Sabtu, 27 Desember 2025 menjadi agenda penutup tahun yang sangat menarik, khususnya bagi kami para pegiat sejarah Islam di Indonesia. Pasalnya, di hari ketika kebanyakan orang menikmati musim liburan akhir tahun, tiga lembaga pegiat sejarah Islam mengadakan silaturahim serta diskusi strategis mengenai penelitian sejarah Islam di Indonesia.
Bermula dari inisiasi Sultanate Institute yang diwakili oleh Bung Tori Nuariza, berdiskusi bersama Bung Rizki Lesus selaku perwakilan dari Komunitas Jejak Islam untuk Bangsa mengenai kolaborasi penelitian. Dari diskusi itu kemudian disepakati untuk mengadakan silaturahim serta diskusi yang terfokus mengenai penelitian sejarah peradaban Islam di Indonesia. Kiai Asep Sobari, selaku pendiri Sirah Community Indonesia pun diundang dalam forum ini, terkait dengan kepakarannya dalam bidang Sirah Nabawiyah.
Acara pagi itu dimulai dengan perbincangan ringan serta perkenalan antar lembaga. Kemudian dilanjutkan dengan pengantar dari Sultanate Institute yang diwakili oleh Bapak Abu Bakar Said yang memaparkan temuan-temuan arkeologis Situs Bongal di Tapanuli tengah serta kaitannya dengan jejak kedatangan Islam di kepulauan ini yang lebih awal yaitu sejak abad ke-1 Hijriyah.
Setelah sesi perkenalan serta pengantar singkat itu, kami diajak oleh tuan rumah untuk melihat koleksi Museum Abad Satu Hijriyah yang bangunannya tepat di sebelah kantor tempat diskusi dilaksanakan.
Museum ini sangat menarik, karena meski terletak di Pulau Jawa, koleksinya berupa artefak peninggalan umat Islam yang ditemukan di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Koleksi-koleksi tersebut, setelah diteliti dengan penanggalan karbon di laboratorium menunjukkan fakta yang mencengankan, yaitu usia artefak yang konsisten berkisar dari abad ke-7 (tahun 600-699) hingga abad ke-10 (tahun 900-999). Penanggalan karbon ini pun dilakukan dengan sangat serius, yaitu membawa sampel artefak yang ditemukan ke Radiocarbon Dating Laboratoty di The University of Waikato, Selandia Baru pada 2024 lalu.


Setelah berkeliling dan menyimak kurasi tim Sultanate Institute atas koleksi artefak yang terdapat di Museum Abad Satu Hijriyah, kami kembali ke ruang kantor untuk melanjutkan agenda utama yaitu diskusi strategis mengenai penelitian sejarah Islam di Indonesia.
Temuan Situs Bongal di Tapanuli Tengah sebagaimana tersebut di atas, telah menggugah kesadaran baru bahwa wacana penyebaran Islam ke kepulauan ini ternyata datang lebih awal yang sejak lama menjadi perbincangan hangat di kalangan sejarawan berbagai mazhab, kini menemukan titik terang. Bukti-bukti yang kuat dengan ditemukannya artefak yang melimpah di situs tersebut telah memperkuat teori kedatangan Islam di kepulauan ini sejak abad ke-7 (atau abad ke-1 hijriyah).
Sultanate Insititute telah membukukan hasil temuannya ini dalam beberapa karya, termasuk hasil kerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai berikut:
Sirah Nabawiyah dan Islamisasi Kepulauan Melayu-indonesia
Setelah paparan yang disampaikan pihak Sultanate Insititute, tiba saatnya membincangkan korelasi hasil temuan mereka dengan Sirah Nabawiyah yang dalam hal ini merupakan kepakaran Kiai Asep Sobari. Karena artefak yang ditemukan kebanyakan berasal dari abad pertama Hijriyah, maka sangat erat kaitannya dengan proses Islamisasi yang dilaksanakan oleh para Khalifah pelanjut Nabi Muhammad ṣallaLlāhu ‘alayhi wa sallam.
Islamisasi meniscayakan didirikannya kota-kota di wilayah yang mengalami futūhāt dengan mereplikasi konsep tata kota berdasarkan pusat Dunia Islam di Asia Barat/Timur Tengah. Konsep kota yang dikenal dengan istilah Madīnah al-Islāmiyah itu penerapannya telah berlangsung di Madinah, Baṣrah, Fustat, dan beberapa kota lainnya yang dikenal dengan istilah amṣar.
Konsep kota yang dimaksud, menerapkan ajaran Islam sebagai landasan dalam aspek muamalah, tata kota, sistem irigasi, hingga perekonomian. Bentuk dari kota-kota tersebut tercermin dalam situs-situs bersejarah yang sebagiannya masih dapat kita saksikan hingga kini. Model kota seperti inilah yang kemudian diterapkan di wilayah yang mengalami Islamisasi.
Dari kota-kota besar pusat pemerintahan Islam itu pula, terbangun jejaring dakwah yang luas diiringi dengan sistem perdagangan melalui jalur maritim (kelautan). Hal ini pula menandakan kehandalan para ilmuwan Muslim dalam bidang geografi serta kemaritiman yang menjadi ilmu alat bagi perluasan dakwah Islam.
Menuju Kolaborasi Riset
Tiga lembaga yang berkumpul di hari itu, sepakat mengenai pentingnya riset ilmiah serta publikasi yang konsisten sebagai media edukasi bagi masyarakat mengenai identitas Islamisasi di kepulauan ini. Melihat antusiasme masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya pemahaman terhadap sejarah, setidaknya yang tersalurkan melalui tiga lembaga ini melalui ciri khas publikasinya masing-masing, kami merancang agar diadakan kolaborasi riset yang mengacu pada standar ilmiah namun tetap disajikan secara populer dengan konsisten.
Kolaborasi ini menjadi suatu yang niscaya, sebab hal ini adalah kerja besar dalam membangun kembali peradaban Islam berlandaskan ilmu yang menjadi harapan kita semua. Di sisi yang lain, kelemahan serta keterbatasan di internal umat menjadikan kita menyadari bahwa kolaborasi adalah jalan terbaik agar cita-cita besar ini terwujud dengan baik.
Silaturahim dan diskusi strategis ini, ditutup dengan foto bersama dan saling bertukar karya sebagai cinderamata. Semoga ini menjadi langkah yang baik mengawali kerjasama keumatan demi peningkatan kualitas dakwah di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Āmīn.


Reportase oleh Fakhri Nurzaman – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)






