Tidak ada yang merakit bom dalam kisahnya. Tidak ada pula kisah percintaan sesama santri pria. Atau pun perempuan yang tertindas dalam lingkungan pesantren.

Buku ini sederhana. Tidak perlu mengenyitkan dahi untuk membacanya. Malah cara bercerita dalam buku ini sangat ringan dan menyenangkan. Terkadang jenaka. Ironi. Dan acapkali Heroik. Buku ini sebuah otobiografi seorang ulama dan tokoh bangsa bernama KH Saifuddin Zuhri. Ia dikenal sebagai tokoh NU, yang hidup dan berjuang dari sebelum Indonesia merdeka.

Buku ini memang patut jadi rujukan untuk mengetahui kehidupan di Pesantren. Kehidupan pesantren yang sarat dengan nilai-nilai tradisi. Dapat pula menjadi rujukan untuk membaca jejak Nahdlatul Ulama. Mungkin bisa disandingkan, seumpamanya dengan buku Zamakhasyri Dhoffier (Tradisi Pesantren : Studi tentang Pandangan Hidup Kiyai), atau Greg Fealy (Ijtihad Ulama). Hanya saja kita akan merasa ringan, karena KH Saifuddin Zuhri menuturkan kehidupannya dengan bahasa sehari-hari. Seolah-olah dia sedang bercerita dengan kita. Serupa dengan otobiografi Buya Hamka (Kenang-kenangan Hidup). Hanya saja Buya Hamka menggunakan sudut pandang orang ketiga, ketika menceritakan tentang kehidupannya sendiri.

Relasi antara Kiyai dan Santri bisa kita temukan di sini. Bagaimana Kiyai menjadi panutan para santrinya. Dan Kiyai pun memandang santri seperti anaknya sendiri. Kehidupan KH Saifuddin Zuhri yang dominan dilingkungan pesantren membawa kita berkelana pada kehidupan pesantren di masa lalu. Bergotong royong membangun pesantren dari swadaya santri dan masyarakat sekitar. Batu-batu dan pasir diambil dari kali. Bahkan uang bayaran 2,50 rupiah menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi sebagian santri. Dari penuturan Beliau pula kita dapat mengetahui cara belajar di pesantren saat itu. Terdapat Kiyai yang memberikan pelajaran bela diri selepas perjanjen. Perjanjen adalah kegiatan beramai-ramai membaca Kitab Barzanji. Kegiatan mengkhatamkan Al Quran pun turut dirayakan dalam sebuah acara yang disebut Khataman. Para santri memakai baju-baju terbaiknya, kemudian membaca bagian akhir Al Quran yang dimulai dari surat Wadldluha. Pembacaan terasa istimewa karena dibacakan dihadapan para kiyai, orang tua dan undangan lain. Dicetuskan pula oleh buku ini, kitab-kitab yang rujukan di pesantren seperti Safinah, Riyadul-Badi’ah,dan Taqrib, yang mengisi lemari fiqih. Ada pula kitab Ajurmiyah, imrithi dan Alfiya Ibnu Malik mengisi lemari pelajaran nahwu-sorof.

Santri dan kehidupannya pada masa itu tidak hanya berputar pada ilmu agama. Adakalanya mereka menonton wayang kulit, ketoprak hingga opera keliling lokal. Ada pula perpeloncoan di kalangan santri. Calon santri yang baru datang ke pesantren dikerumuni, diejek. Ada pula yang berpura-pura hendak mengantarkan calon santri tersebut ke kantor pesantren. Padahal calon santri itu diantarkan ke WC. Keisengan memang terkadang turut mengisi hari-hari santri.

Ketika angin pergerakan kemerdekaan turut berhembus merasuki kalangan pesantren. Para lulusannya bergabung dengan organisasi semacam NU dan Ansor. Termasuk KH Saifuddin Zuhri yang mulai turut dalam pergerakan. Nama-nama seperti HOS Tjokroaminto dan KH Wahid Hasyim sampai ke telinga para santri. Beberapa kesaksian mengenai pribadi KH. Wahid Hasyim yang mengagumkan mengisi lembaran-lembaran buku ini. Dari penuturannya, dapat kita tengok betapa kiyai dan santri di pesantren turutlah mendorong roda-roda pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa takluknya Belanda dan masuknya Jepang ke tanah air menghiasi lembaran-lembaran kisah hidupnya. Dari lukisan kata-kata beliau dapat kita melihat betapa merananya rakyat saat itu. Dan pesantrenlah yang menjadi tulang punggung sekaligus benteng umat. KH Wahid Hasyim serta para ulama yang menggunakan jejaring pesantren untuk mempersatukan umat bersiasat mengelabui Jepang. Begitu pula tatkala Belanda membumi hanguskan Jawa dengan agresi militernya, para ulama yang membimbing rakyat agar tetap bertahan. Pesantren menjadi basis perlindungan dan penampungan umat.

Kesaksian KH Saifuddin Zuhri mengenai beberapa tokoh seperti KH Hasyim As’ari, KH Wahid Hasyim, Idham chalid, hingga Aidit secara pribadi, terlalu berharga untuk dilewatkan. Sayangnya buku ini tidak tuntas membahas hidup penulisnya. Lembaran buku ini berakhir ketika Indonesia tengah mengalami masa-masa revolusi dan menjelang pemilu 1955. Amat sayang, mengingat KH Saifuddin Zuhri juga turut mengalami masa-masa ketika umat Islam dihantam kediktatoran rezim Soekarno.

Terlepas dari kekurangannya buku ini adalah buku yang menggambarkan dunia pesantren, kiyai, santri dan serta umat Islam pada masa yang lalu. Dan sungguh, jika kita ingin membaca apa yang dilakukan oleh para kiyai dan umat Islam menyabung hidupnya dalam menegakkan kemerdekaan, buku ini menggambarkannya dengan gamblang.  Jika kemudian ada yang menggambarkan pesantren sebagai bibit terorisme, atau kisah santri homoseksual, penindas perempuan sungguh itu adalah sebuah gambaran yang tidak saja mencoreng kening para kiyai dan santri, tetapi juga menghapus genangan keringat dan darah yang telah mereka korbankan untuk bangsa ini. Yang kemudian tersisa adalah gambaran buruk mengenai pesantren pada generasi saat ini.

Judul : Guruku Orang-Orang dari Pesantren.

Penulis : KH Saifuddin Zuhri

Penerbit : Al Ma’arif –  Bandung

Halaman : 281 Halaman.

Oleh : Beggy