“Kadang-kadang antara Saudara dengan saudara, ada baiknya kita berbicara berpahit-pahit. Yakni yang demikian tidaklah dapat kami lihatkan saja sambil berpangku tangan . Sebab kalau ada harta yang kami cintai lebih dari segala-galanya itu, ialah agama dan keimanan kami.”

Itulah sepenggal pernyataan dari Muhammad Natsir pada khutbah Idul Fitri 1968. Sebuah pernyataan yang kembali ditegaskan Muhammad Natsir. Setelah setahun sebelumnya dalam musyawarah antar agama yang dihadiri berbagai pihak lintas agama, beliau menyatakan pendiriannya,

“Oleh karena itu jangan identitas kami saudara-saudara langgar. Jangan saudara jadikan kami sebagai sasaran  bagi kegiatan pengkristenan.”

Mungkin jika pernyataan itu diucapkan saat ini, maka beliau bisa dituduh tidak toleran. Tapi begitulah adanya Muhammad Natsir. Tidaklah dia sungkan berdiri tegak diatas pendiriannya dan menyatakan keberatannya, sekalipun acara ini digagas Presiden Soeharto saat itu.

Kristenisasi yang merajalela saat itu membuat panas sehingga timbul gesekan-gesekan. Sesungguhnya Muhammad Natsir bukan ‘anak kemarin sore’ dalam menghadapi persoalan dengan umat kristiani di Indonesia. Hal itu tercermin dari buku Islam dan Kristen di Indonesia. Terbit pertama kali tahun 1969, buku ini memuat berbagai tulisan beliau yang membahas persoalan kristen dan Islam di Indonesia. Beliau sudah mengupas topik ini sejak taun 1930-an. Saat beliau masih menulis di Panji Islam dengan nama samara A. Moechlis dan di Pembela Islam dengan nama pena Is.

Nyatanya sah saja jika ia kita sematkan gelar kristolog. Mengingat tulisannya yang mampu membedah bible secara tajam. Ayat-ayat bible ia hamparkan, dipertanyakannya kerancuannya. Di tepisnya cercaan yang dilemparkan kepada umat Islam yang ramai sejak Indonesia belum merdeka.

“Sudah cukup lama kaum Muslimin, berdosa meninggalkan kewajiban mereka mempertahankan dan membersihkan agama mereka dari nistaan yang telah dilemparkan kepada Islam dalam buku-buku dan surat-surat kabar, dalam sekolah-sekolah dan di rapat-rapat umum.”

Pena tajamnya dalam membela Islam memang mengayun kepada siapa saja. Entah pendeta atau akademisi Belanda. Ia juga seringkali mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial yang meminggirkan umat Islam dan menganakemaskan pihak Gereja.

Tulisan-tulisannya membahas persoalan dengan agama Kristen tidaklah menjadi ia sosok yang buta bertoleransi. Justru ia mendambakan toleransi di Indonesia. Di tahun 1952, ia menyatakan,

“Islam melindungi kebebasan menyembah Tuhan, menurut agama masing-masing. Baik di mesjid maupun di gereja.”

Namun kebebasan itu menurut Natsir, hendaknya dilakukan dengan menghargai agama lain. Menghormati identitas umat lain. Menurutnya identitas orang-orang Islam jangan diganggu. Perdamaian nasional hanya bisa dicapai kalau masing-masing golongan agama, disamping memelihar identitas masing-masing juga pandai menghormati identitas golongan lain. Namun gesekan-gesekan terus saja terjadi. Hingga akhirnya terjadilah pengerusakkan Gereja di Makassar. Ketika J. Lassut, wartawan Sinar Harapan-sebuah media yang berafiliasi dengan Kristen-meminta komentarnya mengenai kejadian tersebut, Natsir menjawab,

“Tidak baik.”

Tapi ia menekankan, pengerusakkan Gereja sudah tentu melukai kaum Kristen. Tetapi janganlah dilihat persoalan itu dengan suatu symptomatic approach, dengan sekedar melihat gejala yang kelihatan. Harus dicari juga penyebabnya.

Itulah sebabnya ketika Soeharto, pada tahun 1967, menggagas Musyawarah Agama, Natsir menyambut hal ini. Ia pun menawarkan konsep untuk tidak menjadikan umat telah beragama sebagai sasaran penyebaran agama masing-masing. Namun usul ini ditolak oleh pihak Kristen yang salah satunya di wakili oleh T. B. Simatupang. Natsir pun menanggapi penolakan itu dalam khutbah Iedul Fitri tahun 1968,

“Demikianlah seruan kita, dengan tulus dan ichlas. Sekalipun jika saudara-saudra menolak seruan mencari titik pertemuan itu, tidak apa. Kita akan masih dapat hidup berdampingn secara damai dan ragam. Hanya satu saja permintaan kami :

Isyhaduu Bi Anna Muslimun!“

 

Judul : Islam dan Kristen di Indonesia

Penulis : M. Natsir

Editor : Endang Saifuddin Anshari

Penerbit : Pelajar dan Bulan Sabit

243 halaman

Cetakan 1, 1969