Tulisan berikut ini adalah Pidato dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, salah satu ulama besar di tanah air. Selain pesan beliau terhadap umat, namun yang tak kalah penting adalah memahami situasi pada saat pidato ini disampaikan. Pidato ini disampaikan ketika masa pendudukan Jepang di tanah air. Situasi yang serba sulit karena Jepang begitu represif dan kejam terhadap pihak-pihak yang menentangnya. Maka para tokoh Islam bersiasat dengan ‘bekerja sama’ dengan pemerintah Penjajah Jepang. ‘Kerja sama’ ini dipakai untuk menggalang kekuatan yang akhirnya nanti untuk merebut kemerdekaan. Suatu hal yang tak mudah, mengingat Jepang amat kejam kepada rakyat dikala itu.

Akan membingungkan mungkin bagi generasi saat ini memahami kenapa para tokoh Islam memilih untuk ‘bekerjasama’ dengan pemerintah Jepang. Namun pencerahan akan kita dapatkan jika menelusuri penjelasan yang memadai, salah satunya dari tokoh yang aktif dipergerakan saat itu, yaitu, KH Saifuddin Zuhri, dari Nadhlatul Ulama.Melalui biografinya yang tebal nan bernas, Berangkat dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri memberikan kesaksian-kesaksian siasat politik dari para tokoh Islam untuk memperdayai Jepang, terutama dan terpenting adalah siasat yang diungkapkan oleh KH Wahid Hasyim. Maka membaca pidato KH Hasyim Asy’ari ini pun akan mudah jika kita melihat dari bingkai siasat tadi, sehingga tak menimbulkan tanda tanya.

Tak mudah untuk mengumpulkan karya beliau terutama yang bukan karya beliau yang terkait dengan pengajaran Islam dalam bentuk kitab. Tulisan beliau yang non-kitab tersebut terserak di media massa, dan sepanjang pengetahuan kami, belum ada yang mengumpulkan semua tulisan beliau di media massa. Maka artikel ini adalah salah satu upaya menghadirkan kembali karya beliau kepada generasi saat ini, yang mungkin sudah asing dengan tulisan-tulisan beliau.

==================================================

Alhamdulillahi rabil alamin wasalatu wa salam ala asrafil anbiya mursalin.

Dengan nama Allah, Maha pengasih dan penyayang, sekalian puji bagi Allah Tuhan sekalian isi alam. Rahmat dan kesejahteraan bagi junjungan besar Nabi Muhammad Saw. dan keluarga serta sahabatnya.

Saya menyampaikan kehadapan tuan-tuan sekalian, syukur dan ucapan selamat datang atas kesediaan tuan-tuan mengabulkan undangan guna menghadiri pertemuan ini. Yang mendorong tuan-tuan hadir pada rapat ini, tidak laindari pada kemauan yang sungguh-sungguh akan bekerja yang berisi dan bersama-sama dengan pemerintah Balatentara Dai Nippon. Dan keinginan yang betul-betul mempertinggi martabat Islam dan memperhatikan kepentingan kaum muslimin, sebagaimana yang telah diperintahkan junjungan besar kita Nabi Muhammad Saw.

Hari ini disini ulama-ulama dari Jawa Tengah berkumpul, sebagaimana dulu ulama-ulama Jawa Timur berkumpul di kota Surabaya. Saya mohon pada Allah Swt. agar pertemuan kita ini dijadikannya pertemuan yang membawa berkah, dan dari padanya mendapat kebaikan dunia dan pahala di akhirat. Amin.

Disini patutlah saya meminta perhatian tuan-tuan akan seesuatu hal yang penting ialah berkaitan dengan halnya sikap pemerintah Balatentara Dai Nippon terhadap agama Islam. Pemerintah telah berulang-ulang menerangkan, bahwa ia menghormati dan menghargai agaama Islam. Dan paduka yang mulia Gunselkan sendiri telah menerangkan kepada saya akan hal itu, ketika saya menghadap beliau di Jakarta pada 18 Maret.

Saya memandang bahwa sikap yang demikian ini, yakni sikap menghormati dan menghargai agama Islam dari pihak pemerintah adalah suatu nikmat yang besar dari Allah. Maka wajiblah kita menjalani syukur atasnya dan wajib berbuat menurut mestinya kenikmatan itu.

Sesungguhnya nikmat itu adalah percobaan Allah Azza Wajalla, agar dapat diketahui, orang yang bersyukur dan orang yang  berhati atau (tidak mau bersyukur). Juga rencana adalah percobaan dari Allah Swt. untuk mengetahui mana yang bersabar dan yang berputus asa. Maka seharusnya kita sekalian mensyukuri Allah Ta’ala atas nikmat ini. Allah telah menjanjikan bagi orang-oran yang bersyukur akan ditambah kenikmatannya dan Allah akan mangancam orang yang berhati atau (tidak mau bersyukur) akan disiksanya dengan siksa yang sangat berat.  Telah difirmankan dalam surat Ibrahim ayat 7:

“Demi sesungguhnya, jika kamu semua bersyukur, Kami pasti akan menambah (nikmat) bagi kamu sekalian; dan demi sesungguhnya jika kamu semua kufur (tak bersyukur), maka sesungguhnya siksaKu adalah sangat”. (QS:Ibrahim Ayat 7).

Maka kita sekalian, pertama kali barulah berbesar hati kepada sikap pemerintah, yaitu sikap menghargai agama Islam dan kaum muslimin dan kedepannya kita sekalian haruslah membuktikan bahwa kita sekalian adalah patut dihormati dan dihargai, dan haruslah kita sekalian menunjukkan pada orang akan kecakapan dan kepandaian kita untuk bekerja guna kebaikan dunia dan akhirat.

Sebenarnya sikap pemerintah ini sikap menghormati dan menghargai agama Islam dan kaum muslimin, yakni sikap yang bijaksana adalah sesuai dengan tabi’at agama Islam. Betapa tidak demikian, sedang agama Islam adalah agama yang disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw.

“Islam itu luhur dan tidak ada yang mengungguli”.

Dunia pada waktu ini terbakar oleh api peperangan. Bumi-bumi ini dari ujungnya sampai ujungnya adalah merupakan medan peperangan yang dahsyat. Sudah ttabi’at peperangan adalah membawa kesukaran dan kesusahan. Maka tidaklah heran, jika kita sekalian sekarang melalaui masa hidup yang sukar dan susah.

Tetapi kita melaluinya haruslah sambil sabar dan tahan. Karena keluh kesah dan putus asa tidaklah ada gunanya. Dalam pada itu, kita haruslah mengekalkan do’a kehadirat Allah, mudah-mudahan ia mentakdirkan sesudah kesukaran timbullah kemakmuran, dan sesudah kesempitan timbullah kegembiraan.

Sesungguhnya Allah berkuasa atas perkara yang dikehendakinya.

Sebagaimana tidak asing lagi bagi tuan-tuan, bahwa kita sekarang ini adalah dalam masa pembangkitan dan pebangunan masyarakat. Artinya bahwa kita sekalian ini memulai giliran baru dari pada giliran-giliran riwayat. Karena riwayat yang lama sudah ditutup dan bersama dengan ditutupnya riwayat itu, ditutup juga riwayat Pemeritah Belanda yang telah lalu itu. Dan kini kita memulai riwayat baru.

Maka dalam masa ini, Pemerintah Balatentara memuat usaha yang bermacam-macam, ada Seinendan, Keiodan, Fujika, Tentara Pembela Tanah Air, Jawa Hookoo Kai dan  lain-lainnya. Itu semua ditujukan kepada maksud akan menjadikan masyarakat menjadi kuat kokoh, dan menyesuaikan penghidupan sehari-hari dengan suasana peperangan. Hal ini penting betul. Maka kita haruslah berdiri dibelakang pemerintah dan haruslah kita bersungguh-sungguh membantu usaha-usahanya yang  bagus.

Inilah kewajiban kita terhadap pemerintah dan masyarakat tempat kita ini. Selain itu adalah kewajiban-kewajiban kita sebagai muslim. Di depan tadi  telah saya sebutkan,  bahwa pemerintah Balatentara telah berulang-ulang menerangkan bahwa sikapnya adalah menghargai dan menghormati  agama Islam dan kaum muslimin adalah bergantung pada pekerjaan kita kaum muslimin saja. Karena kitalah yang dituju dengan pemerintah yang memuat syari’at (Allah) Swt. dan sesungguhnya tidaklah patut kita meminta orang lain memikul hal-hal yang khusus bagi kita, padahal mestinyakita sndiri memikulnya.

Sesungguhnya junjungan kita adalah teladan baik bagi kita, jika kita mengharap nikmat Allah dan pertolongan di hari kiamat. Maka kita haruslah mencontoh perjalanan Nabi kita yang bagus dan berakhlaq dengan budi pekerti yang terpuji. Dan haruslah kita mempersatukan kalimat (golongan) kita dan janganlah hendaknya kita merepot-repotan dalam mengusahakan kepentingan kita. Allah Swt. telah berfirman dalam surat Al-An’am ayat 153:

“Jangan kamu sekalian turut bermacam-macam jalan, maka tentulah menjadikan kamu sekalian bercerai-berai (jauh) dari jalan Allah”. (QS : al-An’am 153).

Marilah kita senantiasa ingat, bahwa umat Islam yang dahulu tidaklah menjadi mulia dan jaya, melainkan karena mereka berpegangan pada petunjuk Islam. Menjalani kewajiban-kewajibannya dan menjauhi larangan-larangannya. Dan anak cucu mereka tidaklah hina dan nista melainkan karena mereka menjauhi jalan keislaman, karena menyia-nyiakan kewajiban-kewajibannya dan melanggar larangan-larangan.

Maka wajiblah kita bergembira karena sikap pemerintah menghormati Islam dan kaum muslimin. Dan haruslah  kita bekerja dengan sungguh-sungguh mempertinggi martabat Islam yang dihormati dan dihargai pemerintah itu. Dan haruslah kita membuang sifat bermalas-malasan dan berlemah-lemah, karena jika kita bermalas-malasan dan berlemah-lemah, begitu pula segan bekerja memperingati martabat Islam, tentu akan tetaplah bagi kita firman Allah yang berbunyi:

“Dan banyak dari penduduk negeri yang merusak perintah Tuhan dan Rasul-Rasul-Nya, maka kami beri perhitungan dengan siksaan yang berat dan kami siksa dengan siksaan yang dahsyat”. (QS: At-Talaq ayat 8).

Mudah-mudahan dalam perjuangan Asia Timur, Allah memberi taufiq (pertolongan) dan hidayah (petunjuk) ke arah keadaan yang dirilai-Nya dan disukai-Nya. Dan mudah-mudahan ia mentakdirkan kemenangan akhir  di pihak kita. Amin.

Oleh : KH Hasyim Asy’ari

Naskah pidato Ketua Besar Masyumi KH. Hasyim Asy’ari dari buku Menjaga Martabat Islam oleh Kiai Tebuireng (kumpulan tulisan pidato dan artikel media) ini ditulis ulang oleh Muhammad Cheng Ho, Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB). Tulisan di artikel ini menghilangkan kutipan huruf arab ayat Al Qur’an semata-mata karena keterbatasan teknis.