Pernahkah diri ini, mengenang sesuatu yang membuat diri ini begitu terenyuh? Mengenang yang membuat kita tersenyum ?Mengenang yang membuat diri ini menangis sejadi-jadinya.Atau kenangan yang membuat diri ini terlena? Atau malah, ketika kenangan itu membuncah dari lubuk ingatan kita, ia terasa berbeda, seakan energi besar yang membangkitkan?

Mengenang itu membangkitkan.Sebuah kenangan yang ingin kami coba rawat bersama di sini. Jawaban tiap kita tentu berbeda, namun Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) mencoba menyajikan kenangan-kenangan yang membangkitkan, merawatnya, yang semoga kelak akan menjadi sebuah sejarah.

Sebab, kata pepatah, apa yang tersisa dari perjalanan kehidupan ini hanyalah ingatan. Ia tak kan menjadi sejarah, bila tak ada yang merawatnya. Iabegitu rapuh, licin, buram dan tergerus arus, sehingga tak tersisa apapun, melainkan sebuah kata: Lupa!

Al Qur’an menyebut manusia sebagai al Insan, yang maknanya makhluk pelupa (nisyan), dan itulah fitrah manusia. Berkali-kali, manusia berusaha melawan lupa, menolak lupa dengan segala upaya, namun, ingatan (memori) itu hanya akan jadi kenangan yang tersimpan dalam lubuk hati yang terdalam, dan menguap sirna bersama jasad kita kelak.Betapa berharganya bagi kita apabila kenangan yang membangkitkan tersebut tersimpan dan kita wariskan ke anak cucu kita.

Nampaknya, bagi umat Islam, ingatan ialah sesuatu yang amat sangat berharga –bahkan tak ternilai.Bagaimana tidak?Al Quran sendiri merekam ingatan masa silam, kisah-kisah itu begitu jelas dikisahkan kepada kita: “dan kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia” begitu pesan al Qur’an berkali-kali.

Masa silam, ialah refleksi masa depan, begitu kata banyak orang. Study the past if you would define the future,” kata Confucius. Karenanya, ingatan masa silam yang terawat akan menjadi sejarah. Tradisi merawat ingatan ini pun terus dilanjutkan dari generasi ke generasi, dicontohkan manusia paling mulia, sang Nabi sendiri.

Berjuta manusia mengeja Kalamullah, ribuan anak kecil melafalkannya. Para generasi terbaik berlomba merawat ingatan, merekam secara detail dan apik apa yang sang Nabi ucapkan dan kerjakan. Maka, tak ada yang luput dari ingatan mereka.Semua kejadian Nabi terekam jelas, ucapan, tindakan, semua tercatat dalam sunnah-sunnahnya.

Hingga generasi kita, sang Nabi menjadi qudwah dan uswah, segala tindakannya terekam dalam ingatan yang terawat. Dengan adanya orang-orang merawat ingatan inilah, maka kenangan kita akan menjadi sejarah.

Bapak Sejarawan Dunia, Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menyebutkan sangat banyak para perawat ingatan ini – yang disebutnya kemudian dengan istilah: Sejarawan – mulai dari para sahabat, hingga At Thabari, Ibnu Ishaq, Ibnu Al Kali, Muhammad bin Umar al Waqidi, Saif bin Umar Al Asadi, dan lainnya.

Cara menolak lupa yang paling ampuh, cara menyimpan kenangan yang paling awet ialah dengan merawat ingatan. Dalam sejarah, ingatan akan terawat. Sebab, “Sejarah itu,” katapenulis kesohor Rudyard Kipling (1865-1936) dalam  The Collected Works, “Never be forgotten,  Tidak akan pernah terlupakan,”katanya.Maka, izinkan kami Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) untuk melanjutkan tradisi para pendahulu kami, merawat ingatan. Merawat ingatan, cara sederhana meninggalkan warisan bagi generasi kelak.

Jika tidak, lupa hanya akan membuat diri kian terlena.  Al Quran sudah mencontohkannya, bagaimana orang-orang yang lupa diri berakhir dengan nestapa. Dalam skala lebih luas, sebagai contoh bisa saja kini sang penguasa terlena oleh harta dan kenikmatan semata. Mungkin ia lupa, atau tak pernah ada dalam ingatannya, bagaimana para pendahulunya susah payah membangun negeri ini dengan darah dan air mata.

Sejarah mengajarkan bagaimana nasib orang-orang yang lupa, dan kita pun lupa.“Kita belajar dari sejarah bahwa kita tak pernah belajar dari sejarah,” kata kritikus  George Bernard Shaw (1856-1950). Ingatan yang terawat dalam sejarah, membuat kita lebih menghargai bahwa suatu diperoleh dengan perjuangan dan mungkin bagi sang penguasa yang paham sejarah, tak pernah terbesit bagi dirinya untuk berleha dan menista.

Perjuangan di masa silam, kisah heroik itu masih apik terawat dalam tulisan-tulisan para perawat ingatan (sejarawan) yang sampai kini bisa kita nikmati.Sebab, ingatan bisa jadi sebuah fakta, namun ia tak akan menjadi sejarah, tak akan menjadi fakta sejarah bila sang perawat ingatan alias sejarawan tak menuliskannya.

Sebab, menurut para sejarawan termasuk sejarawan Inggriskesohor EH Carr (1892-1982), bilang bahwa sejarah ada karena dipilih sejarawan.“ Fakta (ingatan) akan menjadi fakta sejarah jika sejarawan memutuskannya penting dan menuliskannya,” katanya.

Ia mencontohkan bahwa ada jutaan orang yang menyeberang sungat Rubicon di Itali, tapi kenapa sejarawan memilih menulis Julius Caesar saat menyeberang. Ke mana jutaan orang lainnya?“Fakta di masa silam, tidak akan menjadi fakta sejarah, kalau tidak ditulis sejarawan,” tegasnya sekali lagi.

Karenanya, seringkali kita mendengar adigium dalam sejarah yang juga diulang oleh filsuf Jerman  Walter Benjamin (1892-1940) “History is written by the victors.” Sejarah ditulis oleh pemenang. Maka, menulis sejarah Indonesia dalam pandangan Islam merupakan cita-cita kami, Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), cara untuk merawat ingatan, agar penyakit lupa akan peran Islam kepada bangsa ini sedikit demi sedikit tersirna.

Dengan ingatan yang terawat, kita akan terkenang, kenangan yang membangkitkan. Kita akan merindu masa –masa seperti itu. Merindu tokoh-tokoh seperti mereka, menyadari bahwa tugas kita sebagai generasi penerus merawat dan menyemai negeri ini dengan nilai-nilai Islam masihlah sangat panjang, seperti perkataan Ibnu Khaldun dalam Mukaddimahnya:

“Ilmu sejarah menyebabkan kita dapat mengetahui perilaku dan akhlak umat terdahulu, jejak-jejak para nabi, para pemimpin dengan kerajaan dan politik mereka sehingga dapat dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang mengambl pelajaran, baik dalam urusan dunia maupun urusan agama,” kata Ibnu Khaldun.

Dengan tampilnya kembali secuplik dua ingatan yang terawat, membuat diri sadar siapa sebenarnya kita, siapa sebenarnya bangsa ini, bagaimana perjuangan para pendiri bangsa, bagaimana peranan para ulama dulu di sini, dan apa pesan para pendiri bangsa untuk generasi selanjutnya?

Begitu jelas apa yang disampaikan Ibnu Khaldun,“Hakikat sejarah adalah berita tentang sisi sosial umat manusia sebagai elemen peradaban dunia.” Katanya.Tentunya, merawat ingatan – yang hakikatnya ialah manusia – ini merupakan tugas yang sangat besar yang berkesinambungan yang membutuhkan dukungan dari semua pihak.

Ibnu Khaldun sendiri menyebutkan,”Ilmu sejarah membutuhkan banyak rujukan, bermacam-macam pengetahuan, dan penaralan sekaligus ketelitian yang mengantarkan kepada kebenaran serta menyelamatkan dari kesalahan-kesalahan. (Muqaddimah Ibnu Khaldun)

Namun, jika kita  tak memulainya dari sekarang, dengan cara sederhana, ingatan-ingatan dan kenangan yang membangkitkan sedikit demi sedikit akan sirna. Kita akan kembali lupa, dan orang-orang yang melupakan Islamlah yang akan menulis sejarahnya.  Padahal, kita sendiri merindu saat-saat seperti itu, saat-saat menilik mereka, dan mengambil pelajaran dari para pendahulu kita.

Kerinduan secara seketika membuncah di dada, tatkala menepuk-nepuk memori, melihat satu per satu kisah, sepotong dua ingatan.Dan kerinduan itu kami yakini  tak hanya milik orang per orang, atau kelompok belaka. Kerinduan tersebut tentunya juga dirasakan segenap pembaca, kaum muslimin di Nusantara, pula para penghuni semesta lainnya.

Maka, dipenghujugn tahun ini, mari kita bersama-sama rawat para ingatan pendahulu kita, bahwa jejak-jejak Islam untun Bangsa ini kelak akan terawat, tak pernah terlupakan. Banyak cara untuk merawat ingatan, dan juga segenap pihak pun dapat mendukung, mewujudkannya, dan menjadikan sejarah benar-benar seperti akar katanya :syajarah

Menciptakan sejarah yang baik, seperti menciptakan pohon (syajarah) yang baik yang akhirnya menebar manfaat bagi semesta alam. Akarnya teguh yaitu tauhid (QS Ibrahim: 24- 25). Penutup, seperti ungkapan Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Sejarahdalam pandangan Islam bermula dari sebuah ajaran yang difahami dan dikembangkan oleh manusia, yang kemudian tumbuh seperti sebuah pohon, yakni kehidupan (syajarah).

 

“Pohon itu kemudian memberikan manfaat (rahmat) atau buahnya kepada manusia lain dengan melalui hukum dan kehendak Tuhan. Jadi, sejarah dalam pandangan Islam adalah interaksi antara nilai dan praktek kehidupan manusia yang dinaungi oleh kehendak dan hukum Tuhan. Itulah syajarah yang tumbuh dan itulah sejarah yang hidup,”

 

@rizkilesus, Co-Founder JIB