Masjid Salman ITB di Jalan Ganesha No 7 Bandung oleh Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja (Rektor ITB periode 1969 – 1976) disebut sebagai “laboratorium kerohanian” yang harus berfungsi setiap hari untuk dapat memberi perimbangan kepada laboratorium lainnya.

Masjid kampus yang mulai dibangun sejak dekade 1960-an itu lahir atas prakarsa aktivis kampus ITB, dewan mahasiswa dan beberapa staf pengajar, di antaranya T.M. Soelaiman, Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim, Ahmad Noe’man, Ahmad Sadali, Adjat Sudrajat, dan beberapa nama lainnya. Mereka tidak kehabisan akal kendati Rektor ITB pada waktu itu tidak mengizinkan pembangunan masjid di lingkungan kampus. T.M. Soelaiman, Ahmad Noe’man, dan dua orang kawannya berinisiatif datang ke Istana Negara untuk meminta persetujuan Presiden Soekarno. Mereka juga mengundang Jenderal Abdul Haris Nasution dan Alamsjah Ratu Perwiranegara shalat Jumat di aula ITB dalam rangka menggalang dukungan untuk pembangunan masjid.

Jika diperhatikan arsitekturnya, Masjid Salman ITB menampilkan karakter yang unik dan beda dibanding masjid lainnya. Nama Masjid Salman merupakan pemberian Presiden Soekarno, terilhami nama sahabat Rasulullah SAW dari Persia, Salman Al-Farisi, perancang parit ketika Perang Khandaq. Adapun rancangan gambar Masjid Salman dibuat oleh Ir. Ahmad Noe’man. Gambar arsitek itu ditanda-tangani oleh Bung Karno. Pada saat diskusi dengan Presiden Soekarno di Istana Negara, mengapa tidak pakai kubah? Ahmad Noe’man menjawab dengan logika Soekarno bahwa dalam Islam yang penting adalah ”api-nya”. Masjid sah-sah saja tidak berkubah. Soekarno setuju, sehingga dimulailah pembangunan Masjid Salman ITB.

Masjid Salman Al Farisi. Sumber foto: Salmanitb.com

Masjid Salman Al Farisi. Sumber foto: Salmanitb.com

Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan perguruan tinggi negeri pertama di Indonesia yang memiliki masjid, disusul kemudian Masjid Arief Rahman Hakim Kampus UI Salemba Jakarta. Kini hampir semua perguruan tinggi negeri dan swasta telah punya masjid kampus atau minimal mushalla.

Masjid Salman ITB telah berjasa membina dan melahirkan para teknokrat muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta membentuk kader-kader pejuang umat yang tangguh. Selain tempat shalat berjamaah dan shalat tarawih bulan Ramadhan, di Masjid Salman ITB digelar kajian Islam, Latihan Mujahid Dakwah oleh Bang “Imad (Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim) yang paling diminati mahasiswa di masa itu, dan kegiatan lainnya. Sesuai harapan para pendirinya Masjid Salman ITB adalah untuk melahirkan sebanyak mungkin sarjana yang beriman kuat.

Masjid kampus bersejarah itu pertama kali digunakan untuk shalat Jumat pada tanggal 5 Mei 1972, sebelumnya dibuka secara resmi oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Doddy A. Tisna Amidjaja. Khatib Jumat pertama dalam sejarah Masjid Salman ITB adalah Prof. T.M. Soelaiman. Imam, Abdul Latif Aziz dan Muazzin, Endang Saifuddin Anshari. Kepindahan kegiatan utama perkuliahan ITB ke Jatinangor diharapkan tidak membawa kemunduran yang signifikan terhadap kegiatan dakwah dan cahaya Masjid Salman ITB yang bersejarah itu.

Masjid Salman ITB tak dapat dipisahkan dari sosok arsitek handal Ahmad Noe’man. Dialah yang merancang bangunan masjid itu. Penulis pertama kali bertemu dengan Bapak Ahmad Noe’man juga di Masjid Salman ITB sehabis shalat Jumat. Kegiatan keislaman di masjid berlantai kayu yang kokoh dengan menaranya, tanpa kubah dan tanpa tiang penyangga atau soko guru itu menjadi “magnet” bagi anak muda, baik mahasiswa yang menuntut ilmu di ITB maupun dari luar kampus ITB yang hatinya dekat dengan masjid dan tertarik dengan kegiatan dakwah kampus.

Dari ciri arsitekturnya Masjid Salman ITB tergolong unik karena tanpa kubah dan tak ada tiang penyangga. Ini yang pertama di tanah air. Saat Ahmad Noe’man merancangnya, sempat mengundang silang pendapat karena mengubah pola dan tradisi bangunan masjid yang selalu pakai kubah. Di sisi lain ditonjolkan garis-garis vertikal pada bangunannya yang menggambarkan hubungan antara manusia dan Tuhan, dan garis-garis horizontal yang dimaknai sebagai hubungan antara manusia dengan sesamanya. Begitulah filosofi yang ada dalam fikiran Ahmad Noe’man ketika membikin gambarnya. Salah satu prinsip Ahmad Noe’man ialah ijtihad, yakni melakukan terobosan berdasarkan ilmu sesuai perintah Al Quran dan meninggalkan taklid. Ia merombak tradisi tua arsitektur masjid di Indonesia dan beberapa negara lain yang umumnya pakai kubah.

Achmad Nieman, Arsitek seribu masjid Sumber foto: Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF) 16-05-2014

Achmad Nieman, Arsitek seribu masjid
Sumber foto: Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF)
16-05-2014

Ahmad Noe’man, arsitek dan salah seorang pendiri Masjid Masjid Salman ITB diakui sebagai maestro dan inspirator pembangunan masjid modern. Karya-karya arsiteknya telah masuk dalam buku rancangan masjid-masjid di seluruh dunia. Dalam ide beliau, bangunan masjid tidak kehilangan nilai estetika atau keindahannya meski tanpa kubah. Menurutnya, kubah itu berat karena harus ditopang tiang penyangga. Kubah masjid bukan sebuah keharusan. Tiang penyangga di dalam masjid juga menghalangi barisan shaf shalat, sedangkan shaf seharusnya tidak boleh terputus. Karena itu, sebagian masjid yang dirancang Ahmad Noe’man tidak memakai kubah dan tanpa tiang penyangga.

Tokoh muslim yang santun dan rendah hati itu berpulang keharibaan Allah SWT pada hari Senin 4 April 2016 di Bandung dalam usia 90 tahun. Dilahirkan di Garut Jawa Barat 10 Oktober 1925. Ayahnya H. Muhammad Noe’man seorang saudagar dan pelopor organisasi Muhammadiyah di Garut. Ahmad Noe’mam dibesarkan di lingkungan keluarga Muhammadiyah yang mencintai ilmu dan amal untuk kemajuan agama dan dunia.

Semasa hidupnya salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia itu menjadi dosen luar biasa Interior Seni Rupa ITB, di samping profesi sebagai arsitek. Bangunan masjid hasil rancangan Ahmad Noe’man memberi makna bagi perkembangan dunia arsitek pada umumnya dan arsitektur masjid di nusantara khususnya. Karya Ahmad Noe’man bukan hanya dinikmati oleh umat Islam di dalam negeri, tapi mengharumkan nama bangsa Indonesia di manca negara. Karya beliau dikagumi di lintas benua.

Selain Masjid Salman ITB, arsitektur masjid karya monumental Ahmad Noe’man, antara lain: Masjid Istiqlal Indonesia di Sarajevo Bosnia (Masjid Muhammad Soeharto), Masjid Agung At-Tin Jakarta, Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki Jakarta (kini sudah dirobohkan), Masjid Al-Markaz Al-Islami M.Jusuf di Makassar, Masjid Islamic Center Jakarta, Masjid Agung Al-Akbar Surabaya, Masjid Lambung Mangkurat Banjarmasin, Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan, Masjid di Amterdam Belanda, Masjid Asy-Syifa Fakultas Kedokteran Unpad Bandung, Masjid PT. Pupuk Kujang, dan lain-lain. Anggota Persatuan Insinyur Indonesia ini juga merancang renovasi mimbar Masjid Al-Aqsha di Palestina tahun 1993. Ia sendiri tak pernah menghitung masjid besar maupun kecil hasil karyanya sehingga dijuluki “Arsitek Seribu Masjid”. Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pelopor HMI Cabang Bandung, Ahmad Noe’man konon ikut merancang logo HMI.

Melahirkan karya arsitektur, bagi beliau bukan sekadar berfikir bagaimana menghasilkan sebuah karya rancangan agar terbangun. Tapi lebih jauh memikirkan bagaimana berkarya yang diniatkan untuk Allah, tanpa harus mengesampingkan kebutuhan dan keinginan klien.

Ahmad Noe’man memegang prinsip akidah Islam dalam menjalankan profesi arsiteknya. Ketika ada sebuah masjid yang hendak dibangun dengan menanam kepala kerbau, ia memilih mundur walaupun masjid itu dibangun oleh pejabat negara. Ia berupaya mengejawantahkan nilai-nilai islami dalam setiap rancangan bangunan yang dibuatnya, apalagi pembangunan rumah Allah yaitu masjid. Selain menggambar bangunan, Ahmad Noe’man memiliki hobi melukis kaligrafi dan senang mendengarkan suara mengaji Al Quran. Penghargaan sebagai penulis Khat Kufi dari Istambul Turki diperolehnya beberapa tahun lampau.

       Dalam perjalanan hidupnya lulusan SMA Muhammadiyah Yogyakarta itu menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung). Sempat direkrut menjadi perwira TNI dengan pangkat Letnan Dua dalam tugas membela negara pasca proklamasi kemerdekaan. Ia mengundurkan diri sebagai tentara karena ingin kembali ke kampus menuntut ilmu di ITB pada jurusan Teknik Arsitek.

Beliau dipercaya menjadi salah satu Ketua/Pembina Yayasan Universitas Islam Bandung (Unisba). Dalam suatu kesempatan Ahmad Noe’man mengutarakan, jangan terjadi pemborosan dalam membangun masjid. Ia kurang setuju masjid yang terlalu mewah.  Menurutnya, akan lebih bermanfaat jika uang untuk itu disalurkan buat keperluan lain yang bermanfaat bagi umat. Baginya, setiap masjid yang dibuat gambar arsiteknya, masjid besar ataupun kecil, yang penting semoga bisa mengalirkan manfaat bagi umat.

Pria yang dikaruniai 4 orang anak dari pernikahannya dengan Hj. Kurniasih itu menekuni profesi arsitek dengan lurus, bersih, dan profesional. Ia tidak memanfaatkan keahlian dan nama besarnya untuk memperkaya diri sendiri atau mengejar kedudukan dan jabatan. Suatu hal yang mengesankan dari almarhum, perusahaan jasa konsultan arsitek yang didirikannya tidak tertarik ikut-ikut tender proyek pemerintah. Persaingan tidak sehat, apalagi menutup rezeki orang, sangat dihindarinya, “Kami ingin agar pekerjaan kami lebih berkah” ujarnya dalam sebuah wawancara media.

Tokoh berintegritas dan memiliki jiwa dakwah itu adalah sosok panutan yang langka. Sepanjang hidupnya ia memberi kontribusi terhadap dakwah dan kerja mengharumkan Islam. Salah satu buku yang disusunnya sebagai akademisi dan sekaligus praktisi berjudul The Mosque as A Community Development Centre.

Ahmad Noe’man memperoleh penghargaan Satyalencana Kebudayaaan dari Pemerintah. Arsitek kenamaan itu telah pergi, tetapi amal dan karyanya takkan hilang selamanya. Menurut hemat penulis, Ahmad Noe’man layak memperoleh Bintang Mahaputra dari negara. Adalah kewajiban pemerintah menganugerahkan tanda jasa yang layak kepada putra terbaik bangsa yang telah memberikan darma-bakti dan karya luar biasa yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sepanjang hidupnya beliau telah menaburkan idealisme dan kepeloporan yang menjadi teladan bagi anak-anak bangsa untuk berkarya. Keteladanan yang ditinggalkan Ahmad Noe’man diharapkan menginspirasi generasi muda di tengah resesi moral leadership dan gejala pudarnya harga diri bangsa belakangan ini. Seperti dituturkan putranya Ir. Fauzan Noe’man yang mengikuti jejak ayahandanya sebagai arsitek, almarhum berpesan kepada anak-anaknya agar menjadi Muslim yang utuh.

Saya mengutip kalimat doa almarhum yang diucapkan dalam Khutbah Iedul Fitri 1410 H – 1990 M di Institut Teknologi Bandung, “Jadikanlah para pemimpin, dosen, karyawan dan mahasiswanya menjadi manusia-manusia yang makin dekat pada-Mu lewat ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang mereka pelajari. Jadikanlah mereka ulil albab, seperti yang Engkau sendiri sebut di dalam Al Quran itu. Sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang mampu mensyukuri nikmat dan anugerah yang Engkau berikan.”

Dalam khutbah Ied tahun 1990 yang berjudul “Menata Masa Depan”, Ahmad Noe’man berpesan agar umat Islam memiliki optimisme di abad yang penuh tantangan ini. Pesan beliau, “Sebagai kaum Muslimin, kita memang meyakini bahwa apa dan bagaimana pun yang akan terjadi pada masa depan, pada akhirnya yang akan jadi penentunya adalah Allah SWT. Akan tetapi orientasi pandangan masa depan kita, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Al Quran: wa lal aakhiratu khairul laka mina uulaa, jadikan masa depanmu lebih baik dari kehidupanmu kini, membuat kita, tidak bisa tidak, harus mampu mengantisipasi berbagai hal dan kecenderungan masa datang.”

Semoga amal shaleh, dakwah, dan goresan pena almarhum Ir. Ahmad Noe’man dibalas Allah SWT dengan Surga dan keridhaan-Nya. Selamat jalan arsitek pejuang!

Oleh:  M.Fuad Nasar – Konsultan The Fatwa Center

 

Daftar Pustaka:

 

Asshiddieqy, Jimly dkk, penyunting, Bang ‘Imad, Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya, Jakarta: Gema Insani Press, 2002.

D.A. Tisna Amidjaja, Iman, Ilmu dan Amal, dihimpun dan disusun oleh H. Endang Saifuddin Anshari, Jakarta: Rajawali Press, 1983.

Noe’man, Ahmad, Menata Masa Depan, Khutbah Iedul Fitri 1410 H – 1990 M di Institut Teknologi Bandung.

T.M. Soelaiman, Berkawan Matahari, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2003.