Duka menyelimuti Suriah belakangan ini. Setelah ratusan ribu orang dibunuh secara kejam dan angkuh oleh rezim Bashar Al Assad, kini, suasana di sana semakin mencekam lantaran intervensi militer Rusia. Intervensi yang berdalih memerangi ISIS dan oleh Kepala Gereja Ortodoks Rusia, Patriarch Kirill, disebut pertempuran suci[1] itu, nyatanya telah menewaskan 370 orang di berbagai wilayah Suriah, yang mayoritas korbannya bukan ISIS, melainkan pejuang perlawanan terhadap rezim.[2]

Membayangkannya saja sudah berat, apalagi bahu yang memikul. Semakin menderitanya kondisi Suriah –sampai PBB menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan terbesar abad ini- tentu membutuhkan dukungan dan pembelaan dari negara-negara muslim, terutama Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia. Dan kita yakin negeri ini mampu melakukan itu. Sebab sejarah pernah mencatat, ketika komunis Uni Soviet menyerang Afghanistan, lalu membom umat Islam di Afghanistan, memporak-porandakan pemukiman-pemukiman penduduk, serta membantai penduduk-penduduk sipil, pemerintah Indonesia beserta aktivis Islam, tokoh Islam, dan Ormas Islam membela pejuang Afghanistan.

Kala itu,sebagaimana dituturkan oleh H. Abdullah Ghalib dalam Warta NU, Ketua Presidium Komite Setiakawan Rakyat Indonesia-Afghanistan (KSRIA), Drs. Lukman Harun, menyeru masyarakat Indonesia untuk membantu perjuangan pengungsi Afghanistan secara nyata. Lebih dari itu, lanjutnya, ia menyeru kalangan pemuda Islam untuk meningkatkan rasa solidaritas terhadap perjuangan umat Islam yang sedang diserang tentara Uni Soviet -yang jumlahnya menurut pengamat Barat sekitar 115 ribu orang yang mendukung pemerintah Kabul pro Uni Soviet- di Afghanistan.[3]

Dukungan secara politis kepada pejuang Afghanistan juga diberikan oleh pemerintah Indonesia. “Hal itu tercermin dari penerimaan bersahabat pemimpin negeri ini terhadap dua wakil pejuang Afghanistan di Jakarta bulan Februari 1987,” ungkapnya. [4]

Selama delapan hari di Indonesia, dua pejuang yang bernama Mangal Hussein dan Janbaz Safaraz Mohammad Rasoul itu bertemu dengan Menko Kesra Alamsjah Ratu Prawiranegara, Menteri Agama Munawir Sjadzali, Ketua MPR/DPR Amir Machmud, Dirjen Hubsosbudpenlugri R. Adenan, pimpinan Golkar, dan MUI. Di akhir kunjungannya, Mangal Husein mengungkapkan “terimakasih kepada pemerintah Indonesia dan Presiden Soeharto atas dukungan yang diberikan kepada kaum Mujahidin dalam perjuangannya melawan Uni Soviet. Demikian juga atas sumbangan yang diberikan masyarakat dan pemerintah Indonesia terhadap pengungsi Afghanistan di Pakistan.”[5]

Mangal Hussein (kanan) dan Janbaz Safaraz Mohammad Rasoul (kiri) saat kunjungan ke Jakarta. Sumber foto: Kompas

Mangal Hussein (kanan) dan Janbaz Safaraz Mohammad Rasoul (kiri) saat kunjungan ke Jakarta. Sumber foto: Kompas, Sabtu 7 Februari 1987

Tak ketinggalan, Tokoh Masyumi Mohamad Roem, turut mendukung pejuang Afghanistan lewat Majalah Media Dakwah. “Kami mendukung dengan segala jiwa kami kekuatan-kekuatan di Afghanistan yang melawan agresi Rusia (Uni Soviet-pen), dan mengulangi bahwa ‘untuk seorang pejuang di jalan Allah, tidak ada akhirnya.’”[6]

Hati nurani NU pun tersentuh dan tergerak menyaksikan saudara-saudaranya di Afghanistan dianiaya. Lewat tulisan di Warta NU yang berjudul “Mujahidin Afghanistan: Berjuang Mendobrak Benteng Komunis”, diajaklah umat Islam membantu sesama. “Bagi umat Islam adalah keharusan untuk mengatakan saudara bagi muslim yang lainnya. Dari sudut manapun kita melihat, intervensi Soviet di Afghanistan sebagai salah satu yang mewakili bentuk imperialisme dengan corak yang lebih baru dan modern. Bisa jadi tragedi Afghanistan akan berakhir dengan lenyapnya ummat Islam dan muncul dunia baru, dunia komunisme yang akan mengubur semua kejayaan Islam di Afghanistan. Sementara kita sebagai bagian integral dari dalam solidaritas Islam hanya sampai pada tingkat keterpakuan meliput drama tragis yang menyayat tanpa sedikitpun berbicara dengan apa yang bisa dan harus kita perbuat.

Seharusnya jeritan rakyat Afghanistan bisa lebih jauh menembus dinding ketergopohan program abad modern, minimal di telinga seluruh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia tentunya bisa terdengar lebih keras ketimbang reputasi Live Aids atau perjuangan Argentina di arena World Cup dengan rivalnya dari Jerman Barat. Dan itupun dengan wujud yang lebih kongkrit.”[7]

Dikutuklah rezim komunis Afghanistan dan komunis Uni Soviet, “Bagi pejuang muslim Afghanistan, Najibullah adalah sama saja dengan Karmal, seperti mereka memandang Uni Soviet sebagai wabah komunis yang harus dibasmi. Mereka berupaya mengembalikan citra Islam di bumi Afghanistan seperti semula. Uni Soviet secara perlahan menggali kuburannya sendiri di tanah Afghanistan dengan kekuasaan militernya yang dibangun sejak Brezhnev berkuasa.”[8] Dan seperti kita ketahui bahwa pada akhirnya bendera Uni Soviet terkulai kalah dan negerinya terpecah belah menghadapi pejuang Afghanistan.

Kini pun mulai tampak Rusia secara perlahan menggali kuburannya sendiri di tanah Suriah. Kini saatnya kemesraan persaudaraan NU, Indonesia, dan pejuang Afghanistan di masa lalu bersemi kembali dan tercurah untuk pejuang Suriah demi nasib umat Islam di Suriah dan tegaknya agama kita.

“Sesungguhnya sesama mukmin itu bersaudara.” –QS Al Hujurat [49]:10-

“Orang-orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tak bisa tidur.” –HR.Muslim-

 

Oleh: Muhammad Cheng Ho – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

 

[1]http://www.hidayatullah.com/berita/internasional/read/2015/10/20/81408/uskup-rusia-berkati-misil-sebelum-serang-kelompok-oposisi-suriah.html diakses pada Sabtu, 24 Oktober 2015

[2]http://www.kiblat.net/2015/10/22/observatorium-ham-370-korban-tewas-dua-pekan-agresi-rusia/ diakses pada Sabtu, 24 Oktober 2015

[3] H.Abdullah Ghalib, Warta NU No. 1/TH. IV/Maret 1988/Rajab 1408 H, hlm. 12

[4]Ibid

[5] Kompas,Sabtu 7 Februari 1987, Dua Pejuang Afghanistan di Jakarta Penyelesaian Hanya Lewat Mundurnya Soviet dan Gantinya Pemerintahan, hlm. 8

[6] Mohamad Roem, Intervensi Militer Rusia di Afghanistan, Majalah Media Dakwah Rabiul Akhir 1400 H/ Februari 1980 No. 68, hlm. 27

[7]Warta NU No. 11/Th.I Juli 1986/ Dzulqo’dah 1406 H, Mujahidin Afghanistan: Berjuang Mendobrak Benteng Komunis, hlm. 8

[8] Ibid