Apa yang terjadi belakangan ini sungguh memilukan. Bencana demi bencana menghampiri Indonesia. Banjir bandang, letusan gunung, longsor dan lainnya. Letusan Gunung Sinabung di Sumatera yang memaksa ribuan orang terpaksa keluar dari rumahnya dan tinggal berbulan di pengungsian. Hingga yang masih hangat dampaknya baru-baru ini, letusan Gunung Kelud. Ribuan lagi-lagi terpaksa mengungsi, lahan pertanian terancam gagal, abu dari letusan yang seketika menyelimuti berbagai wilayah, memaksa manusia menghentikan kegiatannya.

Indonesia yang berada di wilayah cincin api[1] memang harus mengakrabkan diri dengan peristiwa letusan gunung berapi. Sesungguhnya peristiwa letusan gunung ini bukanlah barang baru. Para pendahulu kita juga telah mengalami hal yang serupa, bahkan jauh lebih merana akibatnya. Salah satu yang tercatat dalam sejarah adalah meletusnya Gunung Tambora di Sumbawa, pada April 1815. Meletusnya gunung Tambora adalah salah satu peristiwa letusan gunung yang terbesar diseluruh dunia. Peristiwa tersebut tercatat dalam sebuah Syair Kerajaan Bima[2]. Rangkaian kata-katanya menggambarkan betapa mengerikan kejadian tersebut.

Bunyi bahananya sangat berjabuh

Ditempuh air timpa habu

Berteriak memanggil anak dan ibu

Disangkanya dunia menjadi kelabu

 

Asalnya konon Allah Taala marah

Perbuatan Sultan Raja Tambora

Membunuh Tuan Haji menumpahkan darah

Kuranglah pikir dan kira-kira[3]

 

Ledakan Gunung Tambora memang begitu dahsyat. Suara ledakannya bahkan terdengar hingga ke Sumatera. Di Makassar dan Jogjakarta suara ledakan yang membahana malah disangka sebagai suara ledakan meriam. Sehingga pasukan disiagakan untuk berperang. Letusan gunung Tambora yang dahsyat hingga kini masih dikenang oleh rakyat setempat dengan ‘Zaman Hujan au’.  Syair Kerajaan Bima itu menandaskan bahwa meletusnya gunung Tambora adalah murka Allah akibat perbuatan Perbuatan Sultan Tambora yang membunuh seorang Haji.

Tak salah memang jika peristiwa meletusnya Tambora di kenang sebagai zaman hujan abu. Letusan gunung ini dan dampaknya diperkirakan memakan korban antara 36.000 hingga 117.000 jiwa. Erupsi gunung ini dimulai pada 5 April 1815 dengan suara ledakan yang begitu keras sehingga dapat terdengar disebagian besar nusantara. John Crawford, penulis Descriptive Dictionary of Indian Island, saat itu berada di Surabaya dan melukiskan peristiwa mengerikan itu

“Sehari setelah suara dan gempa mengguncangkan yang mengiringinya terasa di Surabaya, abu  mulai turun, dan dihari ketiga, hingga siang hari, (keadaan) sangat gelap gulita; dan untuk beberapa hari saya melakukan kegiatan bisnis dengan cahaya lilin. Bahkan selama beberapa bulan sinar matahari tak terlihat terang, langit tak terlihat terang dan jelas, tak seperti biasanya saat monsoon di (asia) tenggara.”[4]

Mayor M.H. Court, seorang residen di Pulau Bangka bahkan mendengar letusan tersebut terdengar seperti meriam. Padahal jaraknya 700 mil dari Sumbawa. Di Kalimantan, seorang nenek berusia 80 tahun mendengar suara letusan tersebut sangat mengerikan, hingga orang-orang menyangka langit akan runtuh. Abu letusan bahkan mencapai Sumatera Utara, yang berjarak kurang lebih 1300 KM.[5]

Dampak letusan Tambora begitu mengerikan. Kesultanan Tambora dan Pekat langsung terhapus, hancur lebur. Termasuk Sultan Abdul Gafur Tambora dan Sultan Muhammad dari Pekat. Tumpukan abu menebal hingga 50-60 cm. Bahkan di area dekat gunung berapi, mencapai 1,2 Meter. Total korban jiwa akibat yang langsung tewas diperkirakan 10 ribu jiwa. Sawah-sawah musnah. Sumber-sumber air terpolusi abu. Hal ini mengakibatkan bencana kelaparan yang lebih menyeramkan.  Orang-orang yang masih selamat memakan daging kuda hingga daun kering. Demi segantang beras (kurang lebih 3 Kg) mereka rela menjual anak-anaknya. Diare dan deman turut menerjang. Akibat bencana kelaparan ini, 37 ribu orang diperkirakan meninggal. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Mayat-mayat itu menjadi makanan burung-burung dan anjing.  Sekitar 37 ribu penduduk yang tersisa menyeberang ke  Bali, Sulawesi Selatan, Makassar dan lainnya.[6]

Nyatanya nasib tetangga tidak lebih baik. Bali dan Lombok adalah wilayah yang terkena dampaknya begitu keras. Abu yang turun di Bali dan Lombok begitu fatal. Banyak yang tewas seketika, tertimpa bangunan yang tak kuat menahan abu. Tetapi jumlah tewas paling banyak adalah akibat gagal panen. Hal ini disusul epidemi dan wabah tikus. Bahkan  Van Den Broek dari Komisi Pemerintah Kolonial, yang pada tahun 1818 yang berkunjung ke Bali, melihat 34 mayat bergelimpangan di jalan. Ada bencana kelaparan yang serius di Bali saat itu. Orang-orang Bali mulai memakan daging anjing dan kuda, bahkan ada yang menjual anak-anak mereka demi makanan. Di antara tahun 1817 hingga 1826, seorang saksi mata mengatakan, ia melihat anak-ana tewas di pantai. Mereka dibunuh oleh orang tua mereka sendiri, karena tak sanggup memberi makan.[7]

Tragedy Tambora tak hanya berdampak di nusantara, tetapi juga di dunia. Suhu bumi saat itu turun 1-2,5 derajat lebih rendah. Musim panas yang terasa dingin mengakibatkan gagal panen di Amerika Utara dan di Eropa, terutama di Swiss. Bahkan sebagian orang mengaitkan menyebarnya wabah kolera dengan letusan Gunung Tambora.[8]

Hampir ¾ abad kemudian, penduduk nusantara kembali di uji dengan letusan gunung berapi. Kali ini Gunung Krakatau. Pada 26-28 Agustus 1883, Gunung Krakatau menyemburkan isinya. Hujan abu panas kembali terjadi. Abu diletuskan hingga setinggi 70km. Lebih mengerikan lagi, letusan ini mengakibatkan gelombang tsunami hampir setinggi 40 meter, menghantam wilayah Ketimbung di Lampung. 8.330 orang tewas seketika. Di Teluk Betong, 2.263 orang juga menjadi korban keganasan tsunami. Total korban tewas akibat letusan Krakatau mencapa 36.417 orang. [9]

Peristiwa meletusnya Krakatau ini sempat di catat oleh saksi pribumi bernama Muhammad Saleh. Ia adalah seorang alim, yang bermigrasi dari Bone ke Lampung.  Di Lampung, ia menjadi imam Masjid Jami Al Anwar, di Teluk Betung, Lampung.  Masjid ini kemudian hancur akibat dari letusan Krakatau. Muhammad Saleh menulis kesaksiannya dalam bentuk syair berbahasa melayu, berjudul Syair Lampung Karam.

Awal mula hamba berpikir.

Di Tanjung Karang tempat Musyafir.

Menghilangkan dendam sebabnya hasir

Dikarangkan Nazam makamnya syair.

 

Daripada hati sangat hasrat.

Dibawa berdiri sangat mudarat

Ke sana-ke sini tiada bertempat

Mencari pikiran sambil menyurat

 

Mula pertama asalnya itu

Pada bulan Rajab datanglah abu

Dua jari tebalnya tentu

Tiga hari kerasnya itu.[10]

 

Kesaksian lain juga terungkap di wilayah Banten. Tepatnya Desa Karangantu. Sebuah desa nelayan yang kehilangan seluruh penduduknya kecuali empat orang keturunan Tionghoa, yaitu, Ongl Leng Yauw, Ong Boen Seng, serta dua kakak beradik, Roeti Nio dan Biskoeit Nio. Ong Leng Yauw mengatakan bahwa tinggi gelombang tsunami itu setinggi pohon kelapa.[11]

“Koetika Krakatau (h)ampir meletoes itoe aer laoet poenja gerakan ada loear biasa anehja. Sebentar soereot begitoe djaoe(h) ka tengah hingga dasar laoetan seperti kering, dan banjak orang toeroen ka tengah aken djoempoetin ikan-ikan yang berg(e)letakan, dan kemoedian dateng ombak bergoeloeng-goelong satinggi poehoen kelapa jang mendampar sampe djaoe(h) ka daratan.”[12]

Ong Leng  Yauw melihat sendiri bagaimana keganasan tsunami. Ia bahkan turut hanyut ditelan gelombang menakutkan itu.

“…soeara geloegoran mendadak djadi begitoe hebat dan toeroen aboe dengan lebet dari oedara, matahari tida(k) kali(h)atan, dan siang hari berobah djadi gelap goelita, hingga tangan depan mata tida(k) bisa terli(h)at. Segala apa tertoetoep dalam kegelapan jang menakoetkan….Di sana-sini rame soeranja orang bert(e)reak minta toeloeng, tapi tida(k) kali(h)atan satoe apa.”[13]

Ong Leng Yauw beruntung. Ia selamat setelah ditelan gelombang tsunami dan akhirnya tersangkut di pohon setinggi tiga meter. Ia kemudian menyaksikan sendiri, semuanya telah musnah,

“Saja lantes berdjalan balik ka Karang-antoe, dimana saja dapetkan tida(k) ada satoe apa jang tinggal berdiri, antero roemah-roemah berikoet loods pasar dan laen-laen soedah mendjadi rata sama tanah, tersapoe bersih sama sekalih.”[14]

Ong Leng Yauw saat itu hanya bocah berusia 14 tahun. Letusan Krakatau tanggal 27 Agustus itu memusnahkan semuanya. 54 tahun kemudian, saat ia berusia 68 tahun, ia menceritakan kesaksiannya kepada Kwee Tek Hoaij yang sedang singgah di Desa Karangantu, Banten.[15] Kwee kemudian menuliskan kesaksian itu, hingga akhirnya dapat kita ketahui betapa mengerika bencana letusan yang pernah mencengkeram bangsa ini.

Kini, hampir 200 tahun setelah letusan Gunung Tambora dan lebih dari 130 tahun letusan Krakatau yang mengerikan, kita masih berdiri di antara cincin Api. Hidup diantara serangkaian gunung-gunung berapi yang masih aktif. Jika kita merenungkan kembali kesaksian-kesaksian yang tercatat dalam sejarah, maka teringatlah kita akan sejumlah surat-surat dalam Al Quran yang menggambarkan betapa mengerikannya kejadian saat kiamat nanti. Jika letusan Tambora dan Krakatau saja sudah sedemikan mengerikan, bagaimana pula saat kiamat nanti?

Ironisnya, kita yang hidup di antara cincin api, masih saja belum insyaf.  Di tanah air masih terus terjadi sederet peristiwa yang bisa saja mengundang murka Allah. Bangsa ini masih merayakan perzinahan, korupsi yang merajalela, hak-hak orang yang dirampas, hukum-hukum Allah yang kerap di cemooh, bayi-bayi yang digugurkan, ulama-ulama yang dilecehkan dan darah sebagian umat Islam yang ditumpahkan tanpa alasan. Adakah kita tak sadar sedang menari-nari diatas kemaksiatan yang mungkin hanya beberapa langkah saja dari murka Allah? Jika segala bencana tak dianggap pertanda, tapi hanya ditelan sebagai gejala alam belaka, mungkin itu sebabnya kita terlalu bebal untuk menyadarinya.

Oleh : Beggy Rizkiyansyah

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa



[1] Untuk informasi mengenai cincin api, kunjungi www.cincinapi.com

[2] Loir, Chambert Henri (2004). Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.

[3] Boers, Bernice de Jong (1994). Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and Its Aftermath. Terjemahan dari Edisi revisi Tambora 1815: De geschiedenis van een vulkaanuitbrasting in Indonesia. Diterbitkan oleh Tidjschrift voor Geschiedenis 107 (1994) : 371-92.

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Suryadi (2012). The Tale of Lampung Submerged. The Newsletter. No. 61.

[10] Ibid

[11] Zarman, Romi (2013). Letusan Krakatau 1883 dan Korban-Korbannya di Desa karangantu Banten : Suatu Kesaksian Ong Leng yauw. Jurnal Wacana Etnik. Vol.4. Hal 87-100.

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Ibid