Semilir angin berhembus sepanjang kaki Gunung Singgalang yang biru mejulang. Sawah-sawah berjejer rapi, hijaunya menghampar, kerbau-kerbau dan para petani seakan menyemut dari kejauhan sana. Lembah Ngarai mengular di seberang Bukit Tinggi di hadapan dengan panorama yang menghijau. Rumah-rumah berkerumun, berkumpul seolah sedang bercengkrama bersama.

 

Rumah dengan atap khas Minangkabau berjejer, berkerumun dalam jangkauan 1 kilometer, sisanya deretan sawah berjejer teratur di dataran tinggi yang maha luas itu. Kota Gedang, sebuah kampung di sudut Minangkabau, Sumatera Barat, sedang mengisahkan keindahan panoramanya ketika kalender menunjuk tahun 1890.

 

“Den Bagus…Gus.. ayo pakai bajunya dulu,” ucap seorang wanita asal Jawa itu sambil merapikan baju yang digunakan seorang bocah berusia 6 tahun. Di dalam rumah yang tanduknya menjulang itu, seorang pelayan dengan sigap merapikan pakaian Masyudul Haq, seorang bocah, bersama ayahnya, Sultan Mohammad Salim besiap pergi ke Riau.

 

Sultan Mohammad Salim baru saja diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda menjadi hoofdjaksa pada Landraad (Pengadilan Negeri zaman Belanda) di Riau harus segera bertugas. Kedudukan sebagai hoofdjaksa adalah derajat yang sangat istimewa pada saat itu bagi seorang pribumi. Pada saat itu juga, Masyudul Haq kecil mendapat gelar kehormatan dari Belanda ‘gelijkgesteld’ atau sama derajatnya dengan bangsa Eropa.

 

Masyudul Haq, bocah yang karena saking seringnya dipanggil ‘Den Bagus’ oleh Ibu Pelayannya, kemudian orang-orang mengenalnya dengan panggilan ‘ Gus’. Orang-orang Belanda keheranan dengan panggilan Gus yang tak sesuai lidahnya, akhirnya mereka menerka panggilan bocah kesayangan Mr. Moh Salim dengan sebutan ‘August’ (Agustus). Kelak, Masyudul Haq dikenal dengan nama Agus putra Salim, Agus Salim.

 

Wajah Agus Salim sangat berbinar ketika ia diajak ayahnya untuk sekolah di ELS (Europeese Lagere School) di Riau. Kecerdasannya memang sudah terlihat sejak kecil, ketika ia sering bertemu orang-orang Belanda bersama ayahnya, dan Agus Salim sering menerka ucapan-ucapan orang Belanda dan berusaha menirukannya. Dengan kecerdasannya, Agus Salim bersiap bersaing di sekolah bersama Bule-bule lainya.

 

Agus Salim, bisa dibilang bocah pertama yang sekolah di sekolah zaman Belanda pada masa itu, ketika kaum pribumi tak dapat masuk sekolah Belanda. Karenanya, dia berusaha menunjukkan bahwa dirinya, orang pribumi mampu bersaing dengan orang Eropa. Tak ada rasa minder pada dirinya, tak ada rasa rendah diri, tak ada rasa gentar ketika bocah kecil itu duduk bersama bocah-bocah berambut pirang lainnya.

 

ELS, sekolah setingkat SD ini benar-benar membuat Agus Salim banyak belajar. Mr. Brouwer, seorang guru Agus Salim melihat kecerdasan Agus Salim setelah menguasai Bahasa Belanda diusia kurang dari 10 tahun, meminta kepada ayahnya, Mr. Mohammad Salim agar putranya dapat tinggal bersamanya.

 

Mr. Mohammad Salim, melihat ajakan Mr. Brouwer sangat baik, namun Pak Salim senior hanya mengizinkan Salim juniornya hanya sekali-kali saja mengunjungi gurunya. Akhirnya, pulan sekolah, sesekali Agus Salim berkunjung ke rumah gurunya, untuk berdiskusi, diajarkan bahasa Belanda, juga budayanya, dan ketika senja sampai penghujungnya, Agus Salim pulang bersama ayahnya.

 

Di sekolah, Agus Salim termasuk murid yang berprestasi. Belajarnya benar-benar tekun. Di bolak-balik halaman demi halaman, dihapalkan pelajaran saat ia di Sekolah. Di sekolah, Agus Salim sangat cemerlang. Namun, ketika pulang ke rumah, banyak tugas menanti. Terkadang Salim kecil diminta menyapu, mengepel, membelikan bahan makanan, hingga bejibun tugas lainnya.

 

Belum lagi, kalau kawan-kawannya datang mengajaknya bertualang di hamparan sawah dan hutan. Karenanya, agar lebih tenang dan serius belajar, Agus Salim selalu menghindar dari gangguan seperti itu. Usai makan siang, diam-diam Agus Salim naik ke plafon rumah, ruang antara atap dan langit-langit yang berisi struktur-struktur kayu. Ruang segitiga itu, entah bagaimana caranya menjadi tempat favorit Agus Salim.

 

Dalam gelap, Agus Salim masuk dengan hati-hati ke bawah atap. Di pandanganya susunan genteng di antara reng-reng yang berderet rapi. Di bukanya satu dua buah genteng, untuk memasukkan cahanya. Larik cahaya itu menyelusup, menerabas dua lubang genteng, membelai buku-buku pelajaran Salim. Detik itu, Salim tak dapat diganggu, belajar dengan serius.

 

Ashar menjelang, Agus Salim kembali menutup genteng, mengembalikan ke tempatnya, dan bersiap turun diam-diam. Setelah shalat, Gus kecil kembali naik -dan menyelesaikan PR-PRnya sendiri. Setelah selesai tugas sekolahnya, baru Agus Salim turun dan membantu keluarganya, juga bersiap bertualang bersama bocah sejawat. “Hati tak enak, kalau tak belajar lebih dulu,” kata Agus Salim.

 

Suatu hari, Agus Salim pernah terlupa menutup kembali genteng karena ia segera diajak teman bermain di luar. Buru-buru ia turun, karena ajakan menarik temannya. Saat yang sama, setelah Agus Salim pergi, bulir-bulir bening itu menetes dari awan yang muram. Hujan deras membasahi setiap jengkal bumi Riau.

 

Karena terlupa menutup genteng, masuklah air hujan dengna deras lewat celah yang dibuat Agus Salim. Seisi rumah menjadi panik dan heboh, karena air masuk tak berhenti-henti. Basah sudah perabot-perabot di rumah, dicarilah apa penyebab kebocoran, yang kemudian diketahui bahwa Agus Salimlah biang kerok kebocoran di rumah.

 

Agus Salim pulang tanpa rasa bersalah, dan ditanya mengenai masalah genteng. Dengan senyum bocah lugu, Agus Salim hanya menjawab,” Rasailah, makanya jangan suka menyuruh-nyuruh terus sambil belajar.” Usai itu, semua terbahak dan Agus Salim masih tetap melakukan ritualnya, hingga ia menjadi murid terbaik yang kelak melanjutkan pendidikannya ke Hogere Burgerschool (HBS).

(tulisan ini hanya cerita pendek, kilasan peristiwa yang terekam tentang Haji Agus Salim dalam ‘100 tahun Haji Agus Salim’)

oleh : Rizki Lesus