barat. Timur dalam pandangan Stalin tahun-tahun itu, adalah pintu belakang imperialis. Namun sulit untuk menganggap negeri-negeri Islam sebagai bagian penting dari rencana Komintern.[2] Bahkan Lenin pada kongres ke-2 Komintern tahun 1920 menganggap pengaruh pemuka agama (priesthood) harus dilawan. Begitu pula gerakan Pan-Islam.

Berrbicara mengenai Pan-Islam, Lenin menegaskan perlunya gerakan komunis untuk menentang Pan Islam,

…the need to combat Pan-Islamism and similar trends, which strive to combine the liberation movement against European and American imperialism with an attempt to strengthen the positions of the khans, landowners, mullahs, etc.[3]

Di Hindia Belanda, persoalan ini menjadi serius. Meski Lenin setuju pada keterlibatan komunis di Hindia Belanda dalam Sarekat Islam, namun penolakannya terhadap gerakan Pan-Islam, bagi gerakan Islam di Hindia Belanda, adalah penolakan terhadap persatuan Islam itu sendiri. Hal ini menjadi beban bagi kelompok kiri di Sarekat Islam. Di satu sisi mereka membutuhkan Sarekat Islam sebagai wadah perjuangan mereka, namun keputusan Lenin menyulitkan posisi mereka di Sarekat Islam.

Lenin memang sudah memberikan arahan bagi gerakan-gerakan komunis di tempat lain untuk bertindak sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing. Lenin tahun 1919 menyatakan kebebasan siasat tersebut,

“You will have to tackle that problem and solve it through your own independent experience. … You will have to base yourselves on the bourgeois nationalism which is awakening and must awaken. … At the same time you must find your way to the working and exploited masses of every country and tell them … that their only hope of emancipation lies in the victory of the international revolution.”

Di Hindia Belanda strategi gerakan kiri saat itu adalah bergabung dengan kekuatan borjuis nasional. Siasat ini pun selaras dengan kebijakan dari Komintern. Selain Lenin, Sneevliet juga orang penting dibalik munculnya kebiijakan ini khususnya dalam konteks Asia. Pada Kongres Komintern ke 2 (1920), Sneevliet hadir dengan nama Maring. Bagi Sneevliet, infiltrasi gerakan kiri ke dalam Sarekat Islam memberikan akses pada massa (kelompok) pekerja khsusunya buruh pekerja rel kereta. Tugas bagi kelompok komunis untuk mengubah Sarekat Islam menjadi orgasnisasi komunis,[4] dan menjadikan Moskow dan Petrograd sebagai Mekkah baru bagi Timur.[5] Senada dengan Sneevliet, aktivis ISDV, Asser Baars, menginginkan keterlibatan kelompok kiri di SI hanyalah sebuah ‘batu loncatan.’ Menurutnya ketika perkembangan SI mencapai titik akhir, SI akan kehilangan karakter relijius dan nasionalisnya dan hanya menganggap satu karakter kelas, saat itulah orang ISDV (organisasi kiri) yang ada di dalam SI hanya akan membiarkan perbedaan di tubuh SI (yang sudah lenyap ) menjadi persatuan aksi massa sosialis.

 

 

Gambar 4.1 Sneevliet bersama perwakilan-perwakilan di Komintern. Sumber foto: International Institute of Social History. www. iisg.nl

Gambar 4.1 Sneevliet bersama perwakilan-perwakilan di Komintern. Sumber foto: International Institute of Social History. www. iisg.nl

Pada Kongres Komintern ke-4, tahun 1922, Komintern mengubah pandangannya tentang Pan-Islam. Perubahan sikap ini selain pengaruh Sneevliet, mungkin salah satunya akibat dari sikap Tan Malaka, wakil PKI di kongres tersebut, yang membela perjuangan bersama gerakan komunis dan Pan-Islam di Hindia Belanda. Namun di Hindia Belanda hal Ini tak dapat menghentikan perpecahan antara kelompok kiri yang sering disebut ‘Sarekat Islam Merah’ (yang anggotanya juga tergabung dalam PKI) dan ‘Sarekat Islam Putih’. Bagaimanapun Kelompok Sarekat Islam Putih tak bisa menerima sikap PKI yang netral agama (sekuler). Sikap PKI yang menolak menentang penghinaan terhadap Nabi Muhammad di Djawi Hisworo,[6] serta keenganannya menjadikan Islam sebagai landasan dalam berjuang (di Sarekat Islam) menunjukkan sekularisme yang dianut PKI.

 

Di lain sisi PKI meski mengaku netral agama, namun tetap tidak menolak agama sebagai bagian dalam propaganda mereka. Kehadiran tokoh haji komunis seperti Haji Misbach tak dapat dipungkiri dapat menggalang dukungan massa. Tampaknya PKI dalam posisi yang kontradiktif, di satu sisi mereka mengaku netral agama (sekuler), namun mereka tetap melakukan propaganda agama dalam meraup massa, karena agama (Islam) tak dapat dilepaskan dari masyarakat pada masa itu.

Gambar 4.2 Persetujuan dari Tan Malaka, Semaoen, Budisoetjitro dan lainya agar Sneevliet mewakili PKI di Pertemuan Komintern 1922. Sumber foto: International Institute of Social History. www. iisg.nl

Gambar 4.2 Persetujuan dari Tan Malaka, Semaoen, Budisoetjitro dan lainya agar Sneevliet mewakili PKI di Pertemuan Komintern 1922. Sumber foto: International Institute of Social History. www. iisg.nl

 

Sikap PKI tersebut dapat kita telusuri dengan melihat arahan Lenin tentang agama dan gerakan komunis. Pertama, dalam soal agama. Amat penting untuk melihat pandangan Lenin tentang agama. Lenin pada tahun 1905 memberikan pandangannya tentang agama. Menurutnya,

Religion is one of the forms of spiritual oppression which everywhere weighs down heavily upon the masses of the people, overburdened by their perpetual work for others, by want and isolation. Impotence of the exploited classes in their struggle against the exploiters just as inevitably gives rise to the belief in a better life after death as impotence of the savage in his battle with nature gives rise to belief in gods, devils, miracles, and the like. Those who toil and live in want all their lives are taught by religion to be submissive and patient while here on earth, and to take comfort in the hope of a heavenly reward. But those who live by the labour of others are taught by religion to practise charity while on earth, thus offering them a very cheap way of justifying their entire existence as exploiters and selling them at a moderate price tickets to well-being in heaven. Religion is opium for the people. Religion is a sort of spiritual booze, in which the slaves of capital drown their human image, their demand for a life more or less worthy of man.”[7]

Marxisme menurut Lenin sudah pasti bertentangan dengan agama. Dalam tulisan lainnya mengenai agama, Lenin menyebutkan,

Marxism is materialism. As such, it is as relentlessly hostile to religion as was the materialism of the eighteenthcentury Encyclopaedists or the materialism of Feuerbach. This is beyond doubt. But the dialectical materialism of Marx and Engels goes further than the Encyclopaedists and Feuerbach, for it applies the materialist philosophy to the domain of history, to the domain of the social sciences. We must combat religion—that is the ABC of all materialism, and consequently of Marxism. But Marxism is not a materialism which has stopped at the ABC. Marxism goes further. It says: We must know how to combat religion, and in order to do so we must explain the source of faith and religion among the masses in a materialist way.”[8]

Terkait dengan hubungannya dengan negara, agama, menurut Lenin adalah urusan privat. Dalam pandangannya ia menegaskan,

“We demand that religion be held a private affair so far as the state is concerned. But by no means can we consider religion a private affair so far as our Party is concerned. Religion must be of no concern to the state, and religious societies must have no connection with governmental authority. Everyone must be absolutely free to profess any religion he pleases, or no religion whatever, i.e., to be an atheist, which every socialistis, as a rule.”[9]

Gambar 4.3 Lenin. Sumber foto: wikipedia

Gambar 4.3 Lenin. Sumber foto: wikipedia

 

Jika Negara membebaskan warganya untuk beragama ataupun tidak beragama, partai menurut Lenin, memiliki sikap yang tegas terhadap agama, yaitu,

So far as the party of the socialist proletariat is concerned, religion is not a private affair. Our Party is an association of class-conscious, advanced fighters for the emancipation of the working class. Such an association cannot and must not be indifferent to lack of class-consciousness, ignorance or obscurantism in the shape of religious beliefs. We demand complete disestablishment of the Church so as to be able to combat the religious fog with purely ideological and solely ideological weapons, by means of our press and by word of mouth. But we founded our association, the Russian Social-Democratic Labour Party, precisely for such a struggle against every religious bamboozling of the workers. And to us the ideological struggle is not a private affair, but the affair of the whole Party, of the whole proletariat.”[10]

 

Meski demikian, Lenin menolak perlunya partai menyatakan identitas sebagai partai ateis. Karena menurutnya perjuangan kelas lebih utama,

Unity in this really revolutionary struggle of the oppressed class for the creation of a paradise on earth is more important to us than unity of proletarian opinion on paradise in heaven.[11]

Meski pernyataan diri partai tentang ateis bukan yang utama, namun bukan berarti menyadarkan massa akan kekeliruan agama sama sekali tak dilakukan. Hal itu harus dilakukan, selain dengan kesabaran dan dengan cara ilmiah, juga dengan kembali kepada dasarnya, yaitu,

“It means that Social-Democracy’s atheist propaganda must be subordinated to its basic task—the development of the class struggle of the exploited masses against the exploiters.”[12]

Begitu pentingnya perjuangan kelas kaum proletar, Lenin bahkan membukakan pintu jika ada pemuka agama atau pendeta ingin bergabung bersama partai(nya), selama orang tersebut mau menjalankan fungsi-fungsi partai.

“If a priest comes to us to take part in our common political work and conscientiously performs Party duties, without opposing the programme of the Party, he may be allowed to join the ranks of the Social-Democrats; for the contradiction between the spirit and principles of our programme and the religious convictions of the priest would in such circumstances be something that concerned him alone, his own private contradiction; and a political organisation cannot put its members through an examination to see if there is no contradiction between their views and the Party programme.”[13]

 

Berdasarkan pernyataan Lenin tentang agama dan sikap mereka terhadapnya, kita dapat memahami cara pandang dan sikap elit PKI yang kontradiktif dalam soal agama. Namun di saaat yang sama kita harus membedakan cara pandang sekular elit PKi tentang agama, dengan cara pandang dan sikap massa PKI di akar rumput terhadap agama. Elit PKI terutama ketika masih di dalam SI, kerap menegaskan bahwa mereka bersikap netral terhadap agama, namun di akar rumput, sebagaimana yang dapat disimpulkan dari perlawanan terhadap pemerintah kolonial di Banten dan Minangkabau, agama menjadi landasannya.

Ketika massa akar rumput PKI menggunakan agama sebagai landasan perjuangannya tampaknya tak ada keberatan dari elit sekular PKI. Bahkan seperti di Banten, mereka dengan sadar memakai agama untuk menarik simpati masyarakat. Begitu pula di Minangkabau. Mereka tampaknya menyadari bahwa hanya agama (Islam) saja yang bisa dipakai untuk menjadi landasan perjuangan masyarakat. Hal ini dapat dibaca dari kesaksian Abdul Muluk Nasution, seorang tokoh Sarekat Rakyat di Silungkang. Di tahanan, ketika ia bertemu dengan beberapa tokoh PKI, ternyata mereka memiliki sikap yang menolak eksistensi Tuhan (ateis). Namun di Silungkang, agama dipakai sebagai alat propaganda para elit PKI tersebut. Tak salah jika Abdul Muluk dan tokoh lain seperti Sulaiman Labai merasa diperalat oleh PKI.[14]

Di antara elit sekular PKI dan massa akar rumput PKI tadi, ada satu bagian lagi dari PKI yang patut diperhatikan pandangannya tentang agama, yaitu para tokoh (propagandis) PKI seperti H. Misbach, Tubagus Achmad Chatib dan Datuk Batuah. Merekalah yang menjadi pemompa utama dukungan rakyat pada PKI. Penyatuan antara Islam dan komunisme menjadi ciri khas mereka. Komunisme yang dihantarkan oleh para tokoh tersebut berkisar pada perlawanan terhadap kapitalisme, eksploitasi dan penghisapan.

Penting untuk menelusuri komunisme yang dipahami oleh para Haji komunis tersebut. Sejauh mana akses mereka terhadap literatur komunisme pada saat itu? Termasuk akses mereka terhadap pernyataan-pernyataan Lenin. Apakah bahasa menjadi kendala dalam menjangkau literatur-literatur tersebut? PKI sendiri mulai mencetak literatur-literatur tentang komunisme pada tahun 1923 ketika Partondo menerjemahkan pertama kalinya Manifesto Komunis ke bahasa Melayu.[15] Selanjutnya PKI mulai menerbitkan buku-buku kecil tentang komunisme dalam bahasa Melayu untuk kepentingan kaderisasi. Di Minangkabau, literatur komunisme yang sempat tercatat diantaranya Manifesto Komunis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels yang diterjemahkan Axan Zain pada tahun 1923.[16] Dua jilid buku tentang komunisme karya Axan Zain pula yang menjadi bacaan kaum kiri di sana. Namun memang tak mudah menyebarkan literatur yang berhubungan dengan komunisme pada masa itu. Sensor dan pemeriksaan pemerintah kolonial begitu ketat, terlebih jika terkait dengan komunisme.

Faktor-faktor tadi dapat dijadikan pertimbangan untuk melihat pemahaman komunisme yang dibawakan oleh para tokoh Islam komunis tersebut. Apakah pemahaman komunisme mereka yang bersimpang dengan penjelasan Lenin disebabkan oleh sulitnya akses terhadap literatur, ataukah memang mereka memberi penafsiran yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini bahkan bukan saja dapat diajukan pada para tokoh Islam komunis. Soe Hok Gie misalnya menyebutkan Mas Marco sebagai orang yang menyejajarkan Islam dan sosialisme serta sangat terpengaruh dengan kebudayaan Jawa. Seperti saat Mas Marco menjelaskan perang melawan kapitalisme sebagai perang Bratayudha Joyobinangun untuk mempertahankan kemanusiaan dan kehidupan.[17]

 

Soe Hok Gie juga mempertanyakan pemahaman marximse SI Semarang yang disebutnya ‘sulit dipertanggungjawabkan sebagai marxisme.’ Menurut Gie, ” Di dalam Sinar Djawa/Sinar Hindia, tulsan tulisan teoritis hampir tak pernah kita jumpai. Dan kalau kita jumpai, agak aneh untuk mencernanya sebagai karangan Marxis. Seorang sosialis bagi mereka adalah orang yang berpandangan sama rata, yang setuju dengan membagi sama rata barang-barang dan hasil masyarakat. Komunisme adalah “hal menghapuskan barang-barang kepunyaan itu menjadi milik orang banyak, orang seisi negeri atau kerajaan dibagi sama rata, supaya jangan dikuasai seorang aja.” Lalu sosialisme ala Proudhoun disitirnya tanpa komentar. Jika seorang telah mempelajari Sosialisme sekadarnya, bahwa bagi Marx, Proudhoun itu adalah sosialis-borjuis.”[18]

 Kekurangan teori-teori Marxis -meminjam istilah Soe Hok Gie- ini mungkin menjadi salah satu penyebab beragamnya pemahaman komunisme kala itu. Perlawanan terhadap kolonialisme, eksploitasi, dan ketidakadilan menjadi benang merahnya. Bagi elit PKI, bergabungnya para tokoh Islam (komunis) ini bukanlah persoalan. Meski elit PKI tak selalu mengikuti arahan Komintern, namun elit PKI sejalan Lenin dalam memandang agama. Agama menjadi sekedar siasat politik PKI. PKI memainkan politik yang kontradiktif dalam hal agama. Di satu sisi mereka mengaku netral agama, tetapi di sisi lain mereka terus memakai propaganda agama, untuk menggalang massa, bahkan sebagai ‘alat’ untuk menggelorakan pemberontakan, seperti yang terjadi di Banten dan Sumatera Barat, dua wilayah pemberontakan yang didominasi massa berbasis Islam.

Kembali ke Kaum Merah di Ranah Minang (2)

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Tulisan ini kerjasama Jejak Islam untuk Bangsa dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

 

[1] Lenin, V. I. 1978. The Awakening of Asia dalam Collected Works, Vol. 19. Moskow: Progress Publisher Moskow.

[2] McLane , Charles B. 1966. Soviet Strategies in Southeast Asia. New Jersey: Princeton University Press.

[3] Lenin, V.I. 1974. Preliminary Draft Theses On The National and Colonial Questions; For The Second Congress of The Communist International dalam Collected Works Vol. 31. Moskow: Progress Publisher Moskow.

[4] Bing, Dov. 2009. Lenin and Sneevliet: The Origins of The Theory of The Colonial Revolutions in The Dutch East Indies. New Zealand Jornal of Asian Studies 11, 1 (June 2009)

[5] McLane , Charles B. 1966

[6] Gie, Soe Hok. 1999. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

[7] Lenin, V.I. 1978. Socialism and Religion dalam Collected Works Vol. 10. Moskow: Progress Publisher Moskow.

[8] Lenin, V.I. 1977. The Attitude of The Workers Party To Religion dalam Collected Works Vol 15. Moskow: Progress Publishers Moskow.

[9] Lenin, V.I. 1978.

[10] Ibid

[11] Lenin, V.I. 1977.

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Nasution, A. Muluk. 1981. Pemberontakan Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1926-1927. Jakarta: Mutiara

[15] Shiraishi, Takashi. 2005. Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

[16] Zed, Mestika. Pemberontakan Komunis Silungkang 1927. Yogyakarta: Syarikat Indonesia

[17] Gie, Soe Hok. 1999. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

[18] Ibid