Pertemuan Prambanan membuka jalan bagi terciptanya pemberontakan melawan pemerintah kolonial di Jawa. Berbeda dengan di Batavia, pemberontakan di Banten berdiri diatas Jihad fi Sablilillah. Aktornya pun bukan kamerad, tetapi ulama.

 

Perlawanan di Batavia

PKI, selain cabang Yogyakarta, Madiun, dan Surakarta, semua menyatakan persetujuannya. Instruksi terakhir untuk memberontak dikirim dari Cirebon tanggal 9-12 November 1926. Sebuah instruksi yang dikirim ke Pekalongan bocor. Bocornya instruksi dari Abdulmuntalib tersebut berhasil mencegah beberapa rencana pemberontakan di Jawa Tengah. Pekalongan, Tegal, Cirebon, dan Temanggung tak terjadi apa pun. Begitu pula di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Madiun dan Magelang. Di Kediri dan Banyumas, meski ada persiapan, namun pemimpin setempat ditangkap.[1]

Di Batavia, 12 November 1926, menjelang tengah malam segerombolan orang muncul dari Karet menuju Jakarta Kota. Mereka menyerang penjaga, dan menyerbu penjara Glodok. Terjadi perkelahian dan tembak-menembak. Namun penyerbuan tersebut gagal. Diwaktu yang sama 300-an orang juga menguasai kantor telepon. Namun tak berlangsung lama. Menjelang pagi mereka berhasil dilumpuhkan. Di Meester-Cornelis (Jatinegara) sabuah truk yang sarat dengan orang bergerak menuju bekasi. Mereka berpakaian putih-putih namun berhasil ditangkap.[2] Di Tangerang juga muncul aksi pemberontakan, namun tak berbuah banyak. Aksi-aksi tersebut dapat dilumpuhkan aparat kolonial. Menurut Ruth McVey saat pagi hari keadaan sudah dikuasai pemerintah, sedangkan menurut Busjarie Latif yang menulis sejarah PKI, aksi tersebut berlangsung hingga tanggal 14 November. Bagaimana pun, pemberontakan di Batavia, tak mampu melumpuhkan pemerintah kolonial. Namun di Banten, situasi yang muncul berbeda.[3]

Gambar 2.1 Asisten residen mengunjungi kantor pos yang dirusak saat pemberontakan di Batavia. Sumber foto: Surat kabar Leeuwarder Nieuwsblad 17 Desember 1926

Gambar 2.1 Asisten residen mengunjungi kantor pos yang dirusak saat pemberontakan di Batavia. Sumber foto: Surat kabar Leeuwarder Nieuwsblad 17 Desember 1926

 

Langit Merah di Atas Banten

Pemberontakan PKI di Banten memiliki ceritanya sendiri. Situasinya sangat kontras dengan maraknya gerakan kiri seperti di Surakarta atau Semarang. Di Banten, masyarakatnya cukup berjarak dari hiruk pikuk gerakan politik. Banten juga tak tersentuh hiruk pikuk tumbuhnya industri dan perdagangan yang besar. Bahkan maraknya industri gula juga tak menyentuh masyarakat di sana. Pola hidup agraris masih melekat dengan masyarakat Banten pada saat itu.

Masyarakat Banten selain kebanyakan adalah petani, dan tak seperti daerah lain di Pulau Jawa, para petani di Banten umumnya adalah pemilik dari lahan yang mereka garap.[4] Mereka hidup dalam lingkungan yang relijius. Islam menjadi agama yang dipeluk dengan amat erat oleh masyarakat di sana. Oleh sebab itu pola kepemimpinan masyarakat Banten masih bergantung pada ulama setempat. Para ulama-lah yang mempengaruhi kehidupan politik di sana. Satu kelompok lain yang berpengaruh dalam masyarakat adalah para jawara. Selain ulama dan jawara, pengaruh politik masyarakat Banten sedikit-sedikit juga dibawa oleh orang-orang Banten yang hijrah keluar dan menjadi buruh migran. Melalui mereka pula, PKI menyebarkan pengaruhnya di wilayah Banten.[5]

Meski pernah ada beberapa orang kiri yang tinggal di Banten, seperti J.C Stam dan G. J. van Munster (anggota PKI), namun mereka tampaknya tak berhubungan dengan masyarakat sekitar (untuk menyebarkan gagasannya). Sebaliknya, gerakan kiri di Banten dimulai dengan datangnya kembali Tubagus Alipan ke Banten pada tahun 1925, setelah ia bekerja di Temanggung sebagai buruh percetakan di sana. Di Temanggung, Tubagus Alipan ikut dalam serikat buruh percetakan dan bergabung dengan PKI. Ia kemudian diminta Darsono untuk mengembangkan partai di Banten. Di Banten, ia datang bersama Puradisastra, yang nantinya menjadi pemimpin PKI di sana.[6]

Nama lain yang berpengaruh dalam bangkitnya gerakan kiri di Banten adalah Achmad Basaif. Lahir dari keluarga keturunan arab di Serang pada tahun 1903, Bahssaif memiliki latar belakang pendidikan Islam di Al-Irsyad. Tak heran ia lancar berbahasa arab dan memiliki pengetahuan tentang Islam yang memadai.[7] Hal ini kelak amat bermanfaat baginya dalam menyebarkan komunisme di Banten.

Hadirnya komunisme di Banten, terutama atas prakarsa Basaif, tak lepas dari situasi politik saat itu. Tahun 1925, Sarekat Islam mengalami kemunduran yang signifikan di Banten. Sarekat Islam di sana sesungguhnya bukanlah Sarekat Islam yang progresif seperti di Surakarta, Semarang atau Surabaya. SI di Banten sejak awal dipimpin oleh Hasan Djajadiningrat, seorang intelektual didikan Belanda dan dari keluarga bangsawan. Hasan Djajadiningrat bukanlah tokoh yang radikal. Bahkan sejak wafatnya tahun 1919, SI di Banten terus mengalami kemunduran. Ia kehilangan pengaruhnya. Vakumnya pengaruh ini diisi oleh PKI. Melalui Sarekat Rakyat, PKI terus menyebarkan pengaruhnya di masyarakat Banten.

Di lain sisi, kedudukan ulama di masyarakat oleh pemerintah kolonial digeser oleh para penghulu yang diangkat oleh pemerintah kolonial. Hal ini semakin menimbulkan kebencian para ulama. Maka ketika PKI datang, PKI bukan menawarkan filsafat marxisme yang rumit bagi awam itu, tetapi ide-ide perlawanan atas penjajahan, penolakan terhadap pajak yang memberatkan dan kebencian terhadap pemerintahan kafir. Isu sehari-hari ini yang dihidangkan oleh para aktivis PKI.[8]

Isu seperti ini jelas menarik minat para ulama setempat. Maka, ulama menjadi pusat dari pergerakan PKI di Banten. Sesungguhnya pemimpin PKI belajar dari kesalahan mereka, ketika pertama kali menyebarkan ide komunisme di Banten, mereka justru menolak agama. Namun cara seperti ini tak berhasil. Maka ketika agama dijadikan propaganda oleh PKI, PKI sangat diuntungkan dengan bergabungnya para kiyai terutama kiyai berpengaruh Tubagus Achmad Chatib.[9]

Gambar 2.2 Rangkas Bitung masa kolonial. Sumber foto: koleksi online Tropenmuseum

Gambar 2.2 Rangkas Bitung masa kolonial. Sumber foto: koleksi online Tropenmuseum

 

Tubagus Achmad Chatib adalah kiyai sekaligus mantan presiden Sarekat Islam di Labuan dan menantu dari KH Asnawi dari Caringin, ulama paling berpengaruh di Banten saat itu. Tubagus Achmad Chatib membawa Tubagus Emed, putra dari KH Asnawi serta pengikutnya yang banyak itu bergabung dengan PKI. Hal ini juga diikuti oleh kiyai-kiyai lain di Banten seperti Kiyai Moekri, Kiyai Madoen dan lainnya. Maka selain berbondong-bondongnya pengikut para kiyai bergabung dengan PKI, fasilitas seperti langgar, masjid dan pesantren juga dijadikan tempat berkumpul dan rapat para aktivis PKI.

Proses pendekatan PKI di Banten memang amat menarik bagi para ulama di sana. Hal itu dapat kita lihat dari kisah H. Emed yang melukiskan dialog antara Puradisastra dengan Tubagus Achmad Chatib. Puradisastra ketika ditanya Achmad Chatib Apa tujuan PKI? Puradisastra menjawab saling tolong menolong dalam urusan dunia dan agama. Maka Achmad Chatib menjawab jika memang tujuan PKI adalah melindungi agama, maka ia sepakat dengan mereka.[10] Menariknya Puradisastra sendiri bukanlah figur yang dikenal taat. Ia misalnya, pernah diketahui berada di kedai ketika bulan puasa.[11]

Proses bergabungnya masyarakat menjadi anggota PKI (yang seringkali disebut ‘menjadi komunis’) sesungguhnya semudah mendukung PKI karena semata dijanjikan pembebasan dari pajak dan penurunan harga bahan pokok.[12] Bukan soal konsep pertentangan kelas apalagi materialisme historis. Meski demikian, tidak semua kiyai sepakat dengan PKI. Salah satu kiyai yang melihat komunisme tidak sejalan dengan Islam adalah Kiyai Jasin dari Menes. Ia bahkan sempat mengundang Tjokroaminoto berbicara di Labuan pada February 1925. Namun suaranya tak banyak didengar pada saat itu. Kita dapat menduga karena masyarakat terpikat dengan agitasi PKI yang penuh dengan janji-janji yang membebaskan itu. Tapi ada pula yang bergabung karena tekanan sosial, karena bagi yang tak bergabung berarti dapat dicap sebagai kaki tangan Belanda.[13]

Apapun alasan masyarakat bergabung, yang pasti seiring dengan agitasi yang terus meningkat, ekspektasi masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial semakin besar. Rencana pemberontakan yang dicetuskan Pertemuan Prambanan sampai di Banten pada awal 1926. Rencana itu tak dijelaskan secara mendetil, malah bukan rencana yang ketat dan terorganisir dengan baik. Pemberontakan lebih diterima sebagai sebuah perang sabil melawan pemerintah kafir. Seperti yang diucapkan Tubagus Achmad Chatib, “..karena kain kotor mesti dibersihkan dengan sabun, demi dunia yang kotor mesti dibersihkan dengan darah.”Achmad Chatib memang menjadi pemimpin pergerakan PKI menuju revolusi di Banten. Bahkan ia diberi gelar Presiden Agama PKI seksi Banten.[14]

Jalan menuju pemberontakan semakin ditempuh, terlebih setelah pemerintah kolonial berlaku semakin keras dengan menangkap pemimpin PKI di berbagai daerah. PKI kemudian bergerak dibawah tanah. Para pemimpin PKI Banten yang sekular ditangkapi. Maka para elit PKI yang berbasis ulama mulai bergerak. Rapat digelar bulan Mei. Pada rapat itu H. Achmad Chatib membuka rapat dengan berdoa. Kemudian mengutip hadist tentang jihad. Ia menekankan bahwa tak ada jalan bagi PKI kecuali dengan berjihad.

Ditengah minimnya kordinasi dengan pusat pergerakan PKI yang dipindah ke Bandung, penangkapan para aktivisnya dan tekanan massa untuk segera memberontak, rintangan terus bertambah. Beberapa hari sebelum pemberontakan, Tubagus Achmad Chatib ditangkap tanggal 23 Oktober 1926. Di Serang, polisi melacak keberadaan gerakan bawah tanah PKI. Di Labuan, beberapa penangkapan dilakukan.[15]

Haji Hasan yang baru saja kembali dari pertemuan dengan PKI Batavia, memberikan instruksi terakhir di Serang dan Pandeglang. Melihat Tubagus Emed yang semakin khawatir dirinya akan ditangkap, Haji Hasan menunjuk Haji Saleh sebagai pemimpin pemberontakan. Labuan, Serang, dan Pandeglang adalah wilayah pertama yang akan ditaklukkan. Kemudian para pemberontak akan dibawa ke Rangkasbitung dengan kereta. Semua priyayi dan orang Eropa akan ditangkap. Yang menolak akan dibunuh. Setelah Banten dikuasai, mereka akan berkumpul di Caringin, tempat Kiyai Asnawi, ulama paling berpengaruh untuk kemudian menunggu instruksi dari PKI Batavia.

12 November 1926, menjelang pemberontakan, di Desa Bama, digelar pertemuan yang dihadiri massa dan dipimpin oleh Kiyai Moekri dan Kiyai Ilyas. Pertemuan itu juga dilakukan ‘Sembahyang Perang.’ Kain putih dilaporkan banyak terjual. Banyak orang berpuasa. Di Desa Pasirlama, dekat Caringin, di hadapan 700 orang, Haji Moestapha memberikan penjelasan untuk menyerang aissten wedana Cening. Sementara di Pandeglang dan Serang massa juga berkumpul.[16]

Tengah malam pemberontakan dimulai. Di Labuan, Asisten Wedana, Mas Wiriadikoesoemah dan keluargaya ditangkap. Seorang polisi yang menjaga tewas dan dua lainnya terluka. Sebagian dari kelompok massa ini kemudian menyasar jalanan Labuan mencari polisi. Tiga orang polisi tewas, sedangkan Mas Mohammed Dahlan, seorang pegawai yang menjadi informan polisi terluka serius. Di Menes, pemberontakan melibatkan 300-400 orang. Wedana Raden Partadinata dan pengawas rel lokal, Benjamin dibunuh. Benjamin dibunuh kemudian dimutilasi. Di Desa Cening, dianara Menes dan Labuan, seorang polisi dan Wedana ditembak dan terluka. Namun pemberontakan di Labuan ini menemui kegagalan ketika mereka terlambat memutuskan sambungan telepon. otoritas di Batavia kemudian mengirimkan 100 tentara dipimpin Kapten Becking dan menuju Banten. Pasukan ini kemudian berhasil membebaskan Asisten Wedana, Mas Wiriadikoesoemah.[17]

Gambar 2.3 Salah satu pemberitaan di Haagsche Courant tentang pemberontakan di Banten. Sumber foto Haagsche Courant, 20 November 1926

Gambar 2.3 Salah satu pemberitaan di Haagsche Courant tentang pemberontakan di Banten. Sumber foto Haagsche Courant, 20 November 1926

 

Gerakan pemberontakan kemudian berpusat di Desa Bama, pinggir Labuan. 14 November, ratusan orang berkumpul dpimpin oleh Kiyai Moekri. Ia menyerukan untuk menyerang orang Belanda di Labuan. Upaya Kiyai Moekri yang mengajak Tubagus Emed terbentur penolakan Kiyai Asnawi, yang tak lain ayah dari Tubagus Emed. Meski begitu mereka tetap menyerang ke Labuan. Upaya siang hari gagal karena dihadang patroli. Malamnya, upaya menyerang kembali gagal disertai kematian beberapa pemimpin mereka. Gelombang bantuan dari pusat pemerintahan kolonial menumpas sisa gerakan tersebut.

Di Petir, Serang, yang menjadi basis pendukung PKI perlawnan tak berlangsung lama. 13 November, massa dipimpin Kiyai Emed, Haji Soeeb dan lainnya mencoba menyerang asisten Wedana Petir. Namun Patroli militer Belanda berhasil melumpuhkan gerakan itu. Pada 17 November 1926 seluruh gerakan sudah habis. Hingga Desember 1926, sekitar 1300 orang ditangkap. 99 orang dibuang ke Digul, 27 diantaranya Haji dan 11 diantaranya Kiyai.[18]

 

Gambar 2.4 Penangkapan orang-orang yang dituduh terlibat pemberontakan di Banten. Sumber foto: De Telegraaf, 14 Desember 1926

Gambar 2.4 Penangkapan orang-orang yang dituduh terlibat pemberontakan di Banten. Sumber foto: De Telegraaf, 14 Desember 1926

 

Pemberontakan terhadap pemerintah kolonial di Banten, meski ‘berbendera’ PKI namun lebih kental nuansa jihad. Lebih kental seruan anti pemerintah kafir, ketimbang perlawanan kelas. PKI meski menganut paham netral agama, nyatanya tak bisa menolak godaan untuk memakai agama sebagai motivasi perlawanan masyarakat Banten. Hal yang sama juga kita akan temui di Sumatera Barat, tempat terjadinya pemberontakan di tahun1927, yang juga didominasi oleh semangat perlawanan berlandaskan agama.

Bersambung ke Kaum Merah di Ranah Minang (1)

Kembali ke Lahirnya Komunisme di Indonesia bagian 5

 

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

Tulisan ini kerjasama Jejak Islam untuk Bangsa dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

[1]McVey, Ruth. 2010. Kemunculan Komunisme di Indonesia. Depok: Komunitas Bambu dan Latif, Busjarie. 2014. Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965). Bandung: Ultimus

[2] Surat kabar Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch-Indie tanggal 15 November 1926.

[3] McVey, Ruth. 2010

[4] Benda, Harry J. dan Ruth Mc T. McVey. 1969. The Communist Uprisisngs of 1926-1927 in Indonesia: Key Documents. Ithaca: Cornell University

[5] Williams, Michael C. 1982. Sickle and Cresent: The Communist Revolt of 1926 in Banten dalam Seri Monograf no. 61, Ithaca: Cornell University.

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Williams, Michael C. 1982 dan Benda, Harry J. dan Ruth Mc T. McVey. 1969.

[9] Williams, Michael C. 1982.

[10] Ibid

[11] Benda, Harry J. dan Ruth Mc T. McVey. 1969

[12] Ibid

[13] Williams, Michael C. 1982.

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Ibid