Pada tanggal 27 November 2016, Jamiat Kheir akan mengadakan milad untuk mengenang perjalanan lembaga yang sudah berusia 115 tahun ini. Selain mereka yang mendalami Sejarah, mungkin tak banyak yang tahu tentang kiprah lembaga ini di masa lalu. Padahal Jamiat Kheir ikut memainkan peranan yang tidak kecil dalam proses kebangkitan nasional di Indonesia.

Jamiat Kheir didirikan pada tahun 1901 dan merupakan organisasi Islam modern pertama di Indonesia. Tidak disebutkan di dalam buku-buku Sejarah tanggal pendiriannya, tetapi perkumpulan ini mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada 17 Juni 1905.

prasasti_jamiat_kheir_small

Prasasti Jamiat Kheir. Sumber: wikipedia

Perkumpulan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan ini, di samping juga ekonomi dan politik, didirikan oleh lima orang keturunan Hadrami di Batavia dari keluarga Bin Syahab, al-Masyhur, dan Basandiet. Komunitas Hadrami sejak lama telah bermigrasi dari Hadramaut di Yaman Selatan ke Nusantara dan jumlahnya semakin meningkat pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20. Orang-orang Hadrami datang untuk berdakwah dan berniaga dan banyak dari mereka yang menikah dengan penduduk setempat serta menetap di Indonesia. Sebagian tokoh Hadrami ini telah menyerap gagasan pembaruan Islam dari Timur Tengah yang kemudian mengejawantah melalui pendirian Jamiat Kheir.

Walaupun dikenal sebagai organisasi keturunan Arab, pada tahun 1906 perkumpulan ini menerima anggota dari kelompok masyarakat lainnya yang beragama Islam (Arsip Nasional Republik Indonesia, Bt. 24 Oktober 1906, No. 31). Pada tahun yang sama, Jamiat Kheir juga mendirikan madrasah Islam modern – dapat dikatakan yang pertama di Indonesia – yang menerima murid dari berbagai kalangan yang beragama Islam. Begitu serius perhatiannya terhadap pendidikan, sehingga pada tahun-tahun berikutnya Jamiat Kheir mengundang beberapa guru dan ulama dari Timur Tengah untuk mengajar di sekolah-sekolah yang didirikannya.

Jamiat Kheir memiliki jejaring pertemanan dengan serta pengaruh terhadap beberapa tokoh awal Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan mungkin juga Budi Utomo. Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemoela (2003: 137) memperkirakan adanya pengaruh nama Jamiat Kheir dalam pemberian nama Budi Utomo. Sementara Haji Agus Salim menduga, sebagaimana disebutkan Robert van Niel dalam The Emergence of the Modern Indonesian Elite (1960: 266), bahwa banyak anggota Budi Utomo dan Sarekat Islam yang sebelumnya merupakan anggota Jamiat Kheir.

Pengaruh Jamiat Kheir terhadap Sarekat Islam lebih banyak dicatat oleh Sejarah. Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak (1997: 47) menyebutkan bahwa orang-orang Hadrami ikut serta bersama Tirtoadhisoerjo dalam pendirian Sarekat Dagang Islamijah. Van Niel (1960: 88) mempertimbangkan kemungkinan Samanhoedi, pemimpin awal Sarekat Islam, telah menerima pengaruh dari Jamiat Kheir. Tokoh-tokoh Jamiat Kheir telah memainkan peranan penting di dalam Sarekat Islam terutama pada masa-masa awal berdirinya. ”Sayyid Ali al-Habsyi, dikenal luas sebagai guru agama ortodoks di Batavia, berusaha untuk meningkatkan karakter spiritual dari organisasi itu,” tulis Van Niel (1960: 112). “Target yang sama dikobarkan oleh Sayyid Abdullah bin Husein al-Aydrus, ketua organisasi Jamiat Kheir, yang duduk di meja direktur pada rapat-rapat Sarekat Islam di Batavia.”

Pada tahun 1913, menurut Edrus Alwi al-Masjhoer dalam Jamiat Kheir (2005: 31), perkumpulan ini turut mendirikan serta memiliki saham pada N.V. Setija Oesaha, sebuah perusahaan percetakan di Surabaya yang mengeluarkan surat kabar Oetoesan Hindia dengan HOS Tjokroaminoto sebagai pimpinan redaksinya. Adapun Sumit Mandal pada artikelnya di dalam Trancending Borders (2002: 166) menulis bahwa “orang-orang Arab memainkan peranan penting sebagai penasihat, pembimbing keagamaan, serta penopang keuangan sepanjang tahun-tahun awal Sarekat Islam.” Pertemuan-pertemuan Sarekat Islam sering diadakan di kantor Jamiat Kheir di Jakarta maupun di kantor rekanannya, al-Khairiya, di Surabaya.

Pada salah satu rapat Sarekat Islam di Jakarta pada tahun 1913, demikian tulis APE. Korver dalam Sarekat Islam (1985: 99), “ketua Jamiat Kheir dengan berapi-api menyampaikan uraian tentang pendidikan dan kemajuan” dengan menjadikan sekolah-sekolah perkumpulan itu sebagai contoh. Pada tahun yang sama ada laporan tentang meningkatnya peranan positif Sarekat Islam di bidang pendidikan serta didirikannya sekolah-sekolah model Jamiat Kheir pada tahun-tahun berikutnya di Majalengka, Demak, Kudus, Pati, Pekalongan, dan Lampung.

Pendiri Jamiat Kheir. Sumber : wikipedia

Pengurus Jamiat Kheir. Sumber : wikipedia

Pengaruh terpenting Jamiat Kheir tampaknya memang dalam bidang pendidikan. Hal ini membawa kita pada seorang tokoh besar lainnya, yaitu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga seorang tokoh pendidikan di Indonesia. Ia tercatat sebagai seorang anggota Jamiat Kheir. Dikatakan bahwa ia sering berdiskusi tentang persoalan Muslimin di Jawa Tengah dengan Abdullah bin Alwi Alatas, seorang saudagar di Batavia serta penyokong awal Jamiat Kheir. Yang terakhir ini ikut mendorong serta memberikan bantuan dana pada Ahmad Dahlan dalam upaya dakwahnya yang kemudian melahirkan Muhammadiyah.

Karena tekanan pemerintah kolonial, pada tahun 1919 perkumpulan ini terpaksa membatasi aktivitasnya hanya dalam bidang pendidikan, dan sejak itu tampak semakin menurun peranannya. Mengerucutnya ruang gerak Jamiat Kheir tentu bukan alasan untuk menjadi stagnan apalagi mundur. Seharusnya ini menjadi pendorong bagi lembaga ini untuk semakin fokus membangun bangsa melalui jalur pendidikan.

Dahulu Jamiat Kheir pernah ikut meretas jalan dalam proses kebangkitan di Tanah Air. Melalui milad-nya yang ke-115 ini, yang hampir bersamaan waktunya dengan Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November, akankah Jamiat Kheir mampu kembali bangkit dan memainkan peranan penting dalam mendidik dan mencerdaskan masyarakat Indonesia?

 

Oleh: Alwi Alatas – Kandidat PhD Sejarah, International Islamic University Malaysia

* Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos, Rabu 30 November 2016 dengan sedikit perubahan.